Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

"Pa ... kenapa kita tidak membawa Uncle Jupi ikut bersama sekalian?" Pertanyaan yang Cahaya lontarkan ketika pagi ini dia bersama Langit sedang berada di bandara.


"Tidak. Karena hanya tiga hari saja kita di Bali. Papa bisa menjagamu sendiri karena kepergian kita kali ini bukan dalam rangka pekerjaan. Tapi karena papa ingin membahagiakanmu dengan menuruti apa maumu."


Senyum Cahaya melebar. Tak apa kali ini dia bepergian ke luar pulau tanpa Uncle kesayangannya. Asalkan dia bisa bertemu dengan Kak Bulan. Cahaya sendiri tak paham kenapa dia sangat menyukai sosok Bulan. Sampai-sampai dia bisa merindu separah ini. Bertemu dengan Bulan juga baru beberapa kali, tapi sanggup meninggalkan kesan mendalam di dalam hati. Bulan yang cantik dan baik hati, mampu mencuri perhatian Cahaya yang memang haus akan belaian sosok mama.


"Baiklah. Kuharap papa beneran menepati janji. Jangan sampai ketika kita di Bali papa justru sibuk sendiri." Cahaya berucap. Selama ini dengan adanya Jupiter, Cahaya merasa ada teman karena sang papa suka sibuk sendirian.


"Iya, papa janji."


Meskipun Langit tidak tahu pasti di mana alamat tempat tinggal Bulan, akan tetapi sebuah nama hotel di mana Bulan sebagai pemimpinnya sudah cukup bagi Langit berpikir ke mana tempat yang akan ia tuju nantinya. Dan semoga saja Langit tidak menemukan kendala serta berhasil mempertemukan putrinya dengan Bulan Purnama.


Perbincangan mereka terhenti karena keduanya harus segera memasuki pesawat yang akan berangkat. Cahaya yang penuh kegirangan sudah tidak sabar menunggu saat dimana akan bertemu dengan wanita yang dia rindu.


••••


Satu jam perjalanan yang mereka tempuh telah mengantarkan Langit bersama Cahaya menginjakkan kakinya di pulau Dewata. Lihat saja bagaimana bersemangatnya Cahaya yang sudah tidak sabar menunggu sang papa membawanya ke hadapan Bulan.


"Pa ... kita langsung ke rumah Kak Bulan, kan?"


Langit menggelengkan kepala. Mana tahu dia alamat rumah Bulan di mana. Memang dia belum mencari tahunya. Nanti saja ketika mereka di hotel, Langit akan menemui Bulan. Semoga saja Cahaya ada jodoh bertemu dengan wanita itu.


"Maksudnya, Pa?"


"Kita ke hotel dulu."


"Tapi, Pa?"


Cahaya yang merajuk dan Langit langsung memberikan peringatan pada putrinya. "Aya! Kita istirahat dulu. Okay!"


Cahaya tak lagi berani membantah. Sementara Langit sendiri, mencoba mencari cara agar semua rencana dan tujuannya berjalan dengan lancar.


Dengan menaiki sebuah taksi, Langit membawa Cahaya menuju sebuah hotel yang cukup terkenal.


"Pa ... Kita akan menginap di sini?"

__ADS_1


"Iya. Ayo turunlah."


Cahaya menurut dengan apa yang papanya perintahkan. Gadis cantik dengan tas ransel tersampir di punggung, berjalan mendahului papanya yang tengah menyeret sebuah koper besar berisi baju mereka berdua.


Memasuki hotel yang dinginnya langsung menerpa kulit wajah, Langit membuka kaca mata hitamnya gegas menuju meja resepsionis untuk reservasi.


Cahaya sendiri memilih duduk di sofa yabg berada di lobi menunggu papanya selesai. Namun, mata gadis itu memicing menangkap sosok berbaju kerja dengan celana pensil juga blouse berwarna putih tulang tengah berjalan memasuki lobi.


Sekali lagi Cahaya mencoba mengenali jika yang dia lihat kali ini memang tidak salah.


"Kak Bulan!" Teriaknya dengan lantang. Bahkan tak hanya Bulan sendiri yang mendengar, tapi juga beberapa pengunjung hotel dan Langit Biru tentunya. Ya, pria itu sampai memutar kepala ke belakang karena nyaringnya suara Cahaya.


Glek


Langit menelan ludah. Tak jauh darinya, sosok Bulan Purnama terlihat oleh netranya. Ya, siang ini Bulan memang baru saja tiba di hotel setelah menemani sang Daddy bertemu dengan rekan bisnis di sebuah resto. Bahkan kehadiran Bulan ke hotel ini juga tidak sendiri tapi juga bersama Daddy Bumi.


Hanya saja Daddy Bumi masih berada di luar, bertemu dengan salah satu pengunjung hotel yang kebetulan juga mengenal Daddy-nya Bulan itu.


Kembali pada Bulan yang tak kalah terkejutnya sampai matanya terbelalak dan membulat sempurna. "Aya!"


"Kak Bulan. Aku sangat merindukan kakak." Cahaya begitu saja sudah menubrukkan tubuhnya memeluk Bulan. Sangat erat dengan kedua lengan melingkari pinggang Bulan. Cahaya yang berumur sepuluh tahun, tidak terlalu kecil berada dalam pelukan Bulan. Karena postur Cahaya sendiri mengikut pada Langit Biru yang berperawakan tinggi besar.


"Kakak juga rindu Aya. Kata papa ... Aya sakit waktu itu. Maaf karena Kak Bulan tidak bisa menjengukmu."


"Jika bertemu Kak Bulan aku langsung sehat."


"Aya ke sini dengan siapa?"


Bulan berharap jika Cahaya akan menjawab Uncle Jupi. Jujur, Bulan sendiri sedang merindukan pemuda itu. Setelah sekian lama berhubungan dengan Jupiter melalui video call atau telepon karena jarak yang memisahkan, tak Bulan pungkiri jika wanita itu ingin sekali kembali dapat dipertemukan dengan pamannya Cahaya.


Namun, sayang sekali ketika harapan Bulan tidak kesanpaian karena Cahaya menjawab, "Dengan Papa."


Bulan yang kecewa pun bertanya karena saat memasuki lobil hotel perempuan itu tidak melihat keberadaan Langit Biru. "Papa?"


"Iya, itu di sana."

__ADS_1


Bulan mengikuti arah tunjuk Cahaya pada meja resepsionis.


Benar sekali. Di sana tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok Langit Biru yang di mata Bulan terlihat sangat berbeda juga sedang menatap padanya. Bahkan lelaki yang hanya memakai celana pendek selutut dengan kaos berkerah itu mengulas senyum padanya.


Bulan gugup. Tak ayal wanita itu pun membalas senyum yang Langit berikan.


Hingga suara Daddy Bumi yang mengejutkannya, Bulan buru-buru mengalihkan pandangan.


"Bulan! Siapa dia?" Daddy Bumi bertanya.


Kening Daddy Bumi tampak mengernyit melihat sang putri tengah berpelukan dengan seorang gadis kecil yang Bumi tak kenal.


"Daddy. Eum ... kenalkan, dia adalah Cahaya."


Lalu, Bulan beralih mengenali Cahaya dengan Daddy-nya.


"Cahaya kenalkan, beliau adalah Daddy Kak Bulan."


Cahaya yang memang pada dasarnya begitu ramah tanpa segan mengulurkan tangan berkenalan dengan Daddy Bumi.


"Uncle ... namaku Cahaya. Panggil saja Aya. Senang dapat berjumpa dengan Uncle."


"Hei, Aya cantik. Panggil saja Opa. Karena Opa rasa ... terlalu muda jika Aya memanggil Uncle."


"Ops, sorry!"


"Tak masalah. Opa senang dapat berkenalan denganmu."


Ehem


Suara deheman Langit Biru yang kini ikut bergabung karena menghampiri putrinya, mengalihkan perhatian Daddy Bumi. Lelaki yang sekarang tak lagi muda usianya itu tampak bertanya-tanya, siapa gerangan lelaki tampan yang menghampiri mereka.


Cahaya paham jika Daddy Bumi tengah kebingungan. Oleh sebab itulah gadis kecil itu berinisiatif mengenalkan. "Opa ... kenalkan. Dia adalah papaku. Namanya papa Langit."


"Oh." Suara yang keluar dari sela bibir Daddy Bumi. Terjawab sudah tanda tanya dalam benaknya tadi.

__ADS_1


__ADS_2