
"Assalamualikum"
"Waalaikumsalam" jawab penghuni rumah bersamaan.
Aku sudah tiba di Semarang pagi ini, dengan ditemani Rangga.
"Yuk masuk" ajakku pada Rangga.
Mama, Papa dan Rio yang sedang sarapan menatapku. Pandangan mereka juga tertuju pada Rangga yang berdiri disampingku, pandangan penuh tanya.
Rio menghampiriku, dia menyalami tanganku dengan sopan, setelah itu kami berpelukan.
"Ayo sayang, sini sarapan ajak temannya" ajak Mama.
Aku berjalan menuju meja makan diikuti Rangga. Menyalami tangan Mama dan Papa, dan ikut duduk di sebelah Rio untuk sarapan, begitupun dengan Rangga.
"Ma Pa, ini Rangga temen Ayu" aku menjawab keheranan mereka.
"Dia boss Mama ditempat kerja yang kemarin" ucapanku tertuju pada Rio.
"Nanti aja ngobrolnya kita sarapan dulu ya, kalian pasti tadi tidak sempat sarapan kan?" ujar Mama pada kami.
Setelah selesai sarapan, dan setelah aku membantu Bude Sri membereskan semua bekas sarapan, aku menemui Rangga yang sedang berdiri di teras depan, terlihat dia sedang menelpon seseorang.
"Udah telponannya? Yuk kedalem" ajakku.
"Udah ni, itu tadi telepon dari temenku mau main kerumah" jawabnya sambil mengikutiku menuju halaman belakang.
Aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Ayu, sini ajak Rangga, kita ngobrol-ngobrol disini aja" perintah Mama.
Rio sedang bermain game di ponselnya, Papa sedang duduk santai ditemani Mama.
Rangga duduk di hadapan Papa, aku duduk bersisian dengan Rio yang sedang asyik main game online, sekaligus melepas rinduku padanya.
"Terima kasih ya nak Rangga udah nganterin Ayu ke Semarang" ujar Mama memulai obrolan.
"Iya tante sama-sama" jawab Rangga.
"Terus nanti nak Rangga nginep dimana? Kalau mau nginep disini aja ya" tawar Mama.
"Makasih banyak Tante, tapi saya akan pulang ke Jakarta sore ini" jawab Rangga sopan.
"Lho kok? Kenapa gak nginep aja semalam" ujar Mama.
"Maaf Tante, masih banyak yang harus Rangga kerjakan di kantor" jawab Rangga.
"Ya sudah, dan terima kasih banyak sama kamu udah nemenin Ayu ke Semarang" ujar Papa juga.
"Iya Om, sama-sama" jawab Rangga sopan.
Tidak terasa waktu udah hampir sore, Rangga sudah bersiap-siap menuju Bandara, terbang menuju Jakarta.
"Kamu tidak perlu repot-repot nganterin aku ke Bandara Yu" ucap Rangga ketika aku mengantarnya menuju Bandara dengan mengendarai mobil.
"Gak repot kok Ngga, santai aja kali, kayak ama siapa aja sih" jawabku santai, dengan mata tetap fokus kejalan.
__ADS_1
"Kamu jaga kesehatan ya Yu disini, jangan galau-galau lagi" ungkap Rangga.
"Iya, kamu juga ya Ngga, jangan kerja terus" ungkapku juga.
"Kerja keras juga untuk anak dan istriku disini" ucap Rangga.
Aku menatap Rangga tajam.
"Apaan sih Ngga, gak jelas banget" ujarku sedikit kesal.
"Lho? Aku serius kok Yu" Rangga tertawa.
Aku diam saja, tidak mempedulikan ucapannya, masih tetap fokus ke jalanan.
"Makasih banyak ya Yu, udah nganterin" ucap Rangga ketika kami tiba di parkiran Bandara.
"Sama-sama Ngga, makasih juga udah nganterin aku ke jauh-jauh kesini" ucapku juga.
Rangga tersenyum padaku.
"Ya udah sana turun, nanti ketinggalan pesawat lho" usirku.
"Iya iya bawel, kamu harus sering-serung ngabarin aku ya Yu" pintanya.
"Oke" jawabku.
"Hmm Ayu"
"Iya"
Tanpa aba-aba Rangga mencium bibirku lembut. Aku hanya bisa diam. Memejamkan mata.
"Maaf Ayu"
Aku dan Rangga canggung.
"Aku pulang yah" pamit Rangga.
"Hati-hati yah, maaf aku gak bisa nemenin sampe dalem" ujarku.
"Iya gak apa-apa, kamu pulang ya, hati-hati juga di jalan" ujar Rangga.
Ku tanggapi dengan senyuman.
Setelah Rangga hilang dalam pandanganku, aku pun melajukan mobil, pulang kerumah.
Aku bingung, dua kali aku dan Rangga terjebak dalam situasi ini. Entah aku harus bahagia ataukah aku harus marah.
Setibanya dirumah.
"Ayu, kesini" perintah Papa padaku yang baru saja tiba dirumah.
Aku mendekati Papa dan Mama dan mengikutinya menuju ruang kerja Papa.
"Duduk" perintah Papa lagi.
Aku dan Mama duduk bersisian di hadapan Papa.
__ADS_1
"Ada hubungan apa kamu sama laki-laki tadi?" tanya Papa.
"Rangga? Ayu cuma teman kok Pa sama dia" jawabku.
"Jangan bohong" ujar Papa lagi.
"Iya, Ayu tidak bohong" ujarku juga.
"Ayu, belum sebulan kamu berpisah dengan Leo, fokuslah kalian merawat Rio, jangan dulu memikirkan untuk menikah" jelas Papa panjang.
"Pa, Ayu beneran cuma temen sama Rangga, Ayu dan Rangga berteman semenjak SMA di Jakarta, dan kemarin Ayu juga bekerja di kantornya" jelasku juga.
"Iya, Papa percaya sama kamu, tapi Papa sangat tahu jika laki-laki itu menyukai kamu, untuk apa dia repot-repot nganterin kamu kesini" jelas Papa lagi.
Aku hanya diam.
Aku pun sama seperti Papa. Tahu jika Rangga tertarik padaku.
"Ayu, Mama sama Papa cuma tidak mau kamu tersakiti lagi nak, cukup sekali itu saja" Mama menggenggam tanganku erat.
Aku mengangguk.
"Ayu, tidak ada seorang pun didunia ini ingin hidup sendiri, Papa mengerti itu, tapi Papa tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi" ungkap Papa.
"Iya Pa, Ayu mengerti, Ayu pun kini ingin lebih fokus merawat Rio dan Mama Papa, dan juga membantu Papa di perusahaan" ujarku panjang.
Papa mengangguk-angguk.
Mama tersenyum dan mengelus pundakku lembut.
"Jika dia benar-benar menyukaimu, dia akan menunggu Ayu hingga siap" ucapku lagi.
"Maafkan Papa dan Mama, Papa cuma khawatirkan dirimu" ujar Papa pelan.
"Terima kasih banyak Pa" jawabku.
"Ya udah, kamu istirahat aja ya, kamu pasti capek kan?" ujar Mama.
"Iya, Ayu pamit ke kamar dulu ya Ma Pa" pamitku.
Baru saja merebahkan badan di atas kasur yang empuk, aku di kejutkan dengan kedatangan Rio ke kamarku.
"Ma..." panggil Rio.
"Iya sayang, kenapa?" aku duduk dengan menyender di kepala ranjang.
"Ma, Mama sama Om Rangga itu cuma temenkan?" tanya Rio.
"Iya sayang, Om Rangga itu teman Mama dari sekolah SMA dulu" jawabku.
"Oh gitu, Rio fikir pacar Mama" ujarnya.
"Bukan kok" jawabku sambil mengelus puncak kepalanya.
"Rio, belum bisa menerima jika Mama menikah lagi, harapan Rio Mama dan Papa bisa bersama lagi, walaupun itu tidak mungkin" ungkapnya.
Aku membawa Rio kedalam pelukanku. Mengelus punggungnya, dan membawa dia dalam ketenangan.
__ADS_1
"Rio mau mandi dulu Ma, sebentar lagi Rio mau ke Masjid sama Agus" Rio melepaskan pelukanku, dan berpamitan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.