
Hari itu pun tiba juga. Rasanya begitu cepat sekali waktu satu bulan berlalu. Hari pernikahan Langit dengan Bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh Cahaya. Bahkan gadis kecil itu tidak sabar ingin segera melihat sang papa bersanding dengan Kak Bulan-nya dalam balutan baju pengantin.
Sejak kemarin, keluarga besar Langit telah sampai di Bali dan disediakan kamar khusus di hotel milik Bumi Perkasa. Acara pernikahan yang dilangsungkan di kediaman Bumi Perkasa tidak banyak mengundang tamu karena hanya keluarga dekat saja yang akan menghadirinya.
Dengan sangat gugup Langit Biru dengan didampingi keluarga besarnya tengah duduk di hadapan Bumi Perkasa beserta dua orang petugas yang akan membantu menikahkannya dengan Bulan Purnama. Tak sabar ingin melihat bagaimana rupa mempelai wanitanya yang sudah lebih dari satu minggu tidak dia jumpai. Meski bukan pernikahan yang pertama, nyatanya Langit tetap saja merasa degub jantungnya berpacu begitu hebat. Berdoa dan berharap agar dia lancar ketika nanti melaksanakan acara sakral yang sudah dinanti banyak orang.
Sementara itu, Bulan Purnama. Gadis itu sempat menangis sesenggukan ketika wajah telah selesai dirias. Itu sebab karena antara siap dan tidak siap. Ketakutan yang berlebih membayangkan ketika nanti dia akan menyandang status sebagai seorang istri. Apakah Bulan mampu mengemban status besar itu.
Sampai membuat Alisha berdecak ketika bagian perias harus kembali memoles wajah ayu milik Bulan Purnama. Membuang-buang waktu karena di depan sana, semua tamu beserta mempelai pria tengah menunggu.
"Bagaimana? Sudah selesai?" Untuk kali sekian Alisha bertanya mencoba memastikan bahwa semua sesuai dengan yang diharapkan. Jangan sampai mereka terlambat keluar yang ujung-ujungnya harus membuat semua menunggu.
"Sudah."
Alisha berdecak kagum melihat tampilan putrinya yang pagi ini begitu cantik sekali. Dia sampai pangling sendiri. "Anak Mommy kenapa cantik sekali," puji wanita itu menelisik penampilan sang putri dari atas ke bawah.
"Ayo kita segera keluar. Semua sudah menunggumu di depan." Dengan semangat Alisha menggandeng lengan putrinya berniat membawa keluar dari dalam kamar. Namun, tarikan tangan Bulan pada lengannya membuat Alisha menghentikan langkah.
"Ada apa?" tanyanya tak mengerti.
"Mom, aku takut."
"Takut kenapa?"
"Takut menikah."
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Sayang. Sudah sampai di sini kamu bilang takut menikah." Alisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mommy lihat sendiri bagaimana Pak Langit yang menakutkan begitu."
"Dia tampan begitu. Dari mana kamu bisa menyimpulkan jika Pak Elang menakutkan. Sudah ayo. Jangan menunda waktu. Kasihan yang sudah menunggu."
Bulan mengerucutkan bibirnya. Alisha tak lagi memberi kesempatan bagi Bulan merengek mirip anak kecil. Sudah dua puluh enam tahun tapi tidak ada dewasanya sama sekali. Berharap setelah menikah nanti, Bulan dapat dituntun dan didewasakan oleh sang suami. Terbiasa menjadi yang dimanja dalam keluarga membuat jiwa Bulan selembut itu.
Di halaman rumah Bumi Perkasa yang cukup luas, sudah disulap menjadi tempat diadakannya acara pesta pernikahan sederhana. Lebih tepatnya hanya acara akad nikah saja yang nantinya akan dilanjutkan dengan acara syukuran kecil-kecilan dengan menjamu tamu undangan. Di sana pula terdapat pelaminan kecil yang nantinya dipergunakan oleh kedua mempelai pengantin untuk duduk berdua menyambut tamu undangan.
Bulan dengan hati berdebar mengekori sang Mommy yang tampak semangat dan antusias berjalan menuju tempat diadakannya acara. Bahkan saking gugupnya, Bulan tak mampu mendongak. Hanya menunduk selain malu dilihat banyak orang, dia juga tak sanggup berhadapan dengan Langit Biru dan juga Jupiter tentunya.
"Itu Kak Bulan. Cantik sekali." Dengan rasa bahagia juga riang gembira Cahaya menyambut kedatangan Bulan dengan riasan sederhana tapi tampak sangat berbeda dari biasanya. Gadis kecil itu sampai takjub melihatnya. Tak menyangka jika wanita itulah yang nanti akan menjadi mamanya.
Meski dadanya terasa sesak melihat wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain, nyatanya pria itu pun menjawab, "Ya. Dia memang sangat cantik. Beruntung Langit mendapat istri seperti Bulan."
Memaksakan senyuman agar tak menimbulkan kecurigaan bagi Cahaya. Dia tidak ingin melihat Cahaya sedih. Biarlah dia yang mengalah demi kebahagiaan gadis kecil di sampingnya ini.
Sementara itu, Langit Biru yang begitu terpesona melihat kedatangan mempelai wanitanya, tertegun untuk beberapa saat sampai Alisha membawa Bulan mendekat dan duduk di sampingnya.
'Kenapa aku jadi gugup begini,' ucap Langit dalam hati.
Berdehem sebentar demi menormalkan deguban jantungnya yang mulai menggila. Segugup inikah rasanya berdekatan dengan Bulan bahkan sampai bisa di titik dia bisa menikahi gadis di sebelahnya ini seperti mimpi saja rasanya.
"Bapak Langit Biru. Apakah Anda sudah siap?" tanya penghulu pada Langit Biru karena kedua mempelai telah hadir semua.
__ADS_1
Langit menganggukkan kepalanya. "Saya sudah siap, Pak."
"Jika begitu apakah acara bisa kita mulai sekarang?"
"Silahkan."
"Baiklah. Kita langsung mulai saja acaranya."
Duh, jangan ditanya lagi. Tak hanya Langit yang gugup, tapi juga Bulan. Wanita itu bahkan ingin menangis saja sampai-sampai tidak menyadari jika acara ijab qabul telah selesai dilaksanakan ketika telinganya mendengar kata SAH saling bersahut-sahutan.
Dan wanita itu benar-benar menangis ketika Langit mengulurkan tangan di depan wajahnya. Air mata yang tumpah harus dia usap kasar lalu mendongak menatap Langit antara rasa kesal juga tak terima karena telah berhasil mengubah statusnya.
Senggolan tangan oleh Alisha menyadarkan Bulan jika dia harus menerima tangan Langit untuk dia cium sebagai bentuk rasa hormatnya sebagai seorang istri.
Ragu Bulan menerima uluran tangan itu lalu kembali menunduk dan menempelkan ujung hidungnya pada punggung tangan lelaki itu. Inginnya Bulan hanya melakukan sekilas saja. Namun, siapa sangka jika satu tangan besar Langit yang satunya telah berada di atas kepalanya yang menunduk. Menahannya untuk beberapa saat sehingga Bulan kesusahan mengangkat kepalanya.
Dalam hati Bulan hanya bisa mengata-ngatai pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. 'Awas saja kau Mister Arogan!'
Lain halnya dengan Langit. Sentuhan lembut bibir wanita yang sudah resmi menjadi istrinya terasa nyes di hati. Desiran halus itu menjalar sampai ke dasar hatinya yang mendalam. Ah, kenapa jantung Langit serasa ingin keluar dari tempatnya.
Sengaja Langit menekan kepala Bulan agar lebih lama dia merasakan kehangatan bibir seksi wanita itu mencium punggung tangannya.
Namun, jika terlalu lama kasihan juga. Langit mengulas senyuman ketika Bulan berhasil mendongak dan menatapnya tajam. Sekarang, gilirannya yang harus mencium kening istrinya.
Jarak yang semakin dekat, memaksa Bulan memejamkan mata dan harus pasrah ketika bibir pria itu untuk kali pertama mencium keningnya begitu dalam dan lama.
__ADS_1