Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Dua Puluh Lima


__ADS_3

"Ay!"


"Hem."


"Memangnya kamu sedang marah dengan Papa?"


Pertanyaan yang Jupiter lontarkan, membuat kunyahan di dalam mulut Cahaya terhenti. Gadis yang tengah menyantap sushi itu pun mendongak. Menatap Jupiter tanpa kata. Selanjutnya kembali menunduk menekuri makanan yang memang baru termakan setengahnya.


Ya, siang ini pada akhirnya Jupiter menunaikan janjinya untuk mentraktir Cahaya pada sebuah resto khas Jepang yang menjadi favorit gadis berusia sepuluh tahun itu.


"Menurut Uncle?"


"Kamu ini sama saja dengan papamu. Jika ditanya ... ganti bertanya."


"Aku memang sedang marahan dengan Papa."


"Ck ... apalagi masalahmu, Aya!"


"Andai Papa tidak membohongiku, aku juga tidak akan semarah ini."


"Bohong?"


"Ya."


Jupiter mulai paham. Ini pasti ada hubungannya dengan cerita Langit tentang permintaan Cahaya yang menginginkan mama baru. Dan Langit membohongi putrinya.


"Papa membohongimu seputar mama baru, kan?"


"Itu Uncle tahu. Aku tidak suka ketika Papa berbohong dan mengatakan jika Kak Bulan akan menjadi mama baruku. Padahal aku sudah terlanjur percaya juga semangat. Rupanya ... semua itu tidak benar dan aku kecewa pada papa."


"Apa yang kamu katakan tadi, Aya? Kak Bulan?"


"Iya, Kak Bulan. Padahal aku sudah senang sekali jika memang benar Kak Bulan akan menikah dengan Papa."


Jupiter tertawa sumbang. "Aya! Jangan bercanda. Kenapa kamu harus bawa-bawa Kak Bulan segala."

__ADS_1


Ah, Jupiter tidak mengerti dengan semua ucapan Cahaya. Kenapa harus membawa nama Bulan segala. Padahal Bulan adalah gadis incarannya dan dia bersama Bulan sudah memiliki komitmen jika suatu saat mereka akan menjalin kedekatan hubungan yang lebih rapat. Lalu apa hubungannya dengan Langit dan Cahaya. Jupiter dibuat gagal paham dalam hal ini.


"Uncle nggak tahu saja jika papa sudah mengenalkan Kak Bulan pada mama dan mengatakan jika Kak Bulan adalah calon mama baruku."


Jupiter menelan ludah. Tidak bisa menerima perkataan keponakannya.


"Itu tidak benar, Aya. Papamu itu memang sengaja berbohong hanya untuk mengelabui mamamu. Karena Kak Bulan tidak cocok jika menikah dengan papamu. Kak Bulan itu cocoknya menikah dengan Uncle."


Cahaya mengerucutkan bibirnya. "Uncle ini memang menyebalkan. Kenapa selalu berpihak pada papa. Kaum lelaki yang hanya bisa membual dan berbohong."


Cahaya sangat kesal. Kenapa uncle-nya ini membenarkan kebohongan papanya. Mengatakan jika Kak Bulan tidak cocok untuk papanya. Ya, memang Papanya memiliki usia lebih tua, tapi tidak ada yang salah dengan itu semua.


"Kenapa kamu berkata seperti itu. Dengarkan Uncle. Sebaiknya Aya tidak boleh memaksakan kehendak jika memang pada kenyataannya tidak bisa. Jika kamu menginginkan mama baru ... uncle akan bantu mencarikan calon istri untuk papa. Tapi bukan Kak Bulan karena dia itu lebih cocok menikah dengan uncle."


"Tidak. Aku maunya Kak Bulan yang menjadi mamaku. Siapa bilang tidak cocok. Meski pun lebih tua, tapi papa tak kalah tampan dati Uncle Jupi."


"Coba sekali-kali Aya berada di posisi Kak Bulan. Jika boleh memilih sudah pasti Kak Bulan akan memilih Uncle untuk dijadikan suami. Karena Uncle dan Kak Bulan sama-sama single." Jupiter tidak mau kalah dari Cahaya.


Dalam hal ini dia memang tidak tahu menahu dengan apa yang sudah terjadi. Nanti saja Jupiter akan meminta penjelasan pada sepupunya itu terkait soalan Bulan. Dan satu hal yang perlu Jupiter tekankan terutama pada Langit juga Cahaya tentunya. Jika Bulan sudah dia incar, tidak boleh ada yang mendekati gadis itu kecuali dirinya.


Cahaya masih tidak mau kalah. Membuat Jupiter kesal saja. Pun juga dengan Cahaya. Mereka berdua sama-sama dalam mode kekesalan.


"Begini saja. Bagaimana jika kita taruhan?"


Kening Cahaya mengernyit. "Taruhan? Maksud Uncle?"


"Kita taruhan . Apakah Kak Bulan lebih memilih papamu atau uncle? Apapun yang menjadi pilihan Kak Bulan ... kita harus berlapang dada menerima. Bagaimana?


Cahaya tampak berpikir sejenak sebelum pada akhirnya dia ulurkan tangan di hadapan Jupiter. "Deal."


Jupiter tersenyum lebar karena yakin seratus persen jika Bulan pasti memilihnya. Dia sambut uluran tangan Cahaya. "Deal."


••••


"Selamat sore, Pak!" Kepala Johan menyembul di balik pintu ruang keja Langit setelah menyapa sang atasan.

__ADS_1


Langit yabg tengah disibukkan oleh banyaknya berkas yang harus dia kerjakan pun seketika mendongak. Mendapati sang asisten tengah memandangnya disertai dengan seulas senyuman. "Masuklah, Jo!"


Johan membuka pintu lebih lebar agar dia bisa masuk ke dalamnya. Setelah itu menutup kembali pintunya. Berjalan mendekat pada meja kerja Langit Biru dengan membawa sebuah map berisikan proposal. Mata Langit melirik apa yang Johan bawa. Sungguh, jika itu adalah pekerjaan baru yang harus dia selesaikan sekarang ... jawabannya tidak bisa. Sebagai seorang pemilik perusahaannya sekalian pemimpin di perusahaan Mars Property, tanggung jawab Langit sangat tinggi. Mulai dari pengerjaan proyek sampai dengan masalah keuangan, dia harus turun tangan langsung untuk melakukan pengecekan. Oleh sebab itulah, apapun itu yang berhubungan dengan proyek dan duit ... maka Langit harus mengetahui. Jangan sampai ada satu pun yang lolos dari pengawasannya.


"Apa yang kamu bawa itu, Jo?" Tidak sabar Langit untuk bertanya.


Tanpa diminta, Johan sudah duduk di kursi yang ada di hadapan Langit lalu menyodorkan berkas yang sengaja ia bawa untuk sang atasan. "Proposal, Pak."


"Proposal apalagi?"


"Penawaran pembelian lahan."


Kening Langit mengernyit. "Penawaran lahan, apa? Perasaan aku tidak menjual lahan apa pun. Kenapa ada yang mau membeli."


Langit tak habis pikir dengan semua ini.


"Bapak bisa mengeceknya sendiri."


"Tunggu dulu, Jo. Sebelum aku mengeceknya, bisakah kamu jelaskan dulu apa maksud dan tujuan proposal itu dikirimkan ke sini. Dan satu hal lagi. Dari mana proposal itu berasal. Ah, maksudku perusahaan mana yang mengirimkannya."


Johan mengikuti perintah Langit. Dia membuka dan membaca isinya. Ah, kening Johan ikut-ikutan mengernyit heran.


"Jo!"


"Ya, Pak. Jadi ini adalah proposal penawaran harga beli untuk lahan yang Bapak miliki di pulau itu."


"Apa? Itu lagi?"


"Tapi ini perusahaannya beda, Pak."


"Bukan dari pemilik hotel yang bernama Bulan Purnama?"


Kepala Johan menggeleng. "Bukan. Ini beda."


"Bagaiman bisa? Bahkan aku tidak pernahkah mengatakan pada siapa pun atau bahkan tak berencana menjual lahan itu. Lantas kenapa ada lagi orang yang berniat membelinya. Aku heran ... dari mana mereka tahu jika lahan itu milikku? Dan untuk apa juga mereka ingin membelinya."

__ADS_1


Kepala Langit ingin pecah seketika. Belum selesai persoalan Bulan dengan Cahaya. Sekarang sudah muncul masalah baru lagi. Siapa yang sebenarnya berani memberikannya tawaran untuk membeli lahan itu padahal Langit tak pernah ada niatan menjual. Sangat mengherankan. Sebaiknya Langit harus mencari tahu kenapa mengincar lahan miliknya itu.


__ADS_2