Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Empat Puluh Enam


__ADS_3

"Jadi ... apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papa dan mama?" Surya Alam bertanya pada sang putra setelah mereka usai makan malam.


Kini, mereka berempat sedang duduk di ruang keluarga. Ada papa dan mamanya Langit juga Jupiter tentunya. Hanya saja pemuda itu duduk santai sibuk dengan ponsel di tangannya. Berbeda sekali dengan Langit juga Surya Alam yang tampak serius.


Sementara Cahaya, gadis itu sudah sibuk sendiri dengan salah satu asisten di rumah ini. Sengaja Cahaya tidak diikutsertakan dalam pembahasan orang dewasa karena Langit memang ingin membicarakan hal serius pada kedua orangtuanya. Jika ada Cahaya, justru tidak jadi fokus dan serius. Gadis kecil itu akan ikut-ikutan ambil suara.


Langit menatap pada papa dan mamanya secara bergantian. "Eum ... Pa. Lusa aku ingin papa dan mama mendampingiku melamar seorang gadis untuk aku jadikan sebagai mama barunya Cahaya."


Meski pada awalnya Surya Alam sempat terkejut, setelahnya pria paruh baya itu mengulas senyaman. Inilah yang ditunggu-tunggu sejak beberapa tahun belakangan ketika ingin sang putra menikah lagi agar Cahaya memiliki seorang mama.


"Benarkah itu?" Surya yang berbinar wajahnya bertanya untuk sekedar memastikan.


Kepala Langit mengangguk. Pun juga dengan mamanya Langit yang ikut lega mengetahui bahwa putranya sudah menemukan wanita lain pengganti Vivian.


Sementara Jupiter, betapa pemuda itu dibuat terkejut. Sungguh tak dapat dibaca akan hidup sepupunya itu. Beberapa hari tampak aneh rupanya ada yang disembunyikan dan itu mengenai rencana pernikahan kedua Langit.


"Lang! Jadi bener kau akan menikah lagi? Pantas saja akhir-akhir ini kau tampak aneh."


"Piter! Langit sudah menemukan wanita pilihannya. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sudah ada wanita yang ingin kau seriusi. Biar sekalian Uncle lamarkan untukmu." Surya menimpali.


Jupiter cengengesan. "Ada sih Uncle. Tapi sepertinya belum siap nikah sekarang. Biar saja Elang duluan. Aku menyusul belakangan." Dengan percaya diri Jupiter berucap. Berencana setelah ini dia akan menembak Bulan. Bahkan sampai detik ini pun dia dan Bulan hanya menjalin pertemanan biasa seperti apa yang dulu mereka sepakati bahwa akan menjalani hubungan apa adanya. Ah, kenapa Jupiter tidak sabar untuk segera berumah tangga. Langit saja sudah akan menikah dua kali. Sementara dirinya ... menjalin keseriusan saja belum pernah.


"Lang! Siapa gadis yang akan kamu lamar? Apakah papa mengenalnya? Jika papa ingat-ingat lagi ... dalam waktu terakhir papa tidak pernah tahu jika kamu dekat dengan wanita mana pun. Apakah gadis itu belum pernah kamu kenalkan pada kami?"


"Aku memang tidak pernah membawanya pada papa karena selama ini pun aku tak pernah menjalin hubungan apapun dengannya."


"Apa maksudnya, Lang? Jika kamu tak ada hubungan apa pun ... Lalu kenapa kamu meminta pada papa dan mama untuk melamarnya?"

__ADS_1


"Pa ... Aku ini bukan lagi pria muda yang sibuk pacaran sebelum menikah. Aku ini lelaki dewasa yang bahkan sudah pernah menikah dan berstatus duda. Bagiku tak penting harus pacaran lebih dulu. Yang lebih penting adalah kesungguhan juga keseriusanku untuk langsung menjadikan dia istriku."


"Memang bisa begitu, ya? Apakah wanita itu juga sudah pernah menikah sebelumnya?" Surya pikir wanita yang ingin Langit nikahi adalah seorang janda di mana untuk menjalin hubungan pernikahan tidak perlu melalui sebuah pacaran. Sayangnya apa yang Surya pikirkan salah besar.


"Aku sudah melamar pada kedua orangtuanya. Dan mereka menerimaku juga Cahaya."


Surya lega mendengarnya. Setidaknya calon istri Langit sudah paham jika tak hanya menikah karena Langit saja tapi juga ada Cahaya yang juga harus diterima kehadirannya.


Jupiter jadi antusias mendengarkan. "Lang! Kau hebat sekali. Wanita mana yang pada akhirnya bisa kau taklukan itu. Kuharap dia adalah wanita baik yang memang benar-benar baik bukan hanya sekedar menginginkanmu semata. Apalagi jika sampai mengincar harta seperti Vivian."


Apa yang Jupiter khawatirkan benar adanya. Setidaknya Langit memang barus meyakinkan bahwa pilihannya adalah tepat.


"Kau tenang saja, Piter. Aku yakin sekali jika gadis yang akan aku peristri bukanlah wanita seperti Vivian. Kekayaannya juga keluarganya tidak kalah dengan kita. Anak pengusaha dengan nama besar yang sudah melanglang buana di kancah dunia properti. Jadi dia tidak butuh mengincar harta bendaku. Dan lagi mengenai Cahaya ... mereka berdua layaknya adik kakak yang sangat akur dan akrab. Aku yakin sekali jika pilihanku ini sudah tepat."


Surya berkali-kali mendengar Langit menyebut jika yang akan dinikahi adalah seorang gadis. Bukan janda. Tapi demi memastikan tak ada salahnya Surya bertanya lagi. "Lang ... Apa benar yang akan kamu nikahi adalah seorang gadis? Bukan janda?"


Surya tertawa. Pandai sekali putranya memilih pasangan.


"Wah, serius Lang. Kau memang hebat." Jupiter ikut menimpali memberikan apresiasi untuk sang sepupu.


"Jadi ... siapa gadis itu?" Surya kembali bertanya. Sejak tadi Langit tak menjawab pertanyaannya.


"Nanti papa juga tahu. Intinya Papa dan Mama kosongkan waktu dan jangan ada jadwal apapun untuk besok sore sampai lusa."


"Bukankan kau kata baru lusa acara lamarannya?"


"Iya. Tapi besok sore kita harus berangkat. Dan lusa pagi, kita bertemu dengan kedua orang tua gadis itu."

__ADS_1


Kening Surya mengerut tanda jika sedang kebingungan. "Berangkat besok? Apa kita akan ke luar kota?"


Langit mengangguk. "Ya. Kita akan ke Bali."


Kali ini tak hanya Surya yang ambil suara tapi mamanya Langit yang terkejut pun ikut bertanya. "Bali? Jauh sekali."


Langit hanya menganggukkan kepala. "Ya, gimana lagi. Dapatnya orang sana."


Surya dan istri saling pandang. Meski sedikit keberatan karena jauhnya jarak ... tapi mereka bisa apa. Toh, yang menjalani adalah Langit.


"Baiklah jika begitu. Papa dan Mama akan mendampingimu."


"Terima kasih, Pa ... Ma."


Sekarang giliran Jupiter yang masih berpikir keras. Bali. Siapa gerangan gadis yang akan dilamar sepupunya itu? Bukan Bulan Purnama kan? Secara selama ini yang menjadi rival terberat Jupiter adalah Cahaya. Keponakannya itu sangat menginginkan Bulan agar menjadi mamanya. Bahkan keduanya sempat taruhan siapa yang akan mendapatkan Bulan. Haruskah Jupiter kalah dengan Cahaya?


Tidak ... tidak. Ini tidak dibenarkan. Langit tak akan melamar Bulan. Itu tidak mungkin. Lantas ... siapa kira-kira gadis itu.


Daripada terus dibuat penasaran, dengan berani Jupiter bertanya. Mendului Surya Alam.


"Lang! Siapa sebenarnya gadis yang akan kau lamar? Aku jadi penasaran."


"Kenapa kau harus penasaran, Piter."


"Siapa tahu saja aku kenal. Jadi bisa ikut meyakinkan Uncle bahwa gadis pilihanmu adalah wanita yang tepat untuk menjadi istrimu juga mama baru untuk Cahaya."


Langit diam sejenak. Sejujurnya dia enggan mengatakan karena malu dibuli oleh sepupunya. Secara, Langit sendiri juga tak pernah tahu jika Jupiter dengan Bulan berhubungan baik selama ini.

__ADS_1


Langit menghela napas lalu menjawab, "Bulan Purnama."


__ADS_2