
"Melamar putri saya?" Bumi mengulang apa yang tadi Langit katakan. Terkejut lebih kepada dugaan juga pembicaraannya dengan sang istri tadi sore yang rupanya terbukti juga.
Bahkan Bumi mencoba meyakinkan jika dia tidak salah dengar. Langit Biru memang sedang melamar Bulan.
"Maafkan saya jika sudah berani lancang, Pak Bumi."
"Oh, tidak ... tidak. Tidak masalah Pak Elang." Bumi mengulas senyuman, lalu kembali berkata, "Saya tidak masalah jika Anda memang serius ingin melamar putri saya."
Jawaban Bumi sungguh di luar dari perkiraan Langit. Padahal sejak tadi pria itu sudah takut dan harap-harap cemas jika keberaniannya melamar Bulan akan memicu kemarahan Bumi Perkasa. Secara dia adalah seorang duda dengan satu orang anak. Sementara Bulan, adalah sosok single yang masih sangat muda. Selisih usia keduanya ada sekitar sepuluh tahun. Menurut Langit, seorang ayah pasti ingin yang terbaik untuk putrinya. Jadi, Bumi pun pasti ingin yang terbaik untuk menjadi suami Bulan. Namun, kenyataannya Bumi tak mempermasalahkan lamarannya. Bolehkah Langit besar kepala karena apa yang dia inginkan bisa diwujudkan dengan tinggal satu langkah saja.
"Jadi ... Pak Bumi menerima lamaran saya pada Bulan?" Sekali lagi Langit memastikan bahwa apa yang dia dengar sebelumnya benar adanya. Nyata dan bukan mimpi.
Bumi menganggukkan kepala. "Kenapa Pak Elang tampak tidak percaya saja. Pak Elang serius kan dengan lamaran itu?"
"Saya serius Pak Bumi. Hanya saja saya sungguh tak menyangka jika Pak Bumi mau menerima lamaran saya. Karena ... yah, saya tidak yakin jika Anda mau menerima saya karena status saya."
Bumi paham apa yang Langit risaukan. Lelaki itu mengulas senyum pada Langit untuk kali sekian. "Apakah karena Anda duda dengan seorang anak jadi merasa tidak percaya diri melamar putri saya, begitu?"
Tepat sekali dugaan Bumi. Langit mengangguk. "Iya. Saya duda. Dan saya sungguh takut andai kata Pak Bumi tidak mau menerima saya. Secara dari segi usia pun Bulan masih sangat muda. Memiliki selisih usia yang lumayan jauh dengan saya."
"Pak Elang. Saya tidak pernah mempermasalahkan status seseorang. Asalkan putri saya bahagia nantinya. Lagipula, saya berkaca pada diri sendiri. Dulu ketika menikah dengan Mommy-nya Bulan, status saya juga seorang duda. Dengan satu orang anak yang seusia dengan istri saya."
Jika status Bumi saat menikahi Mommy-nya Bulan adalah duda, Langit sudah mengira. Dari segi usia terlihat sangat kentara. Namun, kenyataan jika anak bawaan dari Bumi Perkasa seusia dengan Mommy-nya Bulan, ini yang membuat Langit terkejut.
"Benarkah itu, Pak Bumi."
"Iya. Anak saya dengan mantan istri itu seusia Mommy-nya Bulan. Sudah menikah dan memiliki dua orang putra yang sekarang tinggal di luar negeri."
Langit manggut-manggut mengerti.
"Jadi ... Pak Elang jangan khawatir. Saya menerima lamaran Anda untuk Bulan."
Langit lega mendengarnya. "Terima kasih banyak, Pak Bumi. Saya ... ah, maksud saya, Cahaya pasti akan bahagia sekali jika nantinya akan memiliki mama baru sebaik dan secantik Nona Bulan. Saya sendiri juga serius untuk kembali menjalin hubungan pernikahan."
"Saya percaya pada Anda bahwa nanti Pak Elang bisa membahagiakan putri saya."
"Terima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan. Minggu depan saya akan kembali ke rumah ini dengan membawa kedua orang tua saya untuk melamar Bulan secara resmi."
"Saya tunggu, Pak Elang."
__ADS_1
"Jika seperti itu ... saya pamit balik hotel karena besok saya harus kembali pulang ke ibukota."
Bumi dan Langit meninggalkan teras dan masuk ke dalam ruang keluarga di mana ada Cahaya yang duduk di sofa panjang dengan diapit oleh Alisha dan juga Bulan. Pandangan mereka fokus pada layar televisi. Di pangkuan Bulan juga Cahaya masing-masing terdapat sebuah toples berisi camilan.
Ehem
Langit berdehem mengalihkan konsentrasi mereka bertiga. Alisha yang lebih dulu bangkit dari duduknya menyambut suami dan tamunya.
"Nyonya Alisha ... saya permisi dulu. Karena sudah malam."
Alisha memberenggut. "Kenapa panggil Nyonya lagi. Bukankah saya sudah mengatakan pada Pak Elang untuk memanggil saya dengan sebutan Mommy. Sama seperti Bulan memanggil saya."
Langit sebenarnya merasa sungkan pada Bumi. Tapi tak apalah jika memang itu Mommy Alisha sendiri yang memaksa. "Iya, Mommy. Maaf saya lupa."
"Tak apa."
"Aya ... ayo kita kembali ke hotel sekarang."
Dengan malas Cahaya beranjak juga. "Sebenarnya Aya masih ingin di sini Papa."
"Minggu depan kita ke sini lagi."
Langit mengangguk melirik pada Bulan yang berpikir kenapa Langit mengatakan minggu depan akan kembali ke sini. Bulan abaikan.
"Oma ... Opa. Aya pulang dulu, ya?" Pamit Cahaya sembari mencium punggung tangan Bumi dan Alisha.
"Besok Aya sudah kembali pulang. Pasti Aya akan merindukan Oma." Cahaya memeluk Alisha dengan sayang. Begitu pun dengan Alisha yang tampak sangat menyayangi gadis kecil itu.
Langit yang melihat sangat terharu. Keluarga baru yang begitu baik dan tak segan memberikan kasih sayang pada putrinya.
"Pak Bumi ... Mommy Alisha, saya minta maaf jika selama di rumah ini Aya sudah merepotkan."
"Tidak ada yang merepotkan. Aya sangat pandai sekali."
"Jika begitu kami permisi dulu."
Kini giliran Cahaya yang memeluk Bulan. "Kak Bulan ... Aya pulang dulu."
"Hati-hati di jalan."
__ADS_1
Bulan mendongak. Bersitatap dengan Langit untuk sesaat karena wanita itu langsung membuang pandangan.
Langit membawa Cahaya untuk meninggalkan rumah Bumi Perkasa.
Begitu keduanya tak lagi terlihat, Bumi sudah senyum-senyum sendiri mengingat lamaran yang Langit utarakan tadi. Memandang putrinya menggoda. Bulan mengernyitkan keningnya menatap pada Daddy-nya yang terlihat aneh saja. "Daddy ... kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Tidak. Daddy lagi bahagia saja."
"Apa hal yang membuat Daddy sebahagia itu?"
"Kepo." Bumi menoel ujung hidung Bulan.
"Daddy, ish. Menyebalkan."
Dan Bumi hanya tertawa. Merangkul bahu Alisha meninggalkan Bulan untuk masuk ke dalam kamar.
Alisha sendiri juga dibuat penasaran. Dia yakin bahwa telah ada omongan penting dengan papanya Cahaya tadi.
"Mas."
"Hem."
"Apa yang sudah membuat Mas Bahagia sekali malam ini. Pasti soal Pak Elang dengan Bulan, kan?"
Bumi terkekeh. Istrinya ini sangat tahu apa yang tengah dia pikirkan. "Kau ini kenapa selalu saja tahu, sayang."
"Apa Mas lupa jika aku ini adalah belahan jiwamu. Jadi selalu tahu apa yang sedang Mas pikirkan."
"Pak Elang melamar Bulan padaku tadi."
Alisha terkejut. "Benarkah?"
"Iya."
"Lalu? Apa Mas terima."
"Tidak ada alasan bagiku untuk menolak."
"Mas benar. Aku yakin sekali jika Pak Elang adalah lelaki yang baik di luar dari alasan kegagalan rumah tangganya yang dulu."
__ADS_1
"Setiap orang selalu punya masa lalu. Kita doakan saja semoga Pak Elang berjodoh dengan Bulan."