Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Enam


__ADS_3

"Kak Bulan. Ini Uncle Jupi."


Bulan Purnama memandang pria muda yang bisa dikatakan tampan dengan hidung mancung juga alis yang tebal. Senyuman pada bibir pria muda itu membuat mata Bulan mengerjab terpesona.


Sama halnya dengan Jupiter yang tak segan mengulurkan tangan mengajak berkenalan.


"Jupiter." Dengan bangga dan percaya diri, Jupiter menyebut nama lengkapnya.


Bulan mencerna akan apa yang tadi Cahaya sempat ucapkan. Uncle Jupi yang gadis cilik itu maksud ternyata kepanjangan dari Jupiter. Lagi-lagi Bulan dibuat antusias. Nama-nama unik mirip sepertinya dia jumpai lagi pada sosok tampan yang dibalas jabat tangannya dengan Bulan.


"Bulan," ucap gadis itu ikut memperkenalkan diri juga.


"Waow. Sepertinya kita berjodoh. Bulan dengan Jupiter."


Hingga suara deheman Cahaya melepas genggaman erat tangan Jupiter pada tangan Bulan.


"Ehem. Uncle Jupi jangan malu-maluin deh. Baru juga kenalan, sudah bicara soalan jodoh," bisik Cahaya pada sang paman.


Ingin rasanya Jupiter menjitak kepala Cahaya karena selalu saja memanggil namanya dengan sebutan Jupi. Pemuda itu mendekatkan kepala pada telinga Cahaya sembari berbisik, "Jangan memanggil Uncle dengan sebutan Jupi, Aya!"


Cahaya hanya nyengir menyadarai kesalahannya. Pasalnya dia selalu saja lupa. Memanggil dengan sebuatan Jupi, bagi Cahaya sudah menjadi hal yang biasa dan mudah dilafalkan ketimbang harus menyebut dengan nama lengkap.


Kini, Jupiter telah duduk bersama dua orang gadis di samping kiri dan kanannya. Di saat itupula Cahaya memberikan sebuah cerita bagaimana dia bisa berada di sini. Di bangku yang Bulan duduki karena memang semua kursi telah ada penghuninya.


"Jadi ... beneran tidak apa-apa jika aku dan Aya duduk semeja begini?"


Bulan menggelengkan kepala. "Tidak apa. Makananku sudah habis."

__ADS_1


Jupiter mengangguk-anggukkan kepala. Berpikir bagaimana caranya bisa mengenal lebih dekat gadis cantik yang Jupiter harap beneran berjodoh dengannya. Jangan ditanya bagaimana petualangan seorang Jupiter dalam hal wanita. Bergonta ganti pacar sudah sering dia lakukan. Namun, kali ini Jupiter benar-benar terpesona pada Bulan. Akankah dia nanti berhasil meminta nomor telepon gadis itu. Masih juga sibuk berpikir sampai dia tidak menyadari jika Bulan beranjak berdiri.


"Saya permisi duluan. Cahaya ... senang bertemu denganmu," ucap Bulan pada Cahaya yang menghentikan makannya karena Bulan berpamitan.


"Aya juga senang dapat berkenalan dengan kakak. Semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali kak Bulan."


Bulan mengangguk. Niat hati berpamitan pada Jupiter urung dilakukan karena mengetahui jika pemuda itu sedang melamun. Bahkan pandagan mata Jupiter tak tentu arahnya ke mana. Oleh sebab itulah Bulan memilih melambaikan tangan saja pada Cahaya sebelum meninggalkan meja dan juga bekas makannya.


Sayang sekali. Bulan tidak bisa berbincang lebih pada mereka khususnya Jupiter. Satu hal karena mereka pun baru saja dipertemukan. Sekalipun Jupiter sangat tampan di mata Bulan, akan tetapi Bulan tetaplah gadis yang tak akan meleleh begitu saja pada ketampanan seorang pria. Selalu jaga image dan jual mahal pada pria yang mendekatinya. Bukan sebab Bulan sombong. Tidak demikian. Dia hanya tidak ingin salah menemukan pasangan. Itu saja.


Beruntung sekali ketika langkah kaki Bulan baru saja keluar dari resto cepat saji, ponsel di dalam tas berbunyi. Dia yakin sekali jika Jaghad yang menelpon.


Tangan Bulan merogoh tas untuk dapat menemukan benda pipih kesayangannya itu. Benar sekali. Jaghad yang menghubungi.


"Kakak di mana?" Begitulah kata tanya yang Jaghad lontarkan ketika Bulan menerima panggilan teleponnya.


Di lain tempat, tepatnya masih di dalam resto yang di sana duduk berdua Jupiter dengan Cahaya. Tersadar akan lamunan, akan tetapi dibuat kebingungan karena sosok Bulan sudah tak nampak berada di hadapannya. Jupiter celingukan mencari gadis cantik yang sejak tadi dilamunkan.


"Aya, Bulan ke mana?" tanya Jupiter kebingungan.


"Uncle Jupi ngelamun terus. Kak Bulannya pergi sampai enggak nyadar begitu."


"Lah!" Jupiter melongo. Niat hati ingin meminta nomor telepon gagal sudah.


"Terus ... tadi kamu sempat minta nomor teleponnya Bulan atau tidak?"


Kepala Cahaya menggeleng. "Enggak."

__ADS_1


"Duh, Aya! Kenapa nggak minta tadi!"


"Buat apa memangnya?" Dengan polos dan wajah tak berdosa Cahaya menjawab bahkan gadis cilik itu masih juga sibuk dengan makanannya.


Jupiter hanya bisa garuk-garuk kepala. Nasib. Belum berjodoh dengan gadis cantik yang baru saja dijumpainya.


••••


Meeting yang menguras pikiran jiga membuat tubuhnya sangat lelah usai sudah. Langit sudah siap meninggalkan tempat tidak sabar ingin segera beristirahat. Namun, sebelum itu Langit ingin sekali bertemu dengan putrinya yang sangat dia rindu. Putri yang manis menambah semangat dan hidup Langit makin berwarna. Entah apa jadinya andai Tuhan tidak mengirimkan Cahaya untuknya. Bisa jadi Langit tak ada semangat menjalani hidupnya. Oleh sebab itulah ketika dulu dia bercerai dengan Vivian, dengan penuh perjuangan Langit mengusahakan hak asuh sang putri agar jatuh di tangannya.


"Pak Elang!"


Panggilan yang menolehkan kepala Langit ke belakang, melemparkan satu buah senyuman pada sosok Angkasa Dirgantara yang juga bersiap meninggalkan ruang meeting.


"Jangan lupa besok malam. Saya tunggu Anda di rumah."


Langit menganggukkan kepala. "Baik, Pak Dirga. Saya pasti datang."


Lalu, Dirga menepuk lengan Elang sebelum pergi berlalu meninggalkan pria itu.


Langit masih memperhatikan sosok Angkasa Dirgantara. Rasa kagum pada lelaki paruh baya itu tak mungkin begitu saja dienyahkan. Tentu Langit masih ingat bagaimana di pertemuan sebelumnya di mana Dirga juga mengundang makan malam di rumah. Langit harus dibuat iri akan keromantisan pasangan yang sama-sama tak lagi memiliki usia muda. Istri dari Dirga, yang Langit tahu adalah seorang dokter. Memiliki satu orang putra yang juga masih kuliah sepertinya. Keluarga harmonis yang membuat Langit iri saja. Andai dulu dia bisa mempertahankan rumah tangganya, mungkin Cahaya tak akan terombang ambing hidupnya berada di antara perseteruan dirinya dengan Vivian.


Apakah Langit menyesal karena sudah menceraikan Vivian?


Jawabnya, tentu saja tidak. Langit sendiri justru heran kenapa dulu dia bisa cinta mati dengan Vivian. Bahkan mereka menjalin hubungan sejak sama-sama menjadi seorang mahasiswa sebuah Universitas ternama di Amerika.


Ah, mengingat itu semua hanya akan mengorek masa kelam hidupnya bersama Vivian. Delapan tahun menjalani kehidupan berumah tangga bukanlah waktu yang sebentar.

__ADS_1


Langit yang dulu memutuskan menikah muda lepas lulus kuliah S2, sempat mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Sayangnya Langit terlalu dibutakan oleh yang namanya cinta hingga tidak pernah tahu apa tujuan dan rencana jahat seorang Vivian padanya. Mendekatinya karena sebuah pamrih. Yaitu harta kekayaan milik Langit dan keluarganya. Bahkan kehidupan rumah tangga mereka pun tergadaikan oleh Vivian yang haus dan silau akan harta benda.


__ADS_2