Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Sebelas


__ADS_3

"Bereskan barang-barang kalian. Kita kembali ke Jakarta malam ini juga!" Perintah yang Langit berikan pada Jupiter dan Cahaya, putrinya. Tentu keduanya saling melempar pandangan kebingungan.


"Papa! Kenapa harus malam ini. Mendadak sekali. Padahal masih ada tempat yang ingin aku kunjungi esok hari." Cahaya memberenggut karena merasa papanya ini sesuka hati meminta dirinya ikut kembali pulang ke rumah malam ini.


"Cahaya. Lain kali kita bisa datang ke sini lagi. Papa ada pekerjaan penting di kantor. Jadi malam ini juga kita harus kembali. Okay! Maafkan, Papa." Dengan penuh kasih sayang, tangan besar Langit mengusap kepala Cahaya. Gadis itu tak lagi protes. Dia tahu apa yang papanya perintahkan harus dia taati. Memilih beranjak dari atas sofa yang tadi dia duduki. Lalu mengambil koper dan mulai membereskan barang-barang miliknya.


Jupiter sendiri tak kalah heram dengan sikap sang sepupu. Pastilah ada sebab sampai Langit bersikap aneh begitu. "Ada apa?" tanya yamg terlontar dari mulut Jupiter.


Langit mengembuskan napas lelah. "Tadi Vivian datang ke sini."


"Apa?"


"Dia kembali berulah. Aku hanya takut jika Vivian nekat dan meracuni pikiran Cahaya."


"Apalagi yang dia inginkan?"


"Apalagi jika bukan harta. Dia mengincar salah satu lahan yang aku miliki di pulau terpencil dekat pantai. Aku tak mengerti dari mana dia tahu jika lahan itu ada yang menawar dan ingin membeli."


"Memangnya kamu mau menjualnya?"


Langit hanya mengedikkan bahu. "Tidak," jawabnya singkat lalu beranjak berdiri.


"Sebaiknya kamu juga segera siap-siap. Dua jam lagi pesawat kita berangkat."


"Apa? Merepotkan sekali." Jupiter pun memilih kembali ke kamarnya sendiri untuk membereskan barang bawaan miliknya yang tidak banyak dia bawa.


••••


Setelah menimbang-nimbang akan apa yang ingin Bulan lakukan. Secara kebetulan seolah semua dipermudah jalannya. Haruskah Bulan membiarkan begitu saja kesempatan di depan mata terlewat tanpa dia harus melakukan tindakan apapun juga.

__ADS_1


Berkali-kali Bulan dengan pantang menyerah mengirimkan proposal penawaran lahan yang telah lama dia incar. Dan berkali itu pula penolakan dia dapatkan. Padahal Bulan sangat antusias untuk mendapatkan lahan tersebut. Potensi yang tersimpan dari lahan kosong dan tak terurus milik sosok Langit Biru sangat besar andai dikelola dengan baik dan serius. Tak mengerti dengan apa yang ada dalam benak pria itu. Kenapa membiarkan saja lahan tersebut terbengkalai tak ada nilai investasinya sama sekali. Padahal Langit Biru yang Bulan tahu adalah seorang pengusaha besar yang memiliki perusahaan di bidang properti dan namanya pun sudah terkenal di kancah dunia bisnis. Seharusnya pria itu memiliki rencana dan tujuan untuk jangka panjang memiliki lahan tersebut. Nyatanya, Langit tetap membiarkan lahan itu mangkrak begitu saja. Daripada dibiarkan tak ada nilai investasinya, kenapa Bulan tidak memanfaatkannya saja. Hal itulah yang terus saja memenuhi pemikiran Bulan.


Untuk itulah kenapa gadis itu memiliki ambisi tinggi ingin memilikinya dan menjadikan lahan tersebut lebih bermanfaat dengan dibangun sebuah resort misalnya. Lokasinya dekat dengan pantai. Sangat cocok jika digunakan bagi para wisatawan menginap jika ingin pergi berlibur.


Dulu Bulan tidak mengenal sama sekali akan sosok Langit Biru. Melalui beberapa pendekatan yang tidak direspon sama sekali oleh pria itu. Sekarang, memang Bulan tidak mengenal secara dekat sosok Langit, tapi nyatanya melalui perantara Uncle Dirga, Bulan yakin sekali jika sang paman pasti bisa membantunya.


Gadis itu ingat akan nomor telepon Jupiter yang sempat dia save pada kontak ponselnya. Bahkan tidak hanya dia simpan sia-sia tapi rupanya pemuda itu sudah beberapa kali berkirim pesan juga menghubungi. Bukan hal intim. Hanya pendekatan antar teman untuk saat ini. Saling mengenal sedikit demi penjajagan yang lebih jauh lagi.


Kenapa dia tidak meminta bantuan Jupiter saja? Batin Bulan.


Tapi ini urusan bisnis yang tidak etis jika dicampur adukkan dengan urusan pribadi.


Ah, mungkin selagi Langit Biru ada di kota ini, ada baiknya Bulan Melaku negosiasi. Siapa tahu saja dengan dia yang turun tangan langsung, maka Langit akan melepaskan lahan itu untuknya. Baiklah. Sekarang yang harus Bulan lakukan adalah menelepon Jupiter untuk meminta nomor telepon Langit yang Bulan tidak tahu. Ingin sebenarnya Bulan meminta bantuan pada Uncle-nya. Namun, mencoba berusaha sendiri dulu tidak apa. Baru jika nantinya dia mengalami kendala, Bulan akan menyerah dengan berlindung di bawah nama besar sang paman. Bukankah Langit dengan Dirga menjalin hubungan bisnis yang cukup baik.


Ponsel sudah menempel di telinga. Bulan benar-benar merealisasikan keinginannya untuk menelepon Jupiter.


Di dering keempat, barulah pemuda yang dia telepon menjawab panggilannya.


Kening Bulan mengernyit keheranan. Suara Jupiter terdengar sangat jelas di telinga.


"Sorry aku mengganggu waktumu malam-malam."


"Tidak apa. Apa ada yang bisa aku bantu, Bulan?"


Bulan merasa tidak enak hati. Dalam pemikirannya gadis itu, Jupiter sedang berada di luar karena suara-suara berisik terdengar.


"Eum ... Jupi. Apa kamu sedang diluar?"


"Bulan ... sejak kapan kamu jadi ikut-ikutan Aya memanggilku dengan sebutan itu."

__ADS_1


Tawa Bulan tak dapat ditahan. Itu tadi refleks saja Bulan memanggil demikian. Padahal biasanya juga menyebut dengan nama Piter.


"Maafkan aku, Piter. Sebenarnya aku meneleponmu karena ingin bertanya sesuatu."


"Apa itu?"


Ragu Bulan ingin mengatakan jika ingin meminta nomor telepon papanya Cahaya. Secara, Bulan takut jika Jupiter salah sangka.


Belum juga Bulan mengungkapkan apa maksud dan tujuannya meneleponnya, suara seorang pria yang sedang berbicara dengan Jupi terdengar olehnya.


"Piter! Kita harus segera check-in. Ayo! Matikan dulu teleponmu itu."


Deg


Itu suara Langit dan Bulan menghapalnya. Suara berat yang terdengar dingin dan menyeramkan.


"Bulan! ... Halo, Bulan. Kamu masih di sana?"


Bulan sampai tak menyadari jika Jupiter tengah memanggil-manggil namanya. Sampai-sampai dia tergagap menjawab, "Ah, iya. Aku masih di sini, Piter."


"Maafkan aku, Bulan. Bisakah besok kita bertelepon lagi? Aku sedang di Bandara dan harus segera check-in sekarang."


"Memangnya kamu ingin pergi ke mana?"


"Aku harus segera kembali ke Jakarta."


"Apa? Cahaya dan papanya juga?"


"Iya. Maafkan aku. Besok aku akan menghubungimu. Selamat malam, Bulan."

__ADS_1


Jupiter sudah mematikan sambungan teleponnya. Bulan mendesah kecewa. Dia terlambat. Niat hati menemui Langit secara langsung tak bisa ia lakukan karena pria itu akan kembali pulang ke Ibukota. Jika sudah begini bagaimana? Haruskah Bulan kembali merayu dan menaikkan penawarannya agar Langit setuju.


Oh, Tuhan. Kenapa susah sekali hanya dengan mewujudkan mimpi. Dan Bulan tak mungkin mengenyahkan begitu saja keinginan yang sudah tersusun dengan rapi dalam daftar impian dan cita-citanya membangun resort megah dan mewah di tepian pantai nan indah.


__ADS_2