
"Cahaya ... sebaiknya kau tinggallah di sini saja. Menemani Oma," ujar Alisha ketika Langit Biru berpamitan untuk kembali ke hotel setelah makan siang mereka usai.
Bulan terlihat kaget dengan perkataan Mommy-nya. Kenapa justru meminta pada Cahaya agar tinggal di rumahnya? Tak Bulan pungkiri jika sang Mommy kerap mengatakan kesepian hidup di rumah sebesar ini sendirian jika di siang hari. Karena dia bersama Daddy Bumi selalu saja sibuk setiap hari. Seharusnya Daddy Bumi itu pensiun lalu menikmati hari tua bersama Mommy-nya. Namun, karena Daddy Bumi adalah sosok pekerja keras yang tidak bisa hanya diam di rumah jadilah di usia yang terbilang sudah cukup tua beliau masih saja gesit mengurusi berbagai macam proyek. Bahkan hari ini pun lelaki paruh baya itu juga pergi ke luar kota demi meeting proyek bersama beberapa rekan bisnisnya. Bulan tidak bisa memaksa agar sang Daddy istirahat saja karena sebenarnya dia masih sangat membutuhkan sosok Daddy yang mendampinginya mengurus hotel juga beberapa proyek yang dimiliki oleh perusahaan.
Dulu ketika Danuarta masih tinggal di pulau dewata, Mommy Alisha tidak pernah kesepian. Ada anak-anak Danu yang akan meramaikan rumah besar ini. Sayangnya mereka memang harus pindah ke luar negeri demi mengelola perusahaan milik Daddy Bumi. Jadilah sekarang Mommy Alisha kembali dirundung sepi.
Cahaya, gadis kecil itu tersenyum lebar pertanda jika dia tengah kegirangan. Namun begitu, tak lantas gadis kecil itu menyetujui karena ada Papa yang harus dia mintai ijin dulu. Mendongak agar dapat menjangkau wajah papanya yang memang memiliki postur tubuh di atas seratus delapan puluh lima sentimeter. Lalu, gadis cantik itu pun memohon seraya mengucap kata meminta izin pada papanya. "Papa ... Aya boleh kan tinggal di sini menemani Oma Alisha?"
Mampukah Langit Biru tidak memberikan izin? Tentu tidak. Pria itu sungkan pada Alisha yang sudah berbaik hati menampungnya bersama Cahaya makan siang. Menyambut dengan ramah juga menganggap kehadirannya layaknya sebuah keluarga.
Tidak menjawab putrinya, Langit justru mengalihkan pandangan pada Alisha. "Apa nantinya Aya tidak merepotkan Anda Mommy Alisha?"
Senyum tersungging di bibir merah muda milik wanita lima puluh tahun itu. "Tentu tidak Pak Elang. Sama sekali tidak merepotkan. Saya justru senang sekali karena ada teman di rumah ini."
Langit mengangguk mendengar jawaban Alisha yang tidak keberatan karena kehadiran putrinya. "Tapi Aya belum mandi tadi. Habis main di pantai."
Justru Alisha juga yang langsung menyela padahal ucapan Langit ditujukan untuk Cahaya. "Nanti Aya bisa mandi di sini dan pakai baju ganti milik Bulan. Saya masih menyimpan banyak baju-baju milik Bulan ketika masih sebesar Aya dulu."
"Benarkah itu Oma?" Wajah berbinar Cahaya menyahut.
__ADS_1
"Iya."
"Papa ... jadi, apakah Papa mengijinkanku tinggal di sini hari ini?"
Kepala Langit mengangguk. Alisha ikut kegirangan.
"Ya sudah jika begitu Aya biar di sini saja dulu. Pak Elang bisa kembali ke hotel bersama Bulan."
Sejak tadi Bulan terus yang mengajukan protes. "Mommy!"
Tapi Mommy tak menggubrisnya. Bulan sampai dibuat heran. Ini Mommy-nya apa memang sengaja mau menjodohkan dia dengan Langit Biru? Oh, Tuhan ... Mommy. Bulan lemas seketika. Mommy sudah membawa Cahaya masuk ke dalam kamar. Sementara dia ... tak lagi ada pilihan kecuali balik ke hotel berduaan bersama Langit.
Langit pikir, Vivian sudah pergi meninggalkan hotel ketika tadi dia pergi bersama dengan Bulan dan Cahaya untuk makan siang.
Pada kenyataannya saat dia kembali ke hotel dan baru saja menginjakkan kaki di lobi, lagi-lagi sosok Vivian yang menjulang tinggi tengah menyeret koper dengan cara berjalan melenggak lenggok bak sedang menjalankan tugasnya sebagai model. Memang Vivian adalah seorang model jadi wajar jika cara berjalan saja seanggun mungkin.
Menyadari jika Vivian juga tengah menatap terkejut padanya, lagi-lagi Langit Biru memanfaatkan keberadaan Bulan yang kebetulan memang sedang bersamanya. Keduanya usai makan siang di rumah Bumi Perkasa dan kali ini mereka hanya berduaan saja kembali ke hotel tanpa Cahaya.
Menarik sedikit paksa lengan Bulan. Karena gadis itu tidak siap, begitu saja tubuh mungil itu sudah jatuh ke dalam pelukan seorang Langit Biru. Bulan tentulah terkejut. Ah, tak hanya Bulan saja. Melainkan beberapa karyawan hotel yang kebetulan tengah bertugas sampai menganga mulutnya melihat sang atasan tengah berpelukan mesra dengan seorang lelaki. Ya, selama ini memang Bulan hampir tak pernah terlihat membawa pasangan kecuali Daddy nya juga kakak lelakinya. Kini ketika mendapati Bulan tengah dirangkul bahunya dengan sangat mesra oleh seorang pria, sudah wajar membuat mereka semua berkasak kusuk. Menyebar gosip dari mulut ke mulut dan menjadi trending topik hari ini.
__ADS_1
Sementara Vivian, kekesalan yang makin memuncak tak menyurutkan langkah kakinya mendekat pada Langit Biru. "Aya mana, Mas? Kenapa kalian hanya berduaan saja?" Sejujurnya Vivian cemburu melihat kemesraan Langit dengan seorang wanita yang masih terbilang sangat muda untuk menjadi pasangan sang mantan suami. Merutuki bagaimana mungkin Langit justru berhasil mendapatkan daun muda.
"Untuk apa kau bertanya ke mana Cahaya? Bukan urusanmu."
"Dia anakku, Mas. Dan aku ingin pamit padanya karena harus kembali sekarang juga."
"Oh, kamu sudah mau pulang rupanya."
"Ya. Dan kamu jangan merasa menang Mas karena berhasil mengusirku."
"Jaga bicaramu Vivian. Aku tidak pernah mengusirmu. Suka-suka kamu mau tetap di sini atau pulang. Itu bukan urusanku karena aku juga tidak pernah mengajakmu ke sini."
Kesal. Langit terus saja berhasil memojokkannya. Vivian menyesal karena dia harus menyusul pria itu sampai di sini begitu mengetahui dari asisten Langit jika pria itu tengah berlibur bersama Cahaya. Sudah capek-capek datang rupanya Langit justru bermesraan dengan wanita lain. Panas hati Vivian melihat itu semua. Tak dianggap juga oleh Langit, Vivian memutuskan meninggalkan hotel saja daripada terus menerus disuguhi pemandangan yang membuatnya sakit mata.
"Kamu memang keterlaluan, Mas!" tuding Vivian dengan kemarahan. Bahkan suara nyaring perempuan itu menarik perhatian beberapa orang termasuk pengunjung hotel juga para staf.
Sungguh, Bulan malu luar biasa dibuatnya. Image-nya hancur seketika. Merutuki kelancangan Langit yang terus saja menyeret dia dalam masalah bersama mantan istri pria itu. Bulan mencoba lepas, tapi tak bisa. Lengan Langit yang begitu besar justru melilit pinggang Bulan dengan sangat posesif. Mencoba menormalkan detak jantung akibat indera penciuman yang mengendus aroma tubuh maskulin Langit Biru, wajah Bulan sudah memanas antara malu juga marah.
Dan Vivian, menghentakkan kaki meninggalkan keduanya dengan menyeret koper keluar dari lobi hotel yang bahkan baru pagi tadi dia masuki.
__ADS_1