
Saya Rahayu, biasa di panggil Ayu. Saya ibu rumah tangga dengan satu orang anak laki-laki yang beranjak dewasa, tahun depan Rio akan menjadi murid SMA. Suami saya Leo bekerja di bidang seni musik, dia seorang guru musik di sekolah internasional ternama di kota kami, dan juga membuka kursus musik. Dan saya sendiri, bekerja di perusahaan tekstile sebagai manager pemasaran.
Kehidupan rumah tangga yang bahagia, suami yang baik dan pengertian serta anak yang pintar dan penurut.
Hari ini sepulang dari kantor saya menjemput Rio kesekolah, kebetulan Rio ada ekstrakulikuler jadi pulang sekolah lebih sore hari ini.
"Mama..." Rio mengahampiriku yang menunggunya di halaman parkir sekolah.
"Ayo sayang." ajak ku sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Aku dan suamiku bergantian mengantar jemput Rio setiap harinya, tergantung kesibukan kami masing-masing, kebetulan hari ini kerjaanku tidak menumpuk jadi bisa menjemput Rio, dan juga suamiku masih keluar kota mengisi seminar kesenian.
"Jeng Ayu." panggil seseorang dari luar rumah sesaat aku dan Rio menyelesaikan makan malam kami.
"Iya" jawabku
"Eh Mbak Riska, ayo masuk." tawarku kepada mbak Riska tetangga sebelah rumah.
"Ini aku mau balikin rantang, makasih lho jeng, sop buntut buatan jeng Ayu emang endul." puji Mbak Riska, yang sukses membuatku tersenyum malu.
"Dan ini aku tadi bikin kue bolu coklat." ujarnya sambil memberiku kotak berisi kue.
"Aduh Mbak Riska gak usah repot-repot begini lah." jawabku.
"Enggak apa-apa kok jeng, kalo gitu aku pulang dulu yah." ucap mbak Riska pamit.
"Makasih banyak ya Mbak." ucapku sedikit teriak.
"Iya jeng, sama-sama." jawabnya sambil berjalan keluar pagar.
"Sayang, aku udah di perjalanan pulang, kamu gak usah nunggui aku takutnya aku nyampe kemalaman." suami ku di ujung sambungan telepon.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya di jalan." jawabku.
"Oke, love you." ungkapnya yang membuat mukaku memerah.
"Love you too." sambungan telepon berakhir.
__ADS_1
Begitulah Mas Leo, laki-laki yang romantis, yang selalu bisa membuatku tersipu malu jika di dekatnya.
Lelah dengan pekerjaan hari ini, membuatku mengantuk dan dalam sekejap tertidur.
"Pagi sayang, kamu udah bangun." sapa suamiku di dapur, saat aku bersiap untuk memasak sarapan pagi ini.
"Mas, jam berapa kamu sampe rumah" tanyaku yang di sambut pelukan hangat dari suamiku.
"Jam tiga malam, tadi sempat ngopi di rest area sama temen-teman, jadinya aku gak ngantuk sampe rumah." jelasnya.
"Aku udah masakin sarapan untuk istriku dan anakku." ucapnya sambil menata nasi goreng kedalam piring.
"Lebih baik Mas istirahat deh, gak usah masak-masak gini, inikan tugas aku." aku mencoba mengambil alih tugasnya.
"Gak apa-apa sayang, anggap aja ini sebagai permintaan maafku sudah ninggalin kamu dan Rio selama dua hari ini dirumah." jawabnya lagi
"Udah deh lebih baik kamu mandi, siap-siap ke kantor." pintanya sambil mendorong pelan tubuhmu menuju kamar.
"Biar aku yang bangunin Rio, oke." ujarnya lagi.
Aku dan Rio anakku sudah bersiap dimeja makan, biasanya aku yang akan repot mengurusi sarapan mereka, hari ini aku bak ratu dilayani oleh suamiku sendiri.
"Ayo di makan." ajaknya ketika ikut duduk di meja makan.
"Bagaimana masakan Papa, enakkan?" tanya Mas Leo kepada Rio.
"Enak Pa, tapi tidak seenak masakan Mama." jawabnya yang membuat kami tertawa
"Masakan mamamu ini emang tiada duanya nak." ungkap suamiku lagi. Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar lelucon mereka.
"Sayang, hari ini kamu yang anterin Rio ya, aku capek ni mau istirahat." pintanya sambil membereskan bekas sarapan kami.
"Siap boss" jawabku seperti pasukan tentara.
Aku dan Rio pun berpamitan, dan seperti biasa kami akan berpelukan sebelum memulai aktifitas sehari-hari diluar rumah.
"Selamat istirahat sayang" ucapku ketika akan memasuki mobil. Suamiku melambaikan tangan dan menunggu di pagar hingga mobil menghilang di persimpangan ujung rumah.
__ADS_1
"Kalau Rio sudah dewasa nanti, Rio akan seperti Papa Ma." ucap Rio bersemangat, ketika kami di perjalanan menuju sekolahnya.
"Harus dong sayang." jawabku sambil megusap lembut kepalanya.
"Nah sudah sampai, selamat belajar sayangku." ucapku kepada Rio dan dismbut Rio mencium tanganku. Aku melambaikan tangan ketika Rio akan memasuki gerbang sekolah, dia hanya membalas dengan senyum termanisnya.
"Selamat pagi bu." sapa sekretarisku ketika aku masuk kedalam ruangan.
"Selamat pagi Ani, bagaimana apa laporan pagi ini." jawabku sambil duduk di kursi kerjaku.
"Sampai saat ini masih aman terkendali Bu, nanti siang ada rapat dengan pimpinan perusahaan untuk membicarakan produksi barang terbaru Bu." jelasnya lugas.
"Iya, nanti ingat kan saja lagi saya ya Ni"
"Iya bu, saya permisi dulu." ucap Ani dan berlalu meninggalkan ruanganku.
"*o**h ya sayang, aku lupa ngasih tau kamu, tadi aku udah nyiapin vitamin untuk kamu,aku taruh di atas meja ruang tivi, jangan lupa diminum ya sayang, dan selamat beristirahat*" ku kirim pesan lewat aplikasi Whatsapp kepada Mas Leo. Sudah centang dua dan belum di balas, sepertinya dia tertidur dengan sangat nyenyak pagi ini. Aku pun tersenyum membayangkannya, dan mengingat kelakuannya pagi ini.
Sejak rapat tadi handphone ku selalu bergetar, sengaja aku silent karena sedang rapat dengan pimpinan perusahaan. Ketika sampai di ruangan ku buka handphone, dan ternyata Mas Leo yang sedari tadi menghubungiku. Ku telepon balik Mas Leo, mungkin saja ada hal yang penting
"Ya hallo sayang." jawabnya di ujung telepon sana.
"Iya Mas, tadi kenapa nelpon, aku tadi lagi ada meeting" jelasku.
"Aku cuma mau bilang makasih vitaminnya, dan hari ini biar aku aja yang jemput Rio kesekolah, Rio gak ada eskul kan hari ini " tanyanya
"Iya Mas sama-sama, Rio pulang seperti biasa kok Mas, dan tadi Rio minta di anterin ke toko buku Mas, katanya mau beli buku, kamu gak keberatan kan antar Rio ke toko buku, tapi kalo kamu gak bisa biar nanti aku aja Mas" jelasku pada Mas Leo
"Iya gak apa-apa dong, aku juga lagi free hari ini sayang, biar nanti aku yang antar oke dan kamu jangan pulang terlalu sore" ujar Mas Leo.
"Iya sayang,sebelum makan malam aku akan pulang kok" jawabku lagi.
"Oke yaudah aku tutup ya, selamat bekerja Mama" pamit Nas Leo di ujung sana.
"Iya mas" jawabku singkat.
Aku menarik nafas panjang di kursi kerja ini, sambil meregangkan otot-otot yang kencang. Rapat yang begitu lama membuatku lelah sampai lupa untuk makan siang. Aku hubungi sekretarisku untuk memesankan makan siang untukku.
__ADS_1