Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Lima Puluh Empat


__ADS_3

Meski tamu yang diundang tak banyak sekali, akan tetapi tetap saja Bulan merasa kecapean. Menyalami tamu undangan dengan memaksa bibirnya terus menerus mengulas senyuman. Itu bukan hal yang mudah. Namun, demi Aya, Bulan rela melakukannya. Gadis kecil itu tampak sayang sekali padanya. Bahkan beberapa kali Aya menawarkan minuman untuknya.


"Kak Bulan pasti capek," ucap Aya yang kini kembali mendekati mama sambungnya.


Bulan kembali memaksakan senyumannya agar Aya tidak khawatir padanya. "Kak Bulan enggak capek kok, sayang. Sebentar lagi acaranya juga selesai."


"Mau Aya ambilkan makanan atau minuman?" tawar gadis itu untuk sekian kalinya. Namun, kepala Bulan langsung menggeleng karena wanita itu memang sedang tak nafsu makan.


"Nanti saja."


"Baiklah jika begitu. Eum ... Aya ke sana dulu, ya?"


Kepala Bulan mengangguk. Perempuan itu memilih duduk dengan mengembuskan napas lelah. Menelisik ke beberapa penjuru tempat dan melihat keberadaan Langit Biru sedang berbincang dengan Uncle Dirga.


Ya, keluarga Uncle-nya itu juga datang menjadi saksi pernikahannya hari ini. Bahkan kakak dan juga adiknya sengaja datang dari luar negeri untuk bisa menyaksikan dirinya melepas masa lajang.


Sebenarnya, Bulan sedikit ragu akan jalan kehidupan rumah tangganya bersama Langit. Namun, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang bisa Bulan lakukan kecuali menerima dengan lapang dada semua takdir hidupnya.


••••


Siang menjelang sore acara benar-benar telah usai. Tamu undangan sudah meninggalkan kediaman Bumi Perkasa. Sementara para kerabat juga keluarga yang berasal dari luar kota, Bumi telah menyiapkan beberapa kamar di hotel miliknya sehingga mereka semua juga kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum esok hari kembali pulang ke rumah masing-masing.


Langit sendiri juga mengantarkan keluarganya ke hotel. Tak lupa Cahaya ikut serta. Tadi sebenarnya putrinya itu memaksa untuk tetap tinggal di rumah Bumi Perkasa. Namun, Surya Alam tak mengijinkan. Takut jika kehadiran Cahaya hanya akan merecoki pengantin baru. Surya sangat paham bagaimana Langit yang sudah barang tentu membutuhkan privasi bersama Bulan. Beruntung karena Cahaya adalah gadis baik yang penurut.


"Sudah sana. Kamu kembali ke rumah Pak Bumi. Pasti Bulan sudah menunggumu," usir Surya Alam yang masih mendapati putranya rebahan di atas ranjang kamar yang ditempati oleh Cahaya.


"Nanti saja, Pa. Sekalian habis mandi aku akan pulang ke sana. Sekarang aku benar-benar capek. Ingin istirahat."


"Kamu ini! Bagaimana jika istrimu mencari? Ingat, Lang. Kamu ini sudah menikah. Jangan sesuka hatimu begitu."


Dalam hati Langit hanya ingin merutuki papanya yang pasti salah sangka padanya. Bagaimana mungkin Langit akan tetap ada di rumah Bumi Perkasa, jika dia tahu betul bahwa Bulan akan risih dengan kehadirannya.


"Biarkan Bulan menikmati waktunya bersama keluarganya, Pa. Bukankah ada kakak dan adiknya juga. Siapa tahu saja dia sedang tidak ingin diganggu, kan?"

__ADS_1


"Lagipula ... Papa masih bingung dengan rumah tanggamu setelah ini."


"Bingung kenapa?"


"Bukankah hotel ini Bulan yang memegang kendali? Lantas ... bagaimana kehidupan kalian setelah menikah nanti? Maksud papa ... apa iya kamu dan Bulan akan berjauhan?"


Haish, kenapa Langit tak pernah kepikiran sejauh itu.


"Jika hal itu ... Nanti aku akan bicarakan dengan Bulan. Sekarang aku ingin tidur sebentar."


Surya Alam hanya mengangguk dan memilih meninggalkan kamar membiarkan putranya beristirahat barang sebentar.


••••


Di rumah Bumi Perkasa. Bulan sengaja mengurung diri di dalam kamar. Sejak tadi wanita itu tidak tenang. Lebih-lebih godaan yang Danu berikan padanya. Selalu saja terngiang-ngiang di dalam ingatan Bulan.


'Kamu jangan takut, Dek. Malam pertama itu enak. Bohong jika ada yang mengatakan sakit,' ucap Danu yang Bulan tahu sengaja didengungkan kakaknya itu.


Jujur, Bulan takut. Malam pertama yang menurut kakaknya enak, tapi menyeramkan bagi Bulan. Membayangkan besarnya tubuh Langit saja lagi-lagi membuat bulu kuduk Bulan meremang. Dia harus mencari cara untuk menghindari Langit apapun yang terjadi. Meski dia sendiri juga tak tahu apakah Langit kepikiran seputar malam pertama atau tidak. Apalagi lelaki itu statusnya adalah duda dan pernah menikah.


"Sayang ... kenapa sejak tadi di kamar. Ayo, kita makan malam. Pak Elang juga sudah sampai dan menunggumu di meja makan."


Sial! Kenapa juga harus ada Langit lagi di rumah ini. Padahal yang Bulan tahu lelaki itu tadi pergi ke hotel. Bulan pikir Langit akan menginap di hotel lalu dia selamat dari drama malam pertama.


"Bulan. Ini anak malah bengong. Ayo keluar."


"Iya, Mom. Tunggu sebentar."


"Mommy tunggu di ruang makan."


Bulan mengangguk. Setelah kepergian mamanya dari dalam kamar, wanita itu menghirup napas panjang dan dalam. Sebelum memutuskan keluar kamar dan bergabung di meja makan.


Benar juga. Sudah ada Langit yang tengah berbincang dengan Daddy dan kakaknya.

__ADS_1


Glek


Bulan menelan ludah. Langit yang terlihat akrab dengan Danuarta. Bahkan kakak lelakinya itu bisa-bisanya begitu dekat dengan Langit.


"Dek ... duduk sini. Jangan jauh-jauh dari Pak Elang. Pengantin baru nggak baik duduk berjauhan."


Jika Bulan berdecak kesal pada kakaknya, lain halnya dengan Langit yang justru menyunggingkan senyuman. Tak ayal wanita itu mendekat juga pada Langit. Menarik kursi dan duduk di samping lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya mulai hari ini.


Mencondongkan sedikit badannya pada Langit agar dia bisa bertanya. "Aya mana?"


"Ada di hotel."


"Kenapa tidak dibawa ke sini?"


"Dilarang sama Papa."


"Kenapa begitu?"


"Menurut papa ... Nanti Aya bisa menganggu malam pertama kita." Tentu saja Langit mengatakan itu dengan berbisik dan hanya Bulan yang mampu mendengar.


Bulan melotot tak percaya mendengar kata mesum yang terlontar dari bibir Langit. Ingin mengata-ngatai pria itu, sayangnya keduluan Danu yang menyindir. "Duh, pengantin baru. Ngobrolnya bisik-bisik. Sudah nggak sabar buat berduaan sepertinya. Makan dulu agar Elang kuat mengahadapi kenyataan memiliki istri Bulan."


"Danu!" Bumi menengahi meminta pada putranya untuk tak terus menggoda Bulan.


Lihat saja bagaimana Langit yang tersenyum malu-malu demi mendengar candaan dari Danu.


Bulan, pipi wanita itu semerah tomat. Sangat malu akan candaan vulgar yang kakaknya sampaikan.


"Elang ... jangan dengarkan apa yang Danu katakan. Dia itu memang suka menggoda Bulan. Ayo sebaiknya sekarang kita makan. Bulan, ambilkan suamimu makanan."


"Pak Langit bisa ambil makanan sendiri, Dad."


"Pak Langit?" Danu baru ngeh jika adiknya memanggil Langit dengan sebutan Pak.

__ADS_1


Sebelum Danu kembali menggoda adiknya, Alisha lebih dulu menyenggol lengan Danu agar diam dan tak lagi bersuara. Kasihan pengantin baru yang malu-malu begitu.


__ADS_2