
Bulan kesal, Bulan dilema. Kenapa sekarang Langit justru terang-terangan menawarkan hal yang diluar nalar. Ini sudah kali sekian pria itu mengklaim dirinya sebagai calon mama baru bagi Cahaya. Jika kapan lalu beralasan karena mantan istri pria itu, sekarang justru membawa-bawa lahan yang sudah jelas sangat dia inginkan. Ditambah Cahaya yang juga ikut-ikutan dalam permasalahannya dengan Langit Biru. Makin menambah deretan kepusingan Bulan.
Tak pernah terpikirkan di benak Bulan bahwa dia akan menikah dengan seorang duda yang memiliki anak. Selain karena duda bukanlah tipenya, Bulan juga masih ingin mengejar karir. Mengenai anak, seperti halnya Cahaya, Bulan memang menyukainya. Lebih tepatnya menyukai anak-anak karena terbiasa hidup dalam keramaian para keponakan. Anak-anak dari sang kakak yang bernama Danu. Dulunya di rumah ini selalu ramai dengan keponakannya yang berjumlah tiga orang. Dan Bulan sudah terbiasa akan hal itu. Lagipula anak-anak itu sangat polos dan lucu di balik dari sikap suka merusuh dan suka membuat kacau rumah. Namun, Bulan tak pernah bermasalah dengan hal-hal sepele yang demikian. Pun halnya ketika mengenal sosok Cahaya. Gadis sepuluh tahun yang dimata Bulan memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata selain rupa wajahnya yang cantik dan imut. Satu hal lagi yang membuat Bulan menyayangi Cahaya. Semua cerita yang Jupiter bagi padanya, akan bagaimana kisah keluarga Cahaya. Gadis sekecil itu harus menjadi korban broken home karena kedua orang tua yang memilih bercerai dan menjadikan Cahaya diombang ambingkan keadaan. Berbeda jauh dengannya yang sejak kecil selalu dilimpahi kasih sayang. Oleh sebab itulah dari hati kecilnya yang terdalam, Bulan begitu saja menyayangi sosok Cahaya. Karena Cahaya memang pantas mendapat kasih sayang darinya.
Apakah dia harus menjadi mamanya Cahaya?
Pilihan yang sulit. Namun, lahan itu?
Sungguh, penawaran yang sangat menggiurkan.
Jika hanya menjadi mamanya Cahaya saja tentulah Bulan tidak keberatan. Yang membuat Bulan putus asa adalah satu hal.
Menikah.
Menikah dengan Langit Biru.
Karena dengan menjadi mamanya Cahaya secara otomatis dia harus menikah dulu dengan Langit Biru. Dan Bulan tidak mau itu.
Oh, Tuhan!
Bingung sendiri Bulan dibuatnya. Mana Jupiter juga masih selalu berada dalam hati dan ingatannya, berharap dia dan pria itu berjodoh.
Sayangnya, keberuntungan masih belum berpihak kepada Bulan karena semesta seolah lebih setuju agar dia dan Langit yang berjodoh.
Siang ini, di saat terik matahari menyengat kulit, akan tetapi tak dihiraukan oleh beberapa wisatawan yang justru memilih berjemur demi mendapatkan sentuhan hangat dari sang matahari. Pun juga dengan Cahaya yang sejak tadi memilih menikmati hari dengan berada di pantai. Langit yang memilih menunggui putrinya, berteduh di bawah payung besar dengan menyeruput es kelapa muda. Menatap lurus pada sang putri yang tampak bahagia menikmati hari libur mereka.
Namun, kebahagiaan mereka berdua tak berlangsung lama. Ketika kembali ke hotel, Langit Biru dikejutkan dengan kedatangan Vivian di pulau dewata ini. Merutuki kelancangan Johan yang memberitahu keberadaannya di hotel ini bersama Cahaya.
"Mas!"
__ADS_1
Cahaya mencengkeram lengan papanya seraya berbisik, "Papa, kenapa bisa ada mama di sini? Papa mengundang mama datang? Aku tidak suka liburan kali ini diganggu mama karena hanya boleh ada Kak Bulan di antara kita berdua."
Elang menelan ludah. Vivian makin mendekat, dan Cahaya mencengkeram makin erat.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Pertanyaan dengan nada sinis terlontar dari mulut Langit.
Decak sebal Vivian karena kehadirannya tidak disukai oleh mantan suami dan putrinya. Lihat saja bagaimana Cahaya yang justru bersembunyi di balik tubuh besar papanya.
"Aku sengaja menyusul kalian ke mari karena ingin ikut berlibur bersama kalian."
"Tapi kamu tidak butuh kamu berada di sini," bantah Langit.
Dan lagi-lagi keberuntungan memang selalu berpihak pada Langit serta Cahaya karena Bulan Purnama yang berniat pulang makan siang, harus berpapasan dengan mereka bertiga di lobi kantor.
"Kak Bulan!"
Bulan. Tentu dia melihat jika mantan istrinya Langit tengah ada di sini. Apakah wanita itu menyusul Langit dan Cahaya.
"Kak Bulan ke mana saja? Padahal tadi Aya sudah ingin mengajak Kak Bulan main di pantai."
"Maaf, Kak Bulan harus berkerja. Eum ... itu bukankah sudah ada mamanya Aya yang ikut berlibur bersama kalian."
"Tidak. Mama tiba-tiba saja sudah ada di sini dan aku tidak suka."
"Aya tidak boleh berkata seperti itu. Bagaimana pun beliau adalah mamanya Cahaya."
Sementara itu, Vivian menatap pada Langit lalu bertanya, "Kalian berlibur bertiga di sini?"
Dengan sesuka hati Langit menjawab, "Ya. Memangnya kenapa? Ada masalah denganmu?"
__ADS_1
Vivian mendengus.
"Sebaiknya kamu jangan lagi mengganggu hidupku. Kita sudah memiliki hidup sendiri-sendiri."
Setelahnya Langit berjalan meninggalkan Vivian untuk mendekat pada Bulan dan Cahaya.
"Aya! Balik kamar. Mandi lalu kita makan siang."
"Kenapa kita tidak makan siang dulu saja, Pa. Mumpung ada Kak Bulan."
Glek
Bulan selalu kehilangan kata-kata jika sudah menghadapi Cahaya. Gadis kecil itu lah yang selalu berhasil membungkam mulutnya dari semua penolakan yang ingin dilontarkan.
"Boleh. Jika Kak Bulan nya mau," jawan Langit akan pertanyaan Cahaya.
"Kak Bulan, kita makan siang bareng ya?"
Bulan meringis, terlebih melihat Vivian yang menghentakkan kakinya kesal meninggalkan mereka.
Belum juga Bulan menjawab, Cahaya sudah menarik lengannya. "Ayo, Papa!"
Melihat Bulan yang gelagapan tak mampu menolak, Langit mengulum senyuman. Mengekori Cahaya yang bergelayut manja di lengan Bulan dan keduanya berjalan di hadapannya.
Lama-lama Langit merasa jika tak ada salahnya jika dia menjadikan Bulan mama barunya Cahaya. Hitung-hitung dia dapat daun muda. Agar Vivian semakin panas saja melihatnya. Dan satu hal lagi. Mungkin dengan menikah lagi maka Vivian tak akan lagi merecoki hidupnya dan hidup Cahaya.
"Papa kita mau makan ke mana?" tanya Cahaya membuyarkan lamunan Langit.
"Papa ikut saja. Mungkin Kak Bulan lebih tahu tempat makan yang enak di sekitar sini." Jawaban Langit tak ditanggapi oleh Bulan karena dia berencana membawa keduanya makan siang saja di rumahnya.
__ADS_1