
Bulan membenarkan letak duduknya. Lalu mencoba mengulas senyuman meski terpaksa.
"Pak Langit. Tujuan utama kedatangan saya menemui Anda pagi ini sebenarnya untuk memastikan apakah Anda sudah menerima beberapa kali proposal yang saya kirimkan terkait penawaran harga lahan Anda yang ada di pulau terpencil kota Lombok?"
Langit sudah menduganya. Pasti itulah tujuan Bulan sampai repot-repot mendatangi dia langsung ke Ibukota.
"Bukankah anak buah saya juga sudah menjawab proposal yang Anda kirimkan."
Kening Bulan mengernyit. Jadi, benarkah Langit sendiri yang sudah menolak penjualan lahan itu?
"Jadi ... apakah benar jika Anda menolak proposal itu?"
"Ya. Saya sendiri yang menolak proposal tersebut."
"Jika boleh saya tahu ... apa alasan Anda menolaknya, Pak Langit? Harga yang saya tawarkan pada proposal terakhir bahkan berani saya naikkan berkali lipat. Apakah masih belum masuk harganya?"
Kepala Langit Biru menggeleng. "Oh, sama sekali tidak. Itu adalah harga terbaik dan tertinggi yang pernah saya terima. Bahkan saya sendiri sampai takjub karena Anda berani memberikan tawaran setinggi itu."
"Lalu, kenapa Anda masih menolaknya juga? Saya pikir Anda memang belum mau melepas karena harganya kurang sesuai."
"Tidak. Bukan seperti itu. Saya memang tidak ada niat untuk menjual lahan itu."
"Kenapa, Pak?"
"Ya ... Tidak ada keinginan saja."
"Tapi lahan tersebut hanya Anda biarkan terbengkalai. Saya rasa kenapa Anda tidak menjualnya saja agar lahan tersebut lebih bermanfaat. Karena saya sendiri ada keinginan untuk mendirikan sebuah resort di sana."
"Saya kurang tertarik membangun bisnis di bidang hiburan dan sejenisnya karena fokus utama saya adalah properti dan eksport import. Jadi ... Saya memilih membiarkan saja lahan itu apa adanya."
"Pak Langit ... coba beritahu saja. Apa yang harus saya lakukan agar Anda bersedia melepas lahan tersebut?"
Langit mengembuskan napas panjang. Tak kenal lelah juga perempuan itu.
"Tidak ada yang perlu Anda lakukan Nona Bulan. Karena lahan itu adalah milik Cahaya. Jadi ... sampai kapan pun saya tidak akan menjualnya."
"Apa?"
__ADS_1
Bulan menelan ludah. Tidak menyangka jika Langit Biru tidak bisa diubah keputusannya. Terlebih jika sudah menyangkutpautkan perihal Cahaya. Apalagi yang bisa Bulan lakukan? Dia menyerah tentu saja. Memilih pamit dan undur diri meninggalkan kantor Mars Property dengan kekecewaan yang mendalam. Niatnya untuk merayu Langit tidak akan mempan. Haruskah Bulan mendekati Cahaya?
Ya, Tuhan. Bulan tidak akan demikian. Meski keinginan untuk memiliki lahan itu begitu tinggi, tapi Bulan juga tidak akan melibatkan Cahaya dalam hal ini.
••••
Pulang dari Mars Property, demi mengusir rasa kecewanya, Bulan memilih mendatangi sebuah pusat perbelanjaan. Ingin shopping sebelum besok dia kembali ke pulau Dewata.
Melangkah memasuki pusat perbelanjaan yang lokasinya tidak jauh dari kantor Langit Biru. Inginnya Bulan adalah makan dulu, nonton lalu berbelanja apa pun yang dia mau. Sayangnya apa yang tertangkap oleh netranya, mencuri perhatian Bulan.
Bulan mendekat, tapi kedua orang yang masih berdebat itu tidak menyadari kehadirannya.
"Mama ... Aya masih belum selesai jam pelajaran. Kenapa harus memaksa Aya ke sini?"
"Diamlah, Aya! Kita makan dulu dengan Papa. Setelah itu kami bisa kembali ke sekolah."
"Apa?! Kurasa Mama ini sudah tidak waras. Tadi di sekolah Mama memaksa dan memohon-mohon pada Bu Guru agar bisa membawaku. Kukira Mama ada hal penting sampai harus meminta padaku tidak mengikuti pelajaran terakhir. Nyatanya apa? Mama hanya ingin memanfaatkan aku saja." Kesal Cahaya yang mendapat pelototan mata dari Vivian.
"Diam kamu, Aya! Ini semua bukan untuk keinginan mama saja. Tapi kita. Agar papa mau kembali rujuk dengan mama!"
Bulan mendengar. Rujuk. Jadi .....
"Jika memang Mama selalu begini ... lebih baik Mama dan Papa tidak perlu rujuk. Karena aku sudah capek di doktrin terus oleh Mama."
"Aya! Jaga bicaramu."
"Mama juga harus jaga bicara Mama. Apa Mama tidak malu dilihat banyak orang karena berdebat terus denganku."
"Aya! Berani kamu sama Mama!" Hardik Vivian dan saat itulah mata Cahaya bersiborok dengan netra milik Bulan.
"Kak Bulan!"
Gadis kecil itu berlari menghampiri Bulan. Meninggalkan Vivian dalam kemarahan.
"Aya!" teriak Vivian yang tak digubris Cahaya karena gadis itu sudah menubruk tubuh Bulan. Sampai-sampai Bulan terhuyung ke belakang tidak siap menerima beban tubuh Cahaya yang kini sudah memeluknya sangat erat.
"Kak Bulan! Bawa aku pergi dari sini."
__ADS_1
"Kamu kenapa, Aya?"
"Nanti saja aku ceritakan. Sebaiknya sekarang kita pergi sebelum Mama kembali memaksaku."
Bulan menurut saja karena dia pikir bisa menolong Cahaya dari mantan istri Langit Biru. Bulan tak paham ada masalah apa di antara mereka. Seharusnya juga Bulan tidak ikut campur. Namun, ini Cahaya yang melibatkannya. Apakah dia tega mengabaikan gadis kecil yang begitu manis dan baik hati.
"Baiklah. Ayo, ikut Kakak."
Bulan menggandeng lengan Cahaya berniat pergi meninggalkan tempat. Namun, baru juga keduanya berbalik badan, Vivian sudah berteriak meminta pada Bulan agar berhenti melangkah dan tidak membawa Cahaya.
"Aya, tunggu Mama!"
Namun, Cahaya yang sudah tidak lagi mau berpihak pada mamanya, terpaksa menarik lengan Bulan dan berlari kecil meninggalkan Vivian agar tak mampu mengejar mereka.
Keberuntungan berpihak pada keduanya. Sebuah taksi yang menurunkan penumpang di depan lobi, gegas diberhentikan kembali oleh Bulan. Baik Bulan dan Cahaya segera merangsek masuk ke dalamnya.
Bahkan napas keduanya masih ngos-ngosan. Yang lebih parah lagi, Bulan tak tahu apa-apa akan masalah Cahaya. Tapi dia ikut berjuang melarikan diri bersama gadis kecil itu .
"Jalan, Pak!" Perintah Bulan pada sopir taksi ketika melihat Vivian berhasil mengejar mereka sampai pintu lobi.
Huft
Lega tak hanya dirasakan oleh Cahaya karena berhasil terlepas dari mamanya. Tapi juga Bulan karena berhasil membantu gadis kecil itu.
Taksi berjalan perlahan meninggalkan area depan lobi. Kepala Cahaya dan Bulan menoleh ke belakang. Vivian gagal mengejar mereka.
Lalu, keduanya saling pandang dan lagi-lagi berpelukan.
"Kakak. Terima kasih sudah membantuku."
"Sama-sama, Aya. Sekarang kita mau ke mana?"
Cahaya berpikir sejenak. Tempat yang paling aman saat ini adalah kantor papanya. Meskipun nanti mamanya akan mengejar, setidaknya ada papa yang akan melindungi. Cahaya selalu merasa aman ketika bersama sang papa karena yakin jika papa akan melindunginya dari apa pun juga.
"Kita ke kantor Papa saja, Kak."
Deg
__ADS_1
Bulan menelan ludah. Apakah dia harus kembali ke Mars Property? Namun, ini demi Cahaya. Dia harus membantu Cahaya dari sosok wanita yang Bulan tebak ada niat ingin berbuat hal tidak baik pada gadis kecil itu.