
"Aaaaahhhhhhh"
Kami melepaskannya bersama.
Pagi ini. Dikamar hotel yang sama.
Aku terkulai lemas.
"Haruskah aku meminta tambahan cuti Mas?" ujarku lemas.
"Aku akan mengantarmu pulang, tidurlah sebentar" ujarnya.
Aku merangkak menuju tubuhnya. Dan memeluknya erat.
"Tetaplah disini Mas. Aku akan datang lagi kesini" ujarku letih dengan mata terpejam.
"Ayu..."
"Aku sangat mencintaimu Mas" ujarku menahan tangis.
"Aku sangat merindukanmu Mas" tangisku pecah.
Setitik air jatuh membasahi keningku.
Aku mendongak.
Mas Leo menangis.
"Aku akan berangkat ke Yogya Ayu, kita tidak bisa terus begini" ujarnya.
"Tapi Mas" ujarku.
"Ini kesalahan Ayu, kita bukan lagi sepasang suami istri" ucapan Mas Leo membuatku terduduk menatapnya.
"Tapi kita menikmatinya Mas, kau juga menikmatinya kan?" ujarku sedikit kesal.
"Iya, aku tahu, aku pun merasakannya, tapi ini salah Ayu" ujarnya.
"Ya, aku tahu" aku berdiri menutup tubuhku dengan handuk.
"Kembalilah lagi kepadaku Ayu, jadilah istriku kembali" Mas Leo mendekatiku.
"Aku belum siap Mas" ujarku.
"Tapi kau mencintaiku kan, kita masih saling mencintai, kita sama-sama tersiksa menahan rindu, menahan cinta, menahan perasaan ini" jelasnya.
"Tapi sakit itu masih terasa Mas, aku masih belum bisa"
"Belum bisa kenapa? Apa yang membuatmu belum bisa?" tanya Mas Leo.
Aku diam.
"Apa Ayu?"
"Ibumu" jawabku singkat.
Mas Leo diam.
"Aku akan mandi, kamu tidak perlu mengantarku Mas, kamu juga harus siap-siap untuk mengunjungi Ibumu" jelasku.
Mas Leo hanya melirikku sekilas.
"Aku berangkat dulu Mas" pamitku setelah bersiap-siap.
Mas Leo menyodorkan segelas kopi padaku.
"Minumlah dulu, biar tidak mengantuk"
"Tidak usah Mas"
Mas Leo menarik tanganku untuk duduk di sofa.
"Duduklah, minumlah kopi ini, agar tidak mengantuk nanti di kantor" pintanya.
Aku mengangguk setuju.
Mas Leo terlihat sibuk, membereskan semua perlengkapannnya, dan di masukkan kedalam koper.
"Mas..." panggilku.
Mas Leo melihatku.
__ADS_1
"Nanti jika kamu akan pulang ke Jakarta, bisakah kamu datang kembali kesini, menemuiku" pintaku.
"Aku usahakan" jawabnya.
"Mas hati-hati ya di jalan" ujarku pelan.
"Iya, kamu jangan khawatir" jawabnya.
"Ya udah, kita turun yuk" ajaknya.
Mas Leo menjulurkan tangannya padaku. Dan dengan bergenggaman tangan kami berjalan menuju lift dan turun ke lobby.
"Kamu mau langsung ke kantor?" tanya Mas Leo.
"Aku mau pulang kerumah dulu Mas, untuk berganti pakaian"
"Hmmm Mas ikut aku aja, entar aku anterin ke stasiun"
"Tapi" ujar Mas Leo.
"Mas tunggu aja di mobil nanti, aku gak lama kok ganti pakaiannya" ujarku.
"Baiklah"
Setelah mengantar Mas Leo ke Stasiun aku langsung menuju ke kantor. Untungnya hari ini aku tidak ada jadwal meeting, dan pekerjaanku tidak terlalu menumpuk, jadi aku bisa sedikit beristirahat hari ini. Fikiranku pun tidak berhenti selalu memikirkan Mas Leo, dan semua yang sudah kami lakukan dari kemaren hingga pagi ini. Ada sebagian yang membuatku selalu tersenyum, tapi ada hal yang menjadi penyesalanku. Betapa, kami dibutakan oleh perasaan yang menggembu-gembu ini. Sejujurnya, aku masih ingin berada dalam pelukannya, tapi Mas Leo benar, ini adalah kesalahan besar. Sedangkan, untuk kembali padanya aku belum siap. Belum siap mempunyai mertua "wanita" itu lagi.
Dret dret..
Ponselku bergetar.
Satu pesan masuk.
Rangga: Ayo kita makan siang, aku tunggu di lobby kantor kamu.
Sedikit kaget aku membaca pesan itu.
"Ngapain dia kesini" gumamku.
Aku menarik tasku, dan dengan cepat menuju lobby.
"Haii, ngapain?" sapaku.
"Aku lagi ada kerjaan disini, ayo temenin aku makan siang" pintanya.
Aku mengangguk setuju.
"Tadi pagi, ada kerjaan, besok pagi udah balik Jakarta lagi" jawabnya dengan mata fokus kejalan.
"Cepet banget" ujarku.
"Kerjaannya sih udah selesai, seharusnya siang ini langsung balik aja lagi ke Jakarta, tapi ada hati yang tersiksa jika aku langsung pulang ke Jakarta" jelasnya.
"Hati siapa?" tanyaku.
"Ya hatiku dong, debaran di dada ini berdetak tak menentu, kalo gak ketemu kamu jantung ini akan berhenti berdetak" gombalnya.
"Lebai nyaaa" ledekku.
Rangga tertawa puas.
"Eh, Rio gimana keadaanya" tanya nya.
"Rio, lagi liburan ke Singapore"
"Sama siapa? Leo?" tanyanya.
"Bukan, sama Mama Papa, dan seisi rumah lainnya, sebenarnya Mama dan Papa mau check up kesehatannya aja, tapi sekalian aja bawa Rio dan Agus jalan-jalan,mumpung lagi liburan" jelasku.
"Wiih asyik bener ya" ujar Rangga.
"Ya begitulah" jawabku.
"Nah setelah ini, kamu atur jadwal agar bisa liburan juga, bareng aku" ajak nya nakal.
"Ah enggak ah, nanti aku direpotin lagi sama kamu, bukannya liburan malah rempong ngurusin kamu aja" ledekku.
"Aku gak bakal merepotkan kamu dong" godanya.
"Udah udah deh, jadi sekarang kita mau makan siang dimana nih" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan yang sudah mulai ngelantur.
"Ya mana aku tahu, kan kamu lebih tahu daerah ini" ujarnya.
__ADS_1
"Yee, ngomong dong dari tadi" umpatku.
Rangga tertawa lepas.
"Jadi, udah seminggu Leo di Semarang? Kini dia ke Yogya?" tanya Rangga.
Aku mengangguk.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang ketika bertemu dengannya?" tanya Rangga.
Aku menatap Rangga.
"Biasa aja" jawabku bohong.
Hatiku berkata, begitu bahagia dan menyenangkannya. Walaupun itu kesalahan yang besar.
"Baguslah kalau dia mau memperbaiki hubungannya denga Ibunya, tidak baik terlalu lama memendam amarah kepada Ibu sendiri" ungkap Rangga.
Ya Rangga benar. Walaupun aku tidak menginginkan itu. Ada sesuatu yang mengganjal jika mengingat hubungan Mas Leo dan Ibunya kembali baik.
Aku meneguk segelas air putih, meredakan fikiranku yang tidam tenang.
"Ayu..."
"Ya..." jawabku.
"Hmmm... Menurutku, kamu juga jangan terlalu lama memendam benci pada seseorang, agar hidupmu kedepannya ringan dalam berjalan" jelas Rangga hati-hati.
"Iya, semoga saja" aku kembali menyuapkan makan siang kemulutku.
"Baiklah" Rangga sepertinya tahu,aku sedang tidak ingin membahas masalah wanita itu lagi.
Kami dengan lahap menikmati makan siang kami ini.
"Kamu sedang apa?" tanya Mas Leo, diujung telepon sana.
"Aku baru aja mau istirahat Mas, kamu gangguin" candaku.
"Oh begitu, yaudah kamu istirahat aja" ujarnya.
"Eh, jangan dimatiin"
"Ada apa Mas nelponin aku malam-malam gini?" tanyaku.
"Gak ada, cuma lagi kefikiran kamu aja" jawabnya.
"Oh begitu, yang lain mana? Kok sepi?" tanyaku.
"Ibu dan Karin sepertinya udah tidur" jawabnya.
"Oh iya, aku udah lama banget gak kabar-kabaran sama Karin, terakhir ketemu waktu dia pamitan mau pulang ke Yogya" jelasku.
"Dia baik-baik aja kok, aku beruntung dia bisa balik lagi kesini, biar Ibu ada temennya" ujar Mas Leo.
"***Syukurlah"
"Aku juga mau ngajui pindah ke Yogya aja dari Sekolahan***" ujarnya.
"Emang bisa?" tanyaku.
"Belum tahu, mudah-mudahan sih bisa" jawabnya.
"Hmm maksud kamu gimana sih Mas? Kamu mau resign gitu?" tanyaku bingung.
"Kamu belum tahu ya, kalo Sekolahan ku di Jakarta, sekarang buka cabangnya di Yogya, masih beberapa kelas sih untuk SD dan SMP nya, kalo untuk SMAnya belum ada" jelasnya.
"Aku gak tau" jawabku.
"Aku mau pindah, biar gak jauh-jauh lagi mau datengin kamu sama Rio" ungkapnya.
"***Iya Mas..."
"Kamu setuju gak***?" tanyanya.
"Kamu fikiran aja sendiri deh" ledekku.
"Iya iya bawel" rayunya.
"Ya udah, kamu tidur ya, besok kamu harus kerja, nanti kesiangan, dadada..." pamitnya.
Telepon terputus.
__ADS_1
Mendengar Mas Leo ingin pindah ke Yogya. Hatiku semakin berdebar, entah itu debar kebahagiaan atau debar mencemaskan sesuatu. Aku bingung.