Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Sampailah mereka di samping mobil milik Bulan. Wanita itu bersiap membuka pintunya, akan tetapi urung dilakukan karena Langit yang menghadang. "Biar saya saja yang akan membawa mobilnya," ucapnya dengan suara berat khas sosok Langit. Tegas dan juga penuh intimidasi. Malu dengan badan yang besar jika sampai dia harus menaiki mobil dengan Bulan yang membawa kemudinya, meski ini adalah mobil milik wanita itu sendiri. Oleh sebab itulah kenapa Langit berinisiatif menawarkan dirinya.


Bulan tak menolak, tapi justru menyerahkan kunci mobilnya pada Langit. Diterima lelaki itu dan langsung membuka pintu juga masuk ke dalamnya tanpa permisi. Bukannya ikut naik dan duduk di samping Langit, yang ada justru Bulan membawa Cahaya untuk naik dan duduk di kursi penumpang. Langit hanya melirik melalui kaca spion. Tak ada protes dari mulutnya meski kelihatannya dia seperti seorang sopir saja. Memilih menjalankan mobil meninggalkan hotel. Sedikit keengganan untuk Langit kembali ke rumah Bumi Perkasa dan merepotkan demi makan siang. Daripada tidak enak hati nantinya, Langit memberanikan diri bertanya.


"Nona Bulan ... apakah tidak masalah jika saya dan Cahaya kembali merepotkan dengan datang meminta makan siang?"


"Tidak. Lagipula Mommy saya sudah menunggu untuk makan siang. Jika saya tidak datang ... justru akan mengecewakan Mommy karena saya lebih memilih makan siang di luar. Anda tenang saja. Jika hanya makan siang saja tidak masalah."


"Baiklah. Terima kasih."


Jika Langit kembali membungkam mulutnya, lain halnya dengan Cahaya yang kini mulai berceloteh manja pada Bulan.


"Kak Bulan ... Aya senang bisa datang kembali ke rumah Kak Bulan. Opa dan Oma sangat baik."


"Benarkah? Daddy dan Mommy kakak memang baik orangnya."


"Apakah Opa dan Oma mau mengangkat Aya menjadi cucu mereka?"


"Hah?" Bulan sampai menganga mulutnya. Namun, detik berikutnya, wanita itu mengulas senyuman. Memberikan secercah kebahagiaan pada Cahaya. "Tentu saja. Kenapa tidak. Aya anak yang baik juga cantik. Pasti opa dan oma tidak keberatan menjadikan Aya cucu mereka."


"Itu berarti Kak Bulan mau menjadi mamanya Aya?"


Bulan tak perlu lagi berpikir karena tak ada salahnya menjadi mama angkat Cahaya. Kasihan Cahaya yang pasti haus akan kasih sayang seorang mama. Bulan dapat menilai jika mantan istri Langit Biru itu hanya mementingkan diri sendiri selama ini. Sangat kentara terlihat dari cara berpenampilan juga bersikap. Tapi sudahlah. Bulan tak mau menghakimi orang lain. Karena setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing.

__ADS_1


Anggukan kepala Bulan, tentulah membuat girang bukan kepalang bagi Cahaya. Sampai gadis kecil itu berekspresi luar biasa. "Yeay! Kak Bulan mau jadi mama Aya." Dan langsung memeluk tubuh Bulan yang ada di sampingnya.


Sementara Langit Biru, pria itu tidak serta merta ikut senang hatinya mendengar perbincangan dua orang wanita beda usia yang duduk di belakangnya. Justru saat ini Langit tengah berpikir keras juga menerka-nerka. Apa yang dimaksud oleh Bulan Purnama sampai-sampai berucap demikian pada putrinya. Mau menjadi mama dari Cahaya? Ah, Langit harus meminta pertanggungjawaban atas ucapan wanita itu.


Untung saja perjalanan yang tidak lama sudah mengantarkan ketiganya sampai di rumah Bumi Perkasa. Cahaya yang bersemangat langsung melompat turun dari dalam mobil disusul oleh Bulan di belakangnya. Namun, langkah Bulan terhenti karena cekalan tangan besar Langit Biru pada pergelangan tangannya. Membuat kepala wanita itu memutar ke belakang.


"Apa yang Anda maksud pada Cahaya tadi?" tanya to the point diutarakan Langit begitu saja.


Bulan sempat terkejut dengan perlakuan Langit. "Maksudnya?"


"Anda mengatakan mau menjadi mama barunya Aya. Saya sangsi dengan hal itu. Bukankah baru kemarin Anda meminta pada saya untuk memberikan pengertian pada Cahaya agar tidak terlalu berharap lebih pada Anda, Nona Bulan. Lalu, kenapa sekarang justru Anda sendiri yang menaruh harapan besar pada putri saya. Jangan salahkan saya jika sampai Aya terus menuntut kebenaran akan ucapan Anda sendiri karena Cahaya adalah gadis yang kritis. Tidak suka dibohongi dan dia akan terus menuntut jawaban atas janji Anda sendiri."


Bulan menghela napas. Dia memang gegabah mengatakan hal demikian tadi pada Cahaya. Namun, semua sudah Bulan perhitungkan. Toh, hanya dengan menjadi mama angkat tak perlu ada hubungan lebih dari itu. Termasuk yang dia takutkan untuk menikah dengan Langit agar dia bisa menjadi mama gadis kecil itu.


Mulai dari sini Langit sedikit dibuat salah paham. "Oh, jadi Anda sudah memikirkan tentang tawaran yang Cahaya berikan?"


Bulan geleng-gelengkan kepalanya. "Bukan ... bukan seperti itu. Ah, maksud saya ... ya, saya memang mau menjadi mamanya Cahaya. Tapi hanya sekedar mama angkat. Itu saja. Yang penting Cahaya bahagia mempunyai mama baru."


Kening Langit mengernyit dalam. Apa maksudnya dengan mama angkat?


"Mama angkat? Maksudnya?"


"Maksud saya ... Status sebagai mama angkat seperti mengadopsi seorang anak begitu."

__ADS_1


"Anda dapat pemikiran dari mana seperti itu. Mana ada mengadopsi anak sementara Cahaya masih memiliki orang tua kandung yang mampu merawatnya."


"Ya, itu saya lakukan agar bisa menjadi mamanya Cahaya tanpa harus menikah dengan Anda."


Mata Langit memicing. "Lagipula ... saya tidak ada niatan mencari orang tua angkat untuk putri saya."


"Ah, Anda itu memang merepotkan. Jika begitu ya sudah."


Bulan berniat berlalu meninggalkan Langit untuk masuk ke dalam rumah karena dia pikir sudah cukup lama berada di luar. Sementara Cahaya ... Gadis itu tak tahu di mana keberadaannya. Mungkin saja sudah masuk duluan. Tak apa. Toh, ada Mommy Alisha di dalam. Begitu pikir Bulan.


Namun, ucapan Langit yang mengusik pendengaran, memutar kepala Bulan ke belakang.


"Saya mencari Mama sambung untuk Cahaya. Bukan mama angkat. Jadi ... secara otomatis jika menerima Cahaya menjadi anak, maka Anda juga harus menerima saya sebagai suami. Kita menikah dan menjadi orang tua untuk Cahaya."


Begitu mudah Langit berucap. Karena rumusnya memanglah demikian. Bulan tak membantah. Hanya saja jika dengan menjadi mamanya Cahaya harus mau dinikahi oleh Langit ... Bulan belum siap. Wanita itu takut menikah dengan Langit.


Selain status Langit seorang duda ... postur tubuh Langit yang tinggi menjulang dengan badan kekar di mana lengannya saja sebesar paha Bulan ... duh, Bulan tidak kuat.


Wanita itu menelan ludah gugup. Mencoba menjawab apa yang ada dalam benak. "Jika begitu ... Saya tidak jadi saja menjadi mama barunya Cahaya."


"Apa Anda juga sudah tidak mau mengincar lahan itu lagi, Nona Bulan?"


Sebelah alis Langit terangkat ke atas. Menatap Bulan yang diam dengan pikiran ke mana-mana.

__ADS_1


__ADS_2