Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Empat Puluh Satu


__ADS_3

"Loh ... Anda jangan salah Nona. Kita berdua ini akan sama-sama diuntungkan karena Anda juga akan mendapat banyak dari saya. Jika Anda katakan masih segelan ... maka saya punya banyak pengalaman dan Nona bisa banyak belajar pada saya nantinya."


Wajah Bulan merah padam karena malu mendengarnya. Kenapa pembahasan mereka jadi menjurus ke arah sana.


"Lagipula dengan memiliki lahan itu, Anda juga akan mendapat keuntungan yang sangat besar. Mewujudkan mimpi yang selama ini Anda inginkan."


Bulan diam mencoba mencerna apa yang Langit katakan. Duh, kenapa sekarang semua jadi rumit begini. Gadis itu melirik pada Langit yang masih tenang dalam duduknya. Sisi arogan jelas terlihat dari wajahnya yang sangar tapi tampan. Usia, jelas tak dapat berbohong jika Langit memang sudah Om-om bukan lagi pria muda semacam Jupiter misalnya. Ah, di saat genting begini kenapa bayangan Jupiter yang diingat Bulan. Lantas ... andaikan dia menerima tawaran Langit ... Jupiter bagaimana? Apakah Bulan tega mengabaikan Jupiter demi Langit, Cahaya dan juga lahan tentunya.


Di sini, Bulan memang sangat menginginkan lahan itu. Apa dia meminta pendapat dari kakaknya saja mengenai penawaran itu.


Melihat Bulan yang diam sibuk berpikir, Langit beranjak dari duduknya. Membiarkan Bulan berpikir akan apa keputusannya. "Baiklah, Nona Bulan. Saya rasa Anda tidak perlu banyak berpikir jika memang ingin menerima penawaran saya. Atau mungkin ... Anda ingin saya langsung datang ke rumah melamar Anda pada Pak Bumi."


Bulan terkesiap. Mendongak karena tubuh Langit yang menjulang tinggi sementara dia masih dalam posisi duduk. Gegas beranjak melotot gugup pada Langit karena ucapan horor pria itu. "Pak Langit! Apa maksud Anda?"


Pria itu hanya terkekeh pelan tak berniat menjelaskan dan sengaja membuat Bulan penasaran. "Saya permisi dulu Nona Bulan. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda. Selamat bekerja."


Langit meraih minuman soda yang tadi Bulan suguhkan. Dia bawa keluar dari dalam ruangan Bulan.


Sementara itu, sepeninggalan Langit ... Bulan menjatuhkan dirinya di atas kursi kebesaran. Pening kepala mendera dan itu sebab ucapan Langit barusan. Apa-apaan pria itu ingin menemui Daddy-nya. Ya, Tuhan. Benarkah Langit akan nekat? Bulan tak paham. Berharap dia diberikan jalan demi membuat keputusan terbaik dari yang paling baik harus dia ambil nantinya.


•••


Di rumah Bumi Perkasa.


Cahaya yang tampak cantik mengenakan baju milik Bulan ketika masih seusia Aya. Bagaimana Alisha yang sudah tersenyum lebar melihat Aya secantik Bulan. Sungguh, dia sangat merindu momen-momen di mana anak-anaknya masih kecil dulu. Rumah yang ramai dengan celotehan anak-anaknya. Sekarang semua sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri.

__ADS_1


"Oma ... kenapa Oma bersedih?" Aya melihat raut wajah Alisha yang berkaca-kaca padahal tadi masih tampak baik-baik saja.


"Maaf Aya. Oma hanya sedang merindukan momen ketika Kak Bulan dan Kak Bintang masih kecil. Sekarang mereka dengan kehidupan masing-masing."


Ya, Bintang memang memutuskan untuk menjalani study di luar negeri setelah dulu Bulan memutuskan untuk meraih gelar sarjana dari universitas di kota ini saja. Dan karena Bintang adalah seorang lelaki maka Bumi sendiri yang mendorong putra terakhirnya itu untuk mengejar study yang terbaik.


*(Note : Story tentang kisah Bumi Perkasa dan Alisha bisa di baca di work yang berjudul Jodoh Sang Duda)


"Kak Bulan dan Kak Bintang pasti menjadi anak-anak yang beruntung memiliki kedua orang tua seperti Oma dan Opa. Andai Aya juga memiliki mama yang baik hati juga penyayang seperti Oma ... betapa Aya akan sangat bahagia."


"Kenapa Aya berbicara seperti itu?" Alisha mengusap lembut rambut panjang Cahaya.


"Mama Aya hanya memikirkan diri sendiri. Tidak pernah mengurus Aya karena sejak kecil hanya Mbak Lani yang selalu ada untuk Aya."


"Baby sitter yang sudah mengasuh Aya sejak bayi."


"Memangnya mamanya Aya ke mana? Kok Mbak Lani yang selalu mengurus Aya?" Ya, Alisha sangat ingin tahu tentang kehidupan Cahaya. Entahlah kenapa rasa-rasanya Cahaya akan menjadi bagian dari keluarganya jika melihat kerapatan hubungan Cahaya dengan Bulan. Namun, tak ada salahnya jika Alisha mencari tahu seputar kehidupan Langit dengan Cahaya.


"Mama selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Mama Aya itu seorang model, Oma. Hidup Mama juga serba mewah dan Aya tak paham kenapa pada akhirnya Papa dan Mama berpisah. Mungkin Papa sudah tidak tahan dengan sikap dan perilaku Mama. Selain itu Oma ... Mama suka sekali memanfaatkan Aya. Dan itulah yang Aya tidak suka."


"Oh ya? Tapi Aya masih menjalin hubungan baik dengan Mama, kan?"


Kepala Cahaya mengangguk. "Tadi juga Mama menyusul Aya ke sini. Dan kami sempat bertemu sebelum Kak Bulan menolong dan membawa Aya juga Papa makan siang di rumah Oma."


"Begitu? Lalu sekarang mamanya di mana?"

__ADS_1


Cahaya mengedikkan bahu. "Aya tidak tahu. Mungkin saja Mama masih ada di hotel. Tapi tidak mungkin karena Mama pasti hanya ingin mencari gara-gara saja dengan Papa. Setelah itu pergi begitu saja."


Alisha tak mau semakin menambah beban pikiran Cahaya. Kasihan sekali gadis sekecil itu harus menanggung beban perpisahan kedua orang tuanya. Cahaya berhak bahagia. Beruntungnya Cahaya memiliki seorang papa yang baik dan penuh kasih sayang. Dua kali bertemu dengan Langit juga Cahaya, Alisha dapat menilai seberapa besar kasih sayang yang Langit punya untuk Cahaya.


Lalu, apakah dia akan merestui andaikan Langit benar-benar serius ingin melamar Bulan?


Entah kenapa dalam hati kecil Alisha mengatakan jika Langit adalah sosok yang bertanggung jawab. Ya, Alisha pasti akan merestui andai kata Langit memang serius pada putrinya. Tinggal menunggu saja kapan Langit berani menghadap pada suaminya untuk melamar Bulan tentunya.


"Aya, yang sabar ya sayang. Aya harus percaya jika baik Papa atau mama pasti menyayangi Cahaya. Hanya saja cara mamanya Aya kurang tepat."


"Tapi Aya ingin Kak Bulan yang jadi mama barunya Aya. Apakah Oma mengijinkan?"


"Eh, Aya mau Kak Bulan jadi mama Aya?"


"Iya, Oma. Kak Bulan itu selain cantik juga baik. Kak Bulan selalu menolong Aya. Dan Aya akan melakukan apapun juga asalkan Kak Bulan mau menjadi mamaku."


Segitunya keinginan Cahaya ingin memiliki putrinya menjadi sosok Mama baru.


"Oma ... apakah Oma keberatan jika Kak Bulan menikah dengan Papa?"


"Kenapa Aya tanya begitu? Memangnya kenapa Oma harus keberatan."


"Ya, karena Papa sudah pernah menikah. Papa juga sudah sedikit tua. Tidak seperti Uncle Jupi yang masih sangat muda. Aya takut Oma tidak mau Kak Bulan punya suami tua dan duda."


Alisha menelan ludah. Dari mana Cahaya belajar bicara perihal orang dewasa. Bukankah baru sepuluh tahun usianya. Namun, seolah Cahaya sangat paham akan kehidupan para orang dewasa.

__ADS_1


__ADS_2