Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Usai acara lamaran resmi yang dilanjutkan dengan makan malam hangat dua keluarga yang sebentar lagi akan dipersatukan dalam tali pernikahan Langit dengan Bulan. Selama acara berlangsung Bulan memang lebih banyak diam. Tak juga berinteraksi yang berlebih dengan Langit. Semua Bulan lakukan demi menjaga hati dan perasaan Jupiter. Wanita itu tak lagi ingin menambah kesakitan juga kekecewaan di dalam hati pemuda baik itu.


Bulan akan lebih banyak mengobrol dengan Cahaya tentunya. Sampai mereka semua berpamitan kembali ke hotel, Bulan yang duduk di ruang keluarga, dihampiri oleh sang Mommy tercinta. Bukan sebab karena Alisha melihat putrinya seolah tak bahagia saja. Lebih banyak diam, berbicara pun jika ada yang bertanya. Jangan lupakan senyum Bulan yang nampak dipaksakan.


Alisha menghela napas pendek, duduk di samping Bulan lalu berucap, "Ada apa? Tampak tak bahagia saja. Bukankah seharusnya seseorang yang sudah datang jodoh akan bahagia."


"Aku bahagia, Mom."


"Hanya di mulut saja kamu berucap."


"Kenapa Mom bisa berkata demikian?"


"Karena Mom adalah ibumu yang dulu mengandung juga melahirkanmu, Sayang. Jadi, Mom akan selalu tahu apa yang sedang terjadi padamu."


"Mom ... sebenarnya bukan aku tak bahagia. Hanya saja semua serba cepat berlalu. Aku sendiri tak menyangka jika sebentar lagi akan menikah. Dan aku takut, Mom."


Alisha terkekeh. Jadi ini yang sedang Bulan pikirkan. Alisha sempat berpikir buruk tentang lamaran sekaligus acara pertunangan malam ini.


Bulan sendiri juga tak mungkin mengatakan soal Jupiter. Dan memang, diamnya Bulan malam ini tak hanya soalan Jupiter saja. Dia memang tengah dilanda rasa takut serta cemas menghadapi prosesi selanjutnya setelah acara malam ini.


Menikah. Antara siap dan tidak siap. Dia takut tak mampu menjadi seorang istri apalagi ibu bagi Cahaya. Tapi ....


"Bulan, semua orang yang akan menikahi pastilah memiliki ketakutan yang sama. Dan memang apa yang kita takutkan itu beralasan. Akan tetapi Bulan harus ingat. Kita sebagai manusia hanya bisa menyerahkan hidup, mati dan juga takdir pada Tuhan. Yang penting, berdoa yang baik-baik agar kelak kita mendapatkan suami, mertua dan juga anak-anak yang baik pula. Mensugesti diri dengan hal baik itu penting kita lakukan, sayang. Karena dengan berdoa yang baik-baik Tuhan juga pasti akan memberi semua yang terbaik untuk kita."


Bulan mendengar semua nasehat Mommy-nya dan meyakini jika apa yang Mommy Alisha katakan memang benar. Sedikit ketenangan Bulan rasakan. Mengulas senyuman seraya menggenggam tangan Mommy-nya. "Terima kasih, Mom. Aku sangat menyayangi Mommy. Mom adalah segalanya bagiku karena Mommy sangat tahu dan selalu mengerti tentang aku."

__ADS_1


"Sayang ... setiap orang itu akan bertumbuh menjadi dewasa. Dan kamu ... Mommy yakin pasti kelak bisa menjadi istri dan mama yang baik untuk suami dan anak-anakmu kelak. Jangan takut dan jangan merisaukan hal itu. Percaya. Semua akan baik-baik saja."


Bulan mengangguk. Meski rasa takut berhadapan dengan sosok Langit masih juga ada di dalam hatinya. Perlahan Bulan akan mulai menyesuaikan diri nantinya.


"Sekarang istirahat lah. Pasti kamu capek."


"Mommy juga. Istirahat. Mommy juga pasti lebih capek. Terima kasih karena Mommy sudah menyiapkan ini semua untukku."


"Sama-sama, sayang."


••••


Keesokkan harinya.


Sudut bibir Bulan mengulas senyuman. Menertawakan dirinya sendiri. Apakah mungkin dia memang berjodoh dengan Langit.


Ya, Cahaya senja di langit sore yang secara perlahan menggantikan hari menjadi malam. Saat di mana Bulan bertugas menerangi dunia ini di malam hari. Satu paket komplit yang menyatukan dirinya, Aya dan Langit Biru.


Ya, sudahlah. Bulan mulai memberanikan diri membuka hatinya untuk dapat menerima semua kenyataan hidup ini. Menerima takdir jodohnya untuk bersama sosok lelaki yang sama sekali tak ia cintai. Mengenal saja baru beberapa waktu dan Bulan sama sekali belum tahu bagaimana sikap, sifat serta karakter sosok lelaki yang berstatus duda kerap dipanggil dengan sebutan Elang.


Mengingat akan pertemuan yang dilakukan oleh dua keluarga besar semalam. Dan kesepakatan pernikahan sudah diputuskan akan dilangsungkan satu bulan dari sekarang. Waktu satu bulan yang terkesan buru-buru untuk ukuran sebuah pernikahan pada normalnya dalam arti tak ada hal yang terjadi di luar dari syariat pernikahan itu sendiri. Namun, permintaan Surya Alam yang merupakan papa dari Langit Biru, tak bisa ditawar. Daddy Bumi sempat meminta waktu lebih, akan tetapi pada akhirnya justru ikut saja dengan apa yang diinginkan oleh Surya Alam. Tentunya dengan beberapa pertimbangan.


Dan mengenai resepsi pernikahan besar-besaran baru akan digelar tahun depan karena memang memerlukan persiapan lebih banyak. Yang penting, Bulan dan Langit menikah resmi dan keduanya sah. Untuk menghindari segala macam hal yang tidak diinginkan.


Kegalauan yang lagi-lagi membuat hatinya gundah gulana.

__ADS_1


Sayangnya, semua lamunan Bulan harus diputus dengan kehadiran sosok seseorang yang mengikutinya sampai di tempat ini.


Berdehem dan tanpa diminta sudah berdiri di samping gadis itu. Kedua lengan dilipat depan dada dengan pandangan lurus ke depan.


Bulan saja yang menyadari kehadiran pria itu terjengit karena terkejut. Menoleh ke samping membelalakkan mata tak percaya. Bagaimana mungkin pria itu tahu jika dia sedang ada di sini. Niat ingin menyendiri gagal sudah.


"Pak Langit! Kenapa Anda bisa ada di sini?"


Tanya yang Bulan sampaikan tak ditanggapi Langit Biru. Pria itu masih diam tanpa sedikit pun menoleh pada Bulan. Sebenarnya tadi dia tidak sengaja menyusul Bulan. Tanpa sengaja juga mengikuti wanita yang merupakan calon istrinya berjalan seorang diri sampai Langit tahu jika rooftop inilah tujuan Bulan.


"Saya baru tahu jika di sini ada tempat yang begitu indah."


"Maksud Anda?"


Langit mengembuskan napas. Lalu menurunkan tangannya. Memasukkan ke dalam saku celana. Menyerongkan tubuh menghadap pada Bulan Purnama.


"Kenapa sendirian di sini? Melamun lagi."


Bulan hanya tersenyum tipis. Untuk apa juga pria itu mencampuri urusannya. Berani juga menguntit dan mengikuti dia. Bulan tidak suka ketenangan hidupnya kembali dikacaukan pria itu.


"Untuk apa juga Anda ingin tahu. Lagipula ... tidak baik menguntit orang tanpa ijin."


Langit tertawa. "Apa Nona lupa. Saya adalah calon suami Anda, Nona Bulan. Jadi ... tentu hal wajar jika saya bertanya. Lagipula tidak ada yang menguntit Anda. Kebetulan saja saya berada di sini."


Bulan mencebik. Omong kosong jika tanpa sengaja Langit bisa berada di sini karena rooftop ini tak sembarang orang yang mengetahui.

__ADS_1


__ADS_2