Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN EMPATBELAS


__ADS_3

"Maaf bu, ada tamu" Ani membuyarkan lamunanku.


"Iya, suruh masuk dan tolong buatkan kopi untuk tamuku Ani" uajrku.


Terlihat Imran memakai kemeja biru muda memasuki ruangan ku. Aku berdiri dan menyalamai Imran.


"Ada berita apa?" tanyaku tanpa basa-basi.


Imran hanya diam ketika Ani masuk dan meletakkan secangkir kopi untuk Imran. Ani keluar setelah kami mengucapkan terima kasih padanya.


"Ayu, aku ingin memberikan sedikit laporan mengenai kantor"


"Leo sudah empat bulan hanya memberikan setengah gaji kepada para menthor, kecuali kepadaku. Itulah yang membuat sebagian menthor mengajukan Resign. Bagian keuangan juga Leo yang memegang, setelah aku mencari tahu melalui Bank atas nama kantor dengan bantuan akuntan temanku, ada beberapa pengeluaran yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan kantor. Ada pembayaran pembelian rumah, dan pembelian mobil. Untuk rumah hanya bersisa enam bulan lagi, untuk mobil pembayaran secara kredit dari keuangan kantor. Dan juga karena kekurangan menthor, banyak orang tua murid memberhentikan kursus ditempat kita. Hanya tersisa dua kelas saja dari yang sebelumnya ada delapan kelas, termasuk kelas yang Leo bentuk sendiri itu. Dari kelas yang Leo bentuk itu, sebanyak lima murid mengundurkan diri, sehingga orang tuanya membatalkan memberi bantuan, dan para orang tua itu sudah memberikan 20% bantuan ke kantor. Mereka hanya meminta pengembalian sebanyak 10% saja, berjumlah 30 juta" jelasnya dan memberikan berkas-berkas laporan kantor itu padaku.


"Ada satu hal lagi Yu" ujar Imran.


"Apa itu?" jawabku.


"Aku harap kamu bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin" Imran memberikanku satu amlop coklat.


Aku membuka amlop itu dan Imran melanjutkan laporannya.


"Foto rumah itu adalah rumah yang Leo beli menggunakan uang kantor, dan di tempati Ibunya dan seorang wanita bernama Laras" aku perhatikan rumah itu. Iya itulah rumah yang aku datangi, yang aku fikir itu adalah rumah milik Larasati.


"Dan satu unit mobil itu juga pembayaran kredit dengan uang kantor, mobil itu yang di pakai Ibu dan wanita itu kemana-mana"


"Dan.. " Imran berhenti menjelaskan. Imran menatap wajahku sendu.


"Wanita bernama Laras itu adalah istri dari Leo, itulah penjelasan tetangga dan Pak RT setempat"


Aku diam. Aku terkejut, dan bahkan aku lupa cara untuk bernafas. Ku tatap wajah Imran tajam.


"Mereka menikah di Yogya beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan desember"


Desember. Mas Leo memang ke Yogya dengan alasan ibu sakit, sedangkan aku menemani orang tuaku menjalani pengobatan di Singapore. Tidak ku sangka jika Mas Leo melangsungkan pernikahannya dengan Laras.


"Ayu, selesaikan masalahmu dengan kepala dingin dan tenang, aku yakin Leo punya alasan dibalik semua ini" Imran menasehatiku.


"Hancur..." ku hempaskan foto-foto itu.


"Aku tidak percaya Mas Leo setega itu" ucapku. Air mataku mengalir deras.


"Aku mengerti" hanya itu yang Imran ucapkan selebihnya dia hanya diam.


Kuhapus airmata dengan tisu.


"Imran terima kasih banyak" ujarku lirih.


"Iya Ayu"


"Untuk masalah kantor nanti aku hubungi kamu lagi" ucapku.


"Iya...kalau begitu saya pamit kekantor lagi ya Yu, dan kamu harus ingat pesanku tadi"


Aku hanya mengangguk dan mengantarnya hingga pintu ruanganku.


Setelah meminta izin kepada Bu Fatma dan Ani, aku melajukan mobilku pulang kerumah.


"Mas aku tunggu dirumah sekarang!!" ucapku ketika Mas Leo menjawab panggilan teleponku diujung sana.


Aku kembali fokus menyetir menuju rumah.


Setelah menunggu selama satu jam akhirnya Mas Leo tiba dirumah. Aku menunggunya diruang tengah, aku duduk dan menyilangkan tangan didadaku. Dipangkuanku sudah ada amplop coklat yang Imran berikan padaku tadi.


"Ada apa sayang.." Mas Leo menghampiriku.


Kuberikan amlop coklat itu padanya. Kuminta dia untuk membukanya. Sekita wajah Mas Leo menjadi pucat, Mas Leo menatap wajahku . Aku hanya diam tanpa berbicara sedikitpun.


"Ayu Mas bisa jelaskan" Mas Leo berjongkok dihadapanku.


"Semuanya sudah jelas" jawabku datar.


"Aku lakuin ini semua karena Ibu" Mas Leo menunduk. Aku tatap wajah Mas Leo yang memerah dan menangis.


"Ibu akan bunuh diri jika aku tidak menuruti kemauannya, seketika aku kalap saat itu, aku mengiyakan permintaan itu, aku sungguh menyesal setelah itu. Aku takut kamu mengetahuinya, aku sangat takut. Aku minta ibu, Karina dan Laras untuk menutupinya darimu. Maka dari itu ibu memaksaku untuk membeli rumah dan mobil di Jakarta" Mas Leo menangis.


"Aku tidak mengerti dengan jalan fikiran kalian!!" aku emosi. Aku berdiri dan berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral.


"Maafkan aku" Mas Leo mengikutiku ke dapur.


"Aku saat itu benar-benar takut kehilangan ibu" ujarnya.


"Aku dan Rio kamu anggap apa!!" aku berteriak.

__ADS_1


"Aku fikir akan menceraikannya ketika aku tiba di Jakarta, tapi ternyata ibu dan Laras menyusul ku ke Jakarta, aku tidak bisa berbuat apa-apa" jelasnya lagi.


"Ibu boleh membenciku, tapi bukan begini caranya, apa ibu tidak memikirkan Rio darah dagingnya sendiri" aku terduduk di lantai. Meratapi nasibku dan anakku.


"Ayu.." Mas Leo memegang tanganku. Kutepis tangan Mas Leo.


"Jahat sekali kalian" ucapku menatap tajam Mas Leo.


"Aku akan menceraikannya Ayu, aku janji, tapi tolong jangan tinggalkan aku" pintanya.


"Tidak!!" aku berdiri. Aku berjalan sempoyongan, kepalaku serasa mau pecah.


"Ayu, aku mohon" Mas Leo mengiba. Menahan tanganku.


"Cukup Mas...!!" aku masuk kedalam kamar dan menguncinya. Mas Leo terus meminta maaf padaku dari balik pintu.


Kutatap wajahku dicermin.


"Apa kurangku dimatamu ibu?" ucapku pelan.


"Wanita tua gi*a!!" umpatku.


Setelah mandi, ku kuncir rambutku, aku menatap cermin.


"Aku tidak akan kalah dari wanita sepertimu ibu" ucapku emosi.


Kuambil kunci mobilku, aku harus memberi perhitungan pada ibu yang sudah menghancurkan rumah tanggaku.


Kakiku tertahan ketika baru saja keluar dari kamar. Mas Leo masih duduk meringkuk dengan mata membengkak. Ku jongkok mensejajarkan tubuhku dengannya.


"Mas benar-benar menyesal" ucapnya.


"Semuanya sudah terjadi Mas, kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku dan Rio, keputusan yang kau ambil salah" ucapku lembut.


"Aku memang bodoh, aku memang bodoh Ayu" ucapnya dengan mata memerah.


"Bangunlah Mas, aku harus pergi" ucapku dan berdiri.


"Kamu mau kemana Ayu" Mas Leo menahan langkahku.


Aku hanya diam.


Aku setengah berlari menuju mobil, ku lajukan mobilku menuju rumah ibu. Aku tidak tahu Mas Leo mengikutiku atau tidak. Aku sama sekali tidak peduli.


"Iya sabar sebentar" terdengar suara ibu dari dalam rumah.


"Kamu?" ibu terlihat kaget aku sudah ada lagi didepan rumah ini.


Tanpa persetujuan ibu aku masuk kedalam rumah.


"Heii, tidak ada sopan santun ya kamu!!" ibu emosi.


Aku berdiri ditengah ruangan, ku perhatikan secara detail rumah ini.


"Rumah yang bagus" ucapku dan menatap wajah ibu dalam.


"Keluar kamu dari sini!!" perintah ibu.


Aku mendudukkan diri di ruang tengah dengan angkuhnya.


"Rumah Mas Leo berarti rumahku sendiri" ucapku penuh penekanan.


"Apa maksud kamu!!"


"Tanyalah pada dirimu sendiri" ujarku menatap ibu tajam.


Laras keluar dari kamarnya. Mungkin kamarnya dengan suamiku.


"Ada apa Bu?" tanya Laras.


"Tidak apa-apa, hanya aku ingin berkunjung kerumah suamiku, apa tidak boleh?" ucapku sambil melangkah mendekati wanita itu.


Aku masuk kekamar Laras. Seketika ibu dan Laras mengikutiku.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Laras.


Aku hanya diam. Kubuka semua lemari, ku keluarkan semua barang-barang milik wanita itu. Ibu dan Laras masih meracau tidak jelas, aku sama sekali tidak perduli.


Di meja rias itu kulihat bingkai foto pernikahan Mas Leo dan Laras. Di foto itu Laras tersenyum dengan bahagia tapi tidak dengan Mas Leo. Kuraih bingkai foto itu ku lempar kedinding kamar tepat tidak jauh dari Ibu dan Laras berdiri. Bingkai itu hancur berantakan. Laras berteriak tidak terima, ibu hanya diam mematung.


Setelah puas menghancur leburkan kamar itu aku menuju kamar ibu, ibu berusaha menahan ku, ku tepis tangan dan badan ibu.


Kunci mobil tergeletak diatas meja disamping kasur ibu, ku ambil dan ku masukkan kedalam tas.

__ADS_1


"Kembalikan wanita gila!!" umpat Ibu emosi dan menarik tasku ingin merebut kunci mobil itu. Aku berjalan meninggalkan ibu dikamarnya tidak ku pedulikan Ibu yang sangat marah kelakuanku.


Aku isi gelas kosong ini dengan air putih dingin dari kulkas.


"Keluar kamu dari rumah ini Ayu, kamu sudah gila!!" ujar Ibu yang sangat emosi. Aku lirik Laras yang melihatku dengan tatapan tajam.


"Kenapa aku harus pergi?" jawabku santai.


"Leo membelikan rumah ini untuk Laras!!" jawab ibu lagi.


Aku tertawa mendengar ucapan ibu.


"Kamu wanita gila, Leo tidak akan terima kamu memperlakukan ku dan Ibunya seperti ini, Leo pasti meninggalkanmu!!" ujar wanita itu merasa bangga.


Ku lempar gelas kosong ini kearah mereka. Untung saja tidak mengenai mereka berdua. Ibu dan Laras terkejut melihatku melempar gelas itu hingga pecah tak berbentuk.


Mas Leo masuk kedalam rumah, seketika Mas Leo terdiam melihat keadaan rumah ini.


"Leo usir wanita itu dari rumah ini!!" pinta Laras. Mas Leo hanya diam.


"Leo cepat usir dia Leo, dia benar-benar sudah sangat keterlaluan!!" Ibu juga bersuara. Mas Leo menatap kami satu persatu, dan terduduk di sofa ruang tengah. Tanpa sedikitpun memberi jawaban pada ibu dan Laras.


Aku ikut duduk di sofa berhadapan dengan Mas Leo. Mas Leo melirikku. Aku tak perduli.


"Rumah ini belum lunas, dan dalam tempo enam bulan harus segera di lunaskan, apa kalian tahu?" tanyaku menatap Ibu dan Laras.


"Aku akan membayar sisa pembayaran rumah ini, dan akan segera aku jual" ujarku yang membuat mereka melihatku terkejut.


"Kalian harus meninggalkan rumah ini, SEGERA" ujarku dengan penekanan.


"Leo membelikannya untukku, kamu tidak ada hak Ayu!!" ujar Laras sedikit berteriak.


"Istri Siri tidak berhak mendapat apapun itu" jawabku santai.


"Leo ceraikan saja Ayu, dia benar-benar sudah gila!!" ujar ibu meminta pada Leo. Leo menatap ibu dengan wajah memerah.


"Tidak akan pernah!!" jawab Leo.


"Rumah ini dibeli dari hasil tempat kursus Leo yang di kelolahnya, semua yang Leo dapat itu semua berkat orang tuaku, aku lebih berHak daripada kamu!!" ku tatap tajam mata Laras.


"Dan untuk mobil, besok akan segera aku over kreditkan" ucapku lagi.


"Ayu hentikan!!" ibu semakin emosi.


"Kenapa? Ibu tidak suka? Ibu tidak terima" tanyaku.


"Kamu benar-benar gila Ayu!!" ujar Ibu.


"Ibu mana yang tega menghancurkan rumah tangga anaknya, nenek mana yang tega menghancurkan cucunya, Ibu mana yang tega membodohi anaknya!!" ujarku emosi.


"Ibu jauh lebih gila dari pada aku!!" teriakku.


"Jika ibu memang membenciku aku tidak apa, tapi jangan hancurkan rumah tangga kami, jangan hancurkan perasaan Rio, Rio itu cucu ibu, darah daging Ibu, dimana letak hati ibu!!" aku semakin emosi.


"Dan kamu, kenapa kamu mau menjadi istri kedua Leo, Leo itu seorang suami, sudah punya anak!!" jari telunjukku mengarah pada Laras.


"Sekarang, Leo sudah tidak memiliki apa-apa lagi, masih maukah kau dengannya, hah!!" emosiku meluap.


"Apa maksudmu?" tanya ibu padaku.


"Leo jelaskan sama Ibu?" Ibu menoleh pada Mas Leo.


Mas Leo masih diam.


"Usaha Leo bangkrut, gara-gara keegoisan Ibu" jawabku.


"Apa?" ucap Ibu dan Laras serentak.


Aku tersenyum sinis melihat ekspresi mereka.


Aku bangkit dari sofa, dan akan meninggalkan rumah yang seperti neraka ini.


"Aku beri waktu seminggu untuk kalian bersiap-siap" ucapku sebelum meninggalkan mereka.


Mas Leo mengejarku yang sudah berdiri di depan mobil. Mas Leo memelukku dari belakang.


"Sayang, maafkan aku" ucapnya. Bahuku basah karena air matanya.


Aku balik badan dan memeluknya. Sungguh aku sangat menyayangi Mas Leo.


"Anggap kita tak memiliki masalah apa-apa jika di depan Rio mas, aku tidak ingin Rio hancur sepertiku" aku menangis di dada bidang Mas Leo.


Aku lepaskan pelukan dan masuk kedalam mobil. Kutinggalkan Mas Leo yang masih berdiri, terpancar kehancuran di matanya, ku tahu Mas Leo juga pasti terluka karena ini.

__ADS_1


__ADS_2