Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Dua Belas


__ADS_3

Liburan penuh drama yang Bulan harapkan dapat menenangkan hati, pada kenyatannya justru sebaliknya. Bukan tenang yang dia dapatkan tapi justru rasa penasaran dan ambisi ingin segera menemui Langit Biru terkait lahan yang ingin dia miliki. Hal itu pula yang menjadi alasan utama bagi Bulan sudah kembali ke rumah serta pergi bekerja hari ini.


"Kirimkan satu kali lagi proposal penawaran harga pada pemilik lahan itu. Jika tidak diterima juga ... aku sendiri yang akan turun tangan untuk bertemu langsung dengan orangnya." Perintah yang Bulan berikan pada salah satu bawahannya.


"Baik, Bu."


Sepeninggalan karyawan perempuan yang telah keluar dari dalam ruang kerjanya, Bulan menjatuhkan punggung pada kursi kerja. Memijit pangkal hidung yang mulai terasa berdenyut. Ini sebenarnya tidak bisa dibiarkan. Semua ambisi yang susah dia kontrol lagi. Namun, bagaimana pun juga eksistensinya pada dunia bisnis tak boleh diremehkan oleh siapapun juga. Termasuk Langit Biru yang tak boleh abai padanya. Dari semua penolakan yang Langit berikan, justru memberikan sebuah tantangan bagi Bulan untuk semakin gigih menunjukkan bahwa dia bisa melakukan apapun yang diinginkan.


"Lihat saja. Aku pasti bisa memiliki lahan itu apapun caranya," ucapnya seorang diri.


Penawaran yang Bulan berikan cukup tinggi kali ini. Mesipun begitu, Bulan yakin sekali jika semua usahanya nanti akan dia kerjakan dengan totalitas agar mendapatkan hasil memuaskan. Membeli lahan semahal apapun tidak akan membuat Bulan rugi karena investasi berupa tanah bisa dia rupakan apapun juga demi mendapatkan hasil yang dia inginkan. Dan resort impiannya itu diyakini Bulan dapat memberikan keuntungan yang berlipat ganda dari modal yang nantinya dia keluarkan.


••••


Mars Property.


Langit tak tahan lagi melihat kedatangan sang mantan istri yang selalu saja banyak drama di dalamnya.


"Apalagi yang kamu inginkan, Vivian!"


"Mas ... kenapa kamu ini selalu saja tampak tidak suka dengan kedatanganku. Padahal aku tidak ada maksud buruk padamu. Tak bisakah kita berdamai?"


Langit tak paham ke mana arah pembicaraan Vivian.


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah lelah dengan hidupku, Mas. Dan aku rasa ... aku tak bisa hidup tanpa Cahaya. Juga ... tanpamu. Perceraian ini menyiksaku."

__ADS_1


Ingin rasanya Langit tertawa mendengar semua bualan wanita di hadapannya ini. Namun, sayanganya Langit sudah terlalu muak. Baru dua hari lalu Vivian berulah dengan merongrong harta benda miliknya. Meminta bagian milik Cahaya. Dan sekarang ... sudah berani wanita itu memainkan drama lagi di hadapannya.


"Apalagi yang sedang kamu rencanakan, Vivian! Pergi lah. Aku sudah muak melihatmu."


"Mas! Tega sekali kamu."


Wanita itu beranjak berdiri. Bukannya pergi seperti apa yang Langit mau. Tapi justru berjalan mendekat dan bergelayut manja di samping Langit. Duduk di tanganan kursi yang Langit duduki serta melingkarkan tangan pada leher pria itu.


"Mas. Dua tahun lamanya berpisah denganmu juga Cahaya. Aku pikir bisa move on darimu. Nyatanya ... tidak sama sekali. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini, Mas."


Langit berusaha menjauhkan Vivian darinya. Bisa bahaya jika wanita itu dekat-dekat dengannya seperti ini. Langit pria normal. Menduda dua tahun lamanya tanpa pernah dekat lagi dengan wanita, membuat sisi lelakinya bisa jadi bangkit begitu saja jika Vivian tak juga mau beranjak menjauh darinya. Selama ini hanya Vivian wanita yang sanggup membuatnya gila. Dan selama masa perceraian di antara mereka sekuat tenaga Langit membentengi hati juga dirinya agar tak lagi jatuh pada pesona seorang wanita. Kini Vivan mulai berulah dengan mencoba mendekatinya karena perempuan itu tau betul kelemahannya.


Tidak. Langit tidak boleh goyah. Pikiran yang terus menolak membuatnya memejamkan mata.


Langit menggeram. "Menyingkirlah, Vivian."


"Mas ... aku ingin rujuk denganmu."


Dia tidak salah dengar. Rencana busuk apalagi yang telah disusun oleh mantan istrinya itu. Meminta rujuk. Ingin rasanya Langit tertawa.


"Jangan mimpi kamu, Vivian."


"Apa yang salah dengan keinginanku itu, Mas."


"Tentu saja ada. Kamu sedang bermimpi dengan mengajakku rujuk kembali." Langit menyingkirkan lengan Vivian yang melingkari bahunya.


"Mas ... Aku tahu jika kmu masih mencintaiku. Jangan munafik kamu."

__ADS_1


Kepala Langit menggeleng-geleng. Betapa sang mantan istri percaya diri sekali.


"Kamu percaya diri sekali berkata begitu Vivian."


"Karena aku tahu siapa kamu dan bagaimana perasaanmu padaku."


"Aku sudah tak memiliki perasaan apapun padamu."


"Kamu bisa mencoba membohongi dirimu sendiri. Tapi kamu tak akan bisa membohongiku, Mas."


Langit tak habis pikir. Dari mana Vivian bisa memiliki pemikiran itu. Langit tak bohong ketika dia mengatakan sudah tak lagi ada perasaan pada Vivian. Namun, Langit juga tak akan mampu menjamin hatiku tidak akan goyah andai Vivian terus saja berulah.


Langit tahu seberapa berbahayanya Vivian. Dan bukan tidak mungkin apa yang wanita itu mau adalah salah satu cara agar bisa kembali menguasai hartanya. Langit diam. Mencoba menenangkan dirinya agar tak terpengaruh oleh bujuk rayu Vivian.


Demi Cahaya. Langit harus menyelamatkan masa depan putrinya. Tak lagi mau terjebak juga terjerumus akan akal bulus yang Vivian ciptakan.


"Sebaiknya segeralah pergi dari sini, Vivian. Tidak akan pernah ada kata rujuk di antara kita."


"Jangan egois, Mas! Pikirkan Cahaya. Dia masih membutuhkan sosok Ibu. Yaitu aku. Tegakah kamu membiarkan Aya hidup tanpa kasih sayang seorang mama!"


"Harusnya kata-kata itu lebih cocok diberikan untukmu. Ke mana saja kamu selama ini. Menjadi seorang Ibu tapi tidak pernah ada waktu bagi anakmu. Aya sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang dari mamanya. Jadi kamu jangan khawatir. Aya sudah terlalu kebal dengan hanya memiliki seorang papa."


"Mas!"


Langit tak lagi mau memberi celah bagi Vivian untuk berucap apalagi mempengaruhinya. Lalu, pria itu kembali berkata. "Lagipula, kamu tidak perlu khawatir berlebihan begitu. Sebagai pemegang hak asuh atas Cahaya, aku lebih tahu dengan apa yang harus aku lakukan. Dan mengenai kasih sayang ibu yang tadi kamu maksudkan ... sebentar lagi Aya juga dapat merasakannya setelah dia memiliki mama yang baru sebagai penggantimu."


"Apa? Jangan bercanda kamu, Mas!"

__ADS_1


Sejujurnya Langit sedikit cemas setelah mengatakan hal ini. Namun, sudah tak lagi ada cara untuk membungkam Vivian. Wanita akan terus berulah. Dan entah kenapa tiba-tiba saja Langit memiliki sebuah pemikiran, jika dia sudah menikah lagi, kemungkinan besar Via tak akan lagi mengganggu hidupnya. Apalagi meminta rujuk. Biarlah Vivian tahu jika dia sudah bisa move on dari wanita itu.


Keteguhan hati Langit yang sempat menginginkan dirinya tak lagi memikirkan sosok wanita demi bisa fokus membesarkan Cahaya, harus terpaksa dia patahkan. Mulai detik ini Langit akan mencari sosok wanita yang mau menjadi istrinya. Sekalipun hanya istri sewaan. Yang penting dapat dia gunakan untuk mengahalau Vivian.


__ADS_2