
Aku nikmati minuman kaleng beralkohol rendah malam ini. Tegukan demi tegukan ku habiskan. Sedikit pahit tapi saat ini minuman inilah yang bisa menenangkan fikiranku.
" Ayu " panggil seseorang. Dia menhampiriku yang sedang duduk santai di bagasi mobilku yang terbuka.
" Ayu " laki-laki itu sudah ada di hadapanku. Tak kuhiraukan kehadirannya, ku teguk lagi minuman ini. Sial ternyata habis.
Kuambil lagi kaleng kedua minuman itu.
" Apa yang terjadi Ayu " ujarnya merebut kaleng minuman itu dari tanganku.
Kurebut lagi minuman itu dan meminumnya.
" Kamu tahu, saat Bu Fatma kehilangan suaminya, berhari-hari dan bermalam-malam dia selalu meminum ini, saat itu Bu Fatma bilang dengan minuman ini aku melupakan kesedihanku " jelasku mengingat saat-saat sulit Bu Fatma sebelum dia memutuskan untuk berhijab seperti sekarang.
" Dulu aku sempat bertanya-tanya dalam hati, apa enaknya minuman beralkohol ini, kini aku tau rasanya pahit, pahit seperti hidupku kini " jelasku lagi.
" Cukup Ayu " Rangga kembali merebut minumanku dan membuangnya. Itu kaleng terakhir yang kumiliki. Ku pandangi wajah Rangga.
" Rangga, inikah rasanya di khianati oleh orang yang kita sayang dan kita percaya " ujarku menatap langit tanpa bintang.
Tidak terasa air mata jatuh tanpa izinku.
" Aku bahkan seperti mimpi, aku fikir ini semua mimpi buruk " ucapku terbata karena menangis.
" Ayu, tidak begini caranya menyelesaikan masalah, aku pernah ada di posisimu " ujar Rangga.
" Kamu tahu, hampir enam belas tahun berumah tangga, ibu mertuaku tidak pernah menyukaiku sedikitpun, tapi haruskah begini caranya agar aku bisa berpisah dari anaknya "
" Apa salahku, apa salahku " aku menangis tersedu dan memukul-mukul dadaku.
__ADS_1
" Ayu, ayo aku antar pulang, kau masih mempunyai tanggung jawab, kau memiliki Rio " ucap Rangga.
" Rangga apa perceraian itu sulit? " tanyaku menoleh ada Rangga.
" Ayu? "
" Apakah beban ketika bercerai itu sangat berat? " tanyaku lagi.
" Ayu selesaikanlah masalahmu dengan kepala dingin, jangan gegabah dalam mengambil keputusan " nasehat Rangga.
Aku menangis semakin kencang. Aku tidak perduli orang melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku hanya ingin menangis. Aku hanya ingin melampiaskan sakit hatiku.
" Ayu " kubuka pelan mataku yang terasa sangat berat. Mas Leo ada di hadapanku. Aku melihat kearah jam di dinding. Sudah jam sepuluh pagi. Aku langsung bangun dan meninggalkan Mas Leo menuju kamar mandi.
" Rio " panggilku ketika di depan kamarnya.
" Rio sudah berangkat sekolah " jawab Mas Leo menghampiriku.
Aku hanya diam duduk di depan Tv.
" Untuk sementara aku yang pegang kendali kantormu " ucapku tanpa menoleh kearahnya yang duduk tidak jauh dari tempatku.
Mas Leo mengangguk.
" Ku terima apapun itu " jawabnya.
" Aku akan urus semuanya, kamu fokus aja mengajar dan menjadi menthor di tempat kursusmu " ujarku lagi.
" Bagaimana ibu dan wanita itu kapan akan keluar dari rumah itu? " tanyaku lagi.
__ADS_1
" Aku tidak tahu " jawab Mas Leo.
" Aku tidak mau bertemu mereka " lanjutnya.
" Uang dari penjualan rumah akan di gunakan untuk membayar gaji para menthor yang kamu potong selama ini dan untuk mengganti rugi uang investor " jelasku sambil mengganti chanel Tv.
" Apa rencanamu? " tanyaku pada Mas Leo yangbsedari tadi hanya diam.
" Aku sudah menceraikan Laras " jawabnya.
" Dan ibumu? " tanyaku lagi.
" Aku tidak tahu, aku tidak memperdulikannya " jawab Mas Leo.
" Karina? " tanyaku yang penasaran dengan tanggapan Karina.
" Karina dari awal sudah menolak semua ini, hingga pernikahan itu terjadi Karina tidak bisa berbuat apa-apa, Karina kini tidak lagi memberiku kabar. Bahkan dia sudah angkat kaki dari rumah ibu " Mas Leo menunduk.
" Kamu dan Karina anak yang baik, sangat sayang memiliki ibu seperti itu " ungkapku sedikit emosi.
" Maafkan aku Ayu " Mas Leo sudah berjongkok di depanku.
Kuelus lembut rambutnya.
" Aku tidak akan mengalah dari ibumu, maafkan aku " Mas Leo menatap wajahku.
" Tetaplah bersamaku dan Rio, aku tidak ingin Rio hancur jika kita harus bercerai "
" Dan...aku harus mencoba untuk menjadi seperti dulu lagi walau itu mungkin sangat sulit untukku " jelasku. Kuhapus airmata yang sedari tadi tidak berhenti menetes.
__ADS_1
Mas Leo menggenggam tanganku sangat erat.