Catatan Hati

Catatan Hati
EPISODE TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Kepindahan Mas Leo ke Yogya, menjadi sebuah kebahagiaan untukku, sebab Mas Leo sering menemuiku di akhir pekan, juga menemani Rio.


Satu sisi ada hasrat untukku kembali padanya, tapi aku belum bisa memaafkan Ibunya. Dan aku masih takut akan hancur kembali rumah tanggaku karenanya.


Seperti malam ini, setelah selesai meeting jam 10 malam, aku menemui Mas Leo di penginapan yang disewanya. Dengan membawa beberapa makanan untuk santapan malam kami berdua, kebetulan ini di malam minggu.


"Sini Mas pindahin kepiring, kamu istirahat ya" ujar Mas Leo sambil memindahkan Mie ayam yang kubawa kedalam piring.


Aku mengikuti anjuran Mas Leo, untuk istirahat.


"Aku laper banget Mas" ujarku.


"Aku sengaja gak makan tadi" ujarku lagi.


Mas Leo meletakkan seporsi Mie Ayam dihadapanku di atas meja.


"Ini untuk yang laper banget" ujarnya.


Aku meraih piring itu.


"Ayo Mas kita makan bareng" ajakku.


Mas Leo mengangguk. Dan meletakkan 3 botol air mineral di atas meja, dan sepiring cemilan.


"Enak" ujar Mas Leo.


Mas Leo terlihat lahap menyantap mie ayam.


"Aku pulang dulu ya Mas" ujarku.


Mas Leo masih rebahan di atas ranjang.


"Udah jam 12 malam Mas" ujarku lagi.


Mas Leo bangkit dari atas ranjang.


"Aku anterin ya" ujarnya sambil memakai pakaiannya.


"Gak usah Mas, aku kan bawa mobil, lagian gak jauh kok" jawabku.


"Nanti aku ikutin kamu pake motor pemilik penginapan"


"Aku takut kamu kenapa-kenapa Yu dijalan" ujar Mas Leo lagi.


"Mas, gak pa-pa kok" jawabku.


"Aku gak nerima penolakan yah" Mas Leo mengelus lembut puncak kepalaku.


Aku mengangguk pasrah.


Sepanjang perjalanan Mas Leo mengikuti mobilku dari belakang, untungnya malam minggu jadi jalanan lumayan ramai.


Ketika aku udah di depan rumah.


Kulihat Mas Leo juga berhenti, sekitar empat rumah dari rumahku.


Mas Leo menghubungi ponselku.


"Ya Mas"


"Yaudah aku pulang yah, kamu langsung istirahat" ujarnya.

__ADS_1


"***Iya Mas, makasih ya udah nganterin aku, kamu hati-hati ya di jalan"


"Oke, aku pamit pulang yah"


"Iya Mas, hati-hati***"


Telepon terputus.


Aku memasukkan mobilku ketika Pakde Johan membuka pintu gerbang rumah.


"Makasih Pakde" ujarku.


Pakde tersenyum dan mengangguk.


"Non, kok pulangnya malam?" tanya Bude Sri ketika aku membuka pintu mobil.


"Malam mingguan Bude" jawabku, sambil tersenyum.


"Oalah iya, Bude lupa" Bude menepuk jidatnya.


Aku tertawa.


"Non, mau makan malam? Nanti Bude masakin mie instan" ujar Bude yang mengekoriku.


"Ayu, udah makan Bude tadi sama teman-teman, Ayu mau langsung mandi aja" jawabku.


"Iya Non"


"Hmm Bude, Rio udah tidur ya?" tanyaku.


"Iya Non, tadi habis main PS sama Agus" jawab Bude.


Aku mengangguk.


"Iya Non" Bude berlalu menuju kamarnya.


Sesudah mandi aku merebahkan tubuh diatas kasur. Terbayang lagi pertemuan-pertemuan ku dan Mas Leo selama ini, seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Bergejolak.


Walaupun yang kami lakukan belakangan ini salah. Tapi kami sangat menikmatinya, sembunyi-sembunyi semakin memacu adrenalin kami.


Setiap diakhir pekan, Sabtu siang Mas Leo sudah tiba di Semarang. Di hari sabtu hingga malam hari kami menghabiskan waktu berdua, sedangkan di hari minggu penuh dia luangkan waktu untuk Rio. Dan ketika Mas Leo datang kerumah orang tuaku untuk menemui Rio, kami akan bersikap biasa saja, seperti tidak ada lagi hubungan spesial antara kami berdua.


Sudah berjalan dua bulan hubungan diam-diam kami terjalin. Mas Leo tidak pernah lagi membahas tentang untuk kami menjadi sepasang suami istri, karena untuk menjaga perasaanku.


Kami menjalani hubungan yang entah akan berakhir seperti apa, cuma aku minta pada Mas Leo untuk selalu ada untukku, hingga kapanpun itu. Dan sakit dalam hatiku terhadap ibunya kembali pulih. Entah sampau kapan.


Rio semakin dewasa, Rio lebih pendiam, tidak seperti dulu selalu mengutarakan isi hatinya dalam kondisi apapun. Mungkin karena pola fikirnya yang lebih dewasa, atau karena aku yang terlalu sibuk membuatnya menahan diri.


Hal itu juga kutanyakan pada Mas Leo, apakah kepada Mas Leo juga terlihat lebih pendiam. Tapi menurut Mas Leo itu hal yang wajar, karena semakin tumbuhnya anak, semakin dia menyimpan rahasia, terutama jika masalah jatuh cinta. Aku sedikit tenang setelah mendengar penjelasan Mas Leo.


Tapi di pagi minggu ini, ketika aku sedang duduk santai dirumah sambil menikmati secangkir teh. Dengan wajah yang dingin, Rio meminta waktuku, untuk sedikit berbicara dengannya.


"Ma, ada yang mau Rio sampein ke Mama" ujarnya dingin.


"Apa sayang? Cerita aja" ujarku.


"Gak disini Ma, di kamar aja" ujarnya.


"Ayok" aku berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Kamar Mama aja" ujarnya sambil menuju kamarku.

__ADS_1


Aku mengikutinya dari belakang.


Rio menutup dan mengunci rapat pintu kamarku.


Aku sudah duduk diatas ranjang. Rio duduk dihadapanku dengan menarik kursi dimeja rias.


"Kamu mau cerita apa? Serius banget" tanyaku.


Rio menatap wajahku sebentar. Dan menarik nafas panjang.


"Rio, kamu ada masalah nak?" tanyaku cemas.


"Bukan aku Ma, tapi Mama" ujarnya.


"Mama? Kenapa dengan Mama nak" tanyaku.


"Tentang Mama dan Papa" ucapnya.


"Maksudnya?" aku semakin heran.


"Rio tidak suka Mama dan Papa begini" mata Rio memerah.


Aku diam.


Perasaanku tidak enak.


"Rio sudah tau, Rio melihat semuanya Ma, Rio coba untuk menahan diri selama ini, Rio tidak suka Mama dan Papa seperti ini, diam-diam menjalin hubungan, keluar masuk hotel, bermalam berdua, Rio tau semuanya" wajah Rio memerah.


Nafasku terasa sesak.


"Jika kalian kembali bersama Rio pasti akan sangat bahagia, tapi bukan begini, Rio malu!!" ungkap Rio.


"Rio" aku mencoba memegang tangannya namun ditepisnya kuat.


"Menjijikan kelakuan kalian berdua!!"


Rio menarik nafas panjang.


"Mungkin Rio masih SMA, kalian masih menganggap Rio kecil dan tidak tahu apa-apa, tapi selama-lamanya kalian menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga"


"Rio mencoba menahan diri, Rio tidak mau bersitegang sama Mama, tapi Rio sudah tidak tahan"


"Mama selalu pulang malam di malam minggu, seperti tadi malam, Rio tau Mama menemui Papa dihotel, kalian bersenang-senang, melakukan hal yang bodoh, seperti anak ABG yang di mabuk cinta, kalian tidak sadar kalian adalah orang tua, orang tua Rio, berilah contoh yang baik buat Rio, jangan seperti ini melakukan hal yang menjijikan demi sabuah nafsu!!"


Air mataku mengalir deras.


"Jika memang Mama sangat mencintai Papa, dan Papa sangat menyayangi Mama, kenapa kalian tidak kembali bersama lagi, Rio akan bahagia Ma, jika kalian seperti ini Rio yang malu!!"


"Kenapa kalian tidak kembali saja lagi, rujuk!!?"


"Bagaimana kalo Eyang tau dengan kelakuan Mama dan Papa?!!"


"Jawab Ma!!"


Aku tidak sanggup lagi mendengarnya.


"Kenapa Mama seperti ini, murahan sekali!!"


Rio berdiri.


"Rio minta, jika kalian tidak bisa bersama lagi, selesaikanlah semuanya, cukuplah kalian hanya menjadi orang tua untuk Rio" Rio berlalu meninggalkanku.

__ADS_1


Tinggal aku sendiri, menyesali perbuatan bodohku, dan menyakiti perasaan anakku.


Bodoh sekali aku!!


__ADS_2