
Acara makan malam yang di akhir sesi justru memunculkan kecanggungan, pada akhirnya selesai sudah. Langit Biru berpamitan pulang dengan membawa Cahaya ikut serta tentunya. Bulan yang berinisiatif mengantarkan keduanya sampai halaman depan, berkeinginan untuk mengajak bicara Langit tentunya perihal soalan Cahaya. Bulan tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman yang makin menjadi tak hanya bagi gadis kecil itu, tapi juga pada kedua orang tuanya.
Cahaya masih juga bergelayut manja pada lengan Bulan seolah enggan sekali meninggalkan kediaman wanita itu. "Kak Bulan, Aya pulang dulu ya. Sebenarnya Aya senang sekali bisa berada di sini. Kapan-kapan Aya boleh kan main ke rumah Kak Bulan lagi? Opa dan Oma juga tidak keberatan kan jika Aya datang lagi?"
Panjang lebar Cahaya mengoceh membuat Bulan hanya menjawab iya iya saja karena tidak mungkin wanita itu mengecewakan Cahaya. "Aya boleh main ke sini kapan pun sesuka hati Aya."
Dengan binar penuh kebahagiaan, gadis kecil itu mendongak, "Benarkah?"
Bulan mengangguk dengan disertai senyuman.
Cahaya menoleh pada sang papa yang berjalan di belakangnya. "Papa ... besok kita ke sini lagi, ya? Kata Kak Bulan ... Aya boleh sering-sering main ke rumah ini."
"Kak Bulannya sibuk dan harus bekerja. Lain waktu saja saat kita berlibur di Bali kita berkunjung ke sini lagi."
Senyum juga binar kebahagiaan di wajah Cahaya hilang seketika berubah menjadi bibir mengerucut tanda protes pada sang papa.
"Papa selalu begitu."
Trenyuh hati Langit melihatnya. Langit hanya ingin melihat senyuman di bibir Cahaya karena selama ini dia sudah menorehkan luka di hati gadis kecilnya. Sayangnya Langit tak mungkin memberikan harapan palsu pada putrinya.
'Maafkan Papa, Aya,' ucap Langit dalam hatinya.
"Kak Bulan, aku pamit kembali ke hotel. Semoga besok kita bisa bertemu lagi."
Bulan menganggukkan kepalanya. "Iya. Hati-hati di jalan."
__ADS_1
Cahaya melepas tautan tangannya pada lengan Bulan. Lalu gadis kecil itu melangkah memasuki mobil hotel yang menjemputnya.
Langit berdehem, ingin mengucapkan kata pamit juga terima kasih atas jamuan makan malam, akan tetapi dia enggan dan juga gengsi tentunya.
Bulan sendiri yang masih mendapati keberadaan Langit yang berdiri di sebelahnya, ada kesempatan untuknya berbicara empat mata pada lelaki itu.
"Pak Langit! Bisakah saya bicara sebentar dengan Anda? Ada hal yang ingin saya sampaikan?"
Langit mengangguk. "Silahkan."
"Saya mohon pada Anda untuk memberikan pengertian pada Cahaya terkait hubungan saya dengan Anda. Bahwa tidak ada yang spesial kecuali memang saya dengan Cahaya hanyalah berteman. Saya berbicara seperti ini sebagai bentuk pertanggungjawaban Anda yang telah lancang pernah mengatakan pada Cahaya bahwa saya adalah calon mama barunya. Tolong Anda ralat dan beri Cahaya pengertian bahwa semua itu hanyalah bualan Anda. Selain itu, ada orang tua saya yang pasti akan salah paham jika Cahaya terus mengira jika saya dan Anda memiliki hubungan."
Bulan sampai tersengal setelah berkata-kata panjang lebar seperti itu. Namun, wanita itu memang harus memberikan penjelasan pada Langit agara semua tidak semakin runyam.
Langit sendiri memutar otak agar dapat memberi jawaban pada Bulan. Karena jujur, untuk memberikan pengertian pada Cahaya bahwa Bulan bukanlah calon mamanya, hal itu akan semakin menambah kesedihan sang putri dan pasti rasa kecewa Cahaya kepadanya yang tak sanggup Langit bayangkan. Lantas, kenapa Langit tidak mencoba saja mewujudkan apa yang Cahaya inginkan. Siapa tahu saja Bulan berminat?
"Maksud Anda?"
"Jika memang Cahaya sudah memberikan jalan bagi Nona dapat memliki lahan tersebut ... kenapa Anda harus repot-repot membelinya dengan memberikan saya penawaran yang sangat fantastis harganya."
Bulan masih bersikeras menerka apa maksud dan tujuan ucapan Langit Biru. Dan .... matanya melotot ketika menyadari ke mana arah pembicaraan pria di hadapannya ini.
"Maksud Anda ... saya menjadi mamanya Cahaya lalu saya bisa mendapatkan lahan itu, begitu?"
Langit mengangguk. Tidak ada salahnya jika dia menjalin kerjasama dengan Bulan. Ada beberapa keuntungan juga yang akan dia dapat. Pertama, dengan adanya perjanjian pernikahan bonus lahan, maka tak akan ada transaksi jual beli lahan. Otomatis, Vivian selaku mantan istrinya tak akan ada hak atas uang penjualan lahan. Kedua, membahagiakan Cahaya dengan cara sang putri sendiri dirasa Langit bisa memberikan secercah kebahagiaan pada putrinya itu.
__ADS_1
"Saya sungguh tidak mengerti dengan semua penawaran Anda ini. Padahal yang saya minta pada Anda adalah memberikan pengertian pada Cahaya agat tidak berharap banyak pada saya. Namun, yang Anda tawarkan justru sebaliknya. Sangat tidak sejalan."
"Nona pikirkan lagi saja tawaran itu. Jika Nona Bulan setuju ... kita bisa membicarakannya lebih lanjut. Saya permisi dan terima kasih atas jamuan makan malamnya."
Langit tersenyum simpul lalu meninggalkan Bulan masuk ke dalam mobil. Cahaya menyembulkan kepalanya keluar melambaikan tangan. Dengan memaksakan bibir agar dapat tersenyum setelah kekesalannya barusan terhadap Langit, Bulan membalas lambaian tangan Cahaya hingga mobil itu mulai berjalan meninggalkan halaman rumah. Barulah setelah tak lagi terlihat Bulan kembali masuk ke dalam rumah dengan kekesalan.
Langit makin kurang ajar saja. Sesampai di ruang makan masih ada Mommy yang sedang membersihkan meja makan sementara Daddy duduk dengan manis di sana menunggu sang Mommy tercinta.
"Jika Mommy lihat ... sepertinya hubungan kalian berdua ini ada yang tak biasa," cerca Alisha ketika mendapati kehadiran Bulan.
"Maksud Mommy apa?" Bukannya membantu Mommy-nya, justru Bulan menarik kursi dan duduk di samping Daddy.
"Ya ... kedekatan kalian membuat Mommy curiga saja."
"Mom aku dan Cahaya itu hanya berteman baik saja. Sementara dengan papanya Cahaya ... hanya ada urusan lahan. Lagian, mana mungkin aku mau memiliki hubungan dengan pria arogan seperti itu. Bikin pusing kepala saja."
"Mommy sih tidak keberatan mempunyai menantu duda. Wong ya tampannya kebangetan. Badannya tinggi kekar, wajahnya membuat siapa saja tak bosan melihat dan ___"
Belum sempat Alisha melanjutkan ucapannya Bumi telah menyela. "Sayang ... tega-teganya kamu memuji ketampanan pria lain di hadapanku."
Wajah Bumi memberenggut cemburu. Istrinya ini terang-terangan memuji jika Langit Biru tampan. Ya, memang benar Bumi tak memungkiri hal itu. Tapi peraturan di rumah ini tetap sama di mana sosok tertampan tetaplah dirinya. Danu saja yang jelas-jelas anak kandungnya masih diragukan ketampanannya.
"Loh ... Daddy. Mommy kan hanya berkata jujur juga apa adanya pada Bulan. Memang papanya Cahaya itu tampan."
"Sayang ... Kau masih ingat kan peraturan di rumah ini. Jika yang paling tampan hanya aku seorang."
__ADS_1
Dan pecahlah tawa Alisha juga Bulan. Daddy Bumi ini meski sudah tua tak akan mungkin diragukan ketampanannya.