Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN TIGABELAS


__ADS_3

Aku berdiri didepan rumah bercat putih kombinasi abu-abu ini, rumah yang minimalis trend masa kini. Dengan taman kecil di halaman depan, memperindah rumah ini.


Sudah dua kali kutekan bel. Pemilik rumah tak kunjung keluar. Ketika akan menekan bel lagi, pintu rumah itu terbuka.


Dan apa yang kudapati. Orang yang membuka pintu ini bukan hanya mirip ibu, justru ini sangat-sangat mirip.


"Ibu?" kagetku melihatnya.


"Kamu, ngapain kesini?" ujar wanita paruh baya itu. Dengan suara yang ketus, sinis dan tanpa senyum, aku yakin dan tidak salah lagi wanita didepan ku ini adalah ibu mertuaku, ibu dari suamiku Mas Leo.


Tidak lama datang wanita cantik yang sebaya denganku muncul.


"Siapa Bu?" tanyanya. Ya aku sangat mengenal wanita itu, wanita yang sangat akrab dengan ibu. Wanita yang bisa membuat ibu tertawa dan menceritakan banyak hal, yang tidak pernah terjadi antara aku dan ibu.


Larasati terlihat kaget ketika melihatku. Wajah putih itu terlihat pucat.


"Ibu kenapa disini?" tanyaku


"Mau dimanapun aku itu bukan urusan kamu" jawab ibu ketus.


"Ayo bu kita pulang" ajakku.


"Pulang, kerumah kamu itu? Tidak perlu, aku lebih suka disini"


"Darimana kamu tahu aku ada disini?" tanya Ibu.


"Ibu tidak perlu tahu Bu" jawabku.


Kulihat wanita itu, masih berdiri di belakang ibu tanpa bersuara sedikitpun.


"Ayu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi" jelasku bingung.


"Kamu tidak perlu bingung, nanti kamu tahu sendiri" jawab Ibu.


"Udah selesai? Kamu pulang aja, aku dan Laras mau istirahat" ucap Ibu, kulirik lagi Laras yang sedang memainkan jemarinya. Jari manis tangan kanan yang bercincin cantik.


Tanpa jawab dariku Ibu menutup pintu. Kutinggalkan rumah itu, emosiku meluap melihat Ibu seperti itu.


Laras? Apakah dia sudah menikah? Aku lihat dengan jelas cincin di jari manis tangan kanannya bertanda dia sudah bersuami. Tapi kenapa ibu lebih memilih tinggal bersama Laras yang bersuami. Kenapa ibu tidak tinggal dengan kami.


Tanpa sadar aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dan kuhentikan mobil di pinggir jalan yang aku tidak tahu dimana. Kubenamkan wajahku di setir mobil. Aku kalut, benar-benar kalut.


Kutarik nafas panjang, dan kuhembuskan perlahan. Ku tegak satu botol minuman bersoda. Kulajukan lagi mobilku menuju kantor Mas Leo.


"Selamat siang Bu" ujar seseorang yang kutahu seorang menthor disana.


"Bapak ada?" tanyaku.


"Bapak sedang keluar Bu" jawab gadis itu.


"Kemana?" tanyaku lagi.


"Saya kurang tahu Bu" jawabnya lagi.


"Bu Ayu.." seseorang memanggilku. Aku tahu betul dia, namanya Imran, sahabat suamiku Mas Leo.


"Bisa saya bicara sebentar?" pintanya. Aku mengangguk menyetujui ajakannya.


Imran mengajakku ke cafe seberang kantor/ kursus musik milik Mas Leo. Aku memesan capucino dan Imran kopi hitam robusta.


"Ayu"


"Iya" jawabku.


Imran diam, sepertinya dia bingung ingin memulai pembicaraan kami ini darimana.

__ADS_1


"Imran, ada apa? Apa ada masalah?" tanyaku.


"Iya Ayu... Tempat kurus sedang bermasalah" jawabnya dan meminum kopinya.


"Beberapa menthor hari ini mengajukan resign, dan kita hanya memiliki 5 menthor lagi, sebelumnya Yuni bendahara juga sudah mengundurkan diri, bersamaan tiga menthor lainnya" jelas Imran.


"Ya aku tahu" jawabku


"Leo memberitahumu?" tanya Imran.


"Bukan, Yuni yang menjelaskan padaku. Itupun karena aku tidak sengaja bertemu dengannya" ujarku.


"Apa kamu dan Leo ada masalah?" tanya Imran lagi.


"Tidak tahu, sepertinya Mas Leo yang memiliki masalah" jawabku sedikit acuh.


"Ya akupun merasakannya, kenapa kamu tidak bertanya padanya Yu"


"Bertanya? Mas Leo bahkan pulang larut malam, pergi pagi-pagi sekali, tidak ada waktu kami untuk sekedar mengobrol" jelasku menatap wajah Mas Imran.


"Mas Leo seperti menyembunyikan sesuatu dariku" ucapku lagi.


"Kamu apa tahu sesuatu Imran? Ceritakan padaku" ku tatap wajah hitam manis itu.


"Aku tidak tahu apa-apa Yu, bahkan belakangan aku juga sudah jarang mengobrol dengan Leo"


"Apa kamu mau membantuku?" tanyaku lagi.


"Bantuan apa?"


"Kamu cari tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi" pintaku.


"Ayu"


"Aku tidak menerima penolakan Imran" ku seruput capucinoku.


"Ayu" ujar Imran.


"Kumohon padamu Imran, cari tahu tentang semua ini" aku menahan air mataku.


"Aku percaya padamu" ujarku lagi.


"Aku akan membantumu Yu" ujar Imran.


Kuhabiskan capucinoku. Kutulis alamat dimana ibu tinggal dan kuberikan pada Imran.


"Kutunggu kabar darimu"


"Dan satu lagi, masalah kantor kuserahkan juga padamu, kamu bisa konsultasikan itu kapanpun padaku" aku berdiri.


"Baiklah Yu"


Aku dan Imran keluar dari cafe. Imran melanjutkan kerjanya dan aku entah tidak tahu mau kemana.


"Mas" panggilku ketika Mas Leo baru saja pulang kerumah.


"Iya" jawab Mas Leo dengan wajah letihnya.


"Tadi aku ketemu sama Ibu, apa ibu cerita?" aku berusaha untuk tenang.


"Belum" jawab Mas Leo. Wajah Mas Leo terlihat berubah menjadi pucat.


Kuambilkan air putih untuk Mas Leo.


"Minumlah" kusodorkan segelas air putih padanya. Dan langsung diminumnya tak bersiasa.

__ADS_1


"Kamu kenapa tidak cerita jika Ibu di Jakarta, kenapa ibu tidak ingin tinggal bersama kita saja" ujarku.


Mas Leo hanya diam memainkan gelas yang ada di tangannya.


"Sebenci itukah Ibu padaku Mas, aku ingin membawa dia pulang kesini dengan lantang Ibu menolak" ku minum segelas minuman bersoda hingga habis.


"Ayu.. Maafkan Mas" terdengar lirih suara Mas Leo.


"Bawalah Ibu pulang Mas, untuk apa Ibu disana, dirumah Laras yang sudah bersuami" jelasku. Mas Leo yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya menatap wajahku.


"Akan Mas usahakan" ucapnya.


"Mandilah Mas, akan ku siapkan makan malam untukmu, aku dan Rio sudah makan malam sedari tadi" jelasku sambil bersiap untuk menyiapkan makan malam Mas Leo.


"Sayang.." ucap Mas Leo ketika kami bersiap untuk tidur.


"Maafkan aku"


"Iya" jawabku singkat.


"Mas sudah berapa lama ibu disini?" tanyaku ingin tahu.


"Baru beberapa minggu" jawab Mas Leo.


"Aku sudah berusaha membawa ibu kesini, tapi ibu selalu marah, dan juga aku tidak ingin kamu merasa tak nyaman dengan sifat dan tingkah laku Ibu yang seperti itu padamu" jelas Mas Leo.


Aku hanya diam.


"Apa kau tahu Mas kenapa Ibu sangat membenciku?" tanyaku dengan posisi membelakangi Mas Leo.


"Aku tidak tahu" jawabnya.


"Apa kamu tidak pernah menanyakannya pada Ibu Mas?" tanyaku lagi.


"Ibu selalu menjawab, jika kamu bukan menantu ideal yang dia inginkan" jelas Mas Leo hati-hati.


"Apakah wanita seperti Laras yang ibumu mau?" aku terus bertanya.


"Aku tidak tahu" ujarnya.


"Dia terlihat sangat akrab dengan Laras, Ibu tidak pernah memperlakukan aku seperti itu" ungkapku sambil menahan tangis.


"Sayang..." Mas Leo memegang pundakku.


"Aku tidak perduli dengan yang ibu rasakan, aku hanya menyayangimu" jelas Mas Leo.


Ku hapus air mata yang jatuh. Tak ku jawab ucapan Mas Leo. Kupejamkan mata berpura-pura untuk tidur.


"Aku sangat mencintaimu Ayu" ucap Mas Leo pelan.


"Bisa kita bertemu Yu? Aku akan kekantormu siang ini. Ada sesuatu yang penting" kubaca pesan dari Imran pagi ini.


"Baiklah aku tunggu di kantor" balasku.


"Rio kamu sudah siap" ucapku ketika Mas Leo dan Rio sedang sarapan pagi ini.


"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Mas Leo.


Aku hanya meminum segelas susu dan sepotong roti. Tak kusentuh nasi goreng buatanku sendiri. Aku tidak berselera.


"Biar hari ini aku yang mengantar Rio" ujar Mas Leo.


"Apa kamu tidak kerepotan"


"Tidak sayang" jawab Mas Leo seraya tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, kalo begitu aku pergi ya" pamitku.


Mas Leo mencium keningku dan Rio mencium tanganku ketika aku akan kekantor.


__ADS_2