Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN SEMBILAN


__ADS_3

Hari ini aku akan mengantar Papa melakukan pengobatan ke Singapore, ditemani Mama. Seharusnya mas Leo ikut menemani tapi, mas Leo mendadak harus menyelesaikan pekerjaannya dalam dua hari ini. Kuminta Bude Sri untuk menemani Rio di Jakarta.


"Sayang, maaf ya aku gak bisa nemenin kamu, nanti aku langsung menyusul begitu kerjaanku selesai" ucap Mas Leo, ketika mengantar kami ke Bandara.


"Gak apa-apa Mas, semoga kerjaan kamu cepat selesai ya" ucapku dan kami pun berpelukan.


"Papa mama, maafin Leo ya gak bisa nemenin" ucap mas Leo kepada Mama dan Papa.


"Iya Leo, gak apa-apa kan ada Ayu" jawab Mama sambil mengelus lembut pundak Mas Leo.


"Mas, jagain Rio ya" pintaku.


"Iya, sayang" jawabnya.


Kami pun saling berpamitan, dan chek-in di Bandara.


Ini hari ketiga aku dan orangtuaku di Singapore, pengobatan masih tetap berlanjut. Alhamdulillah Dokter hanya menyarankan Papa untuk menjalani rawat jalan saja, tapi untuk sementara keadaan Papa harus tetap di cek, sehingga kami harus menetap di Singapore untuk satu minggu kedepan.


Siang ini aku, Mama dan Papa sedang bersantai di sebuah Apartement yang kami sewa, milik rekan kerja Papa.


"Sayang, maaf aku belum bisa menyusul kesana, aku harus ke Yogya sekarang, ibu sakit lagi" kubaca Pesan dari Mas Leo.


"Iya sayang, gak apa-apa salam ya buat ibu dan Karina" balasku.


"Ma pa... Mas Leo belum bisa nyusulin kita kesini" aku buka suara.


"Lho kenapa, kerjaan nya belum selesai" tanya Mama.


"Ibu Mas Leo, sakit lagi di Yogya, jadi Mas Leo harus ke Yogya siang ini" jawabku.


"Ya ampun, yaudah Gak apa-apa, sampaikan salam Mama dan Papa sama Leo, semoga Ibunya cepat sehat" ujar Mama. Papa pun mengangguk tanda setuju.


Tidak lupa aku menghubungi Bude Sri di jakarta, agak menjaga Rio selama Mas Leo di Yogya.


"Mas, gimana keadaan ibu? Ibu sakit apa?" aku mengirim pesan kepada Mas Leo, sedari kemarin Mas Leo sangat susah dihubungi, mungkin karena sangat sibuk mengurusi Ibu disana. Sudah dua jam pesan dariku belum juga di baca, apalagi untuk membalasnya. Kutelpon tapi tidak di angkat. Aku semakin khawatir memikirkannya. Apa yang terjadi sama Ibu, kenapa Mas Leo tidak memberitahuku keadaan Ibu.


Saat sedang membantu Mama membuat makan malam, Hp ku berdering.


Mas Leo memanggil.......


Dengan cepat kujawab telpon dari Mas Leo.


"Ya hallo mas.." jawabku sambil berjaan menuju balkon Apartemen.


"Hallo sayang, maaf aku baru ngubungin kamu " jawab Mas Leo, suaranya terdengar lemah.


"Mas, gimana keadaan ibu?" tanyaku.


"Ibu sudah baikan sayang" jawab Mas Leo.


"Kamu kenapa baru ngabarin aku sekarang mas, kamu sakit? Kenapa suara kamu terdengar lemas Mas?" tanyaku khawatir.


"Aku gak apa-apa kok sayang, cuma kecapekan saja, kalian disana gimana kabarnya? Kapan pulang?"


"Kami sehat Mas, Lapa juga sudah membaik, mungkin satu minggu lagi kami akan pulang, setelah urusan Papa disini selesai" jawabku.


Mas Leo hanya diam.

__ADS_1


"***Sayang, maafin aku, sepertinya aku tidak bisa menyusul kamu kesana"


"Yaudah gak apa-apa kok Mas, kamu jagain aja Ibu dulu di Yogya ya, dan jangan lupa istirahat***" jawabku.


"***Iya sayang... Yaudah, aku tutup dulu telponnya nanti aku kabarin lagi ya"


"Iya Mas***.." tidak lama sambungan terputus.


Aku sedikit lega mendengar suara dan kabar dari Mas Leo. Setidaknya aku bisa berfikir dengan tenang sekarang.


Sore ini aku dan Mama Papa akan bertolak ke Jakarta. Pengobatan Papa untuk sementara sudah selesai, setelah satu bulan Papa boleh datang lagi untuk memeriksakan lagi kesehatannya.


Semenjak hari itu, Mas Leo belum pernah menghubungiku lagi. Mungkin mlMas Leo sangat repot mengurusi Ibu disana, sampai tidak sempat lagi hanya untuk membalas pesanku.


Setibanya di Bandara Sukarno-Hatta, kami menunggu Pak Haris supir di kantorku. Aku meminta Pak Haris yang menjemput kami, karena Mas Leo masih berada di Yogya.


"Aku kaget, tadi malam Ibu menghubungi saya untuk menjemput Ibu di Bandara, karena tidak biasanya Ibu minta di jemput" Pak Haris buka suara sambil menyetir.


"Iya Pak, suami saya lagi ada di Yogya, Ibunya sakit" jawabku sambil memainkan ponsel, mengabari Mas Leo.


"oh gitu" jawabnya.


Obrolan pun berlanjut, Pak Haris memang orang yang sangat humble dan ramah, dia akan cepat nyambung jika mengobrol dengan orang baru.


"Assalamualikum Bude, gimana kabarnya sehat?" tanyaku pada Bude Sri yang menyambut kami di pintu pagar.


"Alhamdulillah non, sini saya bantuin bawa barang-barangnya" jawab Bude dan membantu Pak Haris menurunkan barang-barang kami tanpa diminta.


"Mama..." Rio menghampiriku dan mencium lembut tanganku, aku mengelus kepalanya. Dan berlanjut mencium tangan Eyang-Eyangnya.


"Sepi dirumah berdua aja sama Bude Sri, ya kan Bude" ujar Rio, ketika kami beristirahat diruang tengah.


"Gimana sekolahnya lancar?" tanyaku.


"Lancar, di semester ini Les nya makin padet Ma" keluh Rio.


"Iya, kan mau Ujian Nasional jadi Les mata pelajarannya makin banyak, semangat ya.." aku menyemangati Rio.


Rio bercerita banyak pada Eyang kakung dan Eyang putrinya. Mama dan Papa juga sangat antusias mendengar cerita Rio. Aku tersenyum melihat mereka, Rio tidak pernah sedekat ini pada Ibu mertuaku. Mungkin Ibu mertua yang cerewet, membuat Rio tidak nyaman.


Aku masuk kekamar untuk sedikit beristirahat, lelah sekali rasanya. Aku buka HP-ku belum juga ada balasan pesanku dari Mas Leo. Kucoba untuk menghubunginya, tidak juga di angkat.


Kali ini aku akan coba menghubungi Karina, untuk menanyakan keadaan mereka disana.


Dua kali panggilanku juga tidak dijawab, kucoba satu kali lagi


"Iya hallo Mbak" jawab Karina diujung telpon.


"Hallo Karina, gimana keadaan kalian" tanyaku tanpa basa-basi.


"Baik kok Mbak, semuanya sehat-sehat kok" jawab Karina


"Mas mu ada?" tanyaku lagi


"Mas Leo, sedang kerumah pak RT Mbak, ada yang mau di urusin" jawab Karina terdengar sedikit Ragu.


"Yaudah kalo gitu, Mbak cuma nanyain keadaan kalian aja, salam ya sama Ibu dan sama Mas Leo" ujarku.

__ADS_1


"Hmm iya Mbak" jawab Karina.


"Masak apa Bude?" tanyaku menghampiri Bude yang sedang menyiapkan makan malam.


"Ini Non, ada telor dadar, tempe orek sama pindang ikan" jawab Bude Sri.


Aku melihat kearah Mama dan Papa yang sedang asyik menonton berita terkini di TV.


"Bude, ada yang mau Ayu tanyain?" tanyaku dengan suara yang pelan.


"Nanya apa non?" jawab Bude.


"Apa Mas Leo, ada menghubungi Rio atau menelpon Bude" tanyaku ingin tahu.


"Setahu bude, yang selalu menghubungi den Rio ya cuma Non, Den Leo sepertinya tidak pernah menghubungi Den Rio, apalagi menghubungi Bude Non" jawab Bude pelan.


"Makasih ya Bude, hmm sini Ayu bantuin bawa minumnya ke meja makan".


Sudah jam dua belas malam, mata sangat sulit terpejam. Mas Leo juga belum memberi kabar padaku.


"Gak mungkin kerumah Pak RT, sampai semalam ini" tanyaku sendiri


"Kalo Mas Leo sudah pulang, gak mungkin dia gak buka hp nya dan melihat pesan-pesan dariku" tanyaku lagi.


"Ada apa sih sebenarnya?" aku sedikit kesal.


Kubenamkan wajahku di bantal, khawatir, panik dan marah bercampur aduk. Kulempar bantal yang sering Nas Leo gunakan untuk melampiaskan amarahku. Kubangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi di kamarku. Ku basuh wajahku, berharap fikiran-fikiran buruk tentang Mas Leo menghilang.


Aku terbangun dari tidur, karena HP yang sedari tadi berbunyi. Dengan mata yang sangat berat ku lihat HP.


Mas Leo memanggil....


"Iyaaa " kujawab dengan suara yang masih parau.


"Sayang, pagi ini aku pulang ke Jakarta" jawabnya.


"Kamu gak perlu jemput, nanti aku pake taksi aja" sambungnya lagi.


"Iya Mas, hati-hati di jalan" jawabku.


"Oke" sambungan terputus.


Kulirik jam, sudah jam 7 pagi. Aku bangun dan menuju kamar mandi.


Sudah hampir waktunya Dzuhur, Papa sudah bersiap-siap pergi ke Masjid komplek. Tapi batang hidung Mas Leo belum juga nampak. Sengaja aku tidak memberi tahu Mama dan Papa bahwa Mas Leo akan pulang hari ini. Aku juga tidak memberi tahu Rio kepulangan Papanya hari ini, biar kejutan untuknya sepulang sekolah nanti.


Hanya Bude Sri yang tahu, karena aku minta bantuannya untuk menolongku membuat makanan kesukaan Mas Leo.


Kucoba hubungi HPnya tapi tidak aktif. Aku benar-benar kesal hari ini. Aku sudah bela-belain gak ke kantor hari ini, tapi harus kecewa yang kudapat. Jam demi jam berlalu, Mas Leo belum juga datang. Menunggunya membuatku tertidur di ruang tengah.


Mas Leo tiba dirumah menjelang magrib. Rio sangat senang dengan kepulangan Papanya. Hanya aku yang tidak antusias menyambutnya. Aku lebih banyak diam. Hatiku masih sangat dongkol melihatnya.


"Aku fikir Hp kamu udah dijual" ucapku ketika menyusul Mas Leo kekamar.


Mas Leo berbalik badan melihatku.


"Dihubungin susah banget buat jawab" ucapku kesal.

__ADS_1


"Maaf sayang, tadi Hp ku mati habis batre" jawabnya sambil menunjukkan Hp nya padaku.


Aku hanya diam. Dan meninggalkannya di kamar seorang diri.


__ADS_2