
"Kenapa Anda harus menyangkut pautkan lahan segala?"
"Ya, karena Cahaya akan memberikan lahan itu asalkan Nona Bulan mau menjadi mamanya."
"Dan untuk menjadi mamanya saya harus menikah dulu dengan Anda?"
Langit mengangguk. Dalam hati pria itu mengulum senyuman berhasil menggoda juga mengerjai Bulan. Namun, jika memang Bulan bersedia menikah dengannya, tidak ada salahnya.
"Permintaan yang sulit untuk dikabulkan. Sudahlah Pak Langit. Saya pusing dengan Anda."
Ingin sekali Langit tertawa, akan tetapi berusaha dia tahan. Apalagi Bulan sudah terlebih dulu meninggalkannya untuk masuk ke dalam rumah.
Betapa terkejutnya Bulan ketika baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu, dia menemukan keberadaan Mommy bersama Cahaya yang Bulan tebak tengah mengintipnya.
"Mommy kenapa di situ?"
Alisha menegakkan tubuhnya dengan merangkul Cahaya. Gadis kecil itu juga tampak kikuk dan salah tingkah.
"Tidak. Mommy hanya sedang menyambut kedatangan Cahaya saja kok. Iya, itu Mommy terkejut karena tiba-tiba ada Cahaya datang. Benar kan, Aya?"
Mencari pembenaran dari gadis kecil yang kini juga menganggukkan kepala berpihak pada Alisha.
Padahal sebenarnya, keduanya memang sengaja menguping dan mengintai apa yang sebenarnya terjadi pada Langit dengan Bulan. Ya, Alisha sudah curiga pada keduanya sejak semalam karena ada hal ganjil yang terlihat di mata putrinya. Ditambah dengan kedatangan Cahaya siang ini yang mengejutkannya dan mengatakan bahwa dia datang bersama Bulan dan papanya. Rasa penasaran yang mengantarkan Alisha menguping di balik jendela ruang tamu. Benar saja, rupanya Langit Biru sedang melamar putrinya. Semua terdengar oleh Alisha karena keduanya berbicara dengan volume normal.
Alisha sendiri setuju saja jika Bulan menikah dengan Langit. Meski pun Langit adalah duda dengan satu orang anak, tidak masalah. Toh, dulu dia juga menikah dengan duda. Lagipula, Bulan yang terbiasa manja karena menjadi anak perempuan satu-satunya, ada baiknya jika menikah dengan lelaki yang lebih dewasa. Jadi, kelak bisa membimbing putrinya itu. Istilah jawanya ngemong. Sama halnya dengan Daddy Bumi yang selama usia pernikahan dengannya selalu menjadi pelindung baginya. Itulah hal yang menjadi pertimbangan Mommy Alisha dalam memilih pasangan untuk putri satu-satunya. Selain itu, Langit juga sudah mapan dalam segi materi. Ditambah keberadaan Cahaya yang di pertemuan pertama membuat Alisha jatuh hati. Merindukan para cucunya dari putra-putra Danuarta yang sudah cukup lama tidak mengunjunginya.
Mata Bulan memicing tidak percaya akan ucapan Mommynya. "Mommy tidak sedang mengintipku?"
__ADS_1
"Sedikit. Iya, hanya sedikit." Alisha menjawab jujur dengan masih senyum-senyum sendiri.
Ehem
Langit berdehem di belakang tubuh Bulan. "Selamat siang, Nyonya Alisha. Maaf jika saya dan Cahaya kembali datang."
"Pak Elang. Oh, tidak apa. Saya justru senang dengan kedatangan Anda. Karena rumah ini pasti akan kembali ramai. Mari silahkan masuk."
"Terima kasih, Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya. Rasanya kurang nyaman. Panggil saja Mommy. Mommy Alisha. Sama seperti Bulan memanggil nama saya."
Kali sekian Bulan harus dibuat terkejut dengan apa yang Mommy-nya sampaikan. Apa maksudnya coba. Mata Bulan yang melotot diabaikan oleh Alisha karena wanita berusia mendekati kepala lima itu lebih memilih membawa Cahaya juga Langit menuju ruang makan di rumah ini.
Bulan hanya bisa berdecak. "Ini Mommy kenapa, sih? Siapa yang anaknya dan siapa yang diperhatikan coba?"
•••
Langit merasa diterima dengan baik di rumah ini. Dan jangan salahkan dia yang besar kepala karena sambutan yang Alisha berikan kepadanya sangat jauh berbeda dengan semalam. Jika semalam kehadirannya di rumah ini dianggap sebagai tamu penting Bumi Perkasa, lain halnya dengan siang ini. Selain Bumi Perkasa sedang tidak berada di rumah dikarenakan ada pekerjaan di luar kota, Langit merasa jika Alisha menyambut kehadirannya sebagai teman dekat Bulan. Semua nampak dari sikap dan cara Alisha memperlakukannya.
"Pak Elang, jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Siapa tahu saja nantinya kita akan menjadi keluarga."
Langit hanya mengulas senyuman sembari melirik pada Bulan yang sudah terbatuk-batuk mendengar apa yang Mommy-nya katakan. Keluarga? Apa maksudnya? Begitu batin Bulan bertanya.
"Terima kasih, Mom. Ini semua sangat enak. Jangan salahkan jika saya dan Aya akan menghabiskan semua. Bukan begitu, sayang?"
"Ya, Oma memang pandai memasak. Jika nanti aku menjadi cucu Oma, aku akan betah berada di sini."
__ADS_1
"Wah, Oma senang sekali mendengarnya. Kamu tahu Aya jika Oma ini kesepian di rumah. Jika ada cucu yang mau menemani pasti Oma akan sangat bahagia."
"Bali adalah pulau impian Cahaya, Oma. Ingin sekali Aya tinggal di pulau yang tenang dan damai. Tidak seperti di Jakarta yang banyak kemacetan di mana-mana. Udaranya juga panas."
Obrolan absurd antara Alisha dengan Cahaya ditanggapi Bulan dengan dengusan yang cukup keras.
"Mom ... Jangan mengajak Aya ngobrol terus. Biarkan dia makan."
"Ah, maafkan Oma. Karena saking semangatnya Oma jadi lupa diri. Maaf ya, Aya."
"Its okay, Oma. Tak apa. Mari kita makan."
Dan mereka berempat menikmati makanan dengan lahap, kecuali Bulan. Tiba-tiba saja nafsu makannya jadi hilang. Bahkan makanan yang dia kunyah susah sekali dia telan. Itu sebab karena Bulan beberapa kali memergoki Langit yang sedang mengulum senyuman juga sesekali mencuri lirikan padanya. Dia yakin sekali jika pria itu tengah menyusun rencana untuk menjebaknya. Ya, Tuhan kenapa juga Bulan jadi berpikir ke arah sana. Bukankah semalam dia sudah putuskan jika tak apa menjadi mamanya Cahaya asalkan dia bisa mendapat lahan itu lalu membangun resort impiannya.
Namun, yang dia pikir adalah menjadi mama angkat sekedar formalitas semata. Bukan menjadi mama sebenarnya apalagi mama sambung sesuai apa yang Langit minta. Jika menjadi mama sambung, maka dia harus menikah.
Menikah yang belum pernah terpikirkan olehnya. Usia Bulan masih sangat muda untuk berpikir berumah tangga. Sungguh, Bulan sama sekali tidak siap. Dia saja tidak tahu bagaimana cara mengurus rumah apalagi mengurus anak dan suami. Selama ini Bulan hanya pandai mengagumi sosok Mommy Alisha yang mendekati kata sempurna menjadi seorang Ibu juga istri dari Daddy-nya.
Selain Mommy yang penuh kasih sayang padanya juga pada sang adik lelaki yang bernama Bintang, juga Mommy Alisha sangat menyayangi kakak sambungnya yang bernama Danuarta. Mommy juga pandai mengurus rumah, memasak dan semua yang ada dalam diri wanita itu sangatlah besar dan patut Bulan banggakan. Sementara dirinya? Dia yang terbiasa manja tak akan mungkin sanggup menjadi istri juga ibu. Namun, jika untuk menjadi teman yang baik untuk Aya ... itu tak jadi soal. Perkara mudah mengingat Aya termasuk salah satu anak yang mudah dekat dengan orang lain termasuk dirinya.
###
Komen yang banyak dong ya.....
Ahay ... Tetiba nemu sesuatu yang menggambarkan lengan Langit Biru sebesar pahanya Bulan.
__ADS_1