Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Langit mengulurkan tangan besarnya sebagai bentuk perkenalan dengan ayah dari Bulan Purnama.


"Langit Biru."


"Bumi Perkasa." Daddy Bumi pun menyambut uluran tangan Langit.


Detik berikutnya, kening Langit mengernyit seolah tak asing dengan nama itu. Dan yap, sosok Bumi Perkasa yang begitu berwibawa serta berkarisma mengingatkan Langit jika beliau adalah seorang pengusaha senior yang namanya sudah melanglang buana di kancah dunia properti. Selama ini Langit belum pernah bertemu langsung dengan sosok Bumi Perkasa. Namun, kehebatan lelaki paruh baya itu tak mungkin Langit ragukan. Proyek besar ada di mana-mana dan beliau termasuk pengusaha senior di mana Langit merasa beruntung bisa mengenal langsung Bumi Perkasa. Bagaiman mungkin Bulan Purnama memiliki seorang ayah sehebat itu.


"Pak Bumi. Saya senang dapat berjumpa langsung dengan Anda. Karena selama ini saya hanya sering mendengar nama Anda. Sosok pengusaha hebat yang bahkan memiliki bisnis di mana-mana."


"Ah, Anda terlalu berlebihan Pak Langit. Anda juga pengusaha yang hebat. Oh, ya. Apakah Anda menginap di sini?"


Kepala Langit mengangguk. "Iya."


"Selamat datang di hotel kami. Semoga pelayanan yang Anda dapatkan memuaskan."


"Terima kasih banyak, Pak Bumi."


Cahaya yang tidak tahu menahu dengan pembahasan Langit dan Bumi, hanya memandang secara bergantian pada dua lelaki dewasa di hadapannya ini. Sementara Bulan, wanita itu justru masih merangkul bahu Cahaya membiarkan papanya berbincang saling berkenalan dengan Langit Biru. Dalam hati Bulan hanya mampu mencebik mengatai Langit. Jika mengenal papanya saja sok ramah, sok dekat dan sok memuji. Padahal yang Bulan tahu lelaki itu adalah sosok arogan dan sok kegantengan. Bulan masih belum bisa melupakan pengalaman pertemuannya dengan Langit. Jangankan meminta maaf, yang ada pria itu sok tidak pernah merasa bersalah padahal sudah menabraknya. Dan juga pengakuan pria itu yang mengatakan jika dia adalah calon mamanya Cahaya, mana ada juga ucapan maaf dari kebohongan yang sudah pria itu buat. Bulan masih kesal dan sebal mengingatnya. Beruntungnya ada sosok Cahaya yang masih bisa menahan kekesalan untuknya tidak menyemprot Langit akan semua sikap tidak terpuji pria itu.


"Oh, ya Pak Langit. Datanglah ke rumah. Kita bisa membicarakan bisnis sekaligus makan malam." Ini tawaran yang kerap Langit terima ketika bertemu dengan para pengusaha.


"Eum ... Anda seperti Pak Dirga saja yang suka sekali mengundang saya makan malam." Langit terkekeh setelah mengatakan itu. Ya, bahkan Langit baru tahu jika Pak Dirga dan Pak Bumi bersaudara setelah dia mengaitkan hubungan kekeluargaan di antara mereka.


Sewaktu makan malam di rumah Pak Dirga, Langit bertemu dengan Bulan yang notabene adalah keponakan Pak Dirga. Dan sekarang Langit kembali menemukan fakta jika Bulan adalah putri Bumi Perkasa. Dari sini dapat disimpulkan jika Bumi dan Dirga adalah saudara.


"Loh ... Pak Langit juga mengenal adik saya?"


Langit mengangguk dengan senyuman tersungging di bibirnya. "Iya. Beberapa kali saya dan Pak Dirga terlibat dalam satu proyek yang sama. Saya baru tahu jika Pak Dirga adalah adik Anda. Padahal ada lebih dari satu kali saya diundang makan malam oleh Pak Dirga."


"Oh, begitu." Di sini lah Bumi juga mengingat sesuatu bahwa Langit Biru adalah pemilik lahan di mana Bulan berniat kuat untuk membelinya dan ditolak oleh sang pemiliknya. Bulan juga pernah bercerita jika sempat bertemu Langit ketika makan malam di rumah Dirga. Satu hal lagi yang Bumi ingat. Dia lah yang mengusulkan pada Bulan agar meminta bantuan pada Uncle-nya itu untuk merayu Langit agar mau menyerahkan lahan yang diinginkan Bulan.

__ADS_1


Semua fakta-fakta itu berhasil Bumi kumpulkan dan pria itu mengulas senyuman. "Jangan lupa Pak Langit. Nanti malam datang ke rumah saya. Ada driver yang nanti malam akan menjemput Anda," ucap Bumi bersemangat.


"Terima kasih atas undangannya. Saya pasti akan datang Pak Bumi." Mana mungkin Langit menolak. Bumi adalah pengusaha senior yang nantinya Langit dapat belajar banyak hal padanya.


"Jangan lupa bawa serta putri Anda yang cantik ini."


"Tentu saja Pak Bumi."


"Baiklah. Jika begitu saya permisi dulu. Selamat berlibur Pak Langit."


Pandangan Bumi teralihkan pada Bulan. "Daddy ke atas duluan," pamitnya pada sang putri.


"Cahaya ... Opa tinggal dulu ya?"


"Silahkan Opa."


Bumi melangkah meninggalkan mereka bertiga.


Cahaya mendongak, mengutarakan tanya pada Bulan. "Kak Bulan kok ada di sini? Apakah ini hotel milik Opa Bumi?"


"Pantas saja papa membawaku ke sini."


Langit tak mengutarakan sepatah kata pun. Dia terlalu gengsi jika itu menyangkut Bulan.


Bulan tak mau ambil peduli soalan Langit. Wanita itu masih berkata pada Cahaya. "Bulan dalam rangka liburan kah ke sini?"


Kepala Cahaya menggeleng. "Tidak. Papa membawaku ke sini karena ingin menemui Kak Bulan."


"Apa?"


Bulan mendongak menatap pada Langit meminta kebenaran akan ucapan Cahaya.

__ADS_1


Jangan ditanya lagi bagaimana Langit yang salah tingkah sendiri. Sedikit berdehem sebelum memberikan klarifikasi. "Aya merindukanmu katanya. Dan dia memaksa untuk membawanya padamu."


"Papa sendiri yang berjanji akan mempertemukanku dengan Kak Bulan."


Bulan hilang akal dengan perkara dua orang yang bersamanya ini. Daripada dia pusing-pusing lebih baik dia segera pergi dari hadapan keduanya. Bukan sebab Bulan tidak suka bertemu dengan Cahaya dan Langit. Hanya saja, jika ada Langit yang ada kecanggungan di antara mereka. Bulan tidak masalah jika dia hanya berdua saja dengan Aya.


"Baiklah, Aya. Jika begitu sebaiknya sekarang Aya istirahat dulu. Pasti capek setelah menempuh perjalanan. Eum ... Nanti Kak Bulan akan bawa Aya jalan-jalan. Telepon saja jika Aya sudah siap bertemu kakak lagi. Okay!"


"Okay, Kak. Kak Bulan memang baik."


"Sama-sama, Aya. Jika begitu kakak akan susuk Opa Bumi dulu. Sampai ketemu lagi, Aya. Bye."


Melirik sekilas pada Langit sebelum wanita itu meninggalkan Cahaya.


Senyum Cahaya tidak pudar sedikit pun. "Kak Bulan baik ya, Pa?"


"Iya."


"Kak Bulan juga cantik."


"Iya. Eh, apa?" Langit meneguk saliva dan Cahaya justru terkikik geli karena berhasil menggoda papanya.


"Cie ... Papa. Mengakui juga jika Kak Bulan cantik."


"Kamu ini. Sudah ... sudah. Kita ke kamar sekarang."


"Papa tidak perlu malu begitu mengakui jika memang terpesona pada Kak Bulan. Karena aku pun juga sama."


"Kamu ini bicara apa. Jangan berlebihan dan sebaiknya ikuti papa sekarang."


Langit kembali menarik koper dan berjalan tanpa mau menunggu Cahaya.

__ADS_1


"Ish! Papa. Tidak seru. Jika suka bilang aja. Kenapa nggak mau ngaku!"


Meski pun Langit mendengar, tapi dia pura-pura tidak meladeni sang putri karena Cahaya ini jika dituruti akan semakin menjadi. Sama halnya dengan sekarang. Berharap demi kebahagiaan putrinya, yang ada justru dia yang malah digoda oleh Cahaya.


__ADS_2