
Bulan mendorong kasar tubuh besar Langit. Namun, hanya sedikit jarak yang membentang karena Langit tak bergeming di tempat. Hanya Bulan yang mampu menggeser sedikit tubuhnya. Kekesalan Bulan sudah berada di puncak. Terlepas dengan paksa dari belitan tangan yang membuatnya tak berkutik sedari tadi. Gadis itu menatap nyalang pada lelaki kurang ajar yang kali sekian tega memanfaatkannya demi kepentingan pria itu sendiri.
"Kenapa selalu saja melibatkan saya dalam urusan pribadi dengan mantan istri Anda! Tak pernahkah Anda berpikir jika saya keberatan dengan semua sikap kurang ajar yang Anda berikan pada saya, hah?"
Kesal membuat emosi Bulan meletup-letup. Bahkan tak memberikan kesempatan bagi Langit untuk menjawab, gadis itu kembali berucap, "Ini terakhir kalinya Anda bisa semena-mena pada saya. Lain kali jika sampai Anda berani kurang ajar lagi seperti tadi ... saya tak akan tinggal diam."
"Saya minta maaf."
"Percuma Anda minta maaf. Tak ada gunanya."
Dan Bulan baru menyadari jika suaranya yang nyaring semakin memancing orang untuk memperhatikannya. Malu, tentu saja. Bahkan Bulan yang sudah tidak memiliki muka di depan para staff juga pengunjung hotel, gegas berjalan meninggalkan lobi. Melangkah cepat menuju lift dengan diikuti Langit tentunya.
"Nona! Nona Bulan. Saya harus berbicara dengan Anda."
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
"Masih ada banyak hal yang harus kita bahas."
"Cukup Pak Langit. Dan saya tekankan sekali lagi jika di antara kita tak akan ada urusan apapun juga."
"Tidak bisa karena saya masih ada urusan dengan Anda."
"Anda ini kenapa ngeyel sekali."
Langit menurunkan egonya dengan berbicara sedikit pelan. Ikut malu juga karena menjadi pusat perhatian. Tapi dia memang harus segera bergerak cepat jika tidak ingin gagal dalam misinya memperistri Bulan. Langit sudah lelah dikejar Vivian. Dia yakin sekali jika selepas ini mantan istrinya itu akan kembali berulah karena kecewa padanya. Begitu lah Vivian. Jika sedang marah dengannya maka ada saja tingkah lakunya. Dan satu hal lagi. Jika sampai dia gagal memperistri Bulan ... yang ada hanya olokan dari mantan istrinya itu yang dia dapat, karena Vivian sudah kali sekian memergokinya bersama Bulan. Sudah kepalang tanggung mengakui Bulan sebagai calon mama barunya Cahaya. Jadi, Langit akan merealisasikan semua ucapannya.
"Oleh sebab itulah ....mari kita bicara?"
__ADS_1
Wajah serius Langit meluluhkan hati Bulan. Wanita itu memasuki lift dengan lesu diikuti oleh Langit. Hingga keduanya kini telah berada di dalam ruang kerja milik Bulan Purnama.
"Silahkan duduk!" Pintanya pada Langit Biru yang masih mengagumi interior ruang kerja Bulan. Sangat nyaman terasa. Rasa-rasanya Langit akan betah saja berada di tempat ini karena suasana yang nyaman akan menciptakan kerja yang nyaman pula. Menghindari stres berlebihan dan mungkin Langit perlu merombak ruang kerjanya senyaman milik Bulan Purnama.
Lelaki itu kini memilih duduk di salah satu sofa. Memperhatikan Bulan yang sedang menyuguhkan sekaleng minuman bersoda. Sekesal apapun Bulan pada Langit, dia tetaplah pemimpin hotel ini dan Langit adalah pengunjung yang harus diperlakukan sebaik mungkin.
"Terima kasih," ucap Langit.
Bulan sudah duduk di sofa yang lainnya saling berhadapan dengan Langit. "Jadi ... apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"
"Ada banyak hal yang harus kita bahas. Pertama mengenai Cahaya. Kedua mengenai lahan dan ketiga mengenai ...." Langit sengaja menjeda ucapannya karena menunggu reaksi Bulan.
Benar saja karena wanita itu yang penasaran langsung bertanya. "Yang ketiga mengenai apa?"
"Hubungan kita."
"Yah ... hubungan yang lebih rapat sekedar rekan bisnis semata."
"Maksud Anda? Tolong bicara yang jelas dan jangan memutar-mutar kata. Saya pusing dibuatnya."
"Baiklah. Saya akan bahas dimulai dari yang pertama. Yaitu Cahaya. Anda tentu sudah paham ke mana arah pembicaraan saya jika menyangkut Cahaya."
"Saya masih tidak bisa mengerti."
"Cahaya sangat menyukai Anda, Nona Bulan. Tentu Anda sudah tahu mengenai hal ini, kan?"
"Ya. Saya pun demikian. Tidak ada alasan bagi saya untuk membenci gadis sebaik dan secantik Aya. Kami saling berteman baik."
__ADS_1
"Diluar dari pertemanan yang Nona Bulan jalin bersama Aya ... sebenarnya Aya menyimpan keinginan besar ingin menjadikan Nona sebagai mama barunya. Dan Nona Bulan juga sudah mengetahui akan hal ini karena putri saya sudah berkali-kali mengatakan hal ini pada Anda."
Glek. Sampai di sini Bulan mulai tidak enak perasaannya. Kesusahan menelan saliva demi mendengar Langit membicarakan seputar keinginan Cahaya yang bahkan sudah pernah mereka bahas sebelumnya. Dengan berani Bulan menjawab, "Jika hal ini Pak Langit sudah tahu juga bahwa saya tidak keberatan menjadi mama angkatnya Cahaya."
"Tapi bukan mama angkat konsepnya, Nona. Jika Anda hanya menjadi mama angkat, tentu akan beda ceritanya karena Aya tak akan pernah bisa memiliki Anda seutuhnya juga tak akan bisa mendapat hak kasih sayang dari Anda sepenuhnya."
"Ya ... tapi memang saya hanya bisa membantu sebatas itu."
"Masih berhubungan dengan poin pertama ... Bahwa Cahaya akan memberikan lahan itu untuk Nona Bulan jika Nona mau menjadi mama barunya. Dengan catatan juga ... Mama baru atau mama sambung. Itu artinya Anda dan saya harus menikah terlebih dahulu demi bisa mendapat status itu."
"Saya tidak mau!" Cepat Bulan menjawab.
"Anda tidak mau menikah dengan saya atau ... Anda tidak mau mendapatkan lahan itu."
Dari sini Bulan semakin dilema. Diberikan lahan itu oleh Cahaya tentulah Bulan tak akan menolaknya. Secara lahan itu yang sudah dia incar sejak lama dan berapapun besarnya penawaran yang dia berikan, Langit tetap saja tak mau menjualnya. Namun, jika syarat yang diajukan adalah menikah dengan pria itu untuk mendapatkan lahan incarannya ... Bulan bingung. Dia mau lahan tapi tidak mau menikah dengan Langit Biru. Pilihan yang sangat sulit.
"Saya mau lahan itu tapi saya tidak mau menikah dengan Anda, Pak Langit."
"Sudah saya duga. Tapi ...." Langit mencondongkan badan ke depan mengikis jarak di antara dia dengan Bulan. "Anda juga tidak bisa mengabaikan poin ketiga. Yaitu mengenai hubungan kita. Jika boleh saya tahu ... kenapa Anda tidak ingin menikah dengan saya? Apakah Anda sudah memiliki kekasih?"
Langit terkekeh lalu kembali berucap sembari memundurkan tubuh dan menjatuhkannya pada sandaran sofa. "Saya rasa Anda belum memiliki kekasih. Jadi, apa masalah Anda sebenarnya sampai-sampai tidak mau menikah dengan saya. Padahal jika Anda menerima saya ... maka akan banyak keuntungan yang Anda dapatkan."
Bulan kesal. Pria di hadapannya ini terlalu percaya diri. "Bukan saya yang diuntungkan jika saya bersedia menikah dengan Anda. Tapi Anda sendiri yang akan menang banyak."
"Kenapa begitu?"
"Ya karena saya bukan barang second. Saya masih original dan segelan."
__ADS_1
Bolehkah Langit tertawa mendengar ucapan Bulan?