
"Bulan Purnama?" Tentulah Jupiter terkejut mendengar nama wanita yang disebut oleh sepupunya itu. Bagaimana mungkin bisa Bulan Purnama. Yakin, jika dia tidak salah dengar.
Jupiter masih membuka mulutnya. Ingin kembali bertanya atau bahkan mengutarakan jika Langit tengah berbohong. Nyatanya ... Jupiter tak lagi mampu mengucap apapun juga.
Hingga sekian detik berlalu, pemuda itu oleng. Menggeleng-gelengkan kepala mencoba berdamai dengan keadaan. Meski hatinya tak mampu dibohongi jika gelisah ingin mendengar langsung kepastian dari mulut Bulan sendiri.
Jupiter sudah tak lagi konsentrasi juga tak lagi mendengar apa yang dibicarakan oleh Langit dengan Surya Alam. Tahu-tahu Cahaya datang lalu Langit beranjak berdiri dan membawa putrinya itu pulang.
Kembali ke kamar masih dengan kegalauan. Sialnya lagi, Langit tak tahu apa pun akan kegelisahan sang sepupu karena rencana lamarannya pada Bulan Purnama.
Lain halnya dengan Bulan. Malam ini gadis itu sedang bersama Daddy Bumi dan Mommy Alisha. Mereka juga selesai dengan acara makan malam. Sengaja Bumi meminta pada Bulan untuk meluangkan waktu agar mereka dapat sekedar berbicara tentang lamaran Langit tempo hari. Baik Bumi dan Alisha memang sengaja tak memberitahu sejak awal. Selain karena Bulan yang sedang sibuk dengan proyek baru mengharuskan gadis itu berpergian ke luar kota sehingga baru malam ini Bumi ada kesempatan memberikan informasi. Bumi pikir Langit juga sudah pernah mengatakan pada Bulan. Nyatanya tidak. Buktinya, Bulan yang terkejut seolah tidak percaya dengan apa yang didengar.
"Daddy ... kenapa Daddy baru mengatakannya sekarang?"
"Mana Daddy tahu jika Pak Elang belum mengatakannya padamu."
Tubuh Bulan luruh lunglai bersandar pada sofa.
"Mulai besok kamu harus bersiap-siap dan kosongkan jadwal kerjamu. Luangkan waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan diri."
"Daddy ... kenapa Daddy menerimanya begitu saja?"
"Loh, memangnya kenapa? Bukankah kamu dengan Pak Elang memang sudah ada hubungan dekat. Jadi Daddy hanya memuluskan rencanamu. Dan itu Cahaya. Kamu dan Cahaya tampak akrab. Jadi, tidak ada salahnya jika kamu menjadi mamanya."
"Ish, Daddy. Aku pusing sendiri. Mom ... kenapa hanya diam. Tolong aku, Mommy?" Bulan mulai merajuk beharap Mommy ada di pihaknya. Nyatanya Alisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah, terima saja. Apa sih kurangnya Pak Elang. Sudah baik, kaya, tampan juga. Dan lagi ... jika kamu menikah dengan Pak Elang, kamu sudah dapat bonus Cahaya. Duda plus plus yang Mommy yakin kamu akan mendapat banyak keuntungan."
Bagaimana bisa sang Mommy matre sekali. Belum juga Bulan bisa menerima semua omongan Mommy-nya, Daddy Bumi ikut menyela. "Jangan lupakan lahan itu, Bulan. Kamu akan menang banyak jika menerima pinangan Pak Elang."
"Daddy dan Mommy sejak kapan jadi matre. Tega memberikan putri kesayangannya pada pria kaya. Iya kalau orangnya ramah. Lah, ini Pak Elang arogannya setengah mati. Aku tak akan bisa mengimbangi sikap menyebalkannya itu."
"Nanti juga jika sudah terbiasa kamu tak akan berkata seperti ini Bulan."
Bulan memberenggut. Tak ada yang mendukungnya. Jika dia menolak ... apa yang akan dijadikan alasan coba? Cinta? Tidak ... tidak. Jaman sekarang kara cinta itu sudah tak lagi penting karena biasanya cinta datang karena terbiasa. Apalagi Langit Biru juga tampan. Haish, kenapa Bulan jadi mengagumi pria itu.
__ADS_1
"Terserah Daddy dan Mommy saja."
Setengah berat memutuskan menerima, Bulan beranjak berdiri siap meninggalkan kedua orangtuanya.
"Jangan lupa ... luangkan waktumu dua hari ke depan."
"Iya Daddy. Aku tahu. Aku ke kamar dulu."
Niat hati Bulan ingin merebah di atas ranjang sembari menenangkan diri juga berpikir apakah keputusannya sudah tepat.
Tapi ... baru saja Bulan membuka pintu kamarnya, ponsel yang berada di atas nakas berdering disertai dengan layarnya yang berkedip-kedip. Tanda jika ada seseorang yang tengah melakukan panggilan telepon pada nomor ponselnya itu. Bulan gegas mendekat. Meraih ponsel miliknya lalu mengernyit melihat siapa gerangan yang sedang menelpon.
Jupiter.
Oh, Tuhan. Kepala Bulan ingin meledak seketika. Apakah Jupiter menelepon karena tahu perihal lamaran yang akan Langit Biru lakukan. Sibuk bertanya sampai panggilan itu terputus tanpa dia sempat menjawabnya. Namun, hanya sesaat ketika dering itu kembali terdengar sampai Bulan terlonjak karena terkejut dibuatnya.
Dengan jantung berdegub kencang juga kegugupan yang tiba-tiba melanda, gadis itu memutuskan untuk menjawab panggilan telepon dari pemuda yang akhir akhir ini sedang dekat dengannya. Meski demikian tak ada kepastian status akan hubungan keduanya.
"Hai, Piter!" Sapa Bulan berusaha seceria mungkin agar pemuda yang menjadi lawan bicaranya tidak menyimpan tanya.
"Oh, tidak tidak. Aku belum tidur. Bahkan baru saja makan malam dengan Daddy dan Mommy."
Hening untuk sejenak. Jupiter sendiri kebingungan ingin mulai bertanya dari mana. Namun, sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya harus segera dia utarakan.
"Bulan, boleh kah aku bertanya sesuatu padamu?"
Bulan sudah mengira apa yang akan Jupiter tanyakan padanya. Namun, seolah tak tahu apa-apa, Bulan menjawab. "Bertanya tentang apa?"
"Lamaran Langit Padamu. Apakah itu benar?"
Bulan diam. Bingung harus menjawab apa. Karena menunggu jawaban tak Jupiter dapatkan, pemuda itu bisa menebak bahwa semua memang benar adanya.
"Jadi benar lusa Langit akan melamarmu?"
"Piter ... Aku sendiri juga baru tahu tadi jika papanya Cahaya akan melakukan lamaran dua hari lagi."
__ADS_1
"Bagaimana kamu baru tahu? Apakah Elang tak memberi tahumu sebelumya? Kupikir ketika Elang dan Aya berlibur ke Bali ... Elang melamarmu waktu itu."
"Tak. Tak ada lamaran padaku. Justru Daddy baru memberitahuku tadi."
"Lalu?"
Kening Bulan mengernyit. "Lalu apanya?"
"Jawabanmu Bulan. Apakah kamu menerima lamaran itu."
"Piter. Dengarkan aku. Coba katakan padaku. Adakah alasan yang bisa aku lakukan untuk menolak lamaran itu? Tidak ada. Dan satu hal lagi yang kita tidak bisa lupakan. Yaitu Cahaya. Aku mana mungkin bisa mengecewakan gadis sebaik Aya. Aku tidak mampu melakukannya. Biarlah, Piter. Asalkan Cahaya bahagia."
"Kamu memang wanita yang sangat baik, Bulan. Tidak salah jika selama ini aku mengagumimu. Cahaya beruntung sekali dicintai oleh wanita sepertimu."
"Jangan berlebihan begitu. Aku hanya ingin membahagiakan orang lain. Itu saja."
"Bagaimana denganku? Apakah kau tak ada niatan untuk membahagiakanku juga?"
Jupiter berharap jika Bulan memiliki, perasaan yang sama dengannya. Namun, harapan Jupiter sia-sia.
"Maafkan aku, Piter. Mungkin kita berdua memang ditakdirkan hanya sekedar berteman. Dan juga ... bersaudara tentunya."
"Tapi aku ingin lebih dari itu."
"Mana bisa begitu?"
"Apa kamu memiliki perasaan pada Elang?"
"Perasaan apa yang kamu maksudkan?"
"Cinta misalnya."
"Entahlah. Karena yang ada dalam pikiranku hanyalah Cahaya."
"Jika denganku ... apa kamu memiliki perasaan cinta untukku?"
__ADS_1