Bulan Di Langit

Bulan Di Langit
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

"Dia susah untuk dijangkau." Jupiter berucap.


"Oh, ya?"


"Terlalu mandiri untuk ukuran wanita."


"Benarkah itu? Apa Paman mengenalnya?"


Kepala Jupiter menggeleng. "Entahlah. Yang pasti ... dia adalah pemimpin sebuah hotel ternama di pulau Dewata."


"Jangan pesimis."


"Doakan saja, Paman. Semoga dia memilihku."


"Jika kamu serius ... Paman tidak segan meminangkan gadis itu untukmu."


"Terima kasih, Paman."


"Paman juga berpikir ... ingin juga Langit segera menikah lagi. Kasihan Cahaya, bukan?"


Jupiter diam. Merelakan Bulan untuk Cahaya juga bukan solusi yang terbaik. Ada baiknya Jupiter segera gerak cepat. Cahaya pasti bisa menemukan mama baru yang lebih baik lagi dari Vivian, tapi itu bukan Bulan tentunya.


Surya tersenyum. Beranjak berdiri, menepuk pundak Jupiter lalu masuk ke dalam rumah.


Jupiter sendiri memutuskan untuk masuk ke dalam menyusul Surya karena dia sudah lelah galau seorang diri.


Sementara itu di rumah pribadi milik Langit Biru, pria itu memasuki kamar Cahaya. Melihat sang putri yang sudah lelap dalam tidurnya. Langit duduk di tepian ranjang. Mengulurkan tangan menyentuh dahi Cahaya.


"Panas sekali."


Langit menghela napas berat. Merasa bersalah karena tidak bisa menuruti keinginan putrinya.


"Kak Bulan!"


Langit menajamkan pendengaran. Cahaya mengigau dan menyebut nama Bulan. Bagaimana bisa?

__ADS_1


Ya, Tuhan. Langit mengusap wajahnya kasar. Tidak tega melihat putrinya demikian. Memilih keluar dari dalam kamar sang putri dan kebetulan berpapasan dengan Mbak Lani yang memang ingin ke kamar untuk melihat kondisi Cahaya.


"Mbak, apa tadi Aya sudah minum obat? Dia panas sekali."


"Tadi saya sudah memberinya obat penurun demam, Mas Elang."


"Tapi kenapa masih panas, ya? Apa aku panggilkan dokter saja. Dia mengigau terus."


"Sejak tadi memang Non Aya menyebut-nyebut nama Kak Bulan. Sepertinya Non Aya ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Bulan. Tapi saya tidak tahu apakah Bulan itu nama temannya atau siapa."


Glek.


Langit meneguk ludah. Bagaimana ini? Rasanya juga tidak mungkin dia mempertemukan Cahaya dengan Bulan karena Langit tidak tahu di mana keberadaan Bulan.


"Mas Elang ... saya permisi dulu ke dalam. Ingin mengecek kondisi Non Aya."


Langit mengangguk dan menggeser tubuh besarnya. Memberikan jalan bagi Mbak Lani untuk dapat masuk ke dalam kamar putrinya. Setelah itu, Langit segera menghubungi dokter pribadi yang sudah menjadi langganannya agar datang ke rumah mengecek kondisi Cahaya. Semoga saja tidak ada sesuatu yang serius pada sang putri tercinta.


••••


"Terima kasih, dokter. Tapi Cahaya seringkali mengigau. Apakah itu tidak masalah?"


"Bisa jadi Cahaya sedang merindukan seseorang. Saran saya ... ada baiknya Pak Elang meminta pada yang bersangkutan untuk datang."


"Baik dokter. Akan saya usahakan. Terima kasih atas kunjungannya."


"Selamat malam."


Langit menganggukkan kepalanya. Mengantarkan kepergian sang dokter sampai ruang tamu saja. Setelahnya, lelaki itu kembali memasuki kamar Cahaya di mana Mbak Lani masih dengan setia menjaga Cahaya.


"Mbak ... apa dia masih mengigau?" Langit bertanya karena dia sempat mendengar meski pelan dan lirih jika Cahaya menggumamkan nama Kak Bulan.


"Masih."


"Sebaiknya kita bangunkan saja dia agar meminum obatnya."

__ADS_1


"Jika begitu ... saya ke belakang dulu. Tadi sempat saya buatkan bubur. Sebelum minum obat ada baiknya Non Aya makan dulu."


"Iya. Kamu benar. Biar aku yang menunggu Cahaya di sini."


Mbak Lani menurut. Keluar dari dalam kamar membiarkan Cahaya bersama papanya.


Langit yang memutuskan duduk di tepian ranjang, menyentuh lengan Cahaya lalu menggenggam tangannya. Dia sangat mencintai putrinya. Sedih dan hancur hati Langit melihat kondisi Cahaya seperti ini. Beberapa hari ini dia sangat kehilangan sosok Cahaya-nya. Tidak ada suara Cahaya yang dia dengar karena gadis kecilnya tengah marah padanya. Sekarang justru sang putri malah sakit. Ini semua juga karenanya.


Jujur, Langit sangat lelah. Namun, lelahnya itu dia abaikan asalkan Cahaya bisa kembali tersenyum padanya.


"Aya! Kamu harus sembuh. Papa janji akan melakukan apapun yang kamu inginkan, Nak."


Embusan napas keluar dari sela bibir Langit. Mata pria itu menelisik pada nakas di mana tergeletak sebuah ponsel berwarna pink milik putrinya. Entah, kenapa dia tergerak untuk mengambil benda tersebut. Membukanya dan mencari aplikasi pesan. Jarang dan hampir tidak pernah Langit mengecek isi ponsel putrinya. Selain karena ingin memberikan privasi pada Cahaya, Langit pun percaya jika putri yang dia sayang tidak akan pernah berani berbuat hal yang macam-macam. Selama ini Cahaya juga tidak pernah mengecewakannya. Dalam hal prestasi, jangan ditanya lagi seberapa pandai gadis itu. Nilai akademis Cahaya sangat memuaskan. Hal itulah yang membuat Langit teramat sangat menyayangi putrinya. Tidak akan pernah rela Cahaya diambil alih hak asuhnya oleh Vivian. Cahaya itu tipe anak yang sangat kritis. Salah didikan sedikit saja ... maka masa depan Cahaya taruhannya. Selama ini pun Langit yakin sekali Cahaya tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari seluruh anggota keluarga. Hanya saja, memang Langit akui. Keberadaan sosok mama bagi seorang gadis yang beranjak remaja memang sangat dibutuhkan. Figur seorang mama yang biasanya dijadikan panutan untuk anak gadisnya. Ya, Tuhan. Apakah dia terlalu egois pada putrinya?


Layar ponsel yang menyala, Langit gulir sampai menemukan aplikasi chat yang biasa Cahaya gunakan. Betapa Langit terkejut ketika mendapati di barisan teratas ada nama Kak Bulan yang siang tadi saling berkirim kabar dengan Cahaya. Masih dengan kelancangannya, Langit membuka isi obrolan tersebut. Tidak ada yang aneh atau spesial ketika Cahaya dengan Bulan saling bercanda mengatakan kerinduan ingin berjumpa. Padahal ini belum ada dua minggu sejak pertemuan terakhir Cahaya dengan Bulan saat di kantornya waktu itu.


Sebegitu rindukan Cahaya pada wanita itu?


Mata Langit lagi-lagi dibuat melebar membaca satu buah pesan yang Cahaya kirimkan. Isi pesan tersebut menanyakan kebenaran akan pengakuannya waktu itu.


[Apakah Kak Bulan beneran mau jadi mamaku?]


Langit menelan ludah gugup. Membaca balasan yang Bulan berikan untuk putrinya.


[Cahaya, kakak senang jika menjadi kakakmu. Jadi ... kita berteman baik saja, ya! Jangan melibatkan papa. Okay. ]


Disertai dengan emotion senyum.


Huft


Dan yang membuat miris Langit, di chat terakhir yang Cahaya berikan ketika mengatakan ingin bertemu dengan Bulan, maka wanita itu menjawab jika jarak yang memisahkan karena Bulan sedang berada di Bali. Jadi tidak memungkinkan untuk mereka dapat bertemu.


Makin miris saja Langit dibuatnya. Menggaruk belakang telinganya. Karena indera pendengaran Langit lagi-lagi harus dibuat trenyuh akan igau-an Cahaya yang memanggil nama Bulan.


Maka dengan memberanikan diri, Langit men-dial nomor telepon Bulan.

__ADS_1


__ADS_2