Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Tiga Puluh


__ADS_3

"Apa!" Bulan terlalu terkejut mendengar berita yang sekretarisnya sampaikan.


"Iya, Bu. Lahan itu ada yang menawarnya selain kita."


Bulan memijit pelipisnya. Bagaimana bisa? Sungguh, Bulan takut andai kata investor pesaing yang akan mendapatkan lahan itu. Padahal sudah cukup lama Bulan mengincarnya. Bahkan, demi mencari tahu siapa pemilik lahan itu, Bulan harus berjuang keras. Namun, apa yang justru dia dapatkan? Kekecewaan karena Langit Biru, si pemilik lahan itu enggan menjual untuknya. Dan kini, begitu Bulan mendengar ada orang lain yang juga mengincar lahan itu ... harap-harap cemas dirasakan. Bagaimana jika penawaran yang pesaingnya berikan lebih tinggi daripada penawarannya? Lalu, Langit melepas lahan itu untuk pesaing bisnis Bulan. Oh, tidak. Bulan tidak mau kalah. Lagi-lagi sebuah ambisi sudah merajalela dalam benaknya. Berbagai macam cara berusaha dia susun. Dan strateginya mungkin saja dengan mendekati Jupiter. Ah, Jupi. Pemuda baik yang Bulan yakin menaruh hati padanya. Sebenarnya, Bulan sendiri juga ada hati pada pemuda itu. Sayangnya, jauh jarak yang memisahkan membuat Bulan enggan membuka hati karena takut dikecewakan. Terbiasa dimanja oleh keluarga, menjadikan Bulan sangat menghindari arti dari rasa kecewa karena bagi Bulan, apa pun yang diinginkan pasti bisa dia wujudkan. Dan Jupiter ... Bulan tidak yakin jika pria itu mau mengikutinya ke Bali andai kata Bulan memberikan rasa cintanya pada pria itu. Jupiter yang baik hati juga tak mampu dia manfaatkan demi lahan itu. Tapi tidak ada cara lain lagi kecuali mencari tahu perihal lahan milik Langit Biru. Apa gerangan yang membuat Langit keukeh tidak mau melepas lahan itu.


"Aku akan pikirkan lagi bagaimana caranya agar kita yang tetap mendapatkan lahan itu," ucap Bulan pada sekretarisnya.


"Baik, Bu. Jika begitu saya permisi dulu."


Sepeninggalan sang sekretaris, Bulan berpikir sejenak. Tak ada salahnya jika dia menghubungi Jupiter sekarang.


Mendial nomor telepon Jupiter. Hanya perlu sebentar menunggu karena didering kedua pemuda itu sudah mengangkatnya.


"Hai, Bulan."


Suara Jupiter terdengar riang karena Bulan meneleponnya.


"Hai, Piter."


"Tumben menelepon."


"Apa aku tidak boleh meneleponmu?"


"Tentu saja boleh. Aku akan sangat senang karena kamu menelponku. Apa kamu merindukanku, Bulan?"


Bulan membuka mulutnya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Senyum malu-malu yang Bulan yakin wajahnya kini sudah merona. Beruntungnya Jupiter tidak melihat karena mereka hanya berniat melalui sambungan telepon saja. Bisa salah tingkah sendiri Bulan dibuatnya.


Hanya dengan gombalan receh saja Bulan sudah terpesona. Sebenarnya, bagi Bulan, Jupiter ini hampir mendekati kriteria lelaki idaman. Di mana lelaki itu baik dan penuh perhatian seperti papanya. Romantis juga tentunya.


"Jika aku merindukanmu ... apa kamu keberatan, Piter?" Balas Bulan. Gadis itu bahkan tidak menyangka jika dia bisa menggombal juga.


Jangan ditanya lagi apa reaksi yang Jupiter lakukan. "Bulan ... apakah ini pertanda lampu hijau darimu?"


Kening Bulan mengernyit. "Hah? Lampu hijau? Maksudnya?"


"Astaga, Bulan. Inilah yang aku takutkan jika kamu hanya memberikan harapan palsu padaku."


"Tidak, Piter. Siapa juga yang memberikan harapan palsu padamu. Hanya saja ... aku tidak yakin padamu, karena jarak yang memisahkan kita."

__ADS_1


Jupiter diam. Bulan ada benarnya juga. "Kamu benar. Aku juga tidak mungkin meninggalkan ibukota."


"Dan aku juga tidak mungkin meninggalkan Bali."


"Jadi?"


"Jadi apanya?"


"Hubungan kita?"


"Biarkan seperti ini saja. Jika ada jodoh ... pasti tidak akan ke mana."


"Kamu benar. Baiklah, mari kita berteman baik, Bulan."


"Bukankah selama ini kita sudah berteman baik?"


"Ah, iya."


Hening untuk sejenak karena keduanya sama-sama dilanda kegalauan.


"Eum ... apa aku menganggangu pekerjaanmu, Piter? Maaf jika aku sudah meneleponmu."


"Oh, tidak. Pekerjaan memang banyak ... Tapi aku bukan Langit yang selalu memforsir diri untuk terus bekerja dan bekerja."


"Ya. Dan aku yakini jika semua itu demi mengalihkan perhatian dari rasa kecewa pada mantan istrinya."


"Oh, ya?"


"Ya. Jika tidak seperti itu ... untuk apa juga Langit harus memaksakan diri dan mendedikasikan banyak waktunya hanya untuk bekerja. Padahal dia itu salah satu pengusaha sukses yang kekayaan dan juga asetnya ada di mana-mana."


"Termasuk lahan yang ingin aku beli itu? Aku heran kenapa dia tidak menjualnya saja daripada dibiarkan terbengkalai tanpa ada hasilnya begitu."


"Langit tidak butuh uang. Jadi dia membiarkan asetnya sebagai investasi. Jika tanah nilai investasinya tak perlu diragukan lagi. Meskipun dia biarkan begitu saja semakin bertambah tahun maka harganya bertambah dengan nilai yang sangat fantastis."


Sedikit hal yang Bulan tahu jika apa yang diinformasikan Jupiter benar adanya. Tentulah Langit tidak bodoh dengan menjual lahan begitu saja. Ah, kenapa pemikiran Bulan tidak bisa sampai sejauh itu.


"Padahal banyak yang menginginkan lahan itu dan salah satunya aku. Sudah lama aku mengincarnya karena aku ingin membangun resort impian di sana."


"Benarkah? Aku takut padamu karena di usia muda kamu sudah menjadi seorang pebisnis wanita yang sukses."

__ADS_1


"Biasa saja, Piter. Aku begini juga bukan dari nol usaha tapi hanya meneruskan warisan keluarga."


"Meskipun begitu tapi kamu tetap hebat karena berhasil mengembangkan bisnis keluargamu."


"Karena itu memang harus aku lakukan agar tidak membuat kecewa Daddy dan kakakku. Ambisiku cukup tinggi dalam hal ini."


"Aku jadi insecure jika berhadapan denganmu."


"Hei ... Aku tidak maksud begitu. Apa kamu lupa Piter jika kamu juga adalah sosok pria yang hebat."


"Tapi masih hebat kamu."


"Tidak ada rumusnya begitu."


Jupiter menghela napas. Kesempatan inilah yang Bulan gunakan. Siapa tahu saja Jupiter mau membantunya. Namanya juga usaha.


"Piter! Apa kamu mau membantuku?"


"Membantu apa? Selagi aku bisa lakukan, kenapa tidak?"


"Apa yang harus aku lakukan agar Pak Langit mau menjual lahannya padaku? Sungguh, impianku ini sangat besar ingin aku wujudkan. Tapi terkendala lahan."


"Aku tidak yakin jika bisa merayu Langit agar mau melepas lahan itu untukmu. Tapi aku akan mencobanya."


"Benarkah?"


"Ya, demi kamu akan aku lakukan apapun itu."


Apakah Bulan sangat keterlaluan karena memanfaatkan Jupiter? Ya, Bulan sebenarnya merasa bersalah. Tapi dia sudah terlanjur mengatakannya dan Bulan tidak akan pernah memaksa Jupiter untuk merayu Langit demi ambisinya. Dia hanya berusaha itu saja. Selebihnya dia serahkan hasilnya nanti bagaimana. Jika Langit tetap tak menjual lahan itu ... Entahlah.


"Terima kasih, Piter. Kamu memang baik."


"Aku senang bisa membantumu, Bulan."


"Jika begitu aku tutup teleponnya."


"Ya. Dan semoga kita ada kesempatan untuk kembali bertemu nantinya."


"Datanglah ke Bali, Piter."

__ADS_1


"Aku akan merencanakan datang ke sana. Berlibur sekaligus menemui calon mertua."


Jupiter tertawa setelah mengatakan hal itu. Pun juga dengan Bulan yang ikut tertawa mendengarnya sebelum akhirnya dia putus panggilan teleponnya.


__ADS_2