Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN DELAPAN BELAS


__ADS_3

Dengan perasaan yang sulit untuk dijelas, aku harus ikhlas dengan semua keputusannya. Tidak lain agar dia bahagia.


Akhirnya aku, dan Mas Leo mengantar Rio ke Semarang. Keputusan Rio sudah bulat untuk melanjutkan sekolah disini.


Semua urusan sekolah Rio sudah selesai, hanya tinggal menunggu waktu kegiatan belajar dan mengajar dimulai.


Dirumah orang tuaku juga Papa menyarankan Agus cucu dari Bude Sri untuk tinggal di kediaman orang tuaku, agar Rio tidak merasa kesepian selama disini. Lagi pula Rio dan Agus sangat akrab.


Karena semua urusan Rio sudah selesai, aku hari ini ingin sekali berkeliling kota kelahiranku ini dengan mengendarai sepeda motor.


Setelah mengantongi izin dan Pade Johan juga membolehkan aku menggunakan motornya, aku pun bergegas pergi.


Tujuan utama ku adalah kedai soto langgananku ketika masih kecil dulu. Saat kecil aku, Mama dan Bude Sri selalu menyempatkan diri untuk menikmati Soto khas kota Semarang.


Sudah puluhan tahun Kedai ini tetap berdiri kokoh disini, hanya terlihat beberapa rombakan disini. Dan juga Kedai ini sudah memiliki beberapa cabang di Semarang hingga luar kota.


Kunikmati sendok demi sendokan suguhan soto ini, yang mengingatkan masa kecilku. Dengan segelas es teh manis sebagai pelengkap santap siangku hari ini.


Terlihat ada beberapa karyawan wanita memasuki kedai. Terlihat dari pakaian yang digunakannya, aku mengenali perusahann mereka. Itu adalah kantor dimana tempat Karina, adik Mas Leo bekerja.


Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan obrolan mereka. Tapi ketika mereka menyebut nama Karina dalam obrolan mereka, aku menjadi ingin tahu. Apakah Karina atasan mereka yang disebut adalah Karina adik iparku.


Setelah menyelesaikan makan siangku, aku bergegas meninggalkan kedai untuk mendatangi kantor tempat Karina bekerja. Besar harapanku semoga Karina benar-benar bekerja disana.


Setelah menanyakan alamat kantor Karina kepada Bapak penjaga parkir, aku segera meluncur kesana.


Kantor tempat Karina bekerja bersebrangan dengan Kantor Pos.


Mungkin karena masih jam istirahat siang, kantor masih sepi.


Aku masih ragu-ragu untuk masuk kesana, aku masih berdiri didekat motor yang ku parkirkan di dekat penjual cemilan sebelah kantor itu.


Wanita berbadan mungil berkulit putih itu nampak keluar dari kantor, berjalan kaki menuju kearahku. Karina, benar itu adalah Karina.


Semakin dekat jarak kami, Karina terlihat menghentikan langkah kakinya ketika melihatku. Aku berjalan mendekatinya.


"Na?" sapaku pada Karina yang masih terlihat kaget.


"Mbak? Mbak ngapain disini?" tanyanya gugup.


"Mbak, hanya berkeliling kota memanjakan mata" jawabku asal.


"Kamu mau kemana?" tanyaku.


"Karin mau kesebrang, mau ke kantor Pos" jawabnya sambil menunjuk kantor pos.


"Ayo, Mbak mau ikut" ajakku menarik tangannya.


Aku dan Karina berbarengan menuju kantor Pos.


Sembari menunggu Karina mengurusi urusannya di kantor Pos, aku memesan dua es jeruk didepan kantor Pos.


"Ini minum" kusodorkan es jeruk pada Karina yang menghampiriku.


"Mksh Mbak" jawabnya sambil meminum es itu.


"Mbak, ada urusan apa ke Semarang? Papa sakit?" tanya Karina.


"Enggak kok Papa sehat, Mbak kesini nganterin Rio" jawabku.


Aku dan Karina berjalan menuju kembali kekantornya.

__ADS_1


"Rio, kenapa?" tanya Karina lagi.


"Rio ngelanjutin sekolahnya disini" jawabku.


"Kenapa Mbak?" tanyanya lagi.


"Katanya sih sudah bosen dengan suasana kota Jakarta, makanya dia pengen banget sekolah disini" jelasku.


Karina mengangguk mendengar penjelasanku.


"Kamu baik-baik aja kan Na?" tanyaku.


"Karin baik kok Mbak, Mbak sekeluarga juga baik kan?" tanyanya sedikit ragu.


"Baik kok, Mas Leo juga ada disini" ujarku.


"Disini Mbak? Dimana?" Karina nampak kebingungan mencari-cari sosok Mas Leo.


"Mas Leo dirumah, Mbak kesini sendiri" ujarku lagi.


"Mbak tau Karin disini dari mana?" tanya Karina.


"Dari mereka" ujarku sambil menunjuk pada beberapa karyawan wanita yang kutemui tadi di kedai soto.


"Tadi Mbak denger mereka lagi ngomongin kamu, Mbak yakin aja Karin yang mereka maksud itu ya kamu, ternyata bener" ungkapku.


Karina sedikit tertawa mendengar ungkapanku.


"Mbak, Karin mau bali ke kantor lagi" pamitnya.


"Ya udah gak apa-apa" jawabku.


"Na, besok kita makan siang bareng ya, udah lama gak ngobrol-ngobrol sama kamu" ajakku.


"Kamu tenang aja, Mbak gak bakal cerita apa-apa sama Mas Leo, oke" ucapku sambil mengelus lembut pundaknya.


"Iya Mbak Karin mau, besok siang Karin hubungin Mbak ya Mbak" ucapnya sambil tersenyum.


"Oke,.. Yaudah masuk sana kerja lagi, nanti dimarahi bos lho" ujarku.


Karina pergi menuju kantor dan melambaikan tangannya padaku.


Setelah bertemu Karin, dan sedikit berkeliling kota, aku putuskan untuk pulang kerumah.


"Kamu darimana?" Mas Leo mengagetkan aku yang sedang memarkirkan motor di garasi.


"Jalan-jalan, kan tadi udah pamit" jawabku.


"Kenapa telpon dari Mas gak diangkat?" ujarnya lagi.


Kukeluarkan Hp dari saku celanaku. Ada sembilan panggilan tidak terjawab, dan semuanya dari Mas Leo.


"Tadi Hpnya aku silent Mas" jawabku sambil berlalu menuju rumah.


Tak kuhiraukan Mas Leo yang mengikutiku dari belakang. Mungkin Mas Leo khawatir, dan juga kesal dengan sikapku barusan. Mas Leo pergi berlalu kehalaman belakang, menghampiri Pakde Johan yang sedang bermain dengan koleksi burung hias milik Papa.


Kulihat Mama dan Bude Sri sedang asyik didapur, kuhampiri mereka.


"Kamu darimana aja? Lain kali suami kamu itu di ajak buat makan soto" ujar Mama tanpa basa-basi.


Kuberikan senyum dengan menampilkan gigu rapiku.

__ADS_1


"Pasti Bude ya yang cerita ke Mama" ujarku sambil menatap Bude yang sedang menggoreng ayam.


Bude hanya tersenyum.


"Itu gak penting, yang penting itu jangan suka bikin suami cemas, di telpon gak di angkat, terus pulangnya lama pula" ujar Mama sewot.


"Iya iya" ucapku sambil mengambil gorengan tahu isi dengan garpu.


"Rio mana?" tanyaku.


"Pergi kerumah Pak haji Arul, katanya mau mancing disana sama Agus" jawab Mama yang sedang memotong tempe dalam ukuran yang kecil-kecil.


"Gitu, yaudah Ayu kekamar dulu deh" ujarku.


Hari sudah malam, sudah menunjuk pukul sebelas malam. Sudah sepi. Tapi mataku belum juga mau terpejam, kulihat Mas Leo sudah tidur dengan nyenyak.


Aku berjalan menuju ruang tengah. Menuju dapur dan mengisi gelas dengan air putih. Entah kenapa aku sekarang sangat sulit untuk tertidur nyenyak dimalam hari. Aku mengalami kesulitan dalam beristirahat malam.


Dibelakang kediaman orang tuaku, terdapat sebuah bangunan kecil tapi bertingkat.


Dilantai dasar ditempati Bude Sri dan suaminya Pakde Johan.


Dilantai dua dulu ditempati kedua anak Bude, tapi kini ditempati cucunya Agus. Karena kedua anak Bude sudah berkeluarga. Agus sendiri cucu pertama Bude dari anak pertamanya.


Dan terdapat rooftop yang menjadi tempat favoritku dulu sejak kecil.


Tanpa terasa kakiku sudah berdiri di rooftop ini. Disinilah tempatku jika sedang sedih, kesal dan marah. Disinilah tempat bersembunyi teraman menurutku.


Kupandangi sekelilingku dari atas atap ini. Nampak lampu gemerlap dari rumah penduduk, dan dari kota. Aku sangat menyukainya. Kurentangkan tangan, ku pejamkan mata dan kuhirup udara dengan bebas disini.


"Non" suara Bude mengagetkanku. Bude sudah berdiri tepat dibelakangku.


"Bude" ujarku.


"Non ngapain malam-malam disini?" tanya Bude yang menutup tubuhnya dengan pakaian dingin dari kain wol.


"Ayu gak bisa tidur Bude" ujarku.


"Maaf kalo langkah kaki Ayu tadi membangunkan Bude" ujarku lagi.


"Gak kok Non, kebetulan tadi Bude emang dari kamar mandi, makanya nyusulin kesini" jawab Bude.


"Non kenapa?" tanya Bude.


Aku tatap wajah Bude.


"Bude tau, kalo Non sudah berdiri disini sendiri pasti lagi sedih, atau lagi ada masalah, terakhir Non berdiri disini, ketika Bapak sakit" ujar Bude.


"Ayu gak apa-apa kok" aku berusaha berbohong.


"Apa ini ada kaitannya dengan Den Leo?" ujar Bude.


Aku kembali menatap wajah teduh Bude.


"Bude bisa melihat tatapan mata Non Ayu dan Den Leo, sepertinya sedang tidak baik-baik saja, Bude berharap bukan masalah yang rumit" ujar Bude.


"Bude..." ucapku. Aku sungguh tidak bisa berkata-kata.


Bude meraih tanganku, dan mengelusnya pelan.


"Jika Non Ayu ingin mengurangi bebannya, ceritalah sama Bude, mudah-mudah Bude bisa membantu" ujar Bude.

__ADS_1


Tubuhku merosot kebawah. Air mata yang sedari tadi kutahan kini akhirnya tumpah juga. Kututup wajahku dengan kedua tangan ini, kuredam suara agak yang lain tidak mendengarnya.


Tubuh hangat Bude memelukku erat. Dan Bude terus menguatkan aku.


__ADS_2