
"Jeng Ayu, udah pulang" sapa Mbak Riska tetanggaku yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya.
"Iya mbak" jawabku.
"Itu si Rio ada dirumah saya jeng, tadi pulang bareng saya, katanya nungguin Papanya tapi gak jemput-jemput" penjelasan Mbak Riska membuatku sedikit kaget.
"Mungkin papanya sibuk mengajar Mbak, jadi lupa jemput Rio" jelasku seadanya.
"Iya saya juga berfikir begitu tadi, kasian Rio nungguin Papanya kelamaan jadi saya bawa pulang bareng, kebetulan lagi jemput Dafa juga tadi di sekolahnya, eh sampe rumah Rio lupa kalo dia gak megang kunci rumah" jelas Mbak Riska
"Iya mbak, makasih banyak ya Mbak udah bantuin saya, maaf Mbak saya boleh minta tolong panggilin Rio?" pintaku pada Mbak Riska.
"Yaudah tunggu sebentar ya Jeng Ayu" jawab Mbak Riska.
Tidak lama Mbak Riska kembali bersama Rio, Rio pulang menuju rumah.
"Makasih banyak ya Mbak" sekali lagi aku mengucapkan terima kasih pada Mbak Riska.
"Iya Jeng sama-sama" jawab Mbak Riska.
Aku dan Rio masuk ke dalam rumah
"Kamu udah hubungi Papa" tanyaku pada Rio ketika kami duduk di minibar dapur.
"Udah Ma, tapi gak di jawab-jawab, padahal aku udah lama nungguin" jawab Rio.
"Kenapa gak hubungi Mama aja" tanyaku lagi.
" Ya karena yang janji jemput Rio kan Papa, jadi dari tadi yang Rio hubungin ya Papa, tapi waktu mau hubungin Mama eh batre hp Rio habis Ma" jelas Rio mengambil susu di dalam kulkas.
"Mungkin Papa lagi banyak kerjaan sayang" ucapku.
"Iya mungkin Ma" jawab Rio.
"Aku ke kamar dulu ya Ma, mau mandi" ucap Rio.
"Kamu makan dulu nak, nanti Mama masakin mie instan" tawarku.
"Aku udah makan dirumah Bude Riska" jawab anakku sambil berlalu menuju kamarnya.
"Sayang... Rio udah pulang?" tanya suamiku tanpa salam masuk kedalam rumah.
"Sudah.. Lagi istirahat di kamar" jawabku
Aku melanjutkan membereskan dapur sehabis memasak untuk makan malam.
"Kamu kelihatan sibuk Mas, sampai lupa menjemput Rio" aku buka suara tanpa lepas dari cucian piringku.
"Tadi ada pertemuan dengan wali murid yang akan masuk ke kursus, aku tidak sempat untuk menghubungimu" jawab suamiku sambil merapikan sepatunya di rak sepatu
"Tadi Mbak Riska yang membawa rio pulang" ungkapku.
"Rio juga tidak bisa menghubungiku karena batre hp nya habis" ungkapku lagi.
"Ya tuhan.... Rio pasti marah sama aku" jawabnya.
Aku hanya mengangkat bahu tidak tahu.
"Aku harus meminta maaf padanya" Mas Leo berlalu menuju kamar Rio. Dan selanjutnya entah apa yang mereka bicarakan.
"Sayang sepertinya aku akan menambah menthor baru di kelas kursus" suamiku membuka bicara ketika aku sedang menonton tv.
"Kenapa Mas?" tanyaku.
"Seperti yang sudah aku bilang tadi,akan ada penambahan murid lagi, dan kita kekurangan menthor" jawabnya.
Aku berdiri menuju dapur untuk membuatkan Mas Leo kopi
"Menurut kamu gimana sayang" tanya Mas Leo meminta pendapatku.
"Aku sih terserah Mas aja" jawabku dari dapur.
"Aku juga bingung" ungkapnya sambil menyenderkan kepala di sofa.
"Ini diminum kopinya biar relaks" aku meletakkan kopi di atas meja.
"Kamu tau kan sayang, Rachel mantan muridku itu kini udah sukses di Itali" Mas Leo bercerita dengan antusias
"Ya aku tahu" jawabku sambil menyeruput teh yang sudah tidak panas lagi.
"Jadi teman-teman ibunya bertanya,dimana Rachel les musik, dan ibunya menyarankan ketempat kursus kita" ungkap suamiku.
"Jadi, tadi yang datang teman-teman ibunya Rachel?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya, yang buat aku bingung,mereka ingin aku sendiri yang turun tangan mengajari anak-anaknya, biar bisa sukses seperti Rachel" ungkap Mas Leo.
"Kenapa kamu tidak coba Mas" aku memberi solusi.
"Yaa aku takut anak-anak itu tidak seperti Rachel, Rachel itu anak yang cerdas dan ibunya tidak banyak menuntut" jelas Mas Leo.
"Maksud mas?" tanyaku ingin tahu.
"Yang aku takutkan, ini masalah persaingan para ibu mereka saja, mereka itu ibu-ibu sosialita dari keluarga elite dan terpandang, dan mereka itu saling bersaing" jelasnya.
Aku tertawa mendengar penuturan Mas Leo.
"Mereka semua meminta Mas yang jadi menthor disemua kelas, kelas piano, kelas gitar, kelas vocal" suamiku terlihat frustasi.
"Kamu juga tahu kan sayang, setiap kelas sudah ada 3 menthor, aku cuma mengajar di kelas Piano karena kesibukanku mengajar di Sekolah internasional itu" jelas suamiku lagi.
"Yaa.. Mas coba jelaskan juga sama ibu-ibunya, karena setiap kelas sudah ada menthornya masing-masing" ucapku.
"Sudah.. Mas sudah menjelaskan semuanya, mereka ngotot dan mereka tidak percaya sama menthor-menthor kita" jelas suamiku.
"Terus gimana?" tanyaku.
"Aku punya rencana, menambah satu menthor untuk kelas piano menggantikan aku" jawab suamiku.
"Lalu?" tanyaku lagi
"Aku akan membuat kelompok kelas ku sendiri, aku yang akan mengajarkan mereka disemua kelas, 3 kali dalam seminggu" jelas suamiku.
"Ya bagus...memang mereka ada berapa orang Mas?" tanyaku ingin tahu.
"Mereka bertujuh, empat perempuan dan tiga laki-laki" jawabnya.
"Mas sudah menjelaskan pada ibu-ibu itu" sambungku.
"Belum, mereka akan datang lagi bersama anak-anaknya minggu depan" jawab suamiku.
"Ibu-ibu sosialita membuatku pusing" ungkap suamiku.
"Kamu pasti bisa melewatinya Mas" aku memberi semangat.
"Iya dan mereka berjanji akan memberikan sumbangan di tempat kursus sayang, jika pelayanan kita selama mengajar memuaskan" ungkap suamiku lagi.
"Ya bagus dong Mas, itu satu peningkatan lagi untuk bimbingan belajar musik mu" ungkapku bahagia.
"Ini semua karena kamu sayang, aku bisa seperti ini" Mas Leo mengusap kepalaku.
"Sudah sembilan tahun berlalu Mas" sambungku.
Suamiku mengangguk dan memelukku dan terus mengucapkan terima kasih kepadaku.
Hari-hari berlalu seperti biasa, Mas Leo terlihat lebih sibuk sekarang. Dan aku lebih banyak menjemput Rio sepulang sekolah. Urusan kerjaanku juga berjalan lancar, hasil produksi perusahaan kami juga meningkat dari minggu ke minggu.
Hari ini hari minggu, aku dan keluarga menghabiskan waktu dirumah. Melakukan aktivitas bersama-sama, seperti membersihkan halaman belakang dan berkebun.
Hari minggu adalah hari yang selalu kami tunggu-tunggu setelah enam hari disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
Seperti hari ini, setelah lelah berkebun di taman depan rumah pagi tadi, menjelang sore seperti ini kami menghabiskan menonton serial tv sambil menikmati kue brownies kesukaan, buatan ku sendiri.
Bel rumah berbunyi
"Biar Rio aja yang bukain ma" Rio pun berlari kearah pintu.
"Nenek......" teriak Rio, membuatku dan Mas Leo berpandangan. Kami pun berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Ibu?" sapa suamiku sambil mencium tangannya dan disertai dengan pelukan.
Mertuaku tersenyum.
"Kok Ibu gak ngabarin kalo mau datang biar kami jemput ke bandara" ujar ku sambil mencium tangannya.
"Kejutan untuk anak Ibu dan cucu kesayangan ibu" jawabnya tanpa melihat kearahku.
"Ibu sehatkan" tanya suamiku, sambil mengajak Kbu menuju ruang tv.
"Sehat dong, meski tua begini Ibu harus tetap sehat" jawab Ibu mertua.
"Ayu, itu tas Ibu bawain kekamar ya" perintah ibu kepadaku. Aku pun tersenyum sambil membawa tas Ibu menuju kamar.
"Biar Mas saja" cegah Mas Leo.
"Ehh kamu disini aja sama Ibu, Ibu tu kangen sama kamu dan Rio" ujar Ibu.
Aku duduk disebelah Rio, setelah membuatkan ibu mertua teh yang tidak terlalu manis pesanannya.
__ADS_1
"Gimana kamu dan Rio sehat kan?" tanya Ibu pada Mas Leo.
"Kami sehat bu, ada Ayu yang selalu mengurus kami dengan baik" jawab Mas Leo sambil melihat ke arahku.
"Apa wanita bekerja punya waktu mengurus anak dan suami?" timpal Ibu menyindirku. Mas Leo dan Rio memandangku dengan rasa iba. Kubalas dengan senyum mengartikan kalau aku baik-baik saja.
Ibu bercerita tanpa melibatkan aku sedikitpun.
Seperti itulah Ibu mertuaku, dia tidak pernah menyukaiku dari aku dan Mas Leo berpacaran. Dari dulu dia selalu sinis padaku, aku masih terus bertahan karena aku yakin ibu akan berubah seiring berjalannya waktu. Di awal pernikahan hanya Bapak mertua dan adik mas Leo yang menganggap aku sebagai keluarga. Sedangkan Ibu, tidak pernah menganggap aku bagian dari keluarganya, apapun yang aku lakukan selalu salah dimatanya. Ketika Bapak masih hidup, Bapak yang selalu membelaku dan memarahi ibu. Hingga akhirnya, aku dan Mas Leo merantau ke ibukota meninggalkan pekerjaan kami disana, saat itu Mas Leo benar-benar murka dengan kelakuan Ibu memperlakukan ku.
Kepergian kami mendapat dukungan dari bapak dan Karina saudara satu-satunya Mas Leo. Hubungan Mas Leo berlanjut merenggang, sampai akhirnya bapak sakit keras dan berpesan kepada Mas Leo untuk menjaga ibu dan adiknya jika Bapak sudah tidak ada. Setelah pertemuan mas Leo dan Bapak, Bapak akhirnya menghembuskan nafas terakhir lima tahun yang lalu. Setelah kepergian bapak, mas Leo mencoba bersahabat dengan masa lalu ibu yang memperlakukanku dengan tidak baik, hingga kini hubungan Ibu dan Mas Leo membaik. Tapi tidak denganku, dari dulu Ibu tidak pernah berubah memperlakukanku, aku mencoba bersabar, dan aku yakin suatu saat Ibu pasti akan berubah. Sudah 15 tahun usia pernikahan kami,sudah 14 tahun usia Rio, Ibu masih tetap sama seperti dulu. Tak pernah menganggapku sebagai keluarganya.
Lepas dari lamunanku, aku berdiri dan berjalan menuju dapur. Aku berencana menyiapkan untuk makan malam spesial malam ini, untuk menyambut kedatangan Ibu mertua.
"Rio Leo, gimana kalau kita malam ini makan diluar saja?" aku terdiam didepan kulkas mendengar ucapan Ibu.
"Yaudah kalau Ibu mau" jawab suamiku.
"Sayang kamu gak usah repot-repot masak, kita makan malam diluar saja malam ini" ucap suamiku sedikit berteriak.
"Iya mas" jawabku sambil memasukkan lagi bahan-bahan yang sempat aku keluarkan dari dalam kulkas.
Ibu menyusulku ke dapur, dan memperhatikan isi dapur, membuka kulkas dan lemari-lemari di dapur.
"Bahan-bahan masakan nya lengkap, siapa yang masak? kamu atau Leo anakku?" ujar Ibu sambil berdiri disampingku yang sedang mencuci tangan di wastafel.
"Ayu selalu masak untuk mas Leo dan Rio, bahkan menyiapkan bekal mereka kok Bu" jawabku berusaha santai.
"Wanita KARIR apa masih ada waktu untuk keluarga?" tanya Ibu dengan penekanan di kata KARIR itu.
Aku hanya tersenyum dan berpamitan ke kamar untuk siap-siap.
Aku berhias seadanya di depan meja rias,
"Kamu terlihat cantik apapun yang kamu pakai" ucap Mas Leo sambil memilih pakaian yang akan di pakai. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
"Mama papa udah siap" ucap suamiku ketika kami keluar dari kamar.
"Ibu sudah siap?" tanyaku.
Ibu tidak menjawab pertanyaanku.
"Ayo kita berangkat" Mas Leo mengalihkan suasana.
Kamipun mengikuti Mas Leo menuju mobil dan tidak lupa aku mengunci pintu rumah.
Ketika aku akan masuk kedalam mobil disebelah Mas Leo yang akan menyetir, ibu dengan cepat langsung masuk lebih dulu dan menutup pintu. Akupun menarik nafas panjang dan duduk di sebelah Rio.
Kamipun pergi menuju restoran bintang lima yang cukup terkenal dikota ini. Sepanjang perjalanan ibu bercerita tentang masa kecil mas Leo yang membuat Rio sangat antusias mendengar cerita neneknya.
"Selamat malam Ibu Rahayu" sapa seorang wanita berseragam pelayan restoran bintang lima ini.
"Mari saya antarkan Ibu kemeja yang sudah Ibu booking" ajaknya lagi.
Kami pun mengikutinya menuju meja.
Aku sengaja memilih meja outdoor dilantai dua, agar bisa melihat pemandang kota dengan gemerlap lampunya di malam hari.
"Terima kasih" jawabku pada wanita tadi.
"Mama kenal mereka?" tanya Rio
"Iya sayang" jawabku
"Mama itu sering ketemu klien bisnisnya disini sayang, jadi mereka sudah hafal dengan wajah mama" ujar suamiku sambil tersenyum ke arahku.
Ibu hanya diam dan berpura-pura tidak mendengar. Menatap wajahku pun dia enggan.
Tidak lama setelah itu, makanan yang sudah kami pesan tadi datang. Dan terhidang di atas meja.
Kami makan dalam keheningan malam ini.
Setelah makan malam kami pulang kerumah dan istirahat di kamar masing-masing.
Setelah berganti pakaian aku sibuk menyiapakan pakaianku dan Mas Leo yang akan kami pakai bekerja besok.
Mas Leo sudah terlelap dialam mimpi.
Selesai menyiapkan pakaian, aku keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Ketika melewati kamar ibu aku mendengar Ibu seperti mengobrol lebih tepatnya mungkin sedang menelpon
"Kamu tenang dan percaya saja sama Tante ya, Leo itu anak yang baik dan penurut sama tante" aku sedikit terkejut dengan ucapan Ibu.
Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Ibu mau.
__ADS_1
Aku kembali menuju dapur dan meminum segelas air putih. Dan mengisinya lagi untuk di bawa kekamar.
Aku sangat lelah hari ini, aku merebahkan badan di samping Mas Leo, dan bersiap untuk tidur.