Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Tiga Belas


__ADS_3

Vivian masih berdiri dengan memandang tajam Langit Biru. Meminta penjelasan akan ucapan sang mantan suami. "Mas! Katakan padaku, apa maksud ucapanmu tadi?"


Langit mengembuskan napas kasar. Menjatuhkan punggung pada sandaran kursi kerjanya. Tak kalah tajam dengan tatapan mata Vivian. "Aku tidak perlu rujuk denganmu karena sebentar lagi aku akan menikah." Bohong Langit dengan terpaksa. Sampai detik ini, pria itu sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Lantas, bagaimana mungkin dirinya akan memberikan mama baru untuk Cahaya.


Tatapan wanita itu berubah menjadi sinis. Kedua tangan terlipat depan dada. "Aku tidak mempercayainya. Jangan bohong kamu, Mas!"


"Terserah jika kamu tidak percaya!" Tak kalah gentar Langit menantang meski setelah ini nanti Langit harus memutar otak mencari cara bagaimana andai kata Vivian tetap mengganggu ketenangan hidupnya. Terkhusus Cahaya.


"Aku sangat tahu siapa kamu, Mas. Kamu salah satu tipe pria yang susah move on. Ayolah, Mas. Jangan sok jual mahal padaku. Lagipula ... aku sudah berbaik hati menawarkan diri rujuk denganmu. Tentunya agat Cahaya juga tetap mendapatkan kembali kedua orangtuanya secara utuh seperti dulu kala."


"Kamu terlalu percaya diri sekali, Vivian. Kamu salah jika mengira bahwa aku adalah tipe pria yang susah move on. Buktinya, semenjak perceraian kita ... aku dengan mudah bisa mendapatkan penggantimu."


"Mana buktinya?"


Tantangan Vivian sanggup membungkam mulut Langit. Hanya sesaat karena setelahnya pria itu bisa kembali berucap, "Aku tidak perlu membuktikannya. Tidak ada gunanya juga."


"Cih, semakin yakin jika omonganmu itu hanya bualan semata, Mas. Aku baru akan percaya ketika undangan pernikahanmu sampai di tanganku." Tawa renyah yang diartikan Langit sebagai ejekan.


Vivian masih tertawa dengan kepala menggeleng-geleng ketika langkah kakinya membawa wanita itu keluar dari ruangan mantan suaminya.


Langit meraup wajahnya frustasi. "****!" Umpatan itu keluar dari mulutnya. Vivian selalu bisa membuatnya pusing kepala. Inilah yang dinamakan boomerang. Kebohongan yang dia lakukan justru membuat Langit harus memutar otak mencari cara agar bisa membawa seorang wanita ke pelaminan. Agar undangan yang Vivian inginkan bisa Langit kirimkan.


Sementara itu, di luar ruangan Langit Biru. Vivian berjalan melenggak lenggok layaknya tengah fashion show. Mata yang lurus ke depan enggan menoleh ke kiri dan ke kanan di mana tatapan mata menusuk dilemparkan oleh beberapa pasang mata dari karyawan Langit yang sudah hafal dengan tabiatnya. Vivian tak perduli. Urusannya bukan dengan orang lain. Melainkan dengan Langit Biru si pemilik perusahaan yang harus dia jerat kembali agar masuk ke dalam perangkapnya. Selama menjadi istri dari pria tersebut delapan tahun lamanya, hidup Vivian bak ratu yang tercukupi segalanya. Sayangnya sebuah skandal yang dia lakukan bersama sang Manager yang rupa-rupanya baru Vivian ketahui memang memiliki rencana terselubung dengan memanfaatkannya, hingga perceraiannya di antara dia dengan Langit harus terjadi. Meksipun Langit masih memberikan dia nafkah materi hingga detik ini nyatanya Vivian masih saja merasa kekurangan. Dua tahun lamanya dia berhasil merongrong Langit dengan perantara Cahaya. Namun, akhir-akhir ini Langit semakin protektif terhadap putrinya yang berimbas pada keuangannya. Dan pendengaran Vivian terkait lahan yang akan dijual oleh Langit adalah hal yang saati ni tengah diincar.

__ADS_1


Mata melebar dengan bulu yang lentik itu bersiborok dengan seseorang yang baru saja keluar dari dalam lift dan tengah terkejut menatap padanya.


"Vivian!" Ucap pemuda yang yang sudah dikenal dengan begitu baik oleh wanita itu.


Seulas senyuman dari bibir bergincu merah merona terlempar begitu saja pada Jupiter. "Piter! Apa kabarmu?"


"Aku baik." Jawaban singkat dengan mimik wajah seolah tidak suka melihat keberadaan wanita itu di sini. Namun, Vivian enggan membalasnya dengan kesinisan juga. Sebuah ide dan rencana selalu saja memenuhi otaknya. Jupiter adalah salah satu orang kepercayaan Langit. Tak ada yang jika dia mendekati pemuda itu agar memuluskan rencananya.


"Eum ... apa kamu sedang sibuk? Kita bisa ngopi sebentar sambil mengangkat banyak hal mungkin." Tawaran yang diberikan Vivian dengan tidak tahu malunya.


Jupiter tak menanggapi dengan apa yang Vivian tawarkan. "Maaf tapi aku sedang sibuk."


"Baiklah. Lain kali saja jika begitu. Senang dapat berjumpa denganmu Piter. Aku harus pergi sekarang."


Jupiter berdecak dengan tingkah laku perencanaan itu. Lalu, dia kembali melanjutkan langkah menuju ruang kerja sepupunya.


••••


"Untuk apalagi perempuan itu ada di sini?" tanya yang Jupiter lontarkan ketika baru saja masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan Langit.


Langit yang sudah kembali menekuri berkas-berkas di tangan, hanya mendongak sebentar. "Ngajakin rujuk." Menjawab singkat, lalu kembali menunduk menatap angka juga tulisan-tulisan berisikan kontrak kerja perusahaan.


Jupiter membulatkan mata tidak percaya dengan pengakuan sepupunya. "Apa! Rujuk?"

__ADS_1


Langit mengangguk.


"Lalu kamu terima?"


"Gila saja jika aku menerimanya. Di luar sana banyak sekali wanita yang mau mengantre untuk aku jadikan istri. Jadi, tak ada gunanya juga jika aku memilih rujuk dengannya."


"Bagus. Jika kamu kembali menjalani pernikahan dengan wanita itu ... maka aku lah orang pertama yang akan dengan senang hati memisahkan kembali kalian berdua. Apa pun caranya."


"Ouh. Menakutkan sekali."


"Harus. Agar Vivian tahu diri. Karena aku yakin jika kamu tak akan berani melakukannya. Menendang jauh wanita itu hingga tak lagi bisa kembali ke bumi dan bertemu denganmu juga Cahaya."


Tampak jelas kebencian Jupiter pada mantan istri Langit. Karena pemuda itu tahu betul bagaimana jahat juga teganya Vivian pada Cahaya. Gadis kecil yang harusnya dicintai bukan untuk sekedar dimanfaatkan demi materi.


Keduanya tergelak bersama. Saudara sepupu yang sangat akur.


"Aku heran denganmu. Betah sekali menduda. Apa tidak takut karatan, hem. Lama-lama dianggurin begitu."


Mata Langit melotot setelah tawanya mereda hanya sebuah kalimat yang Jupiter ucapkan. Bolpoin di tangan sudah melayang begitu saja dan hampir mengenai kepala pemuda itu. Bukannya marah, Jupiter justru tergelak sangat keras.


"Kamu ini jangan asal ngomongin asetku. Kamu sendiri! Betah sekali menjomlo. Tak kasihan apa si pluto juga ingin merasakan indahnya surga dunia."


Pembicaraan absurd keduanya memang kerap terdengar jika mereka sedang berduaan.

__ADS_1


Dan tawa yang sejak tadi menggema, terhenti seketika. Merasa tertampar akan godaan yang Langit berikan. Menyedihkan sekali memang menjadi seorang jomlo. Padahal Jupiter ini tergolong pria tampan yang akan sangat mudah mendapatkan wanita idaman. Sayangnya sampai detik ini dia belum menemukan sosok wanita yang diinginkan. Sampai akhirnya terlintas di benaknya pada sosok cantik yang ditemuinya di Surabaya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama.


__ADS_2