
Keesokan harinya, Langit merasa lega mendapati Cahaya sudah lebih baik kondisinya. Ketika memasuki kamar sang putri, Cahaya sudah dapat duduk dengan memainkan ponsel di tangan. Langit mendekat.
"Pa!"
"Bagaimana kondisimu, Aya? Sudah baikan?" Langit duduk di tepi ranjang dengan punggung tangan dia tempelkan pada dahi sang putri. Sudah tak sepanas tadi malam.
"Aku sudah lebih baik sekarang."
"Papa senang melihatmu kembali sehat, Aya. Jangan sakit-sakit lagi. Karena papa sangat khawatir sekali."
Ya, Langit memang sangat mengkhawatirkan Cahaya. Bahkan semalaman dia terjaga. Menunggui Cahaya di dalam kamar sang putri tercinta. Baru lah pagi tadi lelaki itu kembali ke dalam kamar untuk mandi dan berganti baju. Bahkan Langit juga berencana untuk tidak pergi ke kantor hari ini. Takut andaikan Cahaya masih membutuhkan dia berada di samping putrinya itu.
Namun, rupanya ketika Langit kembali ke dalam kamar Cahaya, putrinya sudah bangun dan bisa bermain ponsel. Itu pertanda jika kesehatan Cahaya sudah berangsur membaik.
"Aku akan sehat jika Papa menepati janji."
"Aya! Jangan berbicara seperti itu. Kamu harus sehat selalu tanpa syarat apapun. Karena kamu adalah satu-satunya penyemangat hidup papa."
"Tapi papa telah berjanji padaku?"
Kening Langit mulai mengernyit sebagai pertanda jika dia tengah berpikir sesuatu. Banyak beban pikiran membuat Langit tak bisa cepat dalam berpikir. Janji? Langit tak mengerti janji apa yang Cahaya maksudkan.
"Janji apa?"
"Papa jangan pura-pura lupa."
Langit meraup wajahnya kasar. Dia tidak paham ke mana arah pembicaraan Cahaya. Seingatnya, dia tak memiliki janji apa pun. Kecuali kebohongan yang membuat sang putri murka sampai sakit segala.
"Papa! Semalam aku tidak sedang bermimpi, kan?" Cahaya bertanya dengan mata memandang sang papa.
Dari sini lah perlahan ingatan Langit bermunculan. Dia ingat bagaimana Cahaya mengigau semalaman memanggil nama Bulan.
Glek
Pria itu menelan ludahnya kesusahan. Apakah yang Cahaya maksud adalah janji untuk mempertemukannya dengan Bulan?
"Papa sudah ingat? Aku tidak sedang bermimpi kan ketika papa meneleponkan Kak Bulan untukku?"
Langit menganggukkan kepala. "Kamu tidak sedang bermimpi, Aya. Papa memang menelpon Kak Bulan karena kamu terus mengigau menyebut namanya. Papa jadi tidak tega. Oleh sebab itulah Papa meminjam ponselmu agar bisa menghubungi Kak Bulan."
Senyum Cahaya merekah. Dia beneran berbicara dengan Kak Bulan semalam. Oh, Tuhan. Rasanya rindu sekali di dengan wanita sebaik dan seramah Bulan. Sudah cantik, baik lagi. Sangat cocok jika dia jadikan mama. Tapi ... Apakah Kak Bulannya mau menikah dengan papanya?
__ADS_1
Cahaya murung dan semua raut wajah sang putri terlihat jelas pada mata Langit Biru. "Aya! Kenapa kamu bersedih?"
"Papa ... aku beneran rindu dengan Kak Bulan. Papa sudah berjanji padaku akan mempertemukan aku dengan Kak Bulan jika aku sembuh. Kuharap papa mau menepati janji dan tidak lagi ingkar padaku."
Bisakah Langit menolak semua keinginan Cahaya. Dapat dia lihat jika Cahaya tidak mengada-ada mengatakan tengah merindukan gadis itu. Langit dapat melihat kejujuran dalam bola mata putrinya.
"Papa ... Papa sebenarnya mau mau saja mempertemukanmu dengan Kak Bulan. Hanya saja ... Kak Bulan sudah tidak ada lagi di Jakarta, Aya."
"Kenapa kita tidak mengunjunginya saja, Pa."
"Rumah Kak Bulan jauh, Aya."
"Kita bisa datang sekalian liburan."
"Bagaimana mungkin bisa seperti itu. Kamu harus sekolah."
"Apa papa lupa jika minggu depan aku sudah selesai ujian. Dan setelahnya kita bisa berlibur. Rasanya sudah lama sekali kita tidak pergi berlibur, Pa. Terakhir aku jalan-jalan pada saat di Surabaya tempo hari. Itupun hanya beberapa hari saja."
"Papa akan lihat dulu jadwal kerja papa karena papa juga tidak bisa sembarangan pergi meninggalkan perusahaan."
"Masih minggu depan, Pa. Ayolah, Pa. please!"
••••
"Jo, apa jadwalku minggu depan padat?" tanya Langit pada asisten pribadinya melalui sambungan telepon. Saat ini pria itu sedang duduk di sofa yang berada di ruang keluarga sembari menunggu Cahaya mandi dengan dibantu Mbak Lani. Setelah itu mereka akan sarapan bersama.
"Selama satu minggu Anda hanya akan memiliki jadwal selama empat hari kerja. Itu pun tidak seharian penuh, Pak Elang."
"Yang bisa kamu re-shcedule ... pindah saja di lain hari. Di minggu depannya lagi atau dalam minggu ini."
"Memangnya kenapa, Pak?"
"Aku akan menemani Cahaya liburan. Oh, ya. Hari ini aku tak dapat ke kantor. Cahaya sedang sakit. Dan dia membutuhkanku."
"Baik, Pak. Tidak masalah. Saya akan menghandel semuanya dengan dibantu Jupiter tentunya. Anda di rumah saja."
"Thanks, Jo. Jika membutuhkan sesuatu kamu bisa meneleponku."
"Siap, Pak Elang."
"Mengenai jadwal yang aku minta tadi ... segera beritahu aku perubahan yang kamu buat agar aku bisa mempersiapkan diri."
__ADS_1
"Baik, Pak. Satu jam dari sekarang saya akan mengirim perubahan jadwal Anda melalui email."
"Kuserahkan semua padamu, Jo. Satu lagi. Carikan aku tiket ke Bali untuk dua orang. Aku dan Cahaya. Untuk minggu depan."
"Baik, Pak Elang. Berapa hari rencana Anda pergi?"
"Tiga hari saja. Ya, tiga hari saja cukup."
"Baiklah. Saya akan booking dua tiket untuk Anda. Pak Elang, saya ingin bertanya mengenai proposal yang kemarin saya berikan pada Anda. Apa jawaban Anda yang nanti bisa saya berikan pada penawar lahan itu."
"Berapa kali aku katakan padamu, Jo. Aku tidak akan pernah menjual lahan itu. Jadi, jika ada lagi yang menawarnya, entah siapa pun itu ... kamu bisa langsung menolaknya. Lagipula aku heran. Darimana mereka ini tahu jika itu lahan tidak pernah aku urus. Dan berani-beraninya mereka menawarnya padahal sudah jelas aku tidak berniat untuk menjualnya."
"Karena para investor itu tahu besarnya potensi yang tersimpan dari lahan itu, Pak."
"Biarkan saja, Jo. Aku pusing. Lebih baik aku memikirkan hal lain saja yang lebih berguna."
"Baiklah jika demikian. Apakah ada lagi yang ingin Anda sampaikan Pak Elang?"
"Tidak ada."
"Jika begitu ... saya tutup teleponnya."
"Ya."
Panggilan telepon dengan Johan terputus.
"Pa!"
Kepala Langit memutar ke samping. Putrinya tampak segar sehabis mandi meski masih meninggalkan wajah yang pucat. Gegas Langit berdiri lalu menghampiri sang putri.
"Aya! Ayo kita makan."
Kepala gadis itu mengangguk patuh. "Pa, terima kasih."
"Untuk?"
"Karena papa mau mengabulkan keinginanku untuk berlibur ke Bali dan menemui Kak Bulan."
Langit tersenyum. Mengusap rambut putrinya. "Aya! Papa akan lakukan semua untukmu. Yang penting kamu bahagia."
Cahaya melingkari pinggang Langit dengan kedua lengannya. Memeluk erat papanya sembari berkata, "Termasuk menjadikan Kak Bulan sebagai mamaku, Pa?"
__ADS_1