
Sudah hampir seminggu ibu disini, ibu masih nampak cuek denganku, terkesan sinis dan benci. Aku tidak perduli bagaimana penilaian ibu terhadapku, aku melayani mereka seperti biasa, bersikap seperti biasa dan pergi bekerja seperti biasa. Ada sedikit perih dihati melihat perlakuan ibu, tapi aku tidak ingin membuat anak dan suamiku kefikiran tentang itu. Kadang aku merasa seperti di neraka dirumahku sendiri.
Selama ibu disini aku mengusahakan untuk pulang lebih awal dari kantor. Pekerjaan lebih banyak ku kerjakan dirumah di malam hari ketika semua keluarga beristirahat. Bukan apa, aku hanya enggan mendengar nyinyiran ibu menyindirku jika aku pulang sedikit lebih sore. Rasa lelah bekerja belum lagi harus melayani dan mengerjakan pekerjaan rumah membuat ku malas mendengar sindiran ibu.
Siang ini aku pulang kerumah tanpa harus menjemput Rio kesekolah lebih dulu, karena mas Leo yang sudah menjemputnya.
Masuk kedalam rumah, tidak ada yang menjawab salamku, rumah terlihat sepi. Aku susuri rumah dan aku melihat ibu sedang berbincang serius dengan mas Leo di teras belakang. Aku tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, aku berlalu kekamar untuk membersihkan badan.
Ketika aku keluar dari kamar, aku melihat Rio menuju dapur. Baru saja akan menghampirinya aku melihat ibu dan Mas Leo seperti cekcok di teras belakang, tidak terlalu jelas apa yang mereka ributkan hanya sedikit yang aku dengar
"Sudahlah bu, apa sih yang ada difikiran ibu!" ungkap mas Leo sambil berdiri dan memijit dahinya
"Ibu besarkan kamu dengan kasih sayang, kamu jangan keras kepala, Leo kamu harus turutin permintaan ibu!!" ucap ibu tidak kalah emosi
"Aku tidak bisa bu, sudahlah bu aku bukan anak kecil lagi!!" jawab Mas Leo.
Aku pergi menyusul Rio ke dapur, aku tidak mau terlalu ikut campur urusan ibu dan anak itu.
"Aayang, lagi ngapain?" ucapku mengejutkan Rio
"Rio mau ambil roti sama susu" jawabnya sambil mengambil roti di dalam lemari.
"Sini mama bantuin tuangin susunya ya" aku mengambil gelas dan menuangkan susu coklat kesukaannya.
Mas Leo masuk kekamar dan menutup pintu dengan kencang, membuat aku dan Rio terkejut.
Aku dan Rio sepertinya kikuk mendengar pertengkaran Mas Leo dan ibunya. Terbukti kami hanya diam dengan fikiran kami masing-masing.
"Rio ke kamar ya Ma,mau main game aja di kamar" ungkap anakku sambil berlalu membawa roti dan susu. Aku mengangguk dan mengelus punggung nya pelan.
Aku duduk di meja makan, dan menghubungi laundry langganan melalui pesan di aplikasi berwarna hijau itu. Semua pakaian kotor seisi rumah ini sudah ku masukkan ke dalam empat kantong plastik besar biar lebih gampang membawanya.
Tidak lama terdengar bunyi klakson, pertanda kurir laundry sudah didepan rumah. Secara bergantian aku mengangkat empat kantong plastik besar itu dan memberikan kepada kurir untuk di timbang. Setelah nota diberikan, kurir itu pergi meninggalkan komplek. Aku berjalan masuk melewati taman, ku lihat ibu menunggu diteras rumah. Aku berusaha untuk tetap tenang melewati ibu.
"Seharusnya sebagai istri dan ibu, mencuci pakaian itu tugas kamu, bukannya pake jasa laundry" ujar Ibu ketus.
"Jadi istri kok gak bisa ngapa-ngapain" ujar ibu lagi.
Tidak ku tanggapi ucapan ibu, ku tinggalkan ibu dan masuk kedalam rumah. Aku membereskan semua rumah, setiap kamar, setiap ruangan, dan terakhir dapur untuk menghindari sindiran ibu untukku.
"Biar ibu aja yang masak untuk makan malam" ujar ibu ketika aku bersiap untuk masak.
"Iya bu" jawabku.
Aku beralih menyiram tanaman di halaman depan sambil sesekali bertegur sapa dan mengobrol ringan dengan tetangga-tetangga.
Ketika makan malam suasana sangat dingin. Kulihat Rio dan Mas Leo tidak bersemangat makan malam kali ini, mungkinkah mereka tidak menyukai masakan ibu, atau karena suasana pertengkaran ibu dan Mas Leo siang tadi membuat suasana ini menjadi kikuk.
"Rio kamu mau nambah, sini nenek tambahin nasinya" ucap ibu kepada Rio.
"Enggak nek, Rio udah kenyang" jawabnya.
"Kamu Leo, mau nambah" tanya ibu lagi pada Mas Leo.
"Enggak Bu, cukup" jawabnya singkat.
"Aku udah kenyang" lanjut mas Leo meninggalkan meja makan menuju kamar.
"Rio, juga kenyang Ma" ungkap Rio, dan berlalu menuju kamarnya
Kupandangi wajah Ibu yang terlihat kesal
"Kenapa sih, apa ada yang salah dengan masakanku" ungkap Ibu kesal.
"Aku suka kok Bu" jawabku sambil menyendok gulai yang ibu masak untuk menyenangkan hati ibu.
Mendengarku berkata seperti itu, ibu pergi meninggalkanku sendiri dimeja makan. Aku sendiripun malam ini tidak berselera untuk makan. Akupun berdiri dan membereskan makan malam. Mencuci piring, mengelap meja, menyapu ruangan makan.
Aku masuk kekamar, kulihat mas Leo sedang menonton tv
"Tumben nonton di kamar?" ucapku sambil menuju ruang kerja kami yang ada dikamar.
__ADS_1
"Lagi pengen nonton di kamar aja" jawabnya.
"Kamu bawa kerjaan kerumah lagi?" tanya mas Leo.
"Iya mas, gak banyak kok" jawabku dari ruangan kerja.
"Sayang, kamu gak usah paksain pulang lebih awal cuma karena ada ibu, kerjain aja kerjaan di kantor, pulang gak usah bawa kerjaan lagi, biar bisa istirahat" ungkap Mas Leo panjang yang sudah berdiri di pintu ruang kerja.
"Gak papa kok Mas, gak banyak juga" jawabku yang sudah tenggelam dalam kerjaan.
"Maafin ibu ya sayang, maaf Ibu sudah membuat kamu lebih capek, membuat kamu tertekan" ungkap Mas Leo sambil memelukku dari belakang.
"Gak apa-apa mas, santai aja" jawabku sambil mengelus lembut tangannya.
"Ya udah aku kerja dulu ya, Mas tidur aja duluan" ujarku.
Mas Leo kembali menonton TV di kamar.
Sibuk dengan kerjaan tidak terasa waktu menunjukkan hampir jam 12 malam. Aku membereskan semua kerjaan yang sudah selesai yang akan di bawa kekantor besok.
Aku menuju tempat tidur, ternyata Mas Leo masih menonton TV.
"Mas belum tidur?" tanyaku.
"Belum bisa tidur" jawabnya.
Perutku terasa lapar, aku mau kedapur memasak mie instan untuk mengganjal perutku.
"Kamu mau kemana?" tanya Mas Leo.
"Aku laper Mas, mau masak mie instan" jawabku.
"Mas juga mau" ucap Mas Leo dan beranjak dari kasur.
Aku sedang merebus air untuk mie instan, tiba-tiba Rio datang kedapur.
"Ma, aku juga mau" ujarnya sambil duduk disebelah Mas Leo.
Kami bercanda bersama-sama sambil menunggu mie buatanku matang. Sepertinya semenjak kedatangan ibu, kami jarang merasakan berkumpul bertiga seperti ini. Pasti saja ibu mengganggu dan membuat suasana jadi tidak enak.
Aku sudah memasak mie instan untuk mas Leo dan Rio, dan sekarang aku mau memasak mie untukku sendiri.
Tiba-tiba
"Kalian ngapain?" kami terkejut melihat Ibu sudah ada di dapur.
"Kami sedang makan mie instan Bu, Ibu mau?nanti Ayu buatin" tawarku pada Ibu.
"Enggak...enggak, gak sehat makan mie instan malam-malam begini" jawabnya. Kami hanya diam tanpa menjawab ucapan Ibu.
"Apalagi perempuan, bisa-bisa badan melar kemana-mana, tengah malam makan mie instan, kamu itu Yu, umur kamu tiga tahun lagi empat puluh tahun, harus pinter-pinter jagain badan, biar suami kamu gak kabur cari wanita lain" ungkap Ibu yang benar-benar membuat aku sakit hati.
"Sudahlah bu " ucap Mas Leo.
"Lho.. Ibu gak salah kan, ini semua buat kamu Leo, kamu itu udah sukses sekarang, gimana jadinya punya istri yang gak bisa merawat tubuh, tengah malam gini aja makan mie instan" ucap Ibu menyindir.
Aku seketika merasa kenyang, mie instan yang baru saja ku siapkan di atas mangkok tidak ingin ku sentuh.
Rio sudah menyelesaikan makannya, dan langsung berlalu meninggalkan kami tanpa pamit. Mas Leo juga sudah menyelesaikan makannya. Hanya aku yang tidak nafsu menyentuh mie itu lagi.
Aku mengambil mangkok Rio dan Mas Leo, dan mangkok ku yang masih berisi mie. Ku masukkan semuanya ke wastafel, ku cuci semua bekas ku memasak. Setelah itu kubersihkan semua meja. Ibu menatapku dengan sinis, ku balik menatap Ibu, aku sungguh sudah muak dengan omongan Ibu. Ku tinggalkan Ibu dan Mas Leo di dapur.
"Sudahlah Bu.. jangan buat rumah ini seperti neraka, apa salah Ayu pada Ibu? Ibu tahu aku bisa seperti ini berkat Ayu Bu, berkat Mama dan Papa Ayu" kudengar mas Leo memarahi Ibunya. Aku meringkuk dibalik selimut, sambil menghapus air mata ini, begitu sangat bencikah Ibu kepadaku.
Mas Leo memasuki kamar. Ku berpura-pura memejamkan mata, Mas Leo memelukku dari belakang
"Maafkan aku sayang.. Maafkan Ibuku " ucap Mas Leo.
Tidak berapa lama setelah itu, aku tertidur dalam tangis.
Entah kenapa pagi ini aku, Mas Leo dan Rio kompak bangun lebih pagi. Aku segera membereskan pekerjaan rumah, aku sudah memasak sarapan pagi.
__ADS_1
Nasi goreng dan telur ceplok sudah tersedia dimeja. Kami bertiga sarapan tanpa Ibu. Setelah itu aku mencuci piring. Dan menutup sarapan untuk ibu dengan tudung penutup makanan.
Kami bertiga sudah bersiap,hari ini kami berangkat lebih pagi.
"Bu, Ibu.. kami pergi kerja dulu, sarapan ibu sudah ada diatas meja " ku coba memanggil dan mengetuk kamar Ibu, sekalian berpamitan. Tanpa jawaban.
Rio dan Mas Leo berpamitan hanya denganku karena Ibu tidak kunjung keluar kamar.
Aku tidak mau permasalahanku dengan Ibu, berdampak pada kerjaan ku hari ini. Aku berusaha untuk menenangkan fikiran selama di dalam mobil. Ku hidupkan musik dan kumulai bernyanyi dengan nada gembira.
Ketika sampai di kantor, aku mulai disibukkan dengan pekerjaan, sehingga sedikit mengurangi beban fikiran tentang ibu mertua.
Pekerjaan yang seharusnya diselesaikan Ani, ku ambil alih. Dan ku minta Ani untuk istirahat siang lebih dulu. Aku masih sibuk berkutat dengan pekerjaan sehingga aku lupa untuk makan siang.
"Maaf Bu, ini saya bawakan makan siang untuk Ibu" Ani masuk keruangan dengan membawa nasi padang dan segelas teh manis.
"Makasih Ani, taruh aja di atas meja" aku masih sibuk dengan pekerjaan.
"Ibu makan aja dulu, nanti kerjaannya Ani terusin, nanti Ibu sakit" minta Ani padaku.
Ku tatap wajah Ani, terlihat wajah Ani yang sedikit takut.
"Oke.. sekali lagi makasih ya Ani" ucapku lagi.
"Sama-sama Ibu" jawab Ani, dan berlalu menuju meja kerjanya.
"Mas aku pulang terlambat hari ini,aku mau belanja bulanan" ku kirim pesan pada Mas Leo.
" iya sayang, hati-hati ya " balas Mas Leo.
Hari ini aku minta Ani, menemaniku belanja bulanan. Dan yang kami tuju adalah Mall Wijaya.
"Kamu udah izin kan Ani, ke Ibumu" tanyaku ketika menuju pintu masuk Mall.
"Sudah kok Bu, Ibu tenang aja" jawab Ani.
Aku dan Ani menuju H****M**t untuk membeli kebutuhan dapur. Tidak lupa membeli pesanan Rio yang dikirimnya melalu pesan Whatsapp. Aku juga membeli baju untuk Ibu mertua. Juga sedikit bingkisan untuk keluarga Ani dirumah.
Setelah puas berbelanja aku mengajak Ani untuk makan di salah satu cafe di Mall ini. Sedang asyik makan dan ngobrol dengan Ani, kami di kagetkan oleh seseorang.
"Wah kayaknya enak ni bakmie nya" Aku dan Ani berbarengan melihat ke asal suara.
"Pak Rangga" sapa Ani seketika berdiri.
"Duduk aja " jawabnya pada Ani
"Ayo makan Ngga, biar aku pesenin" ajak ku.
"Oh gak usah" jawabnya.
Aku hanya mengangguk-angguk saja.
"Ini pak selamat menikmati" salah satu pelayan memberikan Rangga secangkir kopi, tanpa dipesan.
Dan kami pun berlanjut mengobrol-ngobrol santai.
"Ngga aku pulang dulu ya, gak enak ada Ibu mertua di rumah" pamitku pada Rangga.
"Yaudah.. sini aku bantuin bawa ke mobil" Rangga membantuku membawa barang belanjaan menuju mobil di parkiran.
"Makasih banyak ya Ngga" ucapku ketika Rangga memasukkan belanjaanku di bagasi mobil.
"Iya sama-sama Ayu" jawabnya sambil menutup bagasi mobilku.
"Kalo gitu aku pulang Rangga" pamitku lagi.
"Iya hati-hati dijalan Yu " jawabnya.
Aku melajukan mobil menuju rumah setelah mengantatkan Ani pulang. Sesampainya di rumah, aku memencet bel rumah tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ku lihat jam di pergelangan tangan, belum terlalu malam, masih jam 7 lewat 45 menit. Ku coba lagi memencet bel tapi masih tidak ada jawaban.
Kemana mereka?
__ADS_1
next pov Leo Suami Rahayu