
Hingga hari kelima kepulangannya kembali ke rumah, Langit masih belum ada keberanian mengatakan pada kedua orangtuanya perihal lamaran yang dia lakukan untuk Bulan Purnama. Padahal, janjinya pada Bumi Perkasa adalah minggu depan yang artinya dua hari lagi dia akan kembali ke Bali untuk melakukan lamaran resmi pada putri satu-satunya Bumi Perkasa.
Di ruang kerjanya, Langit tengah berpikir keras, bagaimana cara mengatakan pada papa dan mamanya. Sungguh, Langit dilema. Di satu sisi dia malu pada papa dan mamanya karena telah gagal menjadi kepala keluarga sampai hubungan pernikahan yang dia lakukan bersama Vivian harus kandas di tengah jalan. Langit merasa bersalah karena membiarkan Cahaya kehilangan kasih sayang seorang mama. Dan lagi ... untuk dapat menjalin hubungan pernikahan selanjutnya, papa dan mamanya telah mewanti-wanti agar mencari calon istri yang bisa menerima Cahaya dan jangan sampai mengalami kegagalan kedua kalinya. Karena alasan itulah Langit harus bisa memastikan pada kedua orang tuanya bahwa pilihannya kali ini adalah tepat. Wanita yang pas tidak hanya sebagai mama bagi sang putri tapi juga berperan sebagai sahabat yang baik untuk Aya.
Helaan napas panjang keluar dari sela bibir Langit Biru. Mengusap dagu tandanya dia tengah berpikir keras. Sampai tak menyadari kehadiran sang sepupu yang sudah muncul di ambang pintu ruang kerjanya.
Ehem
Langit tersentak. Mendengus melihat kedatangan Jupiter yang tiba-tiba.
"Melamun, hem?" Pria itu melangkah masuk dan tanpa diminta sudah duduk begitu saja di depan meja kerja Langit Biru.
"Tak ada lah. Ada apa?"
"Kau ini akhir-akhir ini tampak aneh saja."
"Aneh apanya?"
"Sudah pergi liburan nggak bilang-bilang. Pulang liburan bukannya bahagia yang ada itu wajah tampak kusut saja."
"Ck." Langit hanya berdecak. Memang Jupiter tidak tahu menahu perihal lamarannya pada Bulan.
Selain karena Langit sendiri masih ragu akan langkah ke depan, juga dia merasa tidak enak hati begitu mengingat bahwa Jupiter dekat dengan Bulan.
Meski demikian, tak ada hubungan apa pun yang Langit tahu antara Bulan dengan sepupunya itu.
"Apa papa di rumah? Maksudku, sedang tidak pergi ke luar kota?" Langit bertanya. Pasalnya Jupiter ini memang tinggal dengan kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu tak telepon sendiri?"
"Jika ada kamu yang bisa aku tanyai, kenapa harus buang-buang pulsa menelpon papa segala."
"Anak durhaka. Lebih sayang pulsa ketimbang mendengar suara papanya. Lagian kamu ini kenapa jarang sekali mengunjungi Uncle Surya?"
"Kamu tahu sendiri aku sibuk. Jadi ... papa sedang ke luar kota atau tidak?"
Kepala Jupiter menggeleng. Yang artinya memang Surya Alam sedang tidak ada kunjungan bisnis ke mana-mana.
"Baiklah. Nanti malam aku akan datang berkunjung."
"Begitu lebih baik."
Jupiter beranjak berdiri siap meninggalkan ruang kerja Langit.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana lagi?"
"Balik ke ruanganku lah."
"Tadi apa tujuanmu ke sini?"
"Hanya ingin melihat sepupuku saja apakah masih baik-baik saja."
"Sialan. Sudah sana keluar."
Kekehan Jupiter terdengar di telinga Langit. Semakin membuat pria itu galau saja.
•••
Malam harinya di rumah Surya Alam yang tak lain adalah papa dari Langit Biru.
Cahaya yang keluar dari mobil Papanya langsung berlari begitu saja menuju pintu masuk.
"Aya! Jalan yang benar. Jangan lari-larian. Nanti kamu jatuh!" Teriak Langit memperingati putrinya.
Namun, tak dihiraukan oleh sang putri karena saking rindunya gadis kecil itu pada nenek dan kakeknya.
"Kakek!" Teriak melengking Cahaya mengagetkan Surya Alam yang sedang membaca koran di ruang keluarga selagi menunggu makan malam disiapkan.
"Aya! Datang dengan siapa? Kakek juga sangat merindukanmu. Kamu ini kenapa tak pernah datang mengunjungi kakek?"
"Maafkan Aya. Aya sibuk. Papa sibuk. Jadi tidak sempat datang."
"Papa mana?"
"Masih di luar. Nenek mana?"
"Ada di dapur."
Gadis itu langsung beranjak meninggalkan Surya Alam untuk mencari sang nenek berada.
Derap langkah kaki yang terdengar, menolehkan kepala Surya di mana tampak di matanya sang putra tunggal melangkah mendekat padanya.
"Malam, Pa!" Langit menyapa, berdiri di hadapan sang papa, membungkuk lalu mencium punggung tangan papanya.
"Papa apa kabar?"
"Papa baik. Kamu sendiri? Ke mana saja tidak pernah pulang?"
__ADS_1
"Maaf. Aku sangat sibuk, Pa. Papa sendiri kapan akan pensiun?"
"Bagaimana Papa mau pensiun jika kamu saja tidak mau mengambil alih perusahaan."
"Ada Jupiter, Pa!"
"Jupiter pun sama. Lebih suka lari ke sana sini membantumu juga membantu papa. Tapi tidak mau fokus menjadi pemimpin perusahaan. Apa iya Papa harus menyerahkan pada orang lain. Padahal papa ada dua orang putra yang seharusnya bisa papa andalkan."
"Coba nanti aku akan membicarakan hal ini pada Piter."
"Baiklah. Papa tidak masalah siapa pun yang akan mengambil alih perusahaan keluarga. Karena bagi papa ... Baik kamu atau Jupiter sama-sama anak Papa."
Ya, meski Jupiter hanyalah keponakan, tapi karena sudah mengasuh Jupiter sejak dulu maka Surya pun tak akan pernah membeda-bedakan antara Langit dengan Jupiter.
"Mama di mana?"
"Di belakang. Tadi Aya juga mencari mamamu."
"Jupiter?"
"Masih di kamarnya. Nanti juga saat makan malam tiba dia akan keluar."
Langit mengangguk paham.
"Pa, sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Papa. Tapi nanti saja usai kita makan malam."
"Sepertinya serius?" Surya menatap curiga pada sang putra.
"Ini memang serius. Tapi nanti saja. Mama pun juga harus mendengarkan apa yang nanti aku sampaikan."
"Papa berharap apa yang kamu mau bicarakan terkait ... wanita yang nantinya akan menjadi mama barunya Cahaya. Papa berharap banyak, kamu segera menikah. Kasihan Cahaya karena anak seusia Cahaya sudah sepatutnya mendapat kasih sayang dari seorang Mama."
Langit berdehem sebentar. Ini kenapa papanya bisa menebak dengan tepat begini. Langit jadi salah tingkah dibuatnya. Surya makin curiga saja. Sampai-sampai lelaki itu terkekeh. "Langit ... Langit. Sepertinya apa yang papa tebak benar adanya."
Glek. Langit menelan ludah.
Dan kebetulan sekali Jupiter hadir di antara mereka.
"Lang! Jadi ke sini akhirnya. Kukira kau hanya membual mengatakan mau datang bertemu Uncle."
Langit melotot. Sepupunya ini jika bicara suka ceplas ceplos.
Surya menengahi. "Sudah ... sudah. Kalian berdua jika bertemu pasti akan berdebat tak ada habisnya. Ayo, kita makan malam dulu."
__ADS_1
Surya beranjak berdiri. Menepuk pundak Langit. Pria itu pun mengikuti sang Papa untuk berdiri. Sama halnya dengan Jupiter yang juga mengikuti keduanya menuju ruang makan.