Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Lima Puluh Dua


__ADS_3

Kabar rencana pernikahan Bulan Purnama dengan Langit Biru tak hanya terdengar oleh keluarga besar Bumi Perkasa seperti halnya Angkasa Dirgantara, tapi juga mantan istri Langit Biru, yaitu Vivian. Wanita itu murka tentu saja. Padahal Vivian sudah tahu akan hal ini sebenernya. Sudah beberapa kali bertemu sang mantan suami bersama calon mama barunya Cahaya. Hanya saja rasa tidak terima itu masih saja menguasai diri seorang Vivian. Kesal juga tidak ingin dirinya ditinggal menikah lagi, memaksa Vivian kembali mendatangi Mars Property. Apalagi jika bukan untuk menemui Langit dan menanyakan langsung akan perihal berita yang dia dapat dari salah satu informannya.


Wanita yang biasa melenggak lenggok dengan anggun, kini yang terdengar hanya derap langkah kaki dengan hight heels yang mengetuk lantai. Aura tidak bersahabat dari wajah Vivian, membuat siapa saja pasang mata yang melihat enggan menyapa. Tak ada ramah-ramahnya sama sekali. Daripada mendapatkan kesinisan, lebih baik mereka mengunci mulut dan membiarkan Vivian menuju ruang kerja pemilik perusahaan.


"Nyonya Vivian!" Panggilan yang Johan berikan ketika melihat mantan istri sang atasan berada di kantor ini. Johan tentu masih ingat pesan Langit agar tak membiarkan begitu saja Vivian membuat keributan di kantor ini. Oleh sebab itulah setiap kedatangan Vivian selalu berusaha Johan tahan karena sudah dapat dipastikan jika kehadiran wanita itu pasti menimbulkan masalah.


Vivian mengibaskan rambut panjangnya yang berwarna kecoklatan diterpa sinar lampu dalam ruangan. Berdecak tidak suka karena tahu jika Johan akan menghadangnya dan menghalangi dia menemui sang mantan suami.


"Ada apa, Jo?"


"Anda mau ke mana, Nyonya?"


"Masihkah kau bertanya apa mauku jika berada di sini? Tidak mungkin juga aku ingin menemuimu, kan?"


"Saya tahu itu, Nyonya. Oleh karena itulah saya ingin memastikan pada Nyonya. Jika tujuan Nyonya Vivian untuk menemui Pak Elang ... saya mohon maaf. Karena Pak Elang sedang sibuk dan tidak bisa diganggu."


"Cih! Sibuk? Dan aku tak peduli."


"Nyonya ... saya harap Nyonya sopan karena ini bukan di rumah Anda. Tapi ini adalah kantor. Jika Nyonya masih bersikap sesuka hati ... dengan terpaksa saya akan memanggil security untuk membawa Anda keluar dari tempat ini."


"Berani kau padaku!" Tuding Vivian pada Johan karena merasa kesal.


Ya, Johan memang harus berani sekarang. Jika kemarin-kemarin Johan masih berusaha menghormati mantan istri atasannya itu. Namun, lama-lama Vivian jadi sesuka hatinya. Sering memaksa bertemu dengan Langit meski sudah dilarang. Selain itu juga sering memaksa menanyakan di mana keberadaan Langit jika wanita itu tidak menemukan sang mantan suami berada di kantor. Karena sudah lelah dengan perilaku Vivian, maka Langit memerintahkan pada Johan untuk tidak memberikan akses pada Vivian untuk dapat menemuinya apalagi sampai membuat masalah di kantornya.


"Maafkan saya Nyonya. Itu sudah menjadi perintah Pak Elang."


"Apa!"


"Iya. Pak Elang tidak ingin bertemu dengan Anda."


"Sial! Aku tidak perduli, Jo. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya. Jangan berani kau menghalangiku."


Vivian bersiap melangkah, tapi Johan juga dengan sigap berdiri di depan tubuh Vivian agar wanita itu tak bisa melewatinya.

__ADS_1


"Minggir kau, Jo!" Sungguh Vivian kesal sekali.


Johan yang bersikukuh tidak mengijinkan Vivian masuk, sampai harus memberikan peringatan dengan keras. "Jika Anda tetap nekat ... dengan terpaksa saya akan memanggilnya security."


"Jo!" Suara berat milik Jupiter yang hadir di antara mereka berdua membuat Johan lega. Setidaknya dia tak akan sendiri menghadap Vivian yang keras kepala ini.


"Piter!" Vivian dengan memelas mengharap belas kasih dari sepupu mantan suaminya.


"Ada apa ini, Jo?"


"Maaf Pak Jupiter. Ini Nyonya Vivian memaksa untuk bertemu dengan Pak Elang. Padahal saya sudah memberitahukan pada Nyonya Vivian jika Pak Elang sedang sibuk dan tak bisa diganggu sekarang." Penjelasan Johan langsung dipahami oleh Jupiter. Pria itu paham jika sepupunya sudah barang tentu tak lagi mau berurusan dengan wanita ini .


"Omong kosong. Aku tahu jika Elang sengaja menghindar dariku." Ocehan Vivian yang masih belum bisa menerima.


Jupiter menghela napas. Kasihan juga pada Johan yang harus menghadapi Vivian seorang diri. Jadi dia harus ikut bertindak menangani Vivian yang memang memiliki sifat keras kepala.


"Vi ... ikut aku!"


"Ke mana?"


Huft, Johan merasa lega sekali. Setidaknya dia yang sudah sangat kewalahan menghadapi Vivian, ada Jupiter yang membantunya.


Sementara itu, di dalam lift dengan kesal Vivian menghentakkan kaki dengan decihan keluar dari sela bibirnya.


"Kau ini apa-apaan, Vi! Jangan suka membuat onar di kantor. Apa kau tidak malu, hah!"


"Hei .. enak saja kau menuduhku. Siapa juga yang membuat onar."


"Itu tadi apa yang sudah kau lakukan?"


"Aku hanya ingin berbicara dengan Elang. Itu saja."


"Tapi Elang tak mau bertemu denganmu."

__ADS_1


"Piter, please! Biarkan aku bertemu dengannya."


"Untuk apa?"


"Aku hanya ingin bertanya apa benar dia mau menikah lagi?"


Jupiter berdecak. Bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


"Kita bicara di coffe shop. Ayo!"


Jika bersama Jupiter, Vivian sedikit memiliki kecocokan. Oleh karena itulah wanita itu menurut saja ketika Jupiter membawanya. Baiklah. Tidak bisa menemui Langit tak apa. Ada Jupiter yang bisa dia cari banyak informasi seputar mantan suaminya itu.


Keluar dari lobi dengan Vivian masih mengekori Jupiter. Keduanya masuk ke dalam mobil dan Jupiter membawa Vivian pada sebuah kedai kopi yang tak jauh dari kantor.


Kini keduanya tengah duduk saling berhadapan dengan dua cangkir kopi berada di atas meja.


Jupiter memperhatikan Vivian dengan kedua tangan dia lipat depan dadaa. "Jadi ... apa yang ingin kau tahu tentang Elang?" Jupiter memulai obrolan dengan bertanya lebih dulu maksud dan tujuan Vivian ingin menemui sepupunya.


"Apa benar berita yang aku dengar jika Elang akan menikah lagi?"


Kepala Jupiter mengangguk. Tak ada yang perlu ditutup-tutupi. "Ya. Memang benar. Kurang dari satu bulan mereka akan menikah."


"Sial! Dan Elang tak mengundangku."


"Jika Elang mengundangmu ... Kau yakin akan datang dan tak membuat keributan?"


Vivian geram. Kenapa Jupiter ini bisa berkata begitu. Terlalu paham tentangnya. "Kenapa kau berkata seperti itu, Piter!"


"Karena aku tahu siapa kamu, Vi. Sudahlah. Jangan lagi menyulitkan hidupmu sendiri dengan berulah yang macam-macam. Relakan saja Elang menikah lagi agar Aya tak lagi kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kau tahu bagaimana Aya yang sangat merindukan sosok mama yang menyayangi dan mencintainya?"


"Apa kau yakin istri baru Elang akan menyayangi Aya?"


Kepala Jupiter mengangguk. "Aku yakin jika Aya akan menemukan sosok mama terbaik dari diri Bulan."

__ADS_1


Vivian mendesah kecewa. Rasa kecewa pada Langit juga pada dirinya sendiri yang tak bisa kembali mendapatkan mantan suaminya itu.


__ADS_2