Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN TIGA SATU


__ADS_3

"Ayu aku ingin bertemu, 15 menit lagi aku tiba di apartemenmu."


Aku yang baru saja pulang dari membeli keperluan dapur sedikit terkejut saat membaca pesan WA dari Mas Leo.


Dengan cepat aku membereskan semua belanjaanku didapur. Tapi tiba-tiba Bel rumah berbunyi.


"Cepet banget Mas" ujarku saat membuka pintu.


Aku mempersilahkan Mas Leo masuk.


"Mau minum apa?" tawarku.


"Kopi aja" jawabnya. Mata Mas Leo melihat kearah dapur yang masih berantakan.


"Aku baru aja pulang belanja Mas" jawabku seolah tahu isi kepala Mas Leo.


Mas Leo duduk di kursi makan. Aku meletakkan secangkir kopi dihadapannya.


"Aku beresin ini sebentar gak apa-apa kan?" tanyaku.


Mas Leo menunduk.


Aku bekerja dengan cepat, tidak ingin Mas Leo terlalu lama menunggu.


Aku mengisi toples dengan cookies kesukaanku, dan meletakkannya di hadapan Mas Leo.


Aku kembali kedapur, mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas.


Dan aku duduk dihadapan Mas Leo.


"Ada apa Mas?" tanyaku setelah meminum setengah botol air mineral.

__ADS_1


"Rindu" jawab Mas Leo.


Aku hanya diam.


"Ini" Mas Leo menyerahkan sebuah map padaku.


"Ini apa?" tanyaku. Aku membuka map itu dan membacanya.


"Bekerjalah di kantor, di tempat kursus" pinta Mas Leo.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kau juga pemilik kantor itu Ayu" ujar Mas Leo.


"Bekerjalah disana, sebagai direktur utama" pintanya.


"Tidak Mas" jawabku.


"Karena itu bukan bidangku Mas, pekerjaan itu bukan keahlianku, itu adalah keahlianmu Mas, kau lah yang mendirikannya" jelasku.


"Tapi, ini semua berkat Papamu Ayu, kau juga pemiliknya" ujar Mas Leo.


"Ya aku tahu, selama ini aku juga sudah mendapatkan 10% dari penghasilan kantor Mas, itu sudah cukup untukku" ungkapku.


"Kamu adalah direktur disana, mana mungkin aku menggeserkan posisimu, yang ada nanti semuanya kacau karena bukan keahlianku" ujarku.


"Lalu bagaimana denganmu, sedangkan kamu juga tidak mau lagi menerima uang dari gajiku" ujar Mas Leo.


"Gajimu itu sekarang milik Rio" ucapku.


"Terus bagaimana dengan kamu?" tanya Mas Leo lagi.

__ADS_1


"Kamu tenang aja, aku juga minggu depan akan mulai kerja lagi kok" ucapku.


"Dimana? Atau kamu kembali ke perusahaan lama?" tanyanya.


"Aku bekerja sebagai Supervisor di hotel milik Rangga" jelasku.


"Rangga?"


"Iya Rangga, dia yang membantuku" ujarku.


Raut wajah Mas Leo berubah.


"Ternyata kamu lebih memilih bekerja ditempatnya daripada ditempatku" ujar Mas Leo.


"Mas" ucapku pelan.


"Tidak apa-apa, mungkin kau lebih nyaman jika disana" ucap Mas Leo dan meminum habis secangkir kopi yang tersisa.


"Aku pamit dulu, mau balik ke kantor, murid-muridku sudah menunggu" pamit Mas Leo.


Aku hanya diam. Dan mengantarnya menuju pintu.


Suasana berubah menjadi dingin dan canggung.


Tanpa sepatah katapun Mas Leo pergi meninggalkan apartemenku.


Aku menghembuskan nafas kasar. Entahlah, aku sendiri bingung.


aku kembali kedapur, membereskan semuanya, membersihkan setiap ruangan di Apartemen ini. Aku lanjutkan menonton TV, memainkan ponsel, dan membaca-baca buku.


Sejujurnya hari-hariku tanpa bekerja adalah sangat membosankan, kegiatan yang aku lakukan hanya itu-itu saja. Banyak berdiam diri dirumah juga membuatku lebih banyak memikirkan kejadian-kejadian yang terjadi, ada sakit kurasakan, ada sedih, ada secercah rindu, dan ada sedikit harapan.

__ADS_1


Akupun semakin bingung memutuskan, apakah aku akan bercerai dari Mas Leo, atau tetap bersama sebagai suami istri.


__ADS_2