
"Dia ingin punya Mama. Dan jika aku tidak bisa memberikan dia mama baru ... maka Aya akan memilih ikut dengan Vivian."
Bukannya kasihan pada sang sepupu, Jupiter justru tergelak menertawakan kebingungan Langit. "Jika memang seperti itu ... carilah wanita yang mau kamu nikahi. Tidak mungkin juga kan kamu biarkan Aya hidup bersama Vivian?"
"Kamu pikir cari wanita itu mudah?"
"Asal kamu mau membuka hatimu ... aku yakin akan ada banyak wanita yang dengan senang hati mau menjadi istrimu. Kamu sendiri itu suka pilih-pilih, jadi susah untuk dapat istri lagi."
"Aku pilih-pilih juga demi Cahaya. Siapa pun wanita yang mau menjadi istriku, juga harus mau menerima Cahaya. Kamu tahu sendiri jika menjadi duda itu tidaklah mudah. Terlebih aku tahu bagaimana buruknya sifat Vivian. Jika sampai Cahaya ikut mamanya ... sudah pasti Vivian akan memanfaatkan Cahaya untuk menjeratku."
"Lalu ... apa rencanamu setelah ini?"
"Aku pusing. Seharusnya kamu membantuku mencari solusi dan jalan keluarnya."
"Apa iya aku harus membantumu mencarikan istri untuk mama barunya Cahaya."
"Aku tidak yakin jika pilihanmu sesuai dangan apa yang aku inginkan."
"Jika begitu jangan meminta solusi padaku, ck." Jupiter berdecak. Berdebat dengan Langit tak akan ada akhirnya.
"Bantu aku membujuk Cahaya agar dia tak lagi marah dan mendiamkanku seperti ini. Kamu tahu ... aku sudah stres menghadapinya."
"Ya ... ya. Jika urusan Cahaya, kamu serahkan saja padaku. Bukankah aku pawangnya?"
"Sialan, kau!"
Jupiter tergelak lalu beranjak berdiri dan hendak meninggalkan ruangan Langit.
"Piter!" Teriak Langit menghentikan langkah pemuda itu.
"Tolong temui Cahaya di sekolahnya hari ini. Aku mempunyai feeling tidak enak jika Vivian akan kembali berulah."
"Kenapa tidak kamu saja yang menjemput Aya. hitung-hitung menunjukkan rasa perhatian. Siapa tahu saja Cahaya luluh dan mau memaafkanmu."
"Aku ada meeting sebentar lagi. Lagipula ... kepalaku ini pening sekali. Semalaman aku tak bisa tidur nyenyak. Bahkan aku tak yakin jika bisa melewati meeting dengan kondisi baik-baik saja nanti."
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menjemputnya."
"Terima kasih, Piter."
"Sama-sama."
Jupiter melangkah keluar, hanya saja mulut pria itu tak juga tinggal diam. "Aku tunggu kamu mentransfer bonusku sebagai pengasuh Aya, Lang!"
"Ya, Tuhan ... Piter. Dasar sepupu mata duitan," gerutu Langit sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
••••
Dugaan Langit memang tidak salah. Baru saja Jupiter tiba di sekolah Cahaya siang ini, Vivian juga nampak terlihat turun dari mobilnya. Dengan langkah anggun, wanita cantik yang berprofesi sebagai model tersebut mulai memasuki kawasan sekolah Cahaya.
Beruntungnya dengan sigap Jupiter berhasil menghadang.
"Ngapain kamu ke sini Vivian!"
"Aku yang harusnya bertanya padamu. Ngapain kamu ada di sini? Jika aku ... jelas ingin menjemput putriku."
"Elang tidak akan membiarkanmu membawa Cahaya."
"Sudahlah, Vi. Jangan membuat masalah dengan Elang. Kamu tahu sendiri jika Elang bisa saja menyembunyikan Cahaya darimu jika sampai kamu tetap saja berulah. Dan kamu tahu apa kerugiannya bagimu jika sampai Langit membawa pergi Cahaya dan tidak lagi membiarkanmu menemuinya?"
Jupiter mencondongkan wajah lebih mendekat lalu berbisik, "Maka kamu akan kehilangan alat untuk dapat menjerat Elang."
Jupiter menyeringai melihat wajah pias yang Vivian tunjukkan. Pemuda itu memang sangat pandai memanipulasi keadaan. Pantas saja jika Langit begitu percaya pada Jupiter bahwa pemuda itu mampu menjaga Cahaya dengan baik.
Vivian menggeram marah. Namun, wanita itu tak mampu berbuat apa pun juga karena masih butuh Langit dan Cahaya. Jika sampai Langit benar-benar menyembunyikan Cahaya dan tak memberikan kesempatan baginya bertemu sang putri, maka dia tak akan pernah bisa lagi memanfaatkan Cahaya demi menguras harta kekayaan sang mantan suami. Apalagi jika memang benar Langit akan menikah lagi. Tertutup sudah kesempatan baginya untuk memperalat mereka.
Kali ini Vivian harus mengalah. Jupiter itu bukan sembarang orang karena pemuda itu adalah kaki tangan Langit.
Sementara itu, Jupiter bisa bernapas lega setelah mendapati kepergian Vivian. Mengembuskan napas panjang setelah dia berhasil mengusir Vivian. Wanita itu memang sangat berbahaya. Jika sampai Langit lengah sedikit saja ... maka Vivian akan berhasil mendapatkan apa yang wanita itu inginkan.
••••
__ADS_1
"Uncle, Jupi! Tumben Uncle yang menjemputku," ucap Cahaya begitu melihat sosok sang paman berada di sekolah. Padahal biasanya papanya akan meminta pada sopir untuk menjemput. Atau kadang mamanya yang akan berada di sini. Meski mama memanfaatkan dia demi bisa menggandeng sang papa pergi makan siang bertiga, nyatanya Cahaya susah menolak. Semua karena bully-an dari teman-teman yang kerap ia dapatkan. Dikatai tak punya mama lah karena kabar perceraian kedua orang tuanya memang terdengar di mana-mana. Mamanya adalah seorang model yang banyak dikenal orang. Begitu pun dengan papanya seorang pengusaha sukses yang namanya juga melanglang buana. Sayanganya, mereka semua tidak tahu akan perasaan Cahaya sebagai korban broken home yang merasa tertekan dalam setiap kesempatan.
Cahaya tak akan memihak pada siapa pun juga karena bagi Cahaya, baik papa ataupun mama sama-sama memanfaatkan kelemahannya sebagai anak. Jika mama selalu memaksakan kehendak dan mendoktrin ini dan itu agar Cahaya menurut, lama-lama gadis itu merasa capek juga. Lantas, dia ingin meminta bantuan pada sang papa agar menyelamatkan dia dari cengkeraman mamanya dengan cara memberikan dia mama baru. Namun, apa yang justru Cahaya dapatkan? Kebohongan dan kekecewaan saja. Salahkah jika Cahaya marah pada papanya?
"Ayo, Aya. Kita pulang."
"Tidak mau."
Mata Jupiter membulat sempurna. Bisa-bisanya sang keponakan memberikan bantahan.
"Aya, nanti papamu marah jika tidak segera pulang."
"Biarkan saja Papa marah. Lagian kenapa Uncle Jupi harus ikut campur dalam masalahku dengan Papa."
Lagi-lagi mata Jupiter membola. Ini anak semakin pintar saja berkata-kata. Siapa yang mengajari?
Oh, tidak. Jupiter tidak boleh lupa jika Cahaya adalah gadis kecil yang mulai beranjak remaja. Tentulah segala hal dapat diketahui oleh keponakannya itu.
"Aya, sayang. Kita pulang, ya? Uncle bukan mau ikut campur urusan Aya dengan papa karena tugas Uncle hanya menjemput saja."
"Lagian kenapa juga harus Uncle yang menjemputku. Biasanya juga sopir."
"Ini papa sendiri yang memberi tugas pada Uncle."
"Dasar, Uncle. Mata duitan. Berapa banyak Papa membayar Uncle!"
"Aya! Astaga, ini anak kenapa jadi pandai begini. Dari mana Aya tahu jika papa telah membayar Uncle."
"Habisnya Uncle ini mana mau repot mengurusku jika tidak ada bonus besar yang papa berikan."
Glek
Jupiter selalu kalah omongan jika berhadapan dengan Langit atau pun Cahaya.
"Baiklah jika begitu. Bagaimana jika Uncle traktir Aya. Lalu setelah itu kita pulang."
__ADS_1
"Nah ... gitu dong, Uncle. Kenapa tidak dari tadi kek bicara begitu. Ayo, kita berangkat sekarang."
"Aya!" Jupiter menggeram. Berhasil juga dikadalin sama anak kecil.