Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN TIGA PULUH


__ADS_3

"Makasih ya Mas udah nganterin aku sampe sini" ucapku ketika Mas Leo mengantarkan aku pulang ke Apartemen setelah dari bandara.


"Iya, aku cuma mau mastiin kamu sampai rumah dengan selamat" ujarnya.


"Yaudah kamu istirahat, aku pulang dulu ya" Mas Leo kembali masuk kedalam Taksi.


"Maaf Mbak ini ada bingkisan dan bucket bunga buat Mbak" ujar seorang wanita yang kutahu adalah resepcionist apartemen.


Aku menerimanya dan membawa menuju kamarku.


"Semoga harimu selalu menyenangkan Ayu ~ by Rangga"


Secarik kertas kecil menempel di bucket bunga kecil itu.


Aku tersenyum membacanya. Dan mengambil ponsel dari dalam tasku, ingin menghubungi Rangga.


"Hai, aku udah terima bucket dan bingkisan dari kamu, makasih ya" ucapku ketika panggilan teleponku dijawabnya dari ujung sana.


"Semoga kamu suka" ujarnya.


"Aku suka kok " jawabku.


"Syukurlah" ucapnya.


"Apa lagi bingkisan makanannya" ujarku.


"Kau tahu, bingkisan itu pasti lebih kau sukai" ujarnya.


"Ayo temani aku makan Rangga, ini terlalu banyak untukku" ajakku.


"Boleh?" tanyanya.


"Aku tunggu di apartemen yah" ujarku.


"Baiklah"jawabnya.


Panggilan tertutup. Aku menuju kamarku dan segera mandi agar terlihat lebih segar.


Setelah mandi aku menyusun makanan yang Rangga kirim diatas meja, sambil menunggunya tiba.


Bel apartemenku berbunyi.


"Haii, masuk" ajakku setelah melihat Rangga di depan pintu.


Rangga mengikutiku menuju meja makan.


"Aku sudah sangat lapar, bagaimana kalau kita langsung makan saja?" pintaku padanya.


"Boleh, ayo" Rangga meraih piring kosong untuk diisi nasi. Dengan cepat aku meraih centong nasi dan mengisi piring Rangga yang kosong.


"Makasih" ujarnya.


Aku tersenyum.


"Kamu terlihat bahagia hari ini?" ujar Rangga.


"Oh ya?" jawabku kemudian menyendokkan makanan kedalam mulutku.


"Iya" jawab Rangga.


"Mungkin karena bucket bunga itu dan makanan ini" jawabku.


"Aku juga berharap begitu" ujarnya.


"Makasih ya Rangga, makanannya enak" ujarku.


Rangga mengangguk.


Kami melanjutkan makan dalam diam.


Setelah makan Rangga membantuku membereskan bekas makan kami. Aku tersenyum melihatnya.


"Aku bisa sendiri kok" ujarku dan merebut lap ditangannya.


Aku mengelap meja makan. Rangga menyender dipintu kulkas memperhatikanku.


"Jangan melihatku begitu?" ujarku lagi.


"Kenapa?" tanya Rangga.


"Aku jadi malu" jawabku.


Rangga tertawa.


"Sudah selesai" ujarku setelah selesai membereskan dapur dan meja makan.


Aku berjalan menuju ruang tamu yang merangkap juga ruang nonton TV. Berjalan menuju jendela melihat keluar jendela.


"Hujan" ucapku.


"Sudah 2 hari Jakarta di guyur hujan begini" ucap Rangga menghampiriku.


Aku menoleh padanya dan tersenyum.


"Bagaimana kalo aku buatin kamu teh?" ucap Rangga.

__ADS_1


"Boleh juga tuh" aku duduk di sofa dan menyalakan TV. Rangga menuju dapur menyeduh teh.


"Ini teh spesial buat kamu, buatanku" Rangga menyodorkan teh buatannya padaku.


"Oh ya, seenak apa teh buatan laki-laki ini?" ucapku tertawa.


"Seperti teh pada umunya, tapi ku buat dengan ini" ujar Rangga sambil menepuk pelan dadanya.


Aku tertawa.


Rangga duduk di sampingku.


"Ayu, apa permasalahanmu sudah selesai?" ucap Rangga.


"Ntahlah" jawabku.


"Kenapa?" tanya Rangga padaku.


Aku menceritakan semuanya pada Rangga.


"Ayu?"


"Ya" aku menoleh padanya.


"Beruntungnya Leo memilikimu" ucapnya.


"Kau rela menutupi kesalahannya di depan orang tuamu" ucapnya lagi.


"Kau melakukan itu bukan semata-mata karena Rio dan orang tuamu kan?" tanya Rangga.


"Apa kau melakukan itu karena cinta?" Rangga kembali bertanya.


Aku menghembuskan nafasku kasar.


"Aku tidak tahu"


"Rangga, apa kau pernah merasakannya cinta dan benci itu datang bersamaan?" tanyaku pada Rangga.


"Maksud kamu?" tanya Rangga.


"Aku sangat membenci Leo ketika melihatnya, tapi aku juga masih mencintainya" ujarku.


Rangga hanya diam.


"Aku sangat membenci Leo yang mengkhianatiku demi Ibunya yang jahat, tapi aku masih mencintainya, benar-benar posisi yang sulit"


"Ketika aku meminta berpisah darinya saat itu hatiku sangat puas, dengan berbesar hati aku memaafkannya, selanjutnya aku dan Leo hanya di satukan karena Rio, karena kami adalah orang tua Rio, walaupun kami tidak lagi berstatus suami istri"


"Tapi, di saat aku telah memaafkannya dengan tulus dan ikhlas, ada satu permasalahan lagi yang semakin membuatku tersiksa, aku belum terbiasa tanpanya, aku belum bisa melupakannya, aku masih mencintainya" aku menghirup teh buatan Rangga.


"Aku tidak tahu, separuh hatiku ingin, tapi separuh lagi tak ingin".


"Menjadi istrinya saja itu tidak mungkin, karena aku akan menghadapi Ibunya yang sangat berbisa itu, aku sangat membencinya nya" aku menatap lurus kedepan.


"Jika aku kembali padanya, Leo akan selalu menghindari Ibunya demi aku, padahal Ibunya adalah letak surganya"


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" ujar Rangga.


"Aku akan memikirkannya lagi nanti, tapi untuk saat ini aku akan mencari kerja, menjadi pengangguran bukanlah pilihan yang baik" ucapku tertawa.


"Kenapa tidak kembali ke perusahaan Ibu Fatma? "


"Aku tidak ingin merepotkan Bu Fatma" jawabku.


"Lalu?"


"Ya mungkin aku akan berjualan jus buah di pinggir jalan" aku tertawa.


"Wah, pemandangan yang indah untuk laki-laki diluar sana" ujar Rangga.


Kami tertawa bersama.


"Ayu, bekerjalah di perusahaanku" tawar Rangga.


"Aku akan memberikanmu posisi sesuai keahlianmu" ujarnya lagi.


"Wah, posisi apa?" ucapku bercanda.


"Aku serius Ayu, kamu mau kan?"


"Aku akan memikirkannya Rangga, terima kasih ya, kamu selalu baik padaku" ucapku.


"Sesuai janjiku padamu, aku akan selalu ada untukmu" jawabnya.


Bel berbunyi.....


"Sebentar ya aku buka pintu dulu?"


Rangga mengangguk.


"Lho Mas..." ucapku ketika membuka pintu.


Mas Leo tersenyum.


"Aku cuma mau nganterin ini, sebelum berangkat ke kantor" Mas Leo menyerahkan dua kotak Burger dan pizza kesukaanku.

__ADS_1


"Terima kasih ya Mas, Mas masuk aja dulu" tawarku.


Mata Mas Leo melihat lurus kedepan. Kulihat Rangga sudah berdiri dari duduknya.


"Aku ada urusan di kantor, maaf menganggu" Mas Leo pergi meninggalkan ku.


Aku menutup pintu. Dan kembali pada Rangga.


"Leo?" ujar Rangga.


"Iya, nganterin ini" ucapku sambil meletakkan makanan pemberian Mas Leo di atas meja.


Aku mengeluarkan makanan itu dari kantong plastik. Dan membuka satu box pizza, kemudian membuka satu kotak berisi Burger.


"Ayo dimakan?" tawarku pada Rangga. Dan aku melahap Burger kesukaanku.


"Wah, kamu benar-benar hebat Ayu, baru aja makan nasi, kini makan Burger" ujar Rangga tidak percaya.


"Iya, makanya dulu kamu sering panggil aku si perut karet" ucapku tertawa.


"Kamu masih ingat?" Rangga ikut tertawa.


Aku mengangguk. Dan meminum satu botol air mineral yang sudah di atas meja.


"Ayo Rangga di makan" tawarku lagi.


"Perut ku sudah tidak sanggup lagi menampungnya" ujarnya.


"Dari dulu kamu selalu makan banyak, dan tidak pernah gemuk" ledek Rangga.


"Hhaahhaaa iya itulah kelebihanku" aku juga tertawa.


"Kelebihan seperti apa itu" ujar Rangga aneh.


"Kamu harus tau, banyak teman-temanku yang iri padaku, karena walaupun aku makannya banyak badanku gini-gini aja" ucapku bangga.


"Hhhaaa wanita itu memang aneh" Rangga tertawa.


"Aku balik ke kantor dulu ya, ada meeting dua jam lagi" pamit Rangga sambil berdiri.


"Aku tunggu surat lamaran pekerjaanmu di atas mejaku, oke" ucap Rangga.


"Iya, nanti aku kabarin ya?" jawabku sambil mengantarnya menuju pintu.


"Terima kasih banyak ya" ucapku.


Rangga menepuk pundakku pelan.


"Santai aja lagi, ini belum seberapa, nanti aku telepon kamu ya, boleh kan?"


Aku mengangguk.


Kemudian Rangga pergi meninggalkan Apartemenku.


Aku kembali duduk di depan TV.


Ponselku berdering. Aku meraihnya.


***Mas Leo memanggil.....


" ***Hallo Mas "


" Hallo Mas**** "


Diujung sana Mas Leo hanya diam.


"Hallo Mas Leo"


Mas Leo masih diam.


"Kamu suka Burgernya?" Ujar Mas Leo tanpa basa-basi.


"Suka, ini aku lagi makan burgernya, makasih ya" ucapku.


"Dengan siapa?" tanya Mas Leo.


"Maksudnya?" aku balik bertanya.


"Dengan siapa kamu menikmati makanan itu?" jelas Mas Leo.


"Aku sendirian kok" jawabku.


"Laki-laki itu sudah pulang" tanya Mas Leo.


" *I**ya udah pulang*" jawabku.


"Baguslah" ucapnya.


"Kenapa Mas"


"Tidak apa-apa, yaudah aku masih ada kerjaan, kamu istirahat ya" ujarnya.


"Oke" telpon berakhir.


Aku segera membereskan semua makanan pemberian Mas Leo. Dan menyimpannya di dalam kulkas.

__ADS_1


Setelah itu aku menuju kamar untuk beristirahat sejenak.


__ADS_2