Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Tujuh


__ADS_3

"Bulan! Daddy-mu tadi menelponku," ucap Dirga memberitahu sang keponakan, di suatu pagi ketika mereka sedang menyantap sarapan bersama.


Camila bersama Jaghad hanya mendengarkan apa yang Dirga katakan. Sementara Bulan yang tertarik dengan pembahasan sang paman pun menyahut, "Oh, ya? Daddy berkata apa Uncle? Tidak memintaku untuk pulang, kan?" Sebenarnya Bulan yang memang sudah tiga hari ini meninggalkan rumah, sangat merindukan sosok Daddy dan Mommy-nya. Maklum selama ini Bulan yang selalu manja akan merasa tenang dan nyaman ketika bersama kedua orang tuanya. Namun, dia pun sudah terbiasa jauh dari kedua orangtuanya dikarenakan Bulan sendiri yang seorang bisnis woman acapkali harus pergi ke luar kota atau bahkan luar pulau juga luar negeri demi urusan bisnisnya.


"Hanya bertanya. Apakah kamu di sini baik-baik saja."


"Lalu Uncle menjawab apa?"


"Ya, Uncle katakan jika kamu baik-baik saja sesuai dengan apa yang Uncle lihat. Memangnya ... apa yang sedang kamu rasakan sekarang, Bulan? Apakah benar kamu memang baik-baik saja? Kenapa sampai Daddy-mu mencemaskanmu begitu?" Dirga memang tidak tahu menahu akan apa yang sedang dirasakan oleh Bulan karena setahu Dirga, keberadaan Bulan di rumahnya ini untuk berlibur. Hal yang memang sering Bulan lakukan.


"Aku sebenarnya baik-baik saja, Uncle. Hanya sedikit jenuh. Dan ingin menyegarkan pikiran. Akhir-akhir ini aku terlalu dipusingkan soalan pembebasan lahan yang tidak ada selesainya."


"Pembebasan lahan?"


"Iya. Pemilik lahan yang terlalu jual mahal tidak mau melepas tanahnya meskipun aku sudah memberikan penawaran yang cukup tinggi."


"Itu mungkin memang pemilik lahan tidak ingin menjual. Lantas kenapa juga kamu harus memaksakan diri begitu, Bulan. Jika ujungnya hanya memusingkan dirimu saja."


"Karena menurut prediksiku, lahan itu sangat potensial untuk pembangunan resort. Daripada terbengkalai."


Dirga menghela napas. Sangat tahu bagaimana tipikal keponakannya yang jika memiliki sebuah keinginan akan sangat susah untuk ditahan. Ambisius tapi memang seperti itulah karena didikan sang kakak pada Bulan yang ingin agar menjadi penerus jaringan bisnis yang dimiliki.


"Lalu ... apa rencanamu setelah ini?"

__ADS_1


"Aku akan menemui secara langsung pemilik lahan tersebut. Dan sebelum itu, aku harus menenangkan pikiranku dulu, Uncle. Agar aku tak lagi suka emosi jika kelak menghadapi alotnya negosiasi dengan pemilik lahan tersebut."


Dirga hanya bisa menganggukkan kepala tanda mengerti tanpa mau ikut campur terlalu jauh akan urusan pribadi Bulan dan juga Bumi. Meski mereka keluarga, tapi dalam hal bisnis mereka memiliki dunia sendiri-sendiri yang tak akan mungkin saling ikut campur.


••••


Malam harinya.


Mobil hotel yang membawa Langit, Jupiter juga Cahaya berhenti di depan sebuah rumah yang menjadi jujugan mereka saat ini.


"Ayo, kita turun!" titah Langit pada anak dan sepupunya.


Jupiter dan Cahaya berjalan di belakang Langit yang lebih dulu menuju pintu yang terbuka menampakkan seorang wanita muda yang membungkukkan badan sebagai salam, lalu berkata, "Selamat malam. Silahkan masuk. Pak Dirga sudah menunggu di dalam."


Mengetahui tamu yang ditunggu telah tiba, Dirga beranjak berdiri. Mengulurkan tangan menyambut tamu penting yang sudah dia tunggu sejak tadi. Langit Biru adalah rekan bisnis yang jarang-jarang berada di Surabaya. Oleh sebab itulah, acapkali Dirga bertemu dengan pria itu, tak lupa mengundang untuk datang ke rumah meski hanya untuk sekedar jamuan makan malam.


"Pak Elang, selamat malam dan selamat datang."


"Pak Dirga. Senang karena saya dapat kembali datang ke rumah ini. Oh, ya. Perkenalkan. Dia adalah Jupiter. Sepupu saya. Dan ini adalah putri saya namanya Cahaya."


Dirga menjabat tangan Jupiter lalu beralih pada Cahaya. Sikap santun Cahaya yang mencium punggung tangannya membuat Dirga takjub. Karena meski usianya terlihat belum dewasa, tapi Cahaya memiliki sikap santun karena bisa ditebak jika didikan yang Langit berikan untuk putrinya sangat baik.


"Silahkan kita langsung saja mulai makan malamnya."

__ADS_1


Kepala Langit celingukan seperti mencari sesuatu. Namun, kemunculan Camila yang memasuki ruang makan dengan membawa puding di tangan, mengulas senyuman di bibir Langit. Seseorang yang sejak tadi dicari karena tidak terlihat bersama Dirga pada akhirnya menampakkan diri juga.


"Bu Mila. Apa kabar?"


"Pak Elang sudah datang rupanya. Saya baik, Pak Elang." Camila meletakkan puding di atas meja makan berjejeran dengan aneka makanan yang lainnya. Setelahnya perempuan berjilbab itu menghampiri tamunya. Menangkupkan kedua tangan memberikan salam. Sampai ketika netra milik Camila menangkap adanya seorang gadis cilik yang baru pertama kali dia jumpa, menimbulkan tanya dari mulut Camila. "Ini siapa, Pak Elang?"


"Oh iya. Kenalkan. Ini putri tunggal saya. Namanya Cahaya. Dan yang ini sepupu saya. Namanya Jupiter." Langit memperkenalkan keluarganya pada Camila.


Kini mereka semua sudah menempati kursi masing-masing. Namun, ada yang kurang karena tidak ada keberadaan Jaghad dan juga Bulan. Keduanya masih berada di dalam kamar. Jika Bulan datang pasti mereka berdua akan sangat kompak bermain game di dalam kamar Jaghad sampai lupa waktu makan. Padahal tadi Camila sudah memberitahu pada anak dan keponakannya jika malam ini akan kedatangan tamu penting di rumah ini.


"Mbak, tolong panggilkan Je dan Bulan di atas, ya?" pinta Camila pada asistennya yang kini sedang membantu di ruang makan.


"Baik, Bu."


Sambil menunggu asisten rumah tangga memanggil Bulan dan Jaghad, Dirga dan Camila terlibat obrolan ringan bersama Langit. Tentunya seputar keluarga dan juga tentang keberadaan Cahaya. Dari sanalah diketahui jika Langit yang seorang duda dengan satu orang anak perempuan. Selama ini meskipun jalinan kerjasama di antara Dirga dengan Langit terbilang baik dan beberapa kali juga sempat diundang pada jamuan makan yang sama dengan malam ini, nyatanya Dirga tak pernah tahu jika Langit sudah menduda. Dulunya yang Dirga tahu Langit memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai model. Dan selanjutnya bagaimana hubungan rumah tangga Langit, Dirga tidak pernah lagi bertanya. Dan malam ini ketika momennya mendukung, di mana untuk kali pertama Langit datang ke rumah Dirga dengan sosok Cahaya, yang langsung memicu tanya pada Dirga juga Camila.


Dirga paham dan tak lagi mau banyak bertanya kenapa mereka bercerai dan sebagainya karena itu adalah privasi Langit.


Hingga suara derap langkah kaki yang memasuki ruang makan, mengalihkan perhatian semua yang ada di ruang makan. Tak terkecuali Cahaya yang langsung berbinar matanya bisa kembali bertemu dengan seseorang yang baru dijumpainya kemarin.


"Kak Bulan!"


Kompak beberapa pasang mata tertuju pada Cahaya yang rupanya telah mengenal sosok Bulan Purnama.

__ADS_1


__ADS_2