Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Lima Puluh Satu


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Langit memasuki halaman luas rumah Bumi Perkasa. Pada akhirnya acara dinner tadi hanya sebatas makan malam biasa tanpa ada pembicaraan yang berarti. Jangankan dinner romantis, yang ada Bulan hanya diam enggan melihat pada Langit apalagi mengajak pria itu berbicara. Sampai acara makan malam usai, dan Bulan meminta pada Langit untuk mengembalikan dia ke hotel. Sayangnya, Langit justru membawa Bulan pulang ke rumah Daddy Bumi. Tak menghiraukan protes Bulan karena mobil wanita itu ada di hotel.


"Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Bulan dengan keengganan. Bagaimana pun Langit sudah mentraktirnya makan, sekalipun bukan Bulan yang meminta, mengucap terima kasih juga tak ada salahnya.


"Sama-sama."


Bulan berniat turun dengan mencoba membuka pintu mobil. Namun, tak bisa. Wanita itu menoleh ke samping. "Pak Langit. Bisakah Anda buka kunci mobilnya. Saya ingin turun."


"Sebentar." Langit meraih ponsel miliknya di atas dashboard mobilnya. Lalu menyerahkan pada Bulan.


Bukan langsung menerima, kening Bulan mengernyit menatap pada Langit dan ponsel secara bergantian. "Ini apa?"


"Saya minta nomor ponsel Anda, Nona Bulan. Tolong simpan di sini."


Mata Bulan membulat. Untuk apa juga pria itu meminta nomor ponselnya. Ya, memang Bulan pernah membagi nomor ponsel miliknya pada Cahaya dan Jupiter. Tapi Langit seharusnya bisa saja memintanya dari Cahaya. Bukankah dulu Langit pernah menelepon dengan menggunakan ponsel milik Cahaya.


"Untuk apa Anda meminta nomor ponsel saya?"


"Takkan lah meminta nomor ponsel calon istri sendiri saja tidak boleh." Langit berdecak dengan masih mengacungkan ponsel di hadapan Bulan.


Gadis itu berpikir. Jika tidak memberikan nomor ponselnya, Langit akan terus meminta. Dengan kasar meraih ponsel tersebut. Dengan kesal dan sedikit tidak rela Bulan mengetikkan digit demi digit nomor ponsel ke dalam ponsel milik Langit. Setelah selesai, dia kembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.


Langit menatap deretan angka yang terpampang di layar ponselnya dengan senyuman. "Terima kasih."


"Jika begitu ... bisakah saya keluar sekarang?"


"Tentu saja."


Membiarkan Bulan keluar dari dalam mobil. Tanpa menoleh ke belakang, Bulan meninggalkan Langit begitu saja tanpa perlu repot-repot mempersilahkan Langit untuk masuk. Buat apa juga mempersilahkan Langit singgah jika mereka saja sudah makan malam. Dan lagi hari sudah cukup malam untuk menerima tamu.

__ADS_1


Langit menjalankan kembali mobil begitu tubuh Bulan menghilang di balik pintu yang sudah tertutup. Pria itu kembali menuju ke hotel.


Sementara itu, Bulan yang sudah memasuki rumah langsung disambut oleh Mommy Alisha. "Sayang ... kenapa malam sekali pulangnya?"


"Maaf, Mom. Tadi Pak Elang memaksa untuk membawaku makan malam."


"Cie ... cie. Yang selesai dinner. Pantas saja wajahnya merona," goda Alisha membuat Bulan semakin malu dibuatnya.


"Mommy apaan, sih! Hanya makan malam biasa saja. Tidak ada yang spesial juga."


"Benarkah? Bukannya Pak Elang itu pria romantis?"


"Romantis dari mananya? Jika Mommy mengira Pak Elang adalah pria romantis seperti Daddy ... Mom salah besar. Pak Elang itu hanyalah lelaki arogan tukang paksa."


Bulan jadi kesal sendiri. Di dalam pikiran Bulan, Langit memang tukang paksa. Selain memaksa menikah dengannya juga acara makan malam hasil dari paksaannya juga.


"Hush! Jangan bicara seperti itu. Nanti jadi cinta baru tahu rasa kamu, sayang. Jangan terlalu membenci seseorang jika ujungnya nanti terlalu mencintai."


Daripada terus mendengarkan godaan Mommy Alisha yang juga lebih suka membela Langit, lebih baik dia mandi saja agar pikirannya kembali tenang.


••••


Di sebuah resort yang sudah disewa oleh Surya Alam sebagai tempat liburannya dua hari ke depan. Setelah acara lamaran resmi dari Langit untuk Bulan, Surya Alam memang tak langsung kembali ke Ibukota. Selagi mereka berada di pulau Dewata, tak ada salahnya memanjakan keluarga dengan acara liburan singkat. Sayangnya Langit tak bisa ikut karena ada pekerjaan yang menanti. Jadi Surya hanya membawa sang istri, Cahaya juga Jupiter untuk menginap di resort ini. Mungkin baru besok Langit akan menyusul. Lokasinya juga tidak jauh dari hotel serta rumah milik Bumi Perkasa berada. Hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Jadi tidak sulit bagi Langit jika ingin menyusul keluarganya, sebelum mereka semua kembali ke Ibukota.


Malam ini selesai menyantap makan malam di tepi pantai, Surya Alam membawa istri dan cucunya kembali ke resort untuk beristirahat. Jika Surya Alam dan sang istri masuk ke dalam kamar, berbeda dengan Cahaya yang masih sibuk barbeque-an bersama Jupiter.


"Uncle Jupi. Sayang sekali ya tidak ada Papa dan Kak Bulan yang ikut di sini," celetuk Cahaya yang langsung membuat Jupiter mendongak. Pemuda itu tengah sibuk dengan peralatan juga bahan makanan yang akan mereka santap lagi di malam ini. Jupiter dan Cahaya ini sama-sama memiliki perut yang melar. Jadi meski sudah makan malam pun, perut mereka masih muat diisi makanan lagi.


"Memangnya kenapa? Aya tidak suka berduaan bersama Uncle di sini?"

__ADS_1


"Bukan tidak suka. Tapi kan jika ada Papa dan Kak Bulan akan makin ramai."


Benar apa yang Cahaya utarakan. Jupiter tak menanggapi. Hatinya masih terlalu rapuh untuk membahas tentang Bulan Purnama.


"Uncle!"


Kembali Cahaya memanggil. "Apalagi, Aya."


"Uncle tahu tidak. Aya sangat bahagia sekali."


"Oh, ya? Bagus dong jika Aya bahagia. Uncle juga ikut bahagia jika melihat Aya bahagia."


"Aya bahagia karena sebentar lagi akan memiliki mama lagi."


Deg


Jupiter menghentikan aktifitasnya. Dadanya bergemuruh. Sanggupkah dia merebut Bulan dari tangan Langit? Sanggupkah dia menghancurkan kebahagiaan Cahaya? Tidak. Jupiter tak akan sanggup berbuat demikian. Dia bukan orang jahat yang egois hanya mementingkan diri sendiri juga kebahagiaan sendiri. Baginya, Aya adalah segalanya. Meski hanya keponakan, tapi Jupiter sangat menyayangi Cahaya. Gadis kecil yang selalu membuatnya tertawa. Gadis kecil yang menjadi alasan Jupiter melupakan kesedihan karena tak lagi memiliki orang tua. Cahaya dengan semua tingkah lakunya yang selalu dapat menghibur Jupiter. Cahaya dengan gaya bahasa yang terkadang membuat Jupiter kesal sekaligus tertawa secara bersamaan.


"Uncle!"


Jupiter terkesiap mendengar Cahaya memanggil namanya cukup nyaring. "Ya."


"Uncle kenapa melamun? Apa Uncle sedang sedih?"


Kepala Jupiter menggeleng. Lalu mengulas senyuman. "Siapa bilang Uncle sedih. Jika bersama Aya ... Uncle pasti bahagia."


Cahaya tersenyum lebar. Begitu saja menubruk tubuh Jupiter dan memeluk pemuda itu dengan erat. "Aya sayang Uncle. Tetaplah jadi Uncle Jupi-nya Aya yang baik. Aya berdoa semoga Uncle juga menemukan kebahagiaan seperti halnya Papa. Aya sayang kalian semua."


Mata Jupiter berkaca-kaca. Bagaimana mungkin dia sangat terharu akan semua sikap Cahaya kepadanya.

__ADS_1


Dan di sini Jupiter jadi sangat yakin untuk melepas rasa suka, sayang serta cinta yang dia miliki untuk Bulan. Merelakan Bulan demi kebahagiaan Cahaya.


__ADS_2