Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Bulan Purnama. Wanita itu tengah duduk menatap pantulan wajahnya pada cermin besar meja rias yang berada di dalam kamar. Sapuan make up tipis menghiasi wajah cantiknya. Seharusnya dia berbahagia dengan hari lamaran yang hari ini dilangsungkan. Namun, hatinya terasa hambar. Tak ada kesan baik-baik saja. Apalagi kebahagiaan. Jelas tak dapat ia rasakan. Bagaimana Bulan bisa berbahagia jika ada seseorang yang sedang patah hati akibat lamaran oleh Langit Biru hari ini. Seseorang yang dua hari lalu terakhir kali menelponnya. Seorang pemuda yang baik hatinya, tengah dirundung kesedihan ketika mendengarkan apa jawaban yang terlontar dari mulutnya terkait pertanyaan seputar perasaan cinta.


Ya, Bulan memang tak mungkin mengatakan pada Jupiter jika dia mencintai pemuda itu. Bukan Bulan plin plan sampai dengan tega mengombang-ambingkan perasaan seseorang. Memang Bulan akui dia menyukai sosok Jupiter. Suka bukan berarti cinta. Karena rasa sukanya itu sebatas mengagumi. Jika cinta ... entahlah. Bulan tak tahu apakah dia merasakannya karena ketika mencoba menelaah lebih jauh lagi dalam hatinya tak ada getaran yang aneh dia rasakan. Membuat Bulan sangsi andaikan harus mengaku bahwa dia cinta pada Jupiter.


'Piter. Maafkan aku. Aku sendiri tak tahu apakah ada rasa cinta itu untukmu. Yang jelas, aku senang dapat mengenalmu. Aku mengagumi kamu yang begitu penuh rasa kasih sayang. Tapi ... Aku tak bisa mengatakan apakah aku benar-benar mencintaimu atau tidak. Karena aku sendiri juga bingung menyelami perasaanku.'


Jawaban itulah yang Bulan berikan pada Jupiter. Bulan pikir Jupiter akan marah padanya. Namun, ternyata lelaki itu dengan lapang dadaa mau menerima keputusannya meski dengan perasaan kecewa.


'Aku paham, Bulan. Semoga keputusan yang kamu ambil dengan menerima Langit ... akan membawa kebahagiaan bagi banyak orang.' Jupiter menjawab dengan nada lirih penuh kekecewaan.


Akan tetapi Bulan tak lagi bisa berbuat apa-apa. Biarlah untuk saat ini Jupiter kecewa padanya. Suatu saat nanti Bulan yakin bahwa pemuda itu akan menemukan wanita terbaik yang akan menjadi pasangan hidupnya.


"Bulan ... sudah siap?"


Suara pintu kamar yang terbuka serta panggilan yang terdengar di telinga, menyentak lamunan wanita itu. Ada Mommy Alisha yang masuk lalu berdiri di belakang tubuh Bulan. Mengulas senyuman melihat putrinya yang selalu terlihat cantik di matanya.


"Kenapa tak kunjung keluar?"


"Memangnya tamunya sudah datang, Mom?"

__ADS_1


Mereka berdua saling berpandangan melalui cermin. Alisha mengulas senyuman. Dia tahu kegundahan hati putrinya. Bagaimana pun juga seseorang yang memasuki fase pernikahan perasaan resah mendera. Hal yang wajar.


"Sudah sejak tadi. Aya mencari-carimu. Mommy pikir kamu masih belum selesai berhias diri. Rupanya sedang melamun di sini. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan sayang? Mommy tahu pasti tengah resah. Tapi tenang saja. Semua pasti akan berjalan dengan lancar.


Dalam hati Bulan berucap, 'Andai Mommy tahu tentang Jupiter. Ah, entahlah."


"Ayo. Mommy akan dampingi kamu. Kita temui Pak Elang serta dua orang tuanya. Jangan biarkan mereka menunggu kita terlalu lama."


Bulan mengangguk lalu beranjak dari duduk. Dengan dituntun oleh Alisha, keduanya keluar kamar menuju ruang tamu di mana mereka semua tengah berkumpul bersama.


Bulan mematung di ambang ruang tamu. Menatap para tamu dengan gugup. Satu per satu dari mereka ia pindai. Dan dari lima orang tamu yang tengah bersama Daddy-nya, hanya Langit, Aya dan Jupiter yang dia kenali. Sementara dua orang dengan usia setara sang Mommy, dapat Bulan pastikan bahwa mereka adalah kedua orang tua Langit Biru.


Cahaya adalah orang pertama yang menyapanya. Karena gadis itu sangat antusias sekali dengan adanya lamaran kali ini. Dengan begitu langkah untuk memiliki Bulan sebagai mamanya sedikit lagi akan terlaksana.


"Kak Bulan! Aya rindu sekali dengan Kakak." Berdiri dan berlari menyambut Bulan yang masih berdiri dalam diam.


"Hai, Aya." Hanya itu yang sanggup Bulan katakan karena jantungnya mendadak berdegub sangat kencang ketika tanpa sengaja netra indah miliknya bersiborok dengan mata tajam Langit Biru. Bulan menelan ludah. Mengalihkan pandangan dan sialnya kini justru bertemu pandang dengan Jupiter. Mata teduh yang tampak sayu. Sanggupkah dia melukai hati Jupiter. Bulan melakukan ini semua juga demi Cahaya yang berharap banyak padanya.


"Jadi ... inikah Bulan Purnama yang akan Elang lamar malam ini?" Surya Alam yang sejak tadi memerhatikan pada akhirnya ambil suara.

__ADS_1


Bumi Perkasa terkekeh. Lalu berucap, "Iya, Pak Surya. Dia adalah Bulan Purnama. Putri saya satu-satunya."


"Cantik sekali. Dan masih sangat muda. Benarkah Bulan mau dinikahi oleh putra saya yang sudah menyandang status seorang duda?" Kurang sopan memang karena Surya berkata demikian. Namun, lelaki paruh baya itu kurang yakin saja jika gadis yang akan dilamar masih semuda ini.


"Jika mengenai hal itu saya sudah menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Bulan." Bumi menjawab lalu menolehkan kepala pads putri dan istrinya. "Bulan, kenapa masih saja berdiri di sana. Ayo, kemarilah. Duduk di sini."


Alisha membawa Bulan duduk di samping Daddy Bumi.


Sementara Cahaya kembali duduk di samping Langit dan diapit oleh Jupiter.


Hati pemuda itu sejujurnya sangat tidak baik-baik saja. Seharusnya dia yang berada di posisi Langit untuk melamar Bulan Purnama. Sayanganya, dia kalah cepat. Sepupunya itu lebih berani mengambil sikap. Dan dia akui kalah telak dalam urusan wanita. Ingin rasanya hati Jupiter merelakan Bulan untuk Langit. Namun, rasanya sungguh sulit.


Dalam pembicaraan sesama kedua orang tua, Jupiter tidak konsen sama sekali. Pemuda itu sibuk melirik Bulan yang tampak diam dan banyak menunduk. Lalu dia menatap Cahaya yang wajahnya sangat berbinar tanda jika sedang bahagia. Jupiter menghela napas. Baiklah. Demi Cahaya dia harus mengalah.


Selanjutnya ada Langit yang juga tak luput dari perhatian Jupiter. Sepupunya itu juga tampak datar wajahnya. Tak bisa Jupiter nilai apakah Langit tengah bahagia atau justru sebaliknya.


Dalam diamnya, Jupiter lagi-lagi berpikir. Apakah Langit melakukan semua ini demi Cahaya. Dalam artian Cahaya yang memaksa sang sepupu untuk menikahi Bulan karena Jupiter sangat tahu bagaimana Cahaya sangat menyukai sosok Bulan Purnama.


Lantas ... dia harus bagaimana sekarang? Meraup wajah dengan kasar. Mencoba sekali lagi untuk berdamai dengan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2