Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN TUJUH BELAS


__ADS_3

Hari dan minggu terus berganti, aku masih seperti ini. Mempertahankan pernikahan demi kebaikan dan kebahagiaan anak saja. Hubunganku dan Mas Leo semakin hambar, jangankan untuk berbincang, menatap matanya pun aku enggan. Begitu hebat sakit yang kurasakan.


Kami akan berpura-pura baik-baik saja jika di hadapan Rio, tapi jika Rio tidak ada kami bagaikan minyak dan air. Ketika tengah malam aku akan berpindah kekamar tamu, sebelumnya aku akan memastikan Rio tidur dengan nyenyak.


"Ayu, kamu tidurlah disini, biar aku tidur dikamar tamu" Mas Leo menahanku ketika aku akan meninggalkannya di dalam kamar ini.


Aku hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun. Mas Leo pun tidur dikamar tamu malam ini.


Hatiku kini dingin sedingin es. Tidak ada kurasakan lagi kehangatan.


Aku tetap bekerja seperti biasanya, apapun masalah yang sedang aku hadapi aku harus tetap profesional dalam bekerja.


Rumah yang dulu di tempati ibu sudah kujual.pada Bu Fatma, hasil penjualannya sudah kuserahkan semua ke tempat Kursus. Begitupun hasil dari penjualan mobil.


Semenjak hari itupun aku tidak pernah tahu kabar Ibu dan Laras. Mas Leo pun tidak pernah membahas nya padaku.


"Ma, Pa , Rio mau bicara" ujar Rio saat kami sedang santai menonton televisi.


"Mau bicara apa?" jawab Mas Leo.


"Rio kan bentar lagi kelulusan, Rio boleh gak lanjutin sekolahnya di Semarang aja? Sama Eyang kakung" jelasnya hati-hati.


"Kenapa?" tanyaku kaget.


"Leo sudah lama pengen sekolah disana Ma" Leo menunduk.


"Semua sudah kamu fikirkan matang-matang?" tanyaku lagi.


"Iya Ma..Leo sangat ingin, di kota besar seperti ini sungguh membosankan Ma, lagian disana ada Agus cucunya Bude Sri" jelasnya lagi.


"Mama terserah kamu saja, kalau itu semua sudah keputusan kamu, Mama dukung" jawabku setuju. Rio dan Mas Leo melihatku, Rio tersenyum senang, sedangkan Mas Leo bingung.


"Makasih banyak ya Ma, Pa" Rio nampak sangat senang.

__ADS_1


"Tapi disana kamu tidak boleh ngerepotin Eyang yah" Mas Leo memberi nasehat.


"Iya Pa, percaya sama Rio"


"Ayu" Ujar Mas Leo, ketika aku akan beranjak menuju kamar. Rio sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.


Aku menoleh. Dan tidak memperdulikannya.


"Ayu" Mas Leo sudah berada di dalam kamar.


"Apa kamu yakin?" tanyanya.


"Yakin untuk apa?" tanyaku cuek.


"Tentang Rio" ujarnya duduk ditepi kasur.


"Iya" jawabku singkat.


"Rio sudah besar, aku akan selalu mendukung apapun keinginannya selagi itu positif" jelasku.


"Kenapa? Kamu tidak setuju?" tanyaku pada Mas Leo.


"Bukan begitu, cuma aku khawatir sama kamu kalau Rio jauh" ungkapnya.


"Kamu khawatir padaku atau pada dirimu sendiri?" tanyaku sedikit tajam.


"Maksud kamu apa Yu?"


"Iya kamu khawatir tentang hubungan kita jika Rio jauh, jelas-jelas kita berpura-pura tidak terjadi apa-apa jika didepan Rio" jelasku.


"Maksudku tidak begitu" sangkalnya.


"Bagiku lebih baik Rio ke Semarang, agar dia tidak tahu masalah yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya" ku tatap tajam mata Mas Leo.

__ADS_1


"Ayu, tidak bisakah kita seperti dulu lagi" Mas Leo memelas padaku.


"Ini tidak semudah yang kamu fikirkan" jawabku.


"Kita coba lagi, kita coba lagi dari awal" pintanya.


"Sakitnya masih tetap tertanam, walaupun kita mencoba lagi" ujarku.


"Aku tidak sanggup kamu selalu mendiamkan aku seperti ini, lebih baik kamu caci maki aku, kamu pukul kamu tampar aku, biar kamu puas, tapi aku mohon jangan seperti ini" jelas Mas Leo lagi.


"Kamu fikir aku sanggup menjalani ini semua, aku hancur Mas, hancur tidak bersisa lagi" aku emosi.


"Tapi ini semua sudah lama berlalu Ayu"


"Jika kondisi kita di putar, jika seandainya aku yang mengkhianati kamu dan anakmu bagaimana? Bagaimana perasaanmu? Apa dengan mudah kamu memaafkan aku, apa dengan mudah kamu menerima semuanya, hah bagaimana?" aku semakin emosi. Aku tetap berusaha mengontrol suaraku agar Rio tidak mendengar.


"Ayu, maafkan aku, maafkan aku"


"Kamu tahu, bertahan setelah di khianati adalah bukan solusi yang baik, tapi aku lakukan semua ini hanya untuk Rio" jelasku pelan.


"Kenapa tidak kamu jelaskan saja padanya?" Mas Leo menatapku tajam.


"Aku ingin Rio bahagia, aku tidak mau Rio tumbuh tanpa seorang ayah" ucapku menangis.


"Sampai kapan kau sanggup menyembunyikannya Ayu, sampai kapan?" Mas Leo menutup wajahnya kasar.


"Biarkan seperti ini, hingga nanti atau selamanya" aku melemah.


"Bagaimana denganku Ayu, haruskah aku menerima semua ini selamanya" Mas Leo menunduk.


"Jika kamu bertahan bekerja samalah denganku, jangan kau tuntut aku seperti dulu, jika kamu tidak sanggup, aku tidak akan menghalangimu" ujarku dan kutinggalkan Mas Leo sendiri dikamar.


Tangisku semakin pecah ketika dikamar tidur tamu. Entah, aku merasa benar-benar hampa, sejujurnya aku benar-benar tidak sanggup untuk bertahan. Tapi jika kami berpisah, Rio adalah orang pertama yang menjadi korban. Aku tidak mau itu terjadi. Aku akan bertahan dalam kehancuran ini demi Rio. Demi kebahagiaan Rio.

__ADS_1


__ADS_2