
"Tolong kamu urus semua keperluanku untuk pergi ke Jakarta. Termasuk tiket dan juga penginapan." Bulan memerintahkan bawahannya melalui sambungan interkom yang berada di dalam ruang kerjanya. Bulan sudah cukup geram dengan semua penolakan yang Langit berikan.
Bahkan Bulan sudah melakukan survei pada lokasi di mana lahan tersebut hanya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Padahal lokasinya sangat strategis. Kenapa juga Langit tidak mau menjual saja sehingga pria itu akan mendapat keuntungan.
Saking penasarannya, Bulan sudah mantap dan memutuskan untuk dia pergi menemui langsung lelaki itu. Sedikit hal tentang Langit juga sudah didapat Bulan dari Jupiter. Termasuk di dalamnya adalah alamat serta lokasi di mana perusahaan milik Langit berada. Tidak susah bagi Bulan dapat menemukan tempat itu. Karena Ibukota sudah sering menjadi jujugannya.
Bulan mendesah kasar. Memijit pelipis yang akhir-akhir ini sering dirasakannya nyeri dan pusing kepala.
"Kamu kenapa, Bulan? Sedang sakit?"
Karena tidak fokus dan konsentrasi yang ambyar, sampai Bulan tidak mengetahui kedatangan Daddy Bumi. Pintu yang terbuka pun tidak terdengar olehnya.
Melihat kedatangan Daddy Bumi, Bulan merasakan kelegaan yang luar biasa. Hanya pada Daddy-nya Bulan biasa bersandar.
Bumi sendiri yang melihat putrinya tampak pucat juga tak bersemangat ikut dibuat penasaran. Berjalan mendekat sampai lelaki yang usianya hampir mendekati kepala tujuh itu pun berdiri di samping Bulan Purnama. Mengusap punggung Bulan dengan lembut. "Ada apa, hem?"
Tak segan Bulan bermanja pada Daddy-nya sekalipun mereka tengah berada di tempat kerja. "Daddy." Kedua lengan Bulan sudah melingkari pinggang Daddy Bumi. Menyandarkan kepala di sana.
"Daddy ... ijinkan aku pergi ke Jakarta, ya?"
Bumi terkejut mendengarnya. "Ke Jakarta? Mau ngapain di sana. Bukankah kamu juga baru saja pulang dari Surabaya. Apakah liburannya belum cukup?"
"Kali ini bukan untuk liburan, Daddy."
"Lalu?"
"Aku ingin mengunjungi salah satu perusahaan properti di sana. Namanya Mars Property."
"Apakah ada proyek baru yang sedang kamu peroleh. Kenapa Daddy tidak tahu?"
Ya, meskipun Bumi memberikan sepenuhnya kepengurusan perusahaan sekaligus hotel yang dia miliki pada anak-anaknya, akan tetapi di balik layar lelaki itu masih ikut memantau. Bulan dan juga Danu pun selalu mendiskusikan padanya terkait apapun pekerjaan yang sedang mereka kerjakan.
Sebagai seorang senior, Bumi sudah sangat berkompeten dalam dunia bisnis hingga Bulan yang masih dalam tahap belajar harus banyak-banyak mencari ilmu dari Daddy-nya.
"Aku belum mendapatkan proyek baru itu, Daddy. Tujuanku ke Jakarta karena ingin menemui CEO Mars Property yang juga sebagai pemilik lahan yang sedang aku incar selama ini."
Kening Bumi mengerut mendengar penuturan putrinya. "Jadi, sampai sekarang kamu masih mengincar lahan itu? Setahu Daddy, dari cerita terakhir yang kamu bagi jika ada beberapa kali proposal yang kamu kirimkan ditolak. Lantas, kamu masih nekat mau menemui langsung pemiliknya."
__ADS_1
"Iya, Daddy. Aku terlanjur jatuh cinta pada tempat itu. Lagipula aku heran dengan si Langit. Kenapa juga membiarkan lahannya terbengkalai begitu. Padahal nilai penawaran yang aku berikan sangat tinggi."
"Bulan ... Bulan. Jika sudah memiliki keinginan kamu ini selalu berambisi untuk mendapatkan."
"Karena aku penasaran saja dengan alasan penolakannya."
"Memangnya kamu sudah kenal dengan pemilik lahan itu?"
Kepala Bulan mengangguk. "Iya. Tanpa sengaja kenal pada saat aku di rumah Uncle. Dia adalah rekan bisnis Uncle Dirga."
"Jika begitu ... kenapa kamu tidak meminta bantuan saja pada Uncle-mu?"
"Selagi aku masih bisa berusaha sendiri ... aku tidak akan meminta tolong Uncle. Nanti saja jika lelaki itu susah diajak negosiasi, maka membawa Uncle adalah solusi."
"Terserah kamu saja Bulan. Daddy hanya bisa mendukungmu."
"Terima kasih, Daddy. Jadi, Daddy mengijinkanku untuk pergi ke Jakarta?"
"Memangnya kapan kamu perginya?"
"Besok."
"Maafkan aku Daddy. Bukankah lebih cepat, lebih baik agar semua urusan cepat kelar."
"Kamu ini memang sangat menggambarkan bagaimana Daddy ketika muda dulu. Sangat berambisi jika itu soalan bisnis."
"Ya, kan aku turunan Daddy."
Keduanya tertawa bersama.
"Jangan lupa pamit sama Mommy."
"Iya. Itu sudah pasti. Aku jadi kasihan sama Mommy. Pasti Mom akan memikirkanku nanti."
"Namanya juga anak gadis. Pergi jauh dari keluarga tentulah membuat Mommy khawatir."
"Urusan Mommy aku serahkan pada Daddy. Pasti Daddy paling pandai jika menyangkut rayu merayu."
__ADS_1
"Kenapa jadi Daddy yang kamu berikan tugas itu."
Lagi-lagi mereka berdua tertawa.
"Ayo kita makan. Sudah lewat tengah hari."
"Siap, Daddy. Habis itu aku mau langsung pulang. Belum packing juga."
Bulan beranjak dari duduknya. Tak lupa meraih tas yang tadi dia letakkan pada laci meja kerja. Bergelayut manja pada lengan Daddy-nya melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya.
••••
Esok harinya.
Gadis berponi itu dengan riang memasuki gedung perkantoran Mars Property. Tidak sendiri, melainkan tangan mungil itu bergandengan dengan sebuah tangan putih mulus milik sang mama. Siapa lagi jika bukan Cahaya dengan Vivian. Keduanya berniat menemui Langit Biru. Tentunya atas hasutan Vivian lah yang telah memaksa Cahaya untuk dapat menerima kehadirannya kembali dalam kehidupan sang putri bersama mantan suaminya.
"Papa!" Suara nyaring itu terdengar di telinga Langit ketika pintu ruang kerjanya terbuka.
Langit tersenyum mendapati sang putri yang datang tanpa memberitahu sebelumnya. Namun, senyum Langit mendadak sirna ketika di balik tubuh Cahaya, muncul seorang wanita yang sangat ingin dihindari oleh Langit.
"Hai, Mas!"
Jika menyambut Cahaya dengan senyuman, lain halnya jika harus berhadapan dengan Vivian. Selain malas pria itu juga enggan berhubungan lagi dalam segala hal dengan sang mantan istri.
"Aya, kenapa bisa bersama Mama?"
"Tadi Mama menjemput Aya di sekolah."
Langit hanya melirik melalui ekor mata pada Vivian yang duduk di sofa. Lalu Cahaya pun ikut duduk bersama mamanya.
"Mas ... ayo kita pergi makan siang? Pasti kamu belum makan, kan?"
"Aku sedang banyak pekerjaan."
"Papa ... Ayolah! Padahal kita ke sini karena ingin menjemput Papa. Masak Papa ngga mau pergi?" Gadis kecil itu memberenggut dengan bibir mengerucut merayu papanya agar mau ikut bersama mereka.
Bisakah Langit menolak keinginan putri tercintanya. Langit mendesah merasa berat jika harus pergi bersama Vivian juga. Namun, Langit juga tidak ingin membuat Cahaya kecewa.
__ADS_1
"Baiklah. Kita pergi. Papa ingin membereskan ini dulu."
"Yeay!" Cahaya bersorak kegirangan. Setidaknya dia bisa kembali menikmati hidup bersama kedua orangtuanya. Dengan pergi jalan-jalan atau makan bersama. Tak Cahaya pungkiri jika dia merindukan keluarga lengkap yang harmonis. Namun, Cahaya juga tidak mungkin menyalahkan papanya yang telah memutuskan berpisah dari sang mama. Semua pasti ada sebab akibatnya. Dan Cahaya, meski dia masih kecil, tapi cukup paham akan apa yang terjadi pada rumah tangga kedua orang tuanya.