
Tak lagi ada Vivian, menciptakan suasana canggung di dalam ruangan. Bulan, wanita itu terlalu enggan meminta klarifikasi akan ucapan Langit barusan. Bulan sudah paham jika dia hanya diperalat oleh Langit demi mengusir Vivian. Tidak terima sebenarnya karena Langit harus menyangkut pautkan dirinya dalam drama rumah tangga pria itu. Namun, Bulan terlalu lelah jika hanya berdebat dengan pria arogan tak berperasaan seperti Langit Biru. Lebih baik Bulan segera pergi dari sini agar tak lagi berurusan baik dengan Langit ataupun Cahaya.
Bulan terlalu lelah. Setelah kegagalannya mendapatkan lahan tersebut, dan Bulan harus segera kembali ke pulau Dewata dengan tangan kosong. Tak ada hasil.
"Eum ... Aya. Kakak harus pergi sekarang." Karena Cahaya masih juga bergelayut manja padanya, Bulan pun berpamitan pada gadis kecil itu.
"Yah, Kak Bulan. Kenapa harus pergi. Bukankah kita akan makan siang dulu?"
Glek. Sejak kapan ada rencana mereka pergi makan? Lama-lama Cahaya makin berhalusinasi saja. "Aya ... Lain kali saja ya kita pergi makannya. Kakak harus pergi sekarang."
Meski tidak suka, Cahaya melepas juga tangannya dari tubuh Bulan. Bibirnya mengerucut ketika Bulan mengusap pucuk kepalanya. Senyum Bulan juga tak lepas dari bibir wanita itu demi bisa menenangkan hati Cahaya. Dan semua perlakuan Bulan, masih menjadi perhatian Langit yang duduk di kursi kerja. Sengaja pria itu tak bersuara. Selain malu juga merutuki diri yang harus mengakui Bulan sebagai calon mamanya Cahaya. Langit terpaksa melakukan itu. Dan pria itu tak ada muka hanya untuk menjelaskan kelancangannya pada Bulan.
Toh, Bulan juga tidak keberatan. Buktinya gadis itu sama sekali tidak memandangnya atau pun bertanya yang macam-macam. Berlalu menuju pintu keluar setelah berpamitan pada putrinya.
Namun, satu hal yang kini menjadi kebingungan Bulan juga Langit tentunya. Ketika Cahaya kembali mengucapkan kata di saat Bulan sudah membuka pintu ruang kerja Langit Biru.
"Kak Bulan! Aku senang karena kakaklah yang akan menjadi mama baruku." Tanpa rasa bersalah gadis itu melebarkan senyuman menampakkan gigi putihnya dengan wajah berbinar.
Bulan menelan ludah. Tatapan tajamnya beralih dari Cahaya ke arah Langit yang juga tengah menatapnya. Wajah pria itu jelas menunjukkan raut bersalah. Namun, Bulan bisa apa? Mengamuk pada pria itu juga tidak mungkin Bulan lakukan, karena ada Cahaya di antara mereka. Akan tetapi jika Bulan harus mengiyakan perkataan Cahaya, juga tidak mungkin dilakukan karena memberi harapan palsu dengan berucap kebohongan tidak boleh dia lakukan. Itu semua hanya akan mengecewakan Cahaya. Lalu dia harus menjawab apa sekarang?
Beruntungnya Langit segera mengambil tindakan. "Aya! Jangan berbicara seperti itu."
Cahaya menolehkan kepala pada sang Papa. "Maksudnya, Pa?"
"Maafkan, Papa. Tadi Papa hanya bercanda mengatakan itu."
__ADS_1
"Apa? Kenapa begitu, Pa?"
Bulan tidak ingin terlibat lagi dalam kerumitan hidup keduanya. Memilih menyela dengan berpamitan agar dia bisa segera pergi dati hadapan Langit dan Cahaya.
"Maaf, saya harus pergi. Aya, sampai bertemu lagi lain waktu. Kakak pergi dulu."
Tak lagi mau menatap wajah sendu juga tampak kekecewaan di wajah Cahaya, Bulan gegas keluar dan menutup pintu ruang kerja Langit Biru. Biarkan saja Langit sendiri yang bertanggung jawab untuk menjelaskan akan kebohongannya sendiri. Bulan tidak mau ikut-ikutan pusing dalam menghadapi Cahaya. Toh, ini semua juga bukan salahnya. Justru dia lah yang menjadi korban keegoisan Langit.
Embusan napas panjang keluar dari sela bibir Bulan ketika wanita itu sudah berada di luar ruangan. Setelah menormalkan deguban jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, Bulan kembali melangkahkan kaki meninggalkan gedung perkantoran Mars Property.
••••
Di dalam ruang kerja Langit Biru. Cahaya tengah merajuk pada papanya sampai-sampai kepala Langit hampir pecah mendengarnya.
"Papa ... kenapa papa berkata jika tadi hanya bercanda?"
"Sungguh, papa jahat sekali."
"Jahat bagaimana?"
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya Kak Bulan harus jadi mama aku. Seperti apa yang tadi papa katakan padaku jika Kak Bulan adalah calon mama baruku."
"Tidak bisa, Aya. Mana ada seperti itu?"
"Papa selalu mengajarkan padaku jika kita harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Sama halnya dengan apa yang sudah kita katakan. Harus ada pertanggung jawabannya."
__ADS_1
"Papa tidak paham maksudmu, Aya!"
"Sebagai orang hebat ... Papa harus bertanggung jawab akan semua ucapan papa."
"Oh, Tuhan, Cahaya!" Langit memijit pangkal hidungnya. Dia paham ke mana arah bicara sang putri. Sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun Cahaya terlalu pandai berkata-kata karena semua adalah hasil dari pengajarannya. Namun, Langit tak menyangka jika apa yang telah dia ucapkan justru akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
"Cahaya. Dengarkan papa. Kak Bulan, dia hanyalah rekan bisnis papa. Tidak lebih. Kenapa papa tadi berbohong ... mengatakan jika dia adalah calon mamamu, karena papa terpaksa dan tidak ada pilihan lain. Papa hanya ingin menyelematkanmu dari semua niat tidak baik dari mama Vivian. Agar mama tidak lagi merecoki hidup kita, Aya."
"Pa!" Wajah Cahaya sudah berkaca-kaca. Ingin menangis rasanya karena papanya tega berbohong. Padahal hati Cahaya terlanjur senang mendapati jika Kak Bulan-nya akan menjadi seorang mama baru untuknya.
Melihat putrinya yang hampir saja menangis semakin mengeruhkan hati Langit. Pria itu beranjak berdiri. Menghampiri Cahaya yang duduk di sofa. Merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukannya.
"Sayang ... maafkan Papa. Tidak ada maksud papa membuatmu bersedih. Papa berbohong karena terdesak oleh keadaan. Maafkan Papa, sayang. Papa janji tidak akan mengulangi kebohongan yang seperti itu lagi."
"Tapi aku mau Kak Bulan, Pa. Bawa Kak Bulan untukku. Aku mau Kak Bulan jadi mamaku."
"Itu tidak mungkin, sayang. Kak Bulan memiliki kehidupannya sendiri. Bisa jadi kak Bulan juga sudah memiliki kekasih atau bahkan suami. Papa tidak boleh egois dengan memaksa Kak Bulan mau menjadi mama Cahaya. Tapi jangan khawatir Papa janji jika Kak Bulan akan menjadi teman baik buatmu."
Kepala Cahaya yang berada dalam dekapan Langit menggeleng. Langit sudah tak sanggup lagi menenangkan Cahaya dengan cara apa. Jika sudah merajuk maka akan sangat susah untuk Langit hibur. Ini semua juga salahnya. Tidak ada kesadaran ketika Langit dengan enteng mengakui Bulan di depan Vivian. Siapa sangka jika akibatnya jadi seperti ini.
"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang. Papa akan mengantarmu."
Cahaya masih enggan, tapi dengan penuh kasih sayang, Langit menggandeng Cahaya keluar dari dalam ruang kerjanya.
"Kosongkan jadwalku sampai sore nanti. Aku harus pulang." Pesan Langit pada sekretarisnya sebelum meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Siap, Pak "