Catatan Hati

Catatan Hati
BAGIAN TUJUH


__ADS_3

"Asalamualikum" ucapku masuk kerumah, sepulang kerja sore ini.


"Waalaikumsalam" jawab seseorang dari arah dapur.


"Karina? kapan nyampe kok gak ngabarin Mbak sih" aku memeluk Karina adik Mas Leo.


"Kejutan aja Mbak" jawabnya dan tersenyum.


"Kamu ngapain repot-repot sih Na, biar Mbak aja yang masak" ucapku.


"Gak apa-apa Mbak, aku juga cuma ngangetin Gudeg kesukaan Rio dan Mas Leo, terus bikin sambel terasi sama ayam goreng" jelasnya.


"Ya udah Mbak ganti baju dulu ya.. eh tapi kok rumah sepi, yang lain kemana?" tanyaku.


"Aku juga gak tau Ibu kemana Mbak, Rio ada di kamar, Mas Leo belum pulang kerja" jawabnya sambil mengulek sambel.


"Ibu gak pamit sama kamu?" tanyaku lagi.


"Tadi waktu aku sama Mas Leo dan Rio dari Bandara, rumah juga udah kosong Mbak" jelas Karina.


"Mungkin Ibu lagi jalan-jalan bosen dirumah" ujarku pada Karina.


Aku dan Karina duduk di teras belakang rumah, sambil menikmati teh di malam hari ini. Sedangkan Mas Leo asyik main PS dengan Rio. Ibu masih belum pulang. Ibu memberi kabar kepada Mas Leo, jika Ibu pergi dengan temannya.


"Mbak, selama disini Ibu gak bikin masalah kan?" tanya Karina.


"Enggak kok, kenapa?" jawabku dan balik bertanya.


"Aku kesini mau jemput Ibu Mbak " Karina meletakkan cangkir teh keatas meja.


"Pasti Mbak gak nyaman kan Ibu disini?" sambungnya lagi.


"Kamu ngomong apa sih Na"


"Mas Leo udah cerita semuanya sama Karina Mbak, makanya Karina kesini, Mas Leo yang minta" jelasnya.


"Mbak sama sekali gak tau Na, kamu jangan salah paham?" aku takut Karina berfikiran buruk tentang ku.


"Enggak kok Mbak, aku tau Ibu, jadi Mbak tenang aja ya" Karina menatap mataku meyakinkan.


Malam ini mataku sulit terpejam, ada banyak hal yang mengganjak dihati ini tentang Ibu, dan tentang Mas Leo. Semakin hari Mas Leo semakin menghindari Ibu, bicara pun seadanya. Mas Leo lebih banyak murung.


Sedangkan ibu, aku tidak tahu apa yang sedang Ibu fikirkan dan rencanakan. Dan apa wanita yang mengantar Ibu pulang tadi, yang di maksud Ibu Fatma. Wanita muda dan cantik, wanita itu juga terlihat ramah dengan Mas Leo dan Karina, walaupun Mas Leo dan Karina tidak memperdulikannya.


Dan Karina sepertinya tahu apa yang terjadi, tapi kenapa mereka menutupinya dariku.


Pagi ini aku tidak masuk kerja, kepala ku sangat pusing, mungkin karena aku tidak bisa tidur tadi malam. Mas Leo dan Rio sudah berangkat kerja. Dan aku dikagetkan dengan keributan dari dalam kamar Ibu.


"Pokoknya Ibu gak mau pulang Karina"


"Bu Ibu gak bisa seperti ini terus" Karina bersuara.


"Kamu gak usah ikut campur!!" teriak Ibu.


"Ibu jangan teriak-teriak, Mbak Ayu lagi sakit, malu Bu didengar tetangga" Ayu menenangkan Ibu.


"Biarin, biar dia bangun gak pura-pura sakit, dan biar tetangga malu, masa menantu ngusir Ibu mertuanya sendiri, benar-benar gak tau diuntung!" ucap ibu.


Tidak lama aku mendengar suara pintu ditutup dengan kencang.


Hatiku semakin sakit mendengar ucapan Ibu. Kuurungkan niat untuk keluar kamar, hati ini semakin sesak jika melihat Ibu, lebih baik aku istirahat saja dikamar.


"Ayu, kita ke-Dokter aja ya?" tawar Mas Leo.


"Enggak Mas, aku udah mendingan kok" aku menolak.


"Aku cuma butuh istirahat" aku membalikkan badan memunggungi Mas Leo yang duduk di pinggir kasur.


"Nanti kalo ada apa-apa panggil Mas aja, Mas didepan nonton TV"

__ADS_1


"Iya" jawabku singkat.


Rumah terlihat sepi, hanya terdengar suara TV dari ruang keluarga. Apa yang lain sudah tertidur, kulihat jam baru pukul delapan malam.


Perutku berbunyi minta diisi, baru tadi siang aku makan, itupun di paksa Karina.


Aku keluar kamar menuju dapur, tidak ada Mas Leo di ruang TV, kemana dia?


Kulihat keluar, ternyata Mas Leo sedang ngobrol dengan Karina dihalaman belakang. Serius sekali sepertinya, aku tidak mau mengganggu, aku hanya ingin mengisi perutku dan kembali tidur.


"Laper juga kamu? " ucap Ibu ketika melihatku sedang makan


"Suami pulang kerja bukannya disambut, malah tidur aja di kamar" sindir Ibu lagi.


Aku masih tetap melanjutkan makan, lapar mengalahkan kekesalanku terhadap Ibu.


"Aku gak enak badan Bu" jawabku lemas.


"Sakit tapi diajak ke Dokter gak mau, itu sakit apa pura-pura sakit" Ibu masih mengoceh.


Aku isi gelas kosong, malas menjawab ucapan Ibu.


Ibu duduk dihadapanku, menatap mataku tajam.


"Ibu tau kamu pura-pura sakit" kuremas kuat gelas di genggamanku.


"Kenapa? Kamu gak suka Ibu ngomong gitu, dengar ya jangan karena kamu punya segalanya kamu bisa seenaknya ya, Leo itu anak Ibu, ini juga rumah Leo, kamu gak berhak mengusir Ibu dari rumah ini" ucap Ibu emosi.


Tidak terasa air mataku jatuh juga setelah dari tadi kutahan


"Ayu gak pernah punya niat untuk mengusir ibu dari rumah ini" aku ingin menjelaskan kesalah pahaman Ibu.


"Sudahlah tidak usah mengelak. Atau kamu mau bilang kalau Leo yang minta Karina buat jemput Ibu. Leo itu anak Ibu, ibu tahu betul sikap Leo, gak mungkin Leo sejahat itu sama Ibu. Ya sudah pasti, kalo kamu yang menghasut Leo supaya Karina jemput Ibu dan kami pulang ke Yogya!!" cerocos Ibu.


"Apa salah Ayu sama Ibu? Kenapa Ibu bersikap seperti ini sama Ayu?" air mataku jatuh tanpa kuminta.


"Salah kamu adalah menikahi anakku" jawab Ibu santai.


"Dan..."


"Cukup, sudah cukup Bu!!" teriak ku emosional, Ibu terkejut dan tidak melanjutkan ucapannya lagi.


Mas Leo dan Karina berlari menghampiri kami, Rio juga ikut keluar dari kamar.


"Ada apa ini?" tanya Mas Leo.


"Kamu kenapa nangis?" Mas Leo menghampiriku


"Ada apa ini Bu?" tanya mas Leo kepada ibu.


"Tanya aja sama istri kamu, gak sopan neriakin mertua" Ibu berlalu masuk kekamar. Karina menyusul Ibu ke kamar.


"Rio masuk kekamar lagi ya" pinta Mas Leo, dan Rio menuruti perintah Papanya.


Mas Leo memapahku menuju kamar.


"Ada apa sayang?" tanya Mas Leo lagi, sambil mendudukkan ku di ranjang.


Aku hanya diam, malas untuk menjawabnya, aku butuh waktu. Kepala ku kembali sakit memikirkannya.


"Kamu istirahat, kalo udah tenang cerita ya sama aku" tawar Mas Leo. Aku hanya mengangguk.


Hari minggu pagi ini, jam menunjukkan pukul enam, aku bersiap-siap untuk lari keliling komplek, untuk menenangkan fikiran, dan agar tubuh terlihat lebih fit setelah berekeringat.


Setelah lelah lari, aku beristirahat di taman komplek, dari jauh aku melihat Rio bersepeda menghampiriku. Aku melambaikan tangan padanya, Rio pun memarkirkan sepedanya tidak jauh dari tempat aku beristirahat.


"Mama kok gak ngajakin Rio?"


"Mama gak mau gangguin tidur kamu yang ngorok itu" jawabku sambil mengelus kepalanya.

__ADS_1


"Oh ya, kamu mau bubur ayam?" tawarku.


"Mau dong Ma" jawa Rio semangat.


Aku pun memesan dua porsi bubur ayam kesukaanku.


Tidak lama pesananku datang, Rio buka suara.


"Rio gak betah dirumah semenjak ada Nenek"


"Kenapa?" tanyaku.


"Nenek suka bikin onar, bikin ribut terus" jawabnya sambil mengaduk bubur ayamnya.


"Hush... kamu gak boleh ngomong gitu, itu kan Ibunya Papa, dosa lho" aku menasehatinya.


"Ya gimana.. Rio kesel" jawabnya sambil menyuap satu sendok bubur ke dalam mulut.


"Rio, apapun yang terjadi dirumah kita semenjak ada Nenek, kamu tetap tidak boleh ngomong gitu" ungkapku.


"Dan jangan jadi contoh yang buruknya, ambil yang baiknya saja. Oke" lanjutku menasehati Rio.


Rio memberikan jempolnya padaku tanda setuju.


Kami melanjutkan makan bubur ayam dengan diselingi candaan ringan.


Sesudah mandi habis berolahraga tadi, aku ikut berkumpul bersama ibu, Karina,dan Mas Leo diruang tengah.


" Mbak.. Nanti siang aku dan Ibu pulang ke Yogya" Karina membuka suara


"Lho kok mendadak Na, Bu?" aku sedikit terkejut.


"Gak apa-apa mbak, lama-lama disini gak enak, lagian rumah di Yogya kosong gak ada yang jagain" jelas Karina.


"Kenapa gak seminggu lagi aja disini?" tanyaku pada Karina, dan aku menatap Ibu. Ibu terlihat cemberut, begitu hal nya juga dengan Mas Leo.


"Apa karena masalah tadi malam? udah gak usah di fikirin, Ayu minta maaf sama Ibu atas kejadian tadi malam " ungkapku. Bukannya menjawab Ibu malah meninggalkan kami, masuk kekamar. Wajah Mas Leo terlihat merah memendam marah melihat Ibu masuk kekamar.


"Gak kok Mbak, bukan karena itu, kan Karina pernah bilang ke Mbak, Karina datang cuma mau jemput Ibu, lagian kejadian tadi malam bukan salah mbak kok" Karina memegang tanganku.


"Maafin Ibu ya mbak?" Karina meminta maaf atas nama Ibu. Aku hanya mengangguk dan memeluk Karina lama.


Esoknya Karina berpamitan padaku dan Rio, Mas Leo yang mengantar mereka ke bandara. Ibu menepis tanganku ketika aku ingin membantunya mengangkat koper. Ibu dengan susah payah mengangkat kopernya sendiri kedalam mobil.


Aku dan Rio melambaikan tangan ketika mobil melaju pergi menuju bandara.


"Yess akhirnya Nenek pulaaang" ucap Rio berlari masuk kedalam rumah. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.


Dua jam berselang Mas Leo sudah tiba dirumah. Sambil tersenyum Mas Leo menemaniku dan Rio yang sedang menonton tv. Senyum dan tawa Mas Leo, akhirnya bisa kulihat lagi. Semenjak kedatangan Ibu, wajah Mas Leo terlihat kaku, tanpa senyum apalagi tawa.


Hari-hari yang kami lalui kembali berwarna, sarapan dengan hangat. Makan malam diselingi gurauan Mas Leo yang walaupun terkadang terkesan garing. Rio tidak lagi mengurung diri di kamar, aku dan Mas Leo kembali bekerja dengan semangat.


Dua bulan berlalu. Kami menjalani hari-hati seperti sedia kala sebelum ibu datang. Tidak ada lagi ketegangan dirumah ini.


Mas Leo tidak pernah menghubungi ibu, ibupun juga tidak pernah lagi menghubungi Mas Leo. Kami menanyakan kabar ibu melalui Karina. Kewajiban kami mengirim belanja untuk ibu tidak pernah kami lewati, bahkan semenjak kepulangan Ibu, aku berinisiatif untuk melebihkan belanja Ibu. Semata-mata untuk menyenangkan hati Ibu. Walaupun belum seutuhnya aku melupakan ucapan Ibu saat itu. Akupun berharap dipertemuan berikutnya Ibu bisa berdamai denganku. Itu harapanku.


Sebentar lagi liburan sekolah, otomatis Mas Leo juga akan libur. Aku ingin mengajak Rio dan Mas Leo berlibur. Dan aku akan mengajukan cuti dari kantor.


Aku sibuk membaca-baca brosur liburan yang aku dapatkan dari salah satu pusat perbelanjaan kemarin. Aku bingung mau berlibur kemana. Ingin bertanya pada Mas Leo dan Rio, tapi aku ingin memberi kejutan untuk mereka.


Aku bingung harus keluar negeri apa di Indonesia aja. Rio tidak pernah meminta untuk berlibur, dia lebih suka bermain dengan teman-teman kompleknya ketika liburan. Tapi kali ini aku ingin membuat liburannya bermakna, tapi aku bingung harus kemana.


"Apa baiknya ke Jepang aja?" tanyaku sendiri.


"Tapi dua tahun yang lalu sudah ke Jepang" jawabku sendiri lagi.


"Apa ke Bali?" tanyaku lagi.


"Tapi aku sudah sangat sering kesana" jawabku sendiri.

__ADS_1


"Akan aku fikirkan lagi nanti" aku mengambil keputusan dan memasukkan brosur itu kedalam tas. Dan aku kembali tenggelam dalam pekerjaanku.


__ADS_2