Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Empat Puluh Dua


__ADS_3

"Sayang!" Bumi berteriak memanggil istrinya. Seperti yang biasa dia lakukan ketika pulang ke rumah yang terlalu bersemangat ingin bertemu dengan sang istri tercinta.


Alisha yang mendengar panggilan suaminya, tergopoh-gopoh menuju ruang depan. Tersenyum melihat sang suami yang telah datang. Tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali melihat separuh jiwanya pulang bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Tangan Bumi merentang, siap menerima pelukan dari istrinya.


"Mas ... sudah pulang. Aku pikir baru malam pulangnya," ucap Alisha lalu berhambur ke dalam pelukan suaminya. Bumi memang pamit ke luar kota hari ini. Bahkan pagi-pagi sekali sudah pergi dengan driver pribadi. Biasanya malam hari baru sampai. Namun, ini masih di jam lima sore sang suami sudah kembali ke rumah.


"Kebetulan meeting berjalan lancar jadi bisa cepat selesai. Perjalanan pun lancar jadi bisa segera sampai rumah. Aku sangat merindukanmu, sayang."


"Baru juga pagi tadi bertemu. Sudah rindu saja. Gombalanmu ini receh sekali, Mas."


Bumi tertawa mengurai pelukan dari sang istri. Membawa dagu Alisha agar mendongak. "Bukankah kau tahu jika aku selalu merindukanmu setiap saat dan setiap waktu."


Alisha menyunggingkan senyuman bahagia dengan kedua pipi bersemu merah. Tentulah hal seperti itu membuat Bumi tak dapat menahan dirinya untuk tidak mencium istrinya. ******* bibir sang istri dengan rakusnya. Sebelah tangan melingkari pinggang Alisha, membawa mendekat dan menempel erat pada tubuh bagian depannya. Alisha selalu menikmati keintiman yang diciptakan oleh suaminya. Meski usia sang suami sudah tak lagi muda, akan tetapi dalam segi keromantisan, Bumi lah jagonya. Menjadikan dia ratu di dalam hati dan selalu memanjakan kapan pun juga.


"Oma! Ini kue keringnya mau disimpan di mana!" Teriak nyaring Cahaya dari dapur menuju depan berniat mencari keberadaan Alisha yang tadi meninggalkannya begitu saja.


Namun, gadis kecil itu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya. Buru-buru menutup mata dengan telapak tangannya, lalu memutar badan membelakangi Alisha dan Bumi. "Oma! Opa! Maaf, Aya nggak lihat. Beneran, sumpah!"


Teriakan melengking Cahaya mengejutkan Alisha yang langsung melepas ciuman suaminya sekaligus mendorong dada Bumi agar menjauh. Betapa Alisha yang malu luar biasa kedapatan akan gadis kecil itu, ketika dia tengah berciuman. Lain halnya dengan Bumi yang tampak cengo karena lelaki itu tak tahu menahu perihal keberadaan Cahaya di rumahnya. Bumi menggaruk tengkuknya menatap Alisha dengan pandangan penuh tanya.


"Kamu sih, Mas. Nggak tahu tempat asal nyosor saja."


"Lah aku juga nggak tahu sayang jika ada Cahaya di sini. Kamu juga nggak bilang."


"Duh, maaf."


Alisha yang gugup karena malu segera mendekati Cahaya dan merangkul pundak gadis kecil itu membawanya kembali ke dapur. "Aya! Oma minta maaf, ya. Ini kue keringnya kita simpan di laci dapur saja. Nanti kita suguhkan ketika makan malam."


"Papa ke sini lagi kan Oma nanti malam?"


"Iya, dong."


"Aya lebih suka menginap di sini daripada di hotel."


"Loh, kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Karena di rumah ini ada Oma yang baik sudah mengajariku banyak hal. Juga bercerita banyak yang membuatku terhibur."


"Oma juga senang ada Aya di sini. Jadinya Oma tidak kesepian lagi."


"Jadi ... apakah Aya boleh menginap di sini nanti malam?"


"Jika hal itu ... nanti Aya minta ijin dulu sama Papa, ya? Jika diizinkan ... Aya boleh menginap di rumah Oma."


"Terima kasih, Oma. Oma memang paling baik sedunia."


"Sama-sama sayang. Karena ini sudah sore ... Sebaiknya Aya mandi dulu. Bau asap. Asem. Nanti jika papa datang ... lihat Aya seperti ini bagaimana?"


Cahaya cengir sembari membaui badannya sendiri. "Baiklah, Oma. Aku mandi dulu."


"Bajunya sudah Oma siapkan di kamar tamu, ya?"


"Siap, Oma."


Gadis kecil itu berlari meninggalkannya menuju kamar tamu yang sejak tadi dipakai olehnya. Sementara itu, Alisha gegas masuk ke dalam kamarnya sendiri menghampiri sang suami.


"Sayang ... kenapa bisa ada Cahaya di sini?"


"Oh, itu. Tadi Bulan yang membawa ke sini makan siang."


"Hanya Cahaya sendiri atau dengan Pak Elang?"


"Ya, dengan Pak Elang, Mas."


"Kenapa aku jadi curiga dengan kedekatan keduanya. Apa kau juga merasakannya sayang?"


"Bukankah sejak semalam aku sudah curiga, Mas. Aku sih setuju-setuju saja jika Bulan dan Pak Elang memiliki hubungan dekat. Wajar saja. Mereka sama-sama belum memiliki pasangan. Yah, meskipun Pak Elang duda. Aku tidak masalah, Mas."


"Sepertinya sudah ngebet pengen punya mantu lagi?"


"Ya gimana, Mas. Selagi ada jodoh untuk Bulan kenapa tidak. Sekarang coba Mas pikir. Bulan itu anak perempuan kita satu-satunya. Terbiasa dimanja. Jadi menurutku jika Bulan menikah dengan Pak Elang yang lebih dewasa ... sudah cocok. Nantinya bisa ngemong Bulan juga. Dan satu hal. Jangan lupakan jika Cahaya dengan Bulan itu kompak sekali. Mereka layaknya adik dan kakak."

__ADS_1


"Iya. Aku juga melihatnya begitu. Sejak dulu kan memang Bulan ingin sekali adik perempuan. Kamu saja yang tidak mau mengabulkan."


"Kenapa Mas jadi bawa-bawa aku segala. Bukan tidak mau mengabulkan. Mas juga harus ingat apa syarat yang dulu aku ajukan jika ingin memiliki anak lagi. Mas sendiri yang harus hamil dan melahirkan. Aku cukup berperan sebagai tempat produksinya saja."


Bumi mencubit gemas pipi istrinya. Meski bukan lagi pasangan muda, jiwa keduanya masih sama-sama muda.


"Mas mandi sana. Nanti keburu Bulan datang dengan Pak Elang."


"Apa mereka akan datang lagi."


"Sepertinya iya. Jika Pak Elang sudah pasti akan datang menjemput Cahaya."


Bumi mengangguk. Bersiap masuk ke dalam kamar mandi. Namun, kembali menolehkan kepala ke belakang begitu mendengar panggilan sang istri.


"Mas!"


"Apa sayang. Mau ikut mandi sekalian? Ayo!" Dengan semangat Bumi menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.


"Apaan sih, Mas. Tua-tua keladi. Makin tua mesumnya makin menjadi."


Bumi tergelak.


"Aku hanya ingin bertanya padamu, Mas. Jika suatu saat nanti Pak Elang melamar Bulan ... apakah Mas akan menerimanya?"


Bumi terdiam sejenak sembari berpikir. "Menurutmu?"


"Aku sih iya ... iya saja. Tergantung Bulan juga apakah menerima atau tidak. Yang jelas ... aku sudah siap menikahkan Bulan. Dari segi usia Bulan juga sudah pantas menikah."


Bumi tersenyum. "Jika sayang sudah berpikir demikian ... aku ikut saja."


"Kau ini Mas. Tidak punya pendirian. Apa-apa ikut denganku."


"Habisnya jika tidak menurut denganmu ... bisa-bisa jatahku kamu potong nanti, dan aku yang akan rugi."


"Mas!" Alisha geram sendiri. Makin tua, suaminya ini makin mesum menjadi-jadi.

__ADS_1


__ADS_2