Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Bulan memasuki rumah disambut langsung oleh Alisha. Kepala Alisha celingak celinguk seolah mencari keberadaan seseorang. Seperti biasa, Bulan akan mencium punggung tangan Mommy-nya.


"Pak Elang mana?"


Pertanyaan yang Alisha lontarkan, menampakkan kebingungan di wajah Bulan. Bahkan dia baru saja datang. Kenapa yang ditanyakan sang Mommy justru orang lain. Orang yang membuatnya kesal sekaligus dilema satu hari ini.


"Kenapa Mom tanya padaku? Memangnya aku pengasuhnya dia apa?" Dengan ketus Bulan menjawab, melenggang masuk meninggalkan Alisha.


"Mommy pikir kamu akan datang dengan Pak Elang. Soalnya kan Aya masih di sini, Sayang."


Bulan menghentikan langkah lalu menepuk keningnya. Kenapa dia bisa lupa jika ada Cahaya di rumahnya. Wanita itu menolehkan kepala ke belakang, "Aku lupa jika Cahaya masih di sini. Ya, sudah. Biarkan saja. Jika papanya tidak menjemput ... biarkan Aya menginap di sini saja. Besok pagi sekalian aku antar dia kembali ke hotel."


Setelah mengatakan itu, Bulan melanjutkan langkah menuju kamarnya berada. Alisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang putri. Meski terkesan seolah tak peduli pada sosok Langit, dalam hati kecil Alisha meyakini jika Bulan dengan papanya Cahaya ada sesuatu hal yang tersembunyi. Yah, semoga saja Bulan mendapat jodoh terbaik seperti dirinya yang mendapat seorang suami penyayang juga perhatian pada keluarga.


"Oma!"


Panggilan Cahaya mengejutkan Alisha. Wanita itu memutar kepala pada arah kamar tamu di mana Cahaya keluar dari dalamnya.


"Sudah mandi, sayang?"


"Sudah Oma. Eum ... tadi sepertinya Aya mendengar suara Kak Bulan. Apakah Kak Bulan sudah pulang Oma?"


Alisha menganggukkan kepala. "Sudah. Tapi Kak Bulan sedang mandi."


"Papa ikut ke sini juga tidak?"

__ADS_1


"Belum sepertinya. Mungkin malam nanti."


"Oh."


"Ya, sudah ayo ikut Oma. Sambil menunggu Kak Bulan, Opa dan juga papanya Aya datang ... Kita nonton televisi dulu bagaimana?"


Kepala Cahaya mengangguk setuju. "Siap, Oma."


Duh, betapa bahagianya Alisha bisa menemukan Cahaya yang cantik juga penurut. Mengingat akan masa kecil Bulan dulu.


••••


Sudah mandi, rapi dan wangi. Bulan keluar dari dalam kamarnya menuju ruang makan karena di jam tujuh malam sudah saatnya semua anggota keluarga berkumpul bersama. Alisha juga Bumi Perkasa memang mewajibkan anaknya selalu menyempatkan waktu untuk sekedar berkumpul makan malam demi membangun keharmonisan keluarga.


Namun, malam ini ada yang lain dari biasanya karena seperti malam sebelumnya Bulan harus mendapati sosok lain yang menghuni ruang tamu rumahnya. Dialah sosok Langit Biru dan juga Cahaya Senja.


Ah, kenapa jantung Bulan jadi jumpalitan begini mendapati aura berbeda yang terpancar dari wajah tampan Langit Biru. Haish, sejak tadi kenapa Bulan terus saja mengatakan jika Langit tampan. Tapi memang benar. Malam ini pria itu terlihat lain di matanya. Lebih segar wajahnya dan sedap di pandang mata. Kemeja lengan panjang motif salur berwarna putih biru, dengan bagian lengan digulung sampai siku. Langit terlihat lebih bersinar di mata Bulan. Buru-buru ia buang pandangan, lalu mendekat pada ruang makan. Menyeret kursi tepat di samping Cahaya.


"Hai, Aya. Gimana hari ini? Betah di sini?" Basa basi saja sebenarnya Bulan bertanya demi mengusir kecanggungan yang mendera.


"Aya betah di sini. Oma sangat baik sekali. Oiya ...." Gadis kecil itu mengalihkan tatapan dari Bulan pada sang Papa.


"Papa ... bolehkah malam ini Aya menginap di sini?"


Demi apa pun juga Langit sangat tidak enak hati pada Bumi dan juga Alisha. Bagaimana mungkin putrinya ini betah berada di rumah ini. Langit hanya tidak ingin jika Cahaya merepotkan. Lagipula, bukankah dia dan Bumi Perkasa baru saling mengenal. Tidak etis rasanya dia membiarkan sang putri terus menerus berada di sini.

__ADS_1


"Aya ... besok kita sudah harus kembali ke Ibukota. Jadi, malam ini Aya harus ikut papa kembali ke hotel untuk bersiap-siap kepulangan kita besok."


Tampak kekecewaan di wajah Cahaya. "Kok pulang. Aya masih betah di sini, Papa."


"Aya harus ingat sekolah. Janjinya kemarin hanya liburan selama tiga hari saja. Jadi, kita tetap harus balik karena papa juga harus bekerja. Kapan-kapan jika liburan sekolah tiba ... Kita berlibur ke sini lagi. Okay!"


Langit merasa waktu tiga hari berada di Bali sangatlah cepat. Bahkan selama di pulau ini banyak dia lakukan untuk bekerja juga sambil mengawasi Cahaya yang menikmati liburan. Langit juga tidak mungkin berlama-lama karena Johan sudah menelepon dan bertanya kapan dia pulang.


"Baiklah jika begitu. Papa harus janji ketika liburan nanti kita balik ke sini," pinta Cahaya memelas.


Langit mengangguk sekalipun tak tega menatap raut kekecewaan di wajah putrinya.


Nyatanya tak hanya Cahaya yang kecewa. Alisha pikir Cahaya dan Langit akan lama berada di sini. Ternyata mereka sudah harus kembali. Satu hal lagi yang menambah kecewa pada diri Alisha. Dugaan jika Langit akan melamar Bulan tidak terbukti. Entahlah Alisha sendiri tidak paham kenapa dia harus merasa kecewa mengetahui tak akan ada hubungan apa-apa di antara Langit dengan Bulan.


Sampai akhirnya mereka memutuskan menikmati makan malam dengan diselingi obrolan. Hingga acara makan malam usai, Langit tak langsung kembali ke hotel, karena Alisha dan Bulan membawa Cahaya untuk menonton televisi.


Sementara Bumi membawanya menikmati secangkir kopi di teras belakang rumah. Membicarakan soalan bisnis yang mungkin saja akan mereka garap nantinya.


"Sungguh saya senang sekali jika bisa menjalin kerjasama dengan Anda Pak Bumi." Langit berucap antusias.


"Saya pun sama. Dan mungkin kita bisa bekerja sama membangun tempat wisata. Atau mungkin resort seperti yang Bulan impikan selama ini." Sengaja Bumi berkata demikian untuk memancing Langit. Terkait lahan yang sedang diincar oleh Bulan.


"Saya setuju saja Pak Bumi. Lagipula saya sendiri sudah menawarkan pada Nona Bulan untuk mengelola lahan itu apabila nanti putri Anda bersedia menjadi mama barunya Cahaya." Keceplosan sebenarnya Langit mengucap demikian. Namun, tak mungkin dia ralat.


Apalagi Bumi seolah tertarik dengan pembahasan ini. "Mama barunya Cahaya? Jadi ... benarkah Anda dengan putri saya tengah menjalin sebuah hubungan?" Sekarang Bumi lebih ke arah penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka berdua.

__ADS_1


Sedikit gugup, tapi Langit tetap mencoba. Siapa tahu usahanya tidak sia-sia dan Bumi merestuinya. "Eum ... sebenarnya jika Pak Bumi tidak keberatan ... saya berencana ingin melamar putri Anda, Bulan Purnama."


Huft, keringat dingin keluar dari pori-pori kulit Langit Biru setelah mengatakan hal itu.


__ADS_2