
Kekesalan Vivian memaksa wanita itu untuk berkata yang mengejutkan Langit Biru. "Aku akan mengambil hak asuh Cahaya."
"Jangan macam-macam kamu, Vivian!" geram Langit tidak menyukai semua perkataan sang mantan istri.
"Aku mamanya. Dan kamu menolak rujuk denganku. Cahaya butuh kasih sayang seorang ibu. Sementara kamu ... selalu sibuk dengan pekerjaanmu."
"Aku memang sibuk, tapi masih peduli pada Cahaya. Tidak sepertimu."
"Mas ... Mas. Kenapa kamu ini keras kepala sekali."
"Sudahlah Vivian. Jangan membuat masalah denganku dan mengatas namakan Cahaya. Karena aku tahu betul apa yang kamu inginkan." Langit sudah hafal apa yang Vivian mau. Yang Langit takutkan, andai kata Vivian berhasil meracuni otak Cahaya. Maka Langit akan kalah.
Pria itu harus memutar otak bagaimana cara menyelamatkan Cahaya agar Vivian tak lagi merecoki hidupnya. Terlebih meminta rujuk segala.
Vivian diam. Tapi dalam pikiran perempuan itu tengah berusaha merangkai cara untuk bisa kembali menjerat sang mantan suami. Vivian tak akan melepas Langit lagi karena banyak keuntungan yang akan dia dapatkan dari pria itu. Siapa tahu saja dengan berhasil menikah kembali, maka Vivian juga bisa mendapat hak atas lahan yang nilainya milyaran rupiah. Harta yang sudah Vivian incar semenjak dia tahu bahwa lahan tersebut ada yang menawar.
Sementara itu, Cahaya yang siang ini mendapat banyak perhatian dari sang Mama sedikit terbawa perasaan karena jujur gadis kecil itu sangat merindukan sosok Mama. Iri jika melihat teman-temannya bisa akur bersama seorang mama. Tanpa Cahaya ketahui jika di balik kebaikan Vivian padanya tersimpan rencana licik yang bisa Langit baca dalam setiap gerak gerik yang Vivian lakukan.
••••
Malam harinya, sesuai janji yang dilakukan antara Jupiter dengan Bulan, membawa keduanya berada di sebuah resto mewah yang terkesan romantis menurut Bulan. Perlakuan Jupiter juga tak kalah manis. Lain sekali jika sikap tengil yang biasa pemuda itu berikan acapkali sedang bersama Cahaya. Iya, Jupiter dengan Cahaya suka sekali adu mulut terkait segala macam hal yang justru terkesan lucu sekali dan juga menghibur Bulan. Kini ketika Bulan mendapati Jupiter yang terlihat serius, yang ada menimbulkan kecanggungan di antara mereka.
"Bagaimana? Apakah kamu memyukainya?" Jupiter bertanya akan apa yang telah dia siapkan untuk sang wanita.
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Piter. Aku jadi terharu. Padahal aku pikir kita hanya akan makan malam biasa saja."
Jupiter terkekeh. "Apa iya aku harus menyambut kedatanganmu dengan cara yang biasa saja. Padahal kamu sendiri sudah jauh-jauh datang ke Jakarta. Yah meskipun bukan demi aku ... paling tidak dengan pertemuan kita, aku ingin memberikan hal berkesan buatmu."
Bulan langsung tersipu malu mendengarnya. "Terima kasih banyak, Piter. Semua kejutan ini ... aku menyukainya."
"Semoga saja kita bisa diberikan kesempatan untuk dapat saling mengenal lebih dekat lagi. Apakah kamu keberatan, Bulan?"
__ADS_1
Kepala Bulan menggeleng karena memang dia tidak keberatan sama sekali dengan permintaan pria itu. Siapa juga yang akan menolak jika ada lelaki mapan juga tampan semacam Jupiter, yang menawarkan hubungan lebih serius padanya. Dari segi usia mereka pun juga bisa dikatakan layak untuk menjalin hubungan yang lebih serius dari sekedar pacaran.
"Terima kasih karena kamu sudah memberikan kesempatan padaku. Tapi ada hal yang ingin aku sampaikan padamu di awal."
"Apa itu?"
Jupiter sebenarnya enggan menceritakan tapi ini adalah hal yang memang harus dia utarakan sebelum menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita. Dan kebanyakan dari para wanita yang dia dekati akan mundur teratur setelah mendengar tentang cerita kehidupannya.
"Jadi, yang utama harus kamu tahu adalah jika aku ini seorang yatim piatu. Aku sudah tidak memiliki ayah dan ibu."
Deg
Bulan tentu terkejut mendengarnya dan Jupiter sudah bisa menduganya. Seperti itulah reaksi yang wanita berikan ketika mendapati dia sebatang kara. Parahnya lagi banyak di antara mereka yang keberatan menjalin hubungan serius dengannya. Dan sebagian dari mereka, pura pura baik-baik saja karena mengincar harta. Ya, tidak dipungkiri jika di usia muda Jupiter sudah memiliki tabungan juga investasi yang tak tanggung-tanggung nilainya. Itu semua dia peroleh dari hasil kerja kerasnya selama ini juga bonus yang Langit berikan.
Dan karena Jupiter merasa kesal pada wanita mata duitan yang hanya mengincar duitnya, oleh sebab itulah pemuda itu lebih sering menjadikan wanitanya sebagai tempat untuknya bersenang-senang saja. Setelah dia bosan lalu dia tinggalkan begitu saja. Tak mau berkomitmen juga karena takut kecewa pada akhirnya.
Bertemu Bulan, ada perasaan berbeda yang Jupiter rasakan. Meyakini diri bahwa dia ingin serius dengan wanita itu. Cinta pun bersambut ketika Bulan tidak keberatan menjalani kedekatan dengannya.
Sekarang Jupiter tengah harap-harap cemas menunggu reaksi yang Bulan berikan.
Kepala Jupiter mengangguk menjawab pertanyaan dari Bulan.
"Kecelakaan."
"Piter ... Aku minta maaf. Bukan maksudku mengungkit masa lalumu."
"Tidak apa, Bulan. Aku memang ingin kamu tahu agar tidak terkejut nantinya."
"Kamu tidak punya saudara?"
"Ada. Elang dan kedua orangtuanya adalah keluargaku sekarang. Semenjak kedua orang tuaku meninggal ... Orangtuanya Elang lah yang merawatku sampai sekarang. Dan sampai detik ini ... Aku masih tinggal dengan mereka."
__ADS_1
"Oh, ya? Benarkah itu? Pantas saja kamu dan Cahaya begitu dekat."
"Cahaya gadis yang manis. Aku memang dekat dengannya. Karena ... yah, kamu tahu sendiri. Cahaya itu kurang perhatian dan kasih sayang. Terutama dari Mamanya. Jika Elang ... Sepupuku itu sesibuk apapun masih akan meluangkan waktu untuk putrinya. Laun halnya dengan mantan istrinya."
"Mantan istri?"
"Iya. Elang sudah bercerai dengan mamanya Cahaya. Ah, maaf. Kenapa aku jadi membicarakan mereka."
Di sini Bulan dibuat kebingungan. Pernyataan Jupiter jika Langit sudah bercerai, susah diterima oleh Bulan. Pasalnya siang tadi dia baru saja bertemu dengan mereka.
Karena melihat Bulan yang diam dan melamun, Jupiter kebingungan.
"Bulan!"
"Ah, ya maaf."
"Kamu kenapa?"
"Tidak. Hanya saja ... aku sulit mempercayai ucapanmu barusan. Terkait Pak Langit yang sudah bercerai. Karena ... Jujur saja. Siang tadi aku baru bertemu dengan mereka."
"Mereka? Mereka siapa yang kamu maksud?"
"Cahaya. Dia bersama Pak Langit dan istri."
"Memangnya di mana kalian bertemu?"
"Di sebuah mall. Mereka tampak seperti keluarga yang sangat harmonis."
"Benarkah itu?"
Jupiter ikut penasaran. Apakah iya Langit dan Vivian kembali bersama. Tapi rasanya tidak mungkin. Sepertinya Jupiter perluasan menanyakan hal ini pada Langit langsung.
__ADS_1
"Piter ... Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin Pak Langit dan mantan istrinya hanya ingin membahagiakan Cahaya."
"Kamu benar Bulan. Kurasa juga demikian. Karena jika tidak dengan alasan Cahaya, aku yakin jika Langit tak akan mau bersama mantan istrinya."